Yuk Ngobrol tentang makna kejeniusan, karena jenius bukan hanya tentang matematika

titsay
DEAR READER

⁂
No title available

Andulka
Cosmic Funnies
taylor price

★
Today's Document

Product Placement

blake kathryn
we're not kids anymore.

Love Begins
🪼

No title available

JVL
Sade Olutola
Stranger Things

roma★

tannertan36
seen from Philippines

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Iraq
seen from Chile

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Uzbekistan
seen from Spain
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@obrolantanpatitik
Yuk Ngobrol tentang makna kejeniusan, karena jenius bukan hanya tentang matematika
Jenius bukan cuma matematika... ga percaya? yuk kita obrolin
Jenius
Jenius #1
Ada orang,
yang ketika melihat angka dia tertawa.
Grafik terlihat mudah, integral dan phasor dia lahap.
Mudah sekali dia mencerna aljabar, kombinatorika pun stokastik.
Dia bersahabat erat dengan matematika, akuntansi dan fisika.
Mereka karib sekali.
Walau, lebih banyak yang seperti tersesat dalam labirin
ketika berhadapan dengan angka, matematika,
akuntansi dan kawan-kawannya.
Gelap dan putus asa.
Itu saya.
Ini yang dipahami orang tentang kejeniusan.
Tapi jenius bukan cuma sampai disini.
Jenius #2
Ada orang,
yang dengan mudah melacak nada.
Di kepalanya ada banyak suara, acak.
Kemudian dia satukan dalam bait lagu.
Bunyi-bunyian dari alat-alat musik,
ibarat sekelompok anak kecil,
yang dengan mudah dia kelompokkan, dia bariskan, dia komandoi.
Hasilnya adalah canon in d major, fur elise, dan teman-temannya.
Kita yang lidah musiknya standar,
sudah terhibur dengan Happy Asmara atau orkes melayu.
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
Jenius #3
Ada orang,
yang pegang kemudi kendaraan, dia tenang,
walau dengan kecepatan yang luar biasa.
Dia mampu mengukur jarak sepersekian detik.
Untuk menyalip, tanpa ragu.
Ketakutan malah menjadi takut di hadapan nyalinya.
Kapan dia menginjak gas, menekan tombol, terlintas begitu saja.
Ini bukan hafalan matematika.
Ini jenius pada gerakan mekanis otot.
Tak perlu rumus, naluri saja.
Tentu tidak termasuk jenis yang “sen” kiri tapi belok kanan.
Pakai daster, habis beli sayur.
Ini beda. Hehe ….
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
Jenius #4
Ada orang,
yang melempar apapun ke kuali, wajan, jadi sesuatu.
Rebus, bakar, goreng, jadi sesuatu.
Tak perlu ukuran apapun.
Otaknya bekerja untuk memprediksi rasa.
Bahkan sebelum sampai di lidah.
Ini kelompok orang yang merawat
dan membesarkan “malika” kedelai hitam seperti anak sendiri.
Orang yang mampu menerka aroma
dari bahan-bahan yang masih ada dalam kepala.
Lezat ….
Yang masak nasi saja masih serupa bubur,
yang masak mi masih salah takaran kuah, harap minggir.
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
Jenius #5
Ada orang,
yang ketika terjadi perdebatan panjang dan emosional, dia hadir.
Dia berucap, tak banyak, hanya beberapa kata.
Lantas orang di sana diam, paham dan berdamai.
Orang jenis ini juga bisa maju ke panggung, berorasi.
Seketika, sekelompok orang yang sedang pesimis menjadi optimis.
Bangkit kesadaran.
Maju.
Kelompok orang yang mampu menemukan diksi yang tepat
untuk mewakili pikiran-pikirannya.
Kelompok orang yang otaknya adalah samudera wawasan.
Jenius #6
Tapi jenius sejatinya cuma bahan.
Pengolahannya adalah kerja keras.
Tidak ada yang disebut keunggulan.
Yang ada adalah pengulangan atau repetisi.
Maka, dengan itu jenius-nya menjadi “mekar”.
Jenius musik yang tidak berjumpa dengan gitar,
hanyalah penonton di konser.
Jenius motor tanpa arahan yang jelas,
hanyalah pembalap jalanan yang meresahkan warga.
Jenius sepakbola tanpa pernah ke lapangan,
hanyalah penonton dengan teriakan paling gemuruh.
Sementara yang tidak jenius seperti saya,
hanyalah pengagum
dan belajar ….
Jenius #7
Kalau anda orang tua, atasan atau apapun,
tugas kita salah satunya adalah mencari bakat,
mengendus kejeniusan anak atau bawahan kita,
dengan memahami bahwa dimensi kejeniusan itu sangatlah banyak.
Maka, dia tidak melulu soal angka atau matematika.
Semakin cepat kejeniusan ditemukan,
semakin cepat dia tumbuh subur,
menjulang ke langit mengakar ke bumi.
Tapi, tentu dengan pupuk kerja keras dan panggung untuk ditampilkan.
Yang merasa ga jenius, ayok ngumpul.
Kita jadi komunitas pengagum saja.
Hehe….