yang ketika melihat angka dia tertawa.
Grafik terlihat mudah, integral dan phasor dia lahap.
Mudah sekali dia mencerna aljabar, kombinatorika pun stokastik.
Dia bersahabat erat dengan matematika, akuntansi dan fisika.
Walau, lebih banyak yang seperti tersesat dalam labirin
ketika berhadapan dengan angka, matematika,
akuntansi dan kawan-kawannya.
Ini yang dipahami orang tentang kejeniusan.
Tapi jenius bukan cuma sampai disini.
yang dengan mudah melacak nada.
Di kepalanya ada banyak suara, acak.
Kemudian dia satukan dalam bait lagu.
Bunyi-bunyian dari alat-alat musik,
ibarat sekelompok anak kecil,
yang dengan mudah dia kelompokkan, dia bariskan, dia komandoi.
Hasilnya adalah canon in d major, fur elise, dan teman-temannya.
Kita yang lidah musiknya standar,
sudah terhibur dengan Happy Asmara atau orkes melayu.
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
yang pegang kemudi kendaraan, dia tenang,
walau dengan kecepatan yang luar biasa.
Dia mampu mengukur jarak sepersekian detik.
Untuk menyalip, tanpa ragu.
Ketakutan malah menjadi takut di hadapan nyalinya.
Kapan dia menginjak gas, menekan tombol, terlintas begitu saja.
Ini bukan hafalan matematika.
Ini jenius pada gerakan mekanis otot.
Tak perlu rumus, naluri saja.
Tentu tidak termasuk jenis yang “sen” kiri tapi belok kanan.
Pakai daster, habis beli sayur.
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
yang melempar apapun ke kuali, wajan, jadi sesuatu.
Rebus, bakar, goreng, jadi sesuatu.
Otaknya bekerja untuk memprediksi rasa.
Bahkan sebelum sampai di lidah.
Ini kelompok orang yang merawat
dan membesarkan “malika” kedelai hitam seperti anak sendiri.
Orang yang mampu menerka aroma
dari bahan-bahan yang masih ada dalam kepala.
Yang masak nasi saja masih serupa bubur,
yang masak mi masih salah takaran kuah, harap minggir.
Ini jenius pada dimensi yang lain, tak melulu matematika.
yang ketika terjadi perdebatan panjang dan emosional, dia hadir.
Dia berucap, tak banyak, hanya beberapa kata.
Lantas orang di sana diam, paham dan berdamai.
Orang jenis ini juga bisa maju ke panggung, berorasi.
Seketika, sekelompok orang yang sedang pesimis menjadi optimis.
Kelompok orang yang mampu menemukan diksi yang tepat
untuk mewakili pikiran-pikirannya.
Kelompok orang yang otaknya adalah samudera wawasan.
Tapi jenius sejatinya cuma bahan.
Pengolahannya adalah kerja keras.
Tidak ada yang disebut keunggulan.
Yang ada adalah pengulangan atau repetisi.
Maka, dengan itu jenius-nya menjadi “mekar”.
Jenius musik yang tidak berjumpa dengan gitar,
hanyalah penonton di konser.
Jenius motor tanpa arahan yang jelas,
hanyalah pembalap jalanan yang meresahkan warga.
Jenius sepakbola tanpa pernah ke lapangan,
hanyalah penonton dengan teriakan paling gemuruh.
Sementara yang tidak jenius seperti saya,
Kalau anda orang tua, atasan atau apapun,
tugas kita salah satunya adalah mencari bakat,
mengendus kejeniusan anak atau bawahan kita,
dengan memahami bahwa dimensi kejeniusan itu sangatlah banyak.
Maka, dia tidak melulu soal angka atau matematika.
Semakin cepat kejeniusan ditemukan,
semakin cepat dia tumbuh subur,
menjulang ke langit mengakar ke bumi.
Tapi, tentu dengan pupuk kerja keras dan panggung untuk ditampilkan.
Yang merasa ga jenius, ayok ngumpul.
Kita jadi komunitas pengagum saja.