Menjaga Diri, Hadiah Untuk Ayah dan Ibu dari Seorang Putri
Dini hari tadi, Ibu baru saja pulang dari bandara selepas mengantar salah satu anggota keluarga kami yang hendak pergi ke negara tetangga. Ini adalah pertama kalinya karena Ibu belum pernah pergi jauh hingga harus naik pesawat, pun ketika saya yang pergi, Ibu belum pernah mengantar sampai bandara. Lalu, saya pun bertanya pada Ibu, “Bu, gimana rasanya pergi ke bandara? Disana Ibu lihat apa aja?” Pertanyaan itu adalah pertanyaan biasa bagi saya, tapi ternyata mata Ibu berkaca-kaca ketika akan menjawabnya,
“Dek, ternyata di bandara teh gitu, ya. Ibu lihat perempuan-perempuan muda seumur kamu gitu banyak yang bebas pelukan sama laki-laki, yang Ibu yakin itu pacarnya dan bukan suaminya. Sakit hati Ibu ngelihatnya, tapi sekaligus berdoa dan bersyukur sama Allah. Alhamdulillah anak Ibu engga begitu, engga pernah dipeluk laki-laki yang bukan muhrimnya. Ibu engga ridho kalau kamu disentuh orang lain, yang saudara bukan, suami juga bukan.”
Maa syaa Allah. Mendengarnya, giliran saya yang berkaca-kaca, giliran saya juga yang melangitkan syukur sebab Allah telah berangsur mengubah Ibu sedemikian rupa. Padahal, dulu Ibu pernah merasa saya terlalu berlebihan karena saya tak punya pacar, karena jilbab yang tak kekinian, juga karena saya menolak bersalaman dengan orang lain yang bukan muhrim. Saya masih ingat betapa sedihnya saya ketika dulu Ibu bilang, “Kerudung kamu ga usahlah panjang-panjang begitu … Salaman sama orang itu ya biasa ajalah, engga usah engga mau sentuhan gitu, kamu tuh menyinggung orang lain kalau kayak gitu … Kamu kok aneh sih, blablabla …” Tapi benar, Allah akan memberi pemahaman pada siapa saja yang dikehendakinya, hingga pemahaman itu mengubah hatinya, lalu mengubah persepsinya terhadap segala sesuatu. Terima kasih ya Allah, terima kasih banyak :”)
Saya kemudian bertanya lagi, “Ibu gimana perasaannya kalau anak Ibu yang kayak gitu?” Dengan emosional, Ibu menjawab, “Ya pasti melang (khawatir), atuh! Jangankan anak perempuan, anak laki-laki aja kalau begitu pasti orangtuanya melang. Duh, Ya Allah, terima kasih ya, dek. Terima kasih sudah menjaga diri. Pokoknya kamu kalau mau kayak gitu, kalau mau pacar-pacaran, ya nanti aja sama suami.” Saya mengangguk, sekuat hati tak ingin sampai menangis. Ya Allah, padahal soal menjaga diri, saya yakin masih banyak salahnya, banyak kurangnya, banyak … ah, sudahlah!
Sebagai perempuan, kita tentu sepakat bahwa menjaga diri ini tak pernah menjadi perihal yang mudah. Apalagi jika kita tahu bahwa menjaga diri tak sekedar soal kedekatan fisik, kebersamaan, atau hal-hal yang terlihat saja, sebab di dalamnya pun termasuk tentang menjaga hati dan perasaan sendiri. Bagaimana pun, perjuangan yang tak mudah itu bukan berarti menjadi tak layak untuk diperjuangkan, sebab Allah janjikan syurga setelahnya. Tak hanya itu, berbincang dengan Ibu, saya jadi memahami bahwa ternyata ketenangan seorang Ibu (dan juga seorang ayah) hadir dari kepiawaian anak-anak perempuannya dalam menjaga diri. Pertanyaannya, sudahkah kita semenenangkan itu bagi ayah dan ibu kita?
Perempuan-perempuan yang menjaga dirinya adalah perempuan yang terhormat. Mereka akan tetap terhormat dan jauh lebih terhormat, meski wajahnya tak banyak tampak di media sosial, meski suaranya tak ramai terdengar, meski keindahan tubuhnya tak mampu terlihat oleh sembarangan mata. Semoga kita adalah salah satu diantaranya.
Selamat menjaga diri, selamat menjadi hadiah terindah bagi ayah dan ibu di dunia maupun di akhirat nanti.