Selfi-selfi di Kota Tua.
Bangunan tua yang tidak ternilai.
Salam hormat hadirin semua.
Istimewa kepada kedua mempelai.
Sebelum subuh sudah berangkat.
Anak dan cucu pun tak tertinggal.
Mohon maaf kami datang terlambat.
Walau mobil dikebut, cucu ditinggal.
Tidak terlihat cahaya bulan.
Terlihat berembun bunga di jambangan.
Kini berbahagialah Bapak Idwar Ruslan.
Kini anak sudah ada junjungan.
Merasa senang dapat hadiah.
Walaupun hanya juara dua.
Tersenyum bahagia Ibu Sawitri Fatmadiah.
Anak seorang jadi berdua.
Layangan hilang di balik awan.
Layangan dilepas si anak kemping.
Rela melepas Bapak Khairul Ikhwan.
Anaknya kini sudah ada pendamping.
Tinggi-tinggi puncak Merbabu.
Lebih tinggi dari pohon jati.
Itulah kemuliaan seorang Ibu.
Anak dilepas dengan senang hati.
Di Pasaman Barat Air Bangis.
Dari Padang naik Xenia.
Walau terkadang hati menangis.
Yang penting anak bisa bahagia.
Dibeli baru mobil Avanza.
Membawa penumpang setiap hari.
Itulah dia Ibu Yuliza.
Anaknya Faruq sudah punya Isteri.
Gatal di tangan mudah digaruk.
Luka di telapak susah melangkah.
Itulah dia Melati dan Faruq.
Hari ini telah menikah.
Jika pantat terkena bisul.
Memang susah duduk di kursi.
Mereka mengikuti Sunnah Rasul.
Telah mengikat janji yang suci.
Terlihat capek seorang pemburu.
Semua sendi terasa ngilu.
Selamat menempuh hidup baru.
Semoga berkah dan bahagia selalu.
Lebih elok pakai kerudung.
Tidak kentara wajah bersemu.
Satu di Padang satu di Bandung.
Kalau jodoh, Faruq Melati pasti bertemu.
Saat kuliah makan mie melulu
Pastilah berubah saat berkeluarga
Memang pacaran tidaklah perlu
Kalau sudah jodoh akan jadi juga
Kerja di kantor mestilah rampung
Jangan pula kerja ditalangi
Walau Melati Faruq beda kampung
Kalaulah jodoh tak kam menghalangi
Karet ditarik bisa melar
Apalagi ditariknya sekuat tenaga
Cari uang dan cari gelar
Tapi bahagia adanya di keluarga
Ada kayu juga ada rotan
Jadi furniture di rumah tangga
Punya harta dan punya jabatan
Tetap saja bahagianya di keluarga
Berjalan jauh saat kelam
Tidaklah takut kalau bersama
Kerja bisa siang dan malam
Tapi keluarga tetaplah utama
Bernyanyi-nyanyi mengisi selingan.
Sampai terdengar oleh tetangga.
Pahamilah kalau ada kekurangan.
Disanalah letak dinamika rumah tangga.
Lepas panen banyak jerami
Sawah dibersihkan terlihat kosong
Saling mengenal saling memahami
Insya Allah akan saling tolong menolong
Datang majikan, anjing melonglong
Anjing diam, saat diberi makan
Kalau sudah saling menolong
Insya Allah senasib sepenanggungan
Semakin tua semakin menjadi
Tapi tetaplah jalin silaturahmi
Perbedaan itu pasti akan terjadi
Terimalah dengan saling memahami
Rakyat butuh akan pangan
Pemerintah sibuk menyediakan
Hidup ini penuh tantangan
Kepada Allah kita kembalikan
Memilih makan jangan diterka
Berhati hati apa yang kita makan
Keluarga akan penuh dinamika
Dengan ibadah bisa menentramkan
Di kampung masih ada pedati
Membawa padi penuh terisi
Masalah hidup silih berganti
Ibadah kepada Allah jadi solusi
Kepada Allah hidup diikhlaskan
Jangan sekali kali percaya keramat
Sukses hidup, Allah yang tentukan
Dengan ibadah, hidup akan selamat
Tajam mengkilat pisau belati.
Dipakai mengiris bawang putih.
Janji dibuat sehidup semati.
Itulah tanda cinta kasih.
Renyah dan gurih sikue ladu.
Banyak dibawa ke negeri seberang.
Terasa manis di bulan madu.
Kadar kasihnya jangan berkurang.
Tajam matanya si burung hantu.
Menyambar tikus di dalam gua.
Jangan hambar di telan waktu.
Walaupun umur sudah tua.
Burung berabah bersarang rendah.
Di batang senduduk pinggir jalan.
Awal pernikahan sangatlah indah.
Jangan hambar waktu berjalan.
Rupanya beruntung dapat arisan.
Memang arisan bukanlah taruhan.
Terkadang manusia bersifat bosan.
Apapun alasannya harus bertahan.
Di tengah malam mata terjaga.
Ingatlah kita hanyalah hamba.
Jangan dengarkan pihak ketiga.
Lebih banyak yang adu domba.
Memang gelap tak ada cahaya.
Lampu mati tidak terduga.
Kedua mempelai salinglah percaya.
Jagalah keutuhan rumah tangga.
Tak ada saputangan pakailah tisu.
Baru selesai makan bajamba.
Jangan mudah termakan isu.
Apalagi yang bersifat adu domba.
Shalat Magrib raka'atnya tiga.
Tetap laksanakan dikala lembur.
Jangan dilihat rumput tetangga.
Tentu terlihat sangat subur.
Air segelas pelepas dahaga.
Memang wajah terlihat pucat.
Kalaupun subur rumput tetangga.
Itu hanyalah pemandangan sesaat.
Disayat-sayat si ikan tuna.
Dipotong-potong ikan tenggiri.
Itu hanyalah suatu fatamorgana.
Siram sajalah rumput sendiri.
Indah-indah ukiran pahat.
Dipilih satu langsung dibeli.
Rumput tetangga boleh dilihat.
Tapi cukup satu kali.
Berenang-renang si itik angsa.
Memakan padi si burung balam.
Melihat kedua adalah dosa.
Melihat ketiga Wallahu Alam.
Janganlah ikut berhura-hura.
Jagalah etika serta moral.
Janganlah mencari gara-gara.
Berumah tangga adalah hal yang sakral.
Bajunya hijau kumbang janti.
Ada mereknya baru dibeli.
Ada CLBK di medsos harus hati-hati.
Jangan pernah bersemi kembali.
Memang asik bermain halma.
Biasanya bermain di bagian beranda.
Hapus semua kisah yang lama.
Pasangan kita sudah ada.
Dulu tinggal di daerah Kuningan.
Di Tanah Abang berjualan kain.
Memang suami adalah junjungan.
Jangan dicari junjungan lain.
Kain songket jahitnya timbul.
Kain dijahit si nenek tua.
Sekali terucap Ijab Kabul.
Jangan berniat untuk yang kedua.
Sapi dan Kerbau dipelihara ternak.
Memelihara ternak tidaklah mudah.
Tidur sendiri tidaklah enak.
Ditemani tidur sangatlah indah.
Bermain air tentulah basah.
Sawah kering tentu diairi.
Tentu ditemani secara sah.
Dalam ikatan Suami Isteri.
Ternyata rapuh di bagian selasar.
Dicari penyebabnya belum bersua.
Jagalah nama keluarga besar.
Keluarga orang tua dan juga mertua.
Tadinya gelap kinipun terang.
Hujan berhenti menjelang Ashar.
Ikatan nikah bukan hanya dua orang.
Tapi semua keluarga besar.
Dibeli sebungkus si kapur barus.
Harga dibeli yang sembilan ratus.
Tali silaturahmi jalinlah terus.
Jangan pernah sampai terputus.
Umur dua puluh sudah bertunangan.
Dalam adat tidaklah rancu.
Penganten baru berharap momongan.
Para orang tua berharap cucu.
Dulu liar kinipun jinak.
Dulu tidur di atas dahan.
Kalau berezeki dapatlah anak.
Itu adalah titipan Tuhan.
Membuat sarang burung tempua.
Sarang dibuat induknya sendiri.
Yang penting sepakat kedua orang tua.
Rumah tangga anak jangan campuri.
Hobi memelihara ayam kate.
Juga memelihara itik angsa.
Rumah tangga mereka jangan didikte.
Waktu berjalan, mereka dewasa.
Baru merapat kapal di Tarakan.
Anak Buah Kapal melepas lelah.
Kalau terlupa boleh mengingatkan.
Boleh tunjuki kalau mereka salah.
Menyewa mobil dikasih panjar.
Mobil disewa sepuluh hari.
Biarkan saja mereka belajar.
Biar bisa hidup mandiri.
Lurus jalan ke Bengkulu.
Bersimpang jalan di Padang Lua.
Ada masalah biarkanlah dulu.
Biasanya selesai oleh mereka berdua.
Bunga Mawar memang berduri.
Kecil-kecil si bunga bonsai.
Biasanya bermasalah Suami Isteri.
Lampu mati, masalahpun selesai.
Dibeli sebiji buah semangka.
Sampai di rumah dibelah empat.
Boleh bina rumah tangga mereka.
Biasanya mempelai minta pendapat.
Hindari pekerjaan yang sia-sia.
Berbuat baiklah supaya dikenang.
Semoga yang hadir semua bahagia.
Kalau mempelai sudah pasti senang.
Wajah mempelai nampak bersih.
Wajah mempelai wanita nampak teduh.
Cukup sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Pantun diatas merupakan Pantun Nasehat pada pernikahan saya dengan @melati pada Sabtu, 27 Januari 2018 yang disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc, sekaligus sebagai saksi pernikahan kami. Mudah-mudahan nasehat yang disampaikan bisa menjadi penerang, pengingat sekaligus inspirasi buat kami dan pembaca yang lain bahwa pernikahan adalah perkara yang mulia, dan memiliki banyak keutamaan.