Kenapa orang lain dengan mudahnya pergi, sedangkan aku tidak bisa? Apa mungkin gegara aku berpikiran, bahwa yang ditinggal pergi bakal lebih sedih daripada yang meninggalkan? Huft. Rumit
Run
★

oozey mess
tumblr dot com

Game Changer & Make Some Noise

Love Begins

No title available

Product Placement

titsay
The Bowery Presents
No title available
Noah Kahan
One Nice Bug Per Day
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Jar Jar Binks Fan Club
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Fai_Ryy
Phantogram Three

Origami Around
noise dept.
Today's Document
seen from Colombia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Venezuela
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Indonesia

seen from T1
seen from Nicaragua
seen from Malaysia
@paprikanopi
Kenapa orang lain dengan mudahnya pergi, sedangkan aku tidak bisa? Apa mungkin gegara aku berpikiran, bahwa yang ditinggal pergi bakal lebih sedih daripada yang meninggalkan? Huft. Rumit
Run
Lebih dari kadang-kadang, kita sibuk menyiapkan apa yang akan kita hadapi sampai lupa menyiapkan apa yang akan kita tinggalkan. Lalu lupa menikmati apa yang sedang kita jalani.
prawitamutia (via beningtirta)
Temanku: "Sampai detik ini aku masih sanksi, apakah masih ada laki-laki setia?" Aku : "Sama. Aku juga ragu." Ada yang bisa menjelaskan?
*
Bipolar Disorder
Bipolar Disorder adalah salah satu bagian dari hidup saya yang dari dulu saya sembunyikan. Pertama karena saya malu. Kedua, karena saya takut ditolak di lingkungan sosial sebab tidak banyak orang di sekitar kita yang memahami tentang Bipolar Disorder dan pada akhirnya menghakimi seorang penderita BD sebagai orang gila yang jauh dari Allah.
Padahal tidak seperti itu. Bipolar disorder itu gangguan emosi yang datang tiba-tiba. Jangan dibandingkan dengan emosi ABG labil yang sehari senang karena ketemu pacar, terus tiba-tiba bad mood ketika pacarnya tidak bisa dihubungi. Bukan seperti itu. Serangan mood swing bagi seorang penderita Bipolar Disorder terjadi tiba-tiba. Tak bisa diprediksi waktunya, apalagi sebabnya.
Saya mengalami Bipolar Disorder karena trauma bullying masa kecil di sekolah. Awalnya divonis paranoid, tapi setelah diperiksa lebih dalam ternyata saya didiagnosa menderita bipolar disorder.
Bipolar Disorder itu sebenarnya banyak jenisnya Dan gejala yang saya derita adalah, saya tidak dapat membendung naik turunnya emosi plus tidak bisa membendung pikiran-pikiran buruk yang ada di kepala saya hingga pada akhirnya saya mengalami ketakutan yang tak beralasan, merasa tidak berguna, membenci orang lain tanpa sebab juga memiliki keinginan untuk menarik diri dari pergaulan.
Dulu saya sering mengalami hari-hari dimana saya depresi dan insomnia. Tidak tidur selama dua atau tiga hari penuh juga tidak produktif karena saya hanya terduduk di atas kasur. Mengurung diri di kamar dan bingung dengan apa yang harus saya lakukan. Tapi ketika depresi itu hilang (seringkali tanpa sebab), saya akhirnya keluar kamar dan kembali bergaul dengan normal.
Itulah sebabnya ketika kuliah, saya sering tiba-tiba muncul, tiba-tiba hilang. Seperti hantu yang menjalani hidup seenaknya.
Semasa menjadi Pengurus Harian di Lembaga Dakwah Kampus, saya juga sering mengalami depresi tanpa sebab. Hal ini yang sering menjadi pemicu konflik antara saya dengan sesama PH karena tiba-tiba menghilang sementara saya sendiri tidak bisa menjelaskan alasan saya menghilang secara gamblang.
Bagaimana saya menghadapinya hingga menjadi seperti sekarang?
Yang jelas, saya tidak bisa langsung menerima kondisi saya. Saya membenci diri saya sendiri. Terlebih setiap kali saya minta saran ke teman terdekat cuma dibalas dengan “Amal yaumi mu kurang kali. Puasa biar bisa menahan marah”. Ini saya sudah menahan tetapi pikiran buruk saya terus menerus muncul tidak bisa ditahan. Jujur saja, hidup dengan ribuan pikiran buruk tentang orang lain membuat saya merasa seperti setan hhe.
Saya mengalami perubahan cara berpikir setelah saya berdiskusi dengan seorang kawan.
“Mbak, apa seseorang itu dihukumi dosa atas apa yang ada dalam pikirannya? Meskipun itu di luar kendalinya?”
“Wallahu a’lam dek. Tapi yang mbak tahu, Allah itu tidak menghukumi niat yang buruk sebagai dosa. Emang kamu kenapa?”
“Aku penderita Bipolar Disorder mbak”
“Kamu sadar sama apa yang kamu omongin? Haha. Tapi iya sih. Mbak kadang ngerasa kamu aneh. Dalam satu waktu tampak bijak tapi di hari lain tiba-tiba ngomongnya menusuk dan mudah marah. Terus suka ilang nggak jelas. Mbak nggak berpikir sejauh itu sih. Mbak awalnya mikir, wajarlah anak muda belum nikah jadinya labil. Haha”
“Enak aja dibilang ABG labil. Mbak, aku itu selalu ketakutan kalo nanti masuk neraka atas segala pikiran buruk yang muncul di kepala”
“Adek….ada ustadz yang pernah bilang kalau pikiran buruk itu datangnya dari setan. Selagi kita tidak mengikutinya, insya Allah kita tidak berdosa. Niat buruk yang batal dilaksanain aja ga dihitung dosa. Apalagi sekedar selintas pikiran buruk yang tak dihiraukan”
“Mbak nggak takut ato illfeel sama aku?”
“Nggak lah. Kamu toh nggak pernah merencanakan terlahir seperti itu. Lagian kamu itu baik, nggak pernah nyakitin mbak, nggak pernah nyuri, bukan koruptor, jadi ngapain ilfeel?”
“Wah mbaak. So sweet. Eh mbak, banyak yang bilang aku itu sering kambuh karena kurang rajin ibadah lho mbak. Aku jadinya ngerasa gimana-gimana gitu. Jangan-jangan selama ini ibadahku ga ada nilainya. Makanya dikasih sakit kayak gini”
“Hushhh….jangan su’udzon sama Allah. Kalo menurut mbak sih gini, BD itu penyakit. Setiap penyakit itu ujian. Memang susah dihadapi, tapi kalau kamu sabar, insya Allah hadiahnya surga”
“Wah mbaak…..jarang ada orang yang ngomong gini ke aku”
“Perdalam ilmu agama juga sih dek. Tawakkal juga sama Allah karena gini sih dek, manusia itu kadang tidak bisa mengendalikan hal apa saja yang muncul di benaknya. Tapi orang yang pemahaman agamanya bagus, insya Allah tahu sikap mana yang diridhoi Allah dan sikap mana yang tidak diridhoi Allah. Sama mbak sarankan, kamu banyak doa”
“Doanya gimana? Minta kesembuhan?” “Boleh doa minta sembuh. Tapi doa yang paling utama adalah meminta kepada Allah agar selalu memberikan kita petunjuk dalam kondisi seburuk apapun. Berdoalah agar kamu tetap mengingat Allah di setiap waktu baik dalam kondisi sehat maupun dalam kondisi depresi. Tidak semua orang mendapat hidayah untuk mengingat Allah di setiap waktu dan kamu harus berdoa untuk itu”
“Makasih mbak *berkaca-kaca”
“Iya dek. Satu lagi, kamu nggak usah terbebani dengan pikiran ingin cepat sembuh biar bisa menikah tanpa beban. Cukuplah kamu jalani setiap detik hidup ini dengan ikhlas. Masalah jodoh dan kesembuhan, serahkan saja semua kepada Allah. Nanti biar Allah yang memilihkan jalannya untuk kamu”
“Tapi kasihan suamiku mbak kalo istrinya mengidap BD”
“Tawakkal sama Allah, tidak ada ujian yang tidak sesuai dengan kapasitas makhluk. Allah punya banyak skenario. Entah nanti pas married kamu sembuh, atau bisa jadi kamu tetep BD tapi Allah ngasih kamu suami yang bisa nerima kamu apa adanya. Percayalah suatu hari nanti kamu pasti punya keluarga yang normal dengan suami yang baik dan anak-anak yang lucu. Nggak perlu takut. Pasrah aja sama yang punya takdir”
“Makasih mbak *sungkem*”
Sejak mendengar kalimat menyejukkan dari teman, pola pikir saya langsung berubah. Serangan Mood Swing memang sering datang tapi saya sudah lebih siap menghadapinya. Kalau dulu cuma terduduk bengong di kasur berhari-hari, sekarang tiap kali bad mood dan semua pikiran negatif muncul, saya langsung melawan dan berusaha kembali ke permukaan secepat mungkin. Misalnya di otak saya muncul suara gini:
“Orang ini jahat De”
“Tidak ada orang yang sempurna jadi kalau dia berbuat salah ke kita maafin aja.
“Kamu jangan berurusan dengan orang itu karena begini dan begitu”
”Apa salahnya mencoba?”
“Kamu nggak berguna de”
“Makanya ikhtiar biar berguna”
dan seterusnya….dan seterusnya….
Intinya gini, kebanyakan penderita Bipolar Disorder itu tenggelam dalam bisikan negatifnya tanpa ada perlawanan dan mereka bersikeras ingin bisikan itu hilang.
Sayapun awalnya begitu, tapi lama kelamaan ketika saya sedang sehat, saya berpikir untuk mencari cara, bagaimana saya bisa tetap stabil menghadapi bisikan-bisikan itu?
Bila kita tidak bisa merubah arah angina, kita tetap bisa merubah haluan kapal. Iya kan?
Kalau bisikan itu memang tidak bisa hilang, ya biarkan saja. Peduli apa? Yang penting ketika bisikan itu datang, saya siap menghadapinya.
Bagaimana caranya?
Pilihan saya jatuh pada tindakan menulis diary. Saya bisa menulis diary dan semua pikiran positif di saat sehat untuk kemudian saya baca di saat-saat depresi. Dengan diary itu, saya menjadi ingat tentang apa yang harus saya lakukan. Yaitu lawan semua fikiran negatif.
Gejala Swing Mood ini memang tidak bisa hilang sepenuhnya. Tapi Alhamdulillah, pada akhirnya Allah menunjukkan bagaimana cara menghadapinya.
Ketika saya harus menjalani tes kesehatan jasmani dan rohani menjelang pemberkasan CPNS, saya ketar-ketir. Masak saya harus nggak lulus tes kesehatan karena Bipolar Disorder? Waaa……
Akhirnya setelah tes, besoknya saya dipanggil ke Poli Jiwa.
“Saya kenapa ya dok?”
“Hasil tesnya kurang baik mbak. Mbak terlalu introvert”
“Oh. Jadi bukan tentang BD ya dok? Hehe…”
“Enggak mbak. Saya memang menemukan gejala itu tapi sepertinya sudah jauh dari batas membahayakan. Masih minum obat?”
“Sudah lama enggak dok. Saya berusaha menjinakkan diri saya sendiri dan bisa”
“Alhamdulillah. Ini sih mbak, pesan saya, mbak harus sering berbagi pikiran dengan orang lain. Biar kalau ada masalah bisa plong. Dunia kerja itu kadang kejam. Mbak harus siap”
“Insya Allah dok”
“OK surat sehat ini saya tanda tangani. Selamat ya mbak”
“Alhamdulillah”
Saya tutup tulisan ini dengan sepatah dua patah kata.
Tawakkal kepada Allah memang tidak menjamin hidup kita akan mudah. Tapi setidaknya dalam tawakkal ada sebuah kelegaan bahwa ada Allah yang tidak akan meninggalkan hambaNya di setiap kesulitan.
Kita tidak akan diuji di luar kemampuan.
Setiap kesulitan, rasa sakit dan bahagia itu datangnya dari Allah maka hanya kepada Allah semua dikembalikan.
NB:
Tidak mudah menulis hal mengejutkan ini. Semoga bermanfaat bagi sesama penderita BD.
Cerita tentang Rindu itu nanti sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi. Saya menulis itu dengan harapan kelak orang-orang yang dikaruniai kenormalan oleh Allah SWT memahami apa yang dialami seorang penderita BD sehingga mereka tidak perlu takut untuk hidup berdampingan.
Sekian terima kasih
*terngiang lagunya R.City ft Adam Levine, Locked Away
jadi keinget seorang teman
Jangan kau cela lambatnya jawaban doa, padahal telah kausumbat jalannya dengan maksiat dan dosa.
Salim A Fillah (via shintarahayu)
😭😭😭😭
(via bersamadenganmu)
Jika hamba mengubah maksiatnya menjadi taat, Allah pun mengubah hukuman menjadi ganjaran, hina menjadi mulia. -Ibnul Qoyim
@aziz_rashed13 - Prof. Dr Abdul Aziz ar Rasyid, Guru Besar Kedokteran Anak. 18 oktober 2015 (via twitulama)
Pada mereka yang kurasa mulai berlebihan, aku mati rasa. Seringkali lebih ingin pergi, daripada tinggal lebih lama.
Tia Setiawati (via karenapuisiituindah)
Mengerti arti Bacaan Sholat
Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca? Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan mendapatkan apa itu ke Khusyuk an dlm melaksanakan Sholat Fardhu kita. Rasulullah SAW bersabda “sholatlah seakan-akan engkau sedang melihat Tuhan atau Tuhan sedang melihatmu” ( Rukun Ihsan ).
Mari kita mulai belajar meresapi arti dari bacaan Sholat kita. Karena Sholat merupakan Dzikir yang sempurna.
Takbir Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR
(Allah Maha Besar)
Iftitah Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila. (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang). Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin. (Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik) Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin. (Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam). Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin. (Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)
Al Fatihah Adapun Rasulullah SAW pada waktu membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya. Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim) (Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang) Alhamdulillaah, Rabbil ‘aalamiin (Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta ‘alam) Arrahmaan, Arrahiim (Maha Pengasih, Maha Penyayang) Maaliki, yaumiddiin (Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali) Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin (Hanya KepadaMulah, kami menyembah, dan hanya kepadaMulah, kami mohon pertolongan) Ihdina, asshiraathal, mustaqiim (Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus) Shiraath, alladziina, an'am, ta ‘alayhim (Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka) Ghayril maghduubi ‘alaihim, wa laddhaaaalliiin. (Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat) Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Rasulullah bersabda “Apabila engkau berdiri utk shalat bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari al-Qur’an “.
Ruku’
Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan :
Subhaana, rabbiyal, ‘adzhiimi, Wabihamdihi (Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali. (Hadits Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani) Rasulullah sering sekali memperpanjang Ruku’, Diriwayatkan bahwa : “Rasulullaah SAW, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.” (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
I'tidal
Pada saat ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, seiring Rasululullah SAW menegakkan punggungnya dari ruku’ beliau mengucapkan:
Sami'allaahu, li, man, hamida, hu “Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim) “Apabila imam mengucapkan “sami'allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya SAW (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)
Hal ini diperkuat pula dengan : Disaat Rasulullah sedang Sholat berjamaah, lalu ketika I’tidal beliau mengucapkan “Sami'allaahu, li, man, hamidah” lalu ada diantara makmun mengucapkan “Rabbanaa lakal hamdu”, Lalu pada selesai Sholat, Rasul bertanya “Siapakah gerangan yang mengucap “Rabbanaa lakal hamdu”, ketika aku ber I’tidal? Aku melihat para malaikat berlomba lomba untuk menulis kebaikan akan dirimu dari jawaban itu”. Maka sudah cukup jelas bahwa mari kita mulai melafalkan : Rabbanaa, lakal, hamdu (Ya Tuhan kami, bagiMulah, segala puji) Kesmpurnaan lafadzh diatas :
mil ussamaawaati, wa mil ul ardhi, wa mil u maa shyi’ta, min shai in, ba'du (Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya) (Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu ‘Uwanah)
Sujud
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW. Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu. Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi (Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya) Duduk antara dua Sujud
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita melafadzkan seperti yang dilakukan Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Di dalam duduk ini, Rasulullah SAW mengucapkan :
Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, warzuqnii wahdinii, wa ‘aafinii, Wa’Fuanni
(Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku) Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim). Duduk At-Tasyaahud Awal
Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu ‘Uwanah, Asy-Syafi'i, dan An-Nasa'i. Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepada kami. Beliau mengucapkan : Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah. Assalaamu ‘alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadillaahisshaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah. (dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, ‘abduhu, warasuuluh)
2. Menurut hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah. Dari Ibn Mas'ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepadaku : —> (Mari diresapi setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk) Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat. (Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan). Assalaamu ‘alayka *, ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh. (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu , wahai Nabi, dan beserta rahmat Allah, dan berkatNya). Assalaamu ‘alaynaa, wa ‘alaa, ‘ibaadillaahisshaalihiiin. (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh). Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah. (Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allah). Wa asyhadu, anna muhammadan, ‘abduhu, wa rasuluhu. (Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya).
Notes : * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan : Assalaamu 'alannabiy (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi). Bacaan shalawat Nabi SAW di akhir sholat
Rasulullah SAW. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari'atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya. Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum/biasa kita lafadzkan, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.
Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad. (Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad) Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim. (Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim). Wa 'barikh alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad. (Ya Allah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad) Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim. (Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim). Fil Allamina Innaka, hamiidummajiid. (Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia).
Salam
“Rasulullah SAW. mengucapkan salam ke sebelah kanannya :
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah, serta berkatNya),
sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaikum warahmatullaah
(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”
( Hadist Riwayat : Abu Daud, An-Nasa'i, dan Tirmidzi )
Mari di perhatikan, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih lengkap daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua )
———————————————————————————
Subhanallah dan Alhamdulillah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Luar biasa sekali ya arti dari bacaan Sholat ini. Makin merunduk kita, makin terlihat kecil kita, makin menangis kita.
Saya berharap agar ini menjadi bagian dari jalan kemudahan untuk kita di dalam menggapai khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan. Maka jika kita tahu dan mengerti akan nikmatnya shalat itu, mari kita share ke keluarga kita.
Selamat meresapi dan jangan lupa untuk share ke orang orang yang kita cintai.
Yuk memaknai setiap pertemuan dengan-Nya :)
ingat lagi, resapi lebih dalam maknanya #shalat
Mungkinkah “hanya” dengan tahu nomor rekening, rekening milikmu bisa diretas (Hack) ?
Belakangan ini saya sering menemukan teman-teman saya mengeluh karena ada seseorang yang mencoba menipu dengan mengatasnamakan pak kadarsah, Rektor ITB, mengirimkan sms meminta informasi tentang nomor rekening teman saya. Isi SMSnya kurang lebih meminta teman saya untuk menemani pak kadarsah ke seminar dikti. Ada bantuan biaya penginapan dan trasnportasi sebesar 5 juta yang “akan” ditransfer ke rekening teman saya. Oleh karena itu si penipu meminta nomor rekening teman saya agar dapat “mentransfer” biaya bantuan tersebut.
Ada yang salah ? Keliatanya justru menguntungkan seandainya teman saya memberitahu informasi berapa nomor rekening miliknya. “Toh dia akan menerima dana bantuan 5 juta ?”. Rekan saya yang lain pun bertanya, ‘Emang mungkin ? hanya dengan mengetahui nomor rekening seseorang, kita bisa meretas rekening orang tersebut ?
Kebetulan, saat ini saya sedang mengambil matakuliah keamanan informasi dan mengkonsultasikan kasus tersebut kepada salah satu dosen matakuliah tersebut. Jawabanya cukup mengejutkan, Yes but not exactly. Beliau hanya mengatakan, bisa jadi informasi berapa nomor rekening adalah “the last piece of information that he doesn’t know”. Hanya sekedar mengetahui nomor rekening seseorang mungkin tidak membuat rekening tersebut bisa dijebol. Tapi seandainya dia tahu informasi-informasi lainya rekening itu mungkin bisa dijebol.
Saya rasa cukup wajar dosen saya mengatakan hal itu. Sebagaimana yang kita ketahui, kasus mendapatkan SMS dengan mengatasnamakan pak kadarasah sudah cukup populer. Entah dari mana, saya dan sebagian besar teman fakultas saya pun juga mendapatkan sms tersebut. Dengan fakta ini, saya rasa cukup rasional seandainya kita mengatakan bahwa database informasi pribadi ITB telah bocor.
Lantas, Bagaimana si penipu meretas rekening korban ?
Begini, saat seluruh informasi pribadi seorang korban telah lengkap, penipu bisa dengan mudah mengaku-ngaku sebagai korban. Caranya mudah, cukup buat surat palsu LKB (Laporan Kehilangan Barang) dari kantor kepolisian yang menerangkan bahwa si penipu kehilangan barang berupa buku tabungan, kartu ATM, kartu KTP dst… kemudian ajukan claim ke bank. Sejauh ini, kita tidak pernah tau apakah bank benar-benar bekerja sama dengan kepolisian untuk membuktikan keabsahan surat LKB. Rasanya LKB hanya dicatat di bank kemudian kita bisa mendapatkan kartu ATM Baru beserta rekening bank hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Bagaimana bisa si customer service tertipu bahwa orang yang mengclaim kehilangan sebenarnya adalah penipu ?
Masih ingat, informasi apa saja yang kita berikan saat registrasi mahasiswa baru ? Ya… alamat, nomor handphone, NIK, nomor hape dan alamat email dan bahkan Nama ibu kandung pun kita berikan. Customer service bank akan menanyakan kepada kita berapa nomor rekening milik kita yang “hilang”. Selanjutnya Customer service akan menanyakan nama ibu kandung kita. Seandainya informasi itu bocor, kemudian ada seseorang mengaku-ngaku sebagai diri kita dan ditanya oleh customer service, “Bisa mas sebutkan nama ibu kandungnya ?” selesailah sudah.
Ada kasus yang serupa dari kejadian nyata. Dalam waktu 1 jam, Seluruh informasi digital milik Mat Honan menghilang termasuk akun bank, amazon, GMail, AppleID dst.. Bagaimana peretas meretas akun mat honan? Ternyata peretas melakukan claim terhadap akun mat honan dengan menelpon customer service Amazon. Sialnya, seluruh akun digital milik mat honan tersambung dengan service amazon.
Ada kasus lain yang lebih “hebat” lagi. Salah satu bank di Indonesia dituntut karena rekening nasabahnya jebol. Bagaimana peretas melakukanya ? Ternyata peretas mengetahui bahwa korban akan terbang dari jakarta ke makassar. Selama 2 jam perjalanan, karena hape korban harus dimatikan selama penerbangan, peretas melakukan claim kehilangan kartu sim telepon ke provider telepon. Setelah peretas mendapatkan kartu “sim baru” yang memiliki nomor yang sama dengan nomor hape korban, secara otomatis provider telpon menonaktifkan kartu sim korban. Selanjutnya peretas melakukan claim kehilangan ke bank melalui telpon dengan mengaku sedang berada di luar kota dan kehilangan pin dst. Karena nomor handphone yang digunakan peretas digunakan sebagai alat identifikasi oleh bank dan ditemukan kesamaan dengan data yang tersimpan oleh bank, bank memberikan izin untuk melakukan pergantian pin atm. Selanjutnya dia tinggal melakukan claim kehilangan kartu atm untuk mendapatkan kartu atm baru dan semuanya tamat.
Bagaimana mengumpulkan informasi pribadi seseorang ?
Apakah kita harus menjebol server website tertentu (misal server ITB) hanya untuk mendapatkan informasi pribadi seseorang ? Jawabanya tidak. Sebenarnya, semua informasi pribadi kita bisa dikumpulkan hanya dengan cara tradisional.
Adik bungsu saya pernah mengalami ditelpon oleh orang yang tidak dikenal lewat telpon rumah, kemudian terjadilah dialog cukup aneh seperti berikut (A = Adik Saya, P = Penipu):
P: Siang, dengan Telkom spidi disini. Saya butuh informasi tentang saudara
A: Oh iya, bisa dibantu ?
P: Bisa disebutkan nama kakaknya ?
Karena polos, adik saya menjawab dengan jujur.
A: Namanya «ini»
P: Oh, kakaknya sekolah dimana ?
A: Di ITB
P: Oh, tanggal lahirnya kapan ?
A: «Sekian»
P: Golongan darahnya apa ?
A: «Itu»
P: Oke terimakasih. Langsung menutup telpon.
Beberapa bulan selanjutnya, setelah adik saya lupa dengan kejadian tersebut, orang tua saya mendapatkan telpon. Si penipu menggunakan informasi yang sudah diberikan oleh adik saya untuk mencoba meyakinkan bahwa saya sedang mengalami kecelakaan. Dia memberikan informasi yang mengenai saya seperti golongan darah dan tanggal lahir. Untungnya saat itu saya ada di rumah dan orang tua saya segera tahu bahwa itu adalah modus penipuan
Ilustrasi
Pengalaman saya yang lain lebih unik lagi. Si penelpon tidak mengaku-ngaku sebagai representasi perusahaan tertentu seperti kasus diatas. Si penelpon hanya mencoba pura-pura salah sambung. Jadi dialognya singkat seperti ini : (P: Penipu, A: Ayah saya)
P: Halo, din, punten itu panci masakan diangkat kompornya dimatiin.
A: Maaf ini dengan siapa ?
P: Ibu din,.. itu kompor masih nyala.
A: Eh maaf pak sepertinya salah sambung
P: Oh iya ?? Ari ieu jeung saha ?(Bhs indonesia: Kalau kamu siapa namanya ?)
A: « Nama ayah saya »
P: Eh punten, maap « Nama ayah saya »
Selesai. Sekilas tidak ada yang salah dengan dialog tersebut. Tapi informasi itu bocor. Beruntung, karena curiga ayah saya menyimpan nomor penelpon itu ke kontak handphone. Benar saja, beberapa bulan setelah kita lupa kejadian tersebut, nomor handphone yang sama menelpon hape ayah saya.
P: Selamat siang,benar dengan bapak « Nama ayah saya » ?
Karena sudah disimpan ke dalam kontak handphone, nomor tersebut menjadi dikenali. Ayah saya mencoba melakukan improvisasi dan pura-pura mengikuti “flow” dari penelpon
A: iya
P: Oh ya pak, sepertinya ada ketidak cocokan data antara nama bapak dengan data yang kami miliki. Oke akan kami koreksi. Oiya pak, kami mau memberikan informasi mengenai hadiah mobil xyz. bla bla bla
A: Oke..
P: Nah hadiahnya ada pajak pemenang dan harus ditransfer.
A: Gak deh makasih, saya udah punya helikopter. Ada tank juga di rumah, kalau saya punya mobil lagi, hangar saya gak muat karena sudah diisi dengan jet pribadi. Makasih ya..
Telpon langsung ditutup oleh penipu tanpa mengucapkan salam. Semakin yakin bahwa nomor itu adalah nomor penipu.
Konklusi
Identitas pribadi adalah hal yang sangat sensitif. Perlu kewaspadaan tinggi untuk menjaga informasi pribadi agar tidak jatuh ke ruang publik. Ada banyak cara orang mendapatkan identitas pribadi, mulai dari cara tradisional seperti menelpon hingga penuh metode modern seperti meretas server institusi tertentu. Jangan pernah berikan identitas asli Jika kamu mulai curiga dengan lawan bicaramu. Kalau penipu saja bisa menipu kita, kenapa kita tidak menipu penipu ?
Ingat, terakhir, sekali lagi, jangan pernah biarkan informasi pribadi kita mudah ditemukan di ruang publik. Silahkan share jika bermanfaat mudah-mudahan bisa mengingatkan teman-teman kita dan menjaga diri dari seseorang yang mengaku-ngaku sebagai “Pak Kadarsah”. Sejauh ini, saya sudah melaporkan “dugaan kebocoroan database ITB” ke dosen saya. Meskipun begitu, tidak ada yang bisa menjamin sudah seberapa jauh “Pak Kadarsah” palsu mengetahui informasi pribadi kita. Mudah-mudahan kita tetap bisa waspada terhadap upaya “Pak Kadarsah” dalam meretas ITB.
Emang mungkin kalau cuma tau nomor rekening bisa dijebol rekeningnya ? Yes, but Not Exactly
Tiap orang yang menolak kebenaran dan tak mau mengamalkannya, kan diuji dgn kebimbangan dan keraguan
@dr_alhabdan - Dr. Muhammad Al Habdan, anggota Rabithah Ulama’ Al Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin) http://www.alhabdan.net
27/10/2015
(via twitulama)
Banyak anak yang telah terampil membaca di usia dini, tetapi begitu memasuki usia SD mulai kehilangan gairah membaca. Mereka bisa mengeja saat baru memasuki kelompok bermain (playgroup), tapi saat remaja sangat enggan menyentuh buku. Dan inilah yang banyak kita jumpai. Anak-anak dilatih untuk mampu membaca saat mereka masih balita, tapi begitu usia sekolah hilang gairahnya membaca, hilang pula antusiasme belajarnya. Apa yang salah? Mereka hanya diajari kemampuan membaca, tapi tidak ditumbuhkan kecintaannya pada membaca, kebanggaan terhadap kegiatan tersebut (bukan bangga pada diri sendiri) dan tidak pula ditanamkan keyakinan tentang manfaat membaca serta kesediaan untuk berpayah-payah mencari kesempatan membaca. Jika membaca itu sesuatu yang membanggakan sekaligus sangat berharga, anak akan siap bercapek-capek untuk memperoleh buku. Bahkan bila perlu harus kehilangan uang saku untuk mendapatkan buku. Hasil penelitian Prof. Dr. Kathy Hirsh-Pasek, penulis buku Einstein Never Used Flashcards sekaligus satu-satunya orang yang diizinkan melakukan penelitian di The Better Baby Institute Philadelphia pimpinan Glenn Doman, menarik untuk kita perhatikan. Metode yang diklaim mampu menghasilkan anak-anak jenius melalui pembelajaran membaca dan belakangan berhitung sejak bayi ini, ternyata tidak pernah melahirkan satu jenius pun. Sebaliknya, berdasarkan riset Kathy Hirsh-Pasek, anak-anak yang diajari membaca menggunakan metode Glenn Doman justru cenderung kehilangan antusiasme membaca maupun belajar di usia-usia sekolah hingga masa berikutnya. Anak memang mampu membaca di usia yang jauh lebih dini dibanding teman-temannya, tetapi kehilangan gairah saat ia seharusnya banyak belajar. Pertanyaannya, apa artinya mampu jika anak tak mau? Apa manfaatnya bisa membaca jika mereka tak menyukainya? Maka sangat wajar jika saat balita tampak begitu cerdas dan menggemaskan, tetapi begitu usia sekolah dasar sangat enggan menyentuh buku. Ini sama seperti budaya belajar. Jika sekolah tidak membangun budaya belajar yang kuat, kelas satu semangatnya berkobar-kobar, kelas dua masih berkibar, tapi begitu kelas empat bikin guru dan orangtua berdebar-debar. Apalagi saat anak memasuki kelas enam ketika mereka seharusnya bersiap menghadapi ujian akhir. Padahal jika anak memiliki budaya belajar yang besar, kelas satu mereka bersemangat meskipun mungkin masih belum mampu membaca, kelas dua semakin bersemangat dan selanjutnya di kelas empat mulai menjadi pembelajar mandiri. Anak-anak menyenangi belajar sehingga tak perlu menunggu perintah guru dan teriakan orangtua untuk bergegas melahap bacaan bermutu maupun mengerjakan tugas di rumah. Saya tidak pernah tinggal di luar negeri. Tapi ada cerita menarik dari rekan-rekan yang tinggal di luar negeri ketika saya berkunjung ke sana atau berbincang melalui fasilitas internet maupun telepon selular. Anak-anak yang belajar di Australia, Inggris atau Jepang mulai belajar membaca secara formal ketika mereka masuk SD. Artinya, saat memulai pendidikan di sekolah dasar, mereka belum mampu membaca. Mampu saja belum, apalagi terampil. Pada masa SD, sekolah menekankan betul pembentukan budaya literasi yang dibarengi dengan kemampuan literasi (baca-tulis). Sekolah membentuk kecintaan dan gairah anak terhadap membaca, memperoleh pengalaman mengesankan dengan kegiatan membaca, dan bukan menekankan pada keterampilan membaca di usia dini. Ketika kemauan membaca telah tertanam sangat kuat pada diri anak, maka akan lebih mudah bagi mereka belajar kemampuan membaca. Maka tatkala usianya semakin bertambah dan minatnya semakin berkembang, anak-anak tetap bergairah membaca. Inilah yang menjaga keberlangsungan minat baca mereka yang berimbas nyata terhadap budaya belajar. Apa artinya? Kemauan membacalah yang lebih penting kita bangun. Tak usah bergenit-genit dengan kemampuan anak membaca dan berhitung di usia dini. Kalaupun kemudian mereka mampu membaca di usia dini, tidak menjadi masalah sepanjang itu akibat dari minat besarnya terhadap membaca. Bukan akibat dilatih. Kemauan yang kuat memudahkan anak meraih kemampuan. Sebaliknya, kemampuan tanpa kemauan akan menjadikan mereka mudah mengalami kebosanan dan kejenuhan membaca. Malas belajar merupakan akibat berikutnya. Nah.
Mohammad Fauzil Adhim (via fauziladhim)
Seorang belumlah beranjak dari kebodohan atas apa yang diilmuinya, hingga ia mengamalkannya.
Fudhail ibn ‘Iyadh (via shintarahayu)
Mintalah hati yang lapang, agar seberat apapun titah-Nya, tidak menyisakan gerutu dari lisan kita. Sebab memang hanya mereka yang dilapangkan dadanya yang mau menerima cahaya itu sepenuhnya.
(via kurniawangunadi)
Menikah, Layak Diperjuangkan
Sungguh menikah itu sesuatu yang layak diperjuangkan. Bukan semata untuk menggenapkan tulang rusuk saja. Atau untuk menghiasi jari manis dengan sepasang cincin bertuliskan nama pasangan di belakangnya. Apalagi sebagai ajang unjuk gigi.
Tapi jauh di atas itu, menikah adalah perintah Allah. Satu alasan yang saya pikir cukup untuk dijadikan sebuah alasan. Karena ini perintah Allah, tentu tersimpan banyak kemaslahatan di baliknya. Dan yang saya rasakan, kemaslahatan-kemaslahatan tersembunyi di balik pernikahan sangat sangat banyak. Beneran.
Sepengalaman saya, menikah itu banyak mendatangkan kebaikan. Seolah pintu-pintu “ketidakmungkinan” yang sewaktu masih sendiri banyak terlintas, setelah menikah satu persatu terbuka dengan sendirinya. Dari arah yang tak disangka. Dan seringkali dari arah yang tidak diduga.
Saya menyaksikan dan merasakan sendiri, penggalan ayat “…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya…” itu benar adanya. Mata, hati, dan tubuh ini menjadi saksi. Bahwa benar, Allah takkan menelantarkan apalagi menyembunyikan apa-apa yang sudah menjadi rezekinya.
Jika rezeki itu berupa materi, sungguh, saya merasakan sendiri bahwa Alhamdulillah hingga saat ini, kebutuhan selalu saja tercukupi. Materi selalu muncul dari pintu yang tak terpikirkan sebelumnya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang dahulu menghantui pikiran, seolah kini berbalik menjadi sebuah pertanyaan: Apa benar dulu saya mengkhawatirkan ini sampai sebegitu khawatirnya?
Sekali lagi. Banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan sedikitpun, tiba-tiba Allah buka semua jalan keluar. Bahkan seringkali, membuat saya sendiri menganga. Dari situ saya belajar makna dibalik kata ‘yakin’. Dan saya juga mempelajari bahwa ‘keyakinan’ adalah sesuatu yang sangat berharga.
Sepengalaman saya lagi, menikah juga menarik batas-batas potensi setingkat lebih atas. Saat ‘tak boleh egois’, 'harus menjadi pasangan terbaik’, 'bagaimana makan esok hari?’, 'si kecil layak mendapat orang tua terbaik’ berpadu menjadi satu, seolah tulang-tulang yang sebelumnya terdiam kini jadi bekerja dua kali lipat dengan sendirinya. Entah dari mana juga datangnya energi penggeraknya.
Menikah juga mengajari arti empati, keteladanan, fastabiqul khairat, dan romantisme di level yang lain. Eksperimen-pembelajaran-evaluasi yang dilakukan setiap hari bersama pasangan, sedikit demi sedikit menaikan kapasitas diri, baik sebagai personal maupun sebagai pasangan.
Dan yang pasti, menikah itu menenangkan. Saat kamu tahu bahwa saling berpandangan itu berpahala, berpegang tangan berpahala, dan bercanda bersama pasangan itu berpahala, seger banget dah. Lebih seger dari sirup marjan.
Apalagi saat ada buah hati di sisi. Lebih memahami dan merasakan makna 'unconditional love’ dan kasih sayang orang tua. Kelelahan-kelelahan yang didapat saat mencari sesuap nasi seolah sirna seketika sesaat setelah melihat senyum si kecil. Satu senyuman yang menjadi penetralisir semuanya. Semua emosi-emosi negatif yang sedang bergemul dalam dada.
So, menikah itu layak diperjuangkan. Perjalanan hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan jangan dipandang sebelah mata. Serius. Ini bukan tentang harus cepat-cepat menikah atau menunggu keren dulu baru menikah. Ini tentang bagaimana dengan kapasitas yang dipunya, kita merencanakan, mempersiapkan sebaik mungkin, dan memperjuangkan segigih mungkin proses ini hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan suatu saat nanti.
Semangat berjuang.
© Zaky Amirullah
Jika kemudian engkau mendapat kesempatan untuk memilih dari beberapa pilihan, maka cobalah untuk tidak mengambil yang paling terlihat sempurna. Ambillah yang “pas”, yang sekiranya cukup, bukan yang “paling atas”, karena dikhawatirkan ketika engkau memilih yang paling sempurna di antara semuanya, ada nafsu yang terselip sedemikian besarnya. Sulit? Iya.
Ustadz Salim A. Fillah (via kurniawangunadi)
Kenapa kita begitu benci kehilangan? Padahal kita sejatinya (memang) tak benar-benar memiliki. Ikhlaskan saja..esok lusa kalau memang jodoh kita, ia pasti kembali. Atau jika tidak, akan dihadirkan oleh Nya seseorang yang jauh lebih baik. Gigit pemahaman ini dengan gigi geraham.
Nofita Wulan
Cukup
Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.
Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.
Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.
Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup.
©kurniawangunadi