Rappelling (Turun Tebing) ialah salah satu kegiatan outdoor yang bisa jadi sarana uji nyali. Berani coba? (at Curug Sigay)
Peter Solarz
KIROKAZE
tumblr dot com

@theartofmadeline

No title available

blake kathryn
Xuebing Du
cherry valley forever
Mike Driver
RMH

PR's Tumblrdome
Alisa U Zemlji Chuda
Sade Olutola

pixel skylines
Lint Roller? I Barely Know Her
wallacepolsom

Product Placement
hello vonnie
trying on a metaphor
Misplaced Lens Cap

seen from Finland

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Peru

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from China
@marceltirawan
Rappelling (Turun Tebing) ialah salah satu kegiatan outdoor yang bisa jadi sarana uji nyali. Berani coba? (at Curug Sigay)
keren tapi ga punya attitude baik, jatuhnya tetep nol buat gw
Teh sifat di grup Interviewer BukaLapak Forum Indonesia Muda
(Karena kita tidak hanya mencari yang keren di cv tapi yang mampu beradaptasi dengan baik, yang mempunyai akhlak yang santun. Karena ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah yang mana dapat dilihat dan dirasakan dari akhlaknya)
Itulah cara kerja ilmu, buahnya ialah keindahan akhlak dan kebijaksanaan sikap
Mengapa Berhenti? Bagaimana Jika Ternyata Sudah Tak Jauh Lagi?
(Diadaptasi dari lagu “Di Balik Gunung” karya Teh Mutia Prawitasari @prawitamutia dalam Teman Imaji)
Seandainya kau tahu bahwa kau sungguh berharga, kau bisa jadi apa saja asal kau berupaya.
Dulu, kita tumbuh sebagai anak yang penuh dengan imajinasi, tak terkecuali imajinasi tentang masa depan. Ketika orang dewasa menanyakan kepada kita tentang ingin jadi apakah kita nanti ketika sudah besar, kita dengan mudahnya mengucapkan banyak hal. “Ingin jadi dokter! Ingin terbang seperti pilot! Ingin menjelajahi luar angkasa!” Tapi, antusiasme itu melebur seiring pertumbuhan kedewasaan kita. Lama-kelamaan, kita mulai didistraksi oleh pemikiran tentang ketidakmungkinan. Kita jadi mudah menyerah, merasa rendah dan berpikir ingin menyerah. Padahal, seandainya saja kita tahu, kita begitu berharga dan bisa menjadi apa yang kita inginkan asalkan kita tetap berupaya.
Seandainya kau tahu apa doa Ayah dan Bunda, tak mungkin sampai engkau tega mematahkan isinya.
Tak ada orang tua yang tidak menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya, tak terkecuali tentang kebaikan bagi mimpi anak-anaknya. Kita hanya tidak pernah tahu, karena kita tidak pernah mendengar lirih doa Ayah dan Bunda kita dalam malam-malam panjang mereka. Mereka ingin kita mendewasa dengan baik, dunia dan akhirat. Karenanya, menyerah sama saja dengan mematahkan doa dan harapan mereka. Seandainya saja kita tahu. Ya, seandainya kita tahu.
Teruslah bergerak hingga rasa lelah kelelahan mengikutimu. Sebab nanti suatu hari kau akan tersenyum setiap pagi, menikmati jerih diri dan segala yang telah kau lalui. Sebab nanti suatu hari kau punya cerita tuk dibagi, tentang mimpi yang tak pasti namun kau membuatnya terjadi. Belum saatnya berhenti, ayo terus mendaki. Sudah tak jauh lagi kini, ayo terus dekati.
Mengapa ingin berhenti? Bagaimana jika ternyata perwujudan mimpi-mimpi kita sudah tak jauh lagi? Memang, pada suatu ketika mungkin lelah akan menghampiri kita yang mulai lemah. Tapi, disanalah letak perjuangannya, berjuang mengalahkan lelah dan lemah. Ayo, sedikit lagi! Kelak, perjuangan ini akan membuat kita tersenyum dan bersyukur karena telah mampu melampaui keterbatasan-keterbatasan diri. Ayo, sedikit lagi! Kelak, inilah cerita indah hidup kita yang akan menjelma menjadi inspirasi untuk dibagi. Semua mimpi memang terkesan tak pasti, tapi inspirasi hadir dari perjuangan-perjuangan kita untuk membuatnya terjadi. Ayo terus dekati!
Seandainya kau tahu apa di balik gunung sana, terhampar padang bunga-bunga, kau akan bahagia. Seandainya kau tahu bahwa anak-anakmu kelak inginkan sebuah cerita pahlawan di hidupnya. Teruslah bergerak, hingga rasa lelah sendiri kelelahan mengikutimu.
Mengapa ingin berhenti? Bagaimana jika ternyata perwujudan mimpi-mimpi kita sudah tak jauh lagi? Memang, rasanya perjalanan ini seperti terhalang gunung-gunung tinggi tanpa celah untuk dapat melewatinya. Tapi, seandainya kita tahu bahwa kelak anak-anak kita akan menginginkan cerita tentang pahlawan di hidupnya. Tegakah kita bercerita pada mereka tentang kita yang kalah dan menyerah pada keadaan?
Lalu, mengapa tetap berpikir untuk berhenti? Sudah tak jauh lagi, ayo semangat lagi!
Selangkah demi selangkah mari kita buka lembaran takdir hidup ini tanpa menghadirkan kata seandainya bagi halaman-halaman lalu dan tanpa menghadirkan kata tapi bagi halaman-halaman baru.
Berlari, berjalan, dan merangkak untuk terus maju dan berjuang sampai habis.
“dan berdo'alah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. Al Mu’minun[23]: 29)
Aku ingin mengecap manisnya iman kepada Allah bersamamu. Beribadah bersama, dalam sebuah bingkai bernama pernikahan.
(via dirgaahmad)
Segerakan aksi vroh, kode di sini mah cuma jalan di tempat. Haha #ykwim
“Your job — as students who are receiving an education — is to be aware of your privilege. And use this particular privilege called “education” to do your best to achieve great things, all the while advocating for those in the rows behind you.”
source
Wow this is a masterpiece
Analogi yang menarik
Setulus Hati, Lillahitaala ❤
Tak akan rugi mereka yang suka menolong karena-Nya. Yuk memberi, bahkan sebelum diminta :)
Why We Need Hugs?
Jadi belakangan ini aku semakin yakin kalo kasih sayang, cara mendidik, pelukan, ciuman, dan kehangatan orang tua sejak kecil akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
Berdasarkan salah satu penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Epidemiology and Community Health mengungkapkan fakta bahwa bayi yang sedari lahir selalu diberi sentuhan (pelukan, ciuman, belaian) pertanda kasih sayang oleh orangtuanya, akan tumbuh menjadi pribadi yang tak mudah stres.
Pelukan merupakan sentuhan yang paling penting berdasarkan penelitian di University of Miami, Miller School of Medicine, 1992. Anak yang mendapatkan pelukan akan memiliki tingkat stres dan ketakutan yang rendah (http://www.modernmom.com/99aabf8e-3b3e-11e3-be8a-bc764e04a41e.html).
Saat berpelukan akan ada hormon yang keluar yaitu oksitosin. Oksitosin kebanyakan diproduksi di area otak atau hipotalamus. Oksitosin akan membuat seseorang menjadi lebih nyaman dan bahagia saat sedang bersama keluarga atau orang tersayang. Selain itu bisa juga membuat tingkat stres menurun, menurunkan tekanan darah, meningkatkan mood jadi baik, dan meningkatkan tahan rasa nyeri juga dapat memberikan penyembuhan luka (https://newsinhealth.nih.gov/2007/february/docs/01features_01.htm).
10 manfaat berpelukan : (1) membangun kepercayaan terhadap orang dan merasa aman; (2) meningkatan hormon oksitosin yang akan mengurangi rasa kesendirian, isolasi diri, dan kemarahan; (3) Dapat membuat lebih happy dan meningkatkan mood baik; (4) pelukan dapat memperkuat imun tubuh; (5) meningkatkan kepercayaan diri; (6) dapat membuat rileks otot; (7) dapat menyeimbangkan sistem saraf; (8) berpelukan mengajarkan bagaimana memberi dan menerima; (9) berpelukan seperti obat dan juga membuat tertawa; (10) bagi kedua orang yang berpelukan akan terjadi pertukaran energi yang merupakan investasi bagi hubungan antar kedua orang tersebut. This synergy is more likely to result in win-win outcomes (http://www.mindbodygreen.com/0-5756/10-Reasons-Why-We-Need-at-Least-8-Hugs-a-Day.html)
Yahhh link di atas cukup sedikit menggambarkan bahwa the power of hug itu sangatlah besar.
Aku jadi mau curhat sedikit, belakangan ini aku jadi sadar bahwa aku memiliki sedikit perbedaan dengan teman-temanku. Rasanya, temanku tiap hari ada aja telpon dari orang tuanya, atau melihat kedekatan teman aku dengan ibunya yang udah kaya sahabatan, sebelum pergi semacam dicium dan atau dipeluk. Kemudian lihat canda tawa ibunya dengan temanku juga kakak laki-lakinya. Di sisi lain aku sangat senang, tapi sisi lainnya lagi sebenarnya aku sedikit iri dengan mereka. Astagfirullah :(
Tapi jika dilihat dari pengalaman aku, rasanya hal di atas jarang sekali terjadi pada aku. Ciuman dan pelukan biasa aku dapatkan saat sungkeman lebaran bersama orang tua. Selain itu jaraaaaaaaang sekali moment pelukan itu ada. sejak kecil kalo pergi ke sekolah biasanya cium tangan aja, dan itu berlangsung sampe sekarang. Lalu kalo komunikasi sama orang tua paling lewat sms/ watsap, terus emang Aku dan Mama, Bapak, Aa kurang terbuka satu sama lain jadi jarang cerita, aku pun rasanya ga pernah dilarang selalu dibolehin jika mau ikut sesuatu (kalopun dilarang, aku selalu negosiasi hingga akhirnya izin di approve, ckck).
Belakangan ini karena aku beberapa kali diskusi soal parenting, ngobrol nanya sana sini, lalu diskusi kebiasaan dipeluk/ dicium dll hal yang menurutku unik, aku jadi bertanya pada diri sendiri. Kenapa orang tua aku ga seperti mereka ya?
Tidak, aku tidak menyalahkan orang tua aku. Aku yakin mereka sudah semaksimal mungkin untuk mendidik aku khususnya tentang Agama. Aku sangat bersyukur sekali karena berada di lingkungan teman-teman yang membawa kebaikan dan kegiatan positif, akhirnya aku pun terbawa oleh arus kebaikan itu. Setelah diskusi sana-sini, nanya banyak teman, bahkan ada Tante Agustin yang saat itu mau mendengarkan curhatku akhirnya menyadarkan aku bahwa hal ini tidak bisa didiamkan, maka dari itu aku mulai merubah sikap dengan menjadi lebih terbuka dengan orang tua. Aku mencoba lebih mendekatkan diri pada mereka, membuka cerita, dan selalu cerita jika ada hal yang seru di kampus. Ternyata orang tua pun menyambutku dengan baik, mereka pun menjadi lebih terbuka dengan kita.
Walaupun belum sedekat orang tua temenku yang lain, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk bisa merubah keadaan sejak sekarang. Karena nantinya jika aku punya anak, aku berharap bisa menjadi sahabat baik dan tempat cerita bagi anak sendiri.
Jadi ingat saat cerita kepada Tante Agustin, setelah aku cerita mengenai riwayat masa lalu, ada satu hal menarik yang membuka mataku. Ketika aku menemukan orang yang sayang sama aku, diberikan perhatian dan kasih sayang melebihi orang tua, aku akan merasa nyaman dan merasa tidak ingin terpisahkan. Namun jika pada akhirnya harus berpisah, aku akan merasa kehilangan dengan segala perhatian tersebut. Kehilangan itu lah pada akhirnya membuat aku melampiaskan diri dengan senang explore sana-sini, tidak betah di rumah karena merasa kurang perhatian, senang berinteraksi dengan orang lain karena dirasa lebih nyaman and doesn’t feel loneliness.
“Apakah ini yang menjadi alasan kamu tidak betah di rumah dan senang berpetualang?” pertanyaan itu kemudian muncul, hingga akhirnya aku pun berpikir dan berusaha mencari jawaban sejujur-jujurnya.
No offense kepada siapapun, tapi hal ini benar-benar memberikan pelajaran berharga kepada aku sendiri bahwa perhatian, kasih sayang, pola asuh, pelukan, ciuman, dan komunikasi yang baik adalah beberapa komponen penting dalam membangun karakter, perilaku, kecerdasan, bahkan kesuksesan seorang anak. Jadi, mari generasi muda untuk sama-sama belajar ilmu parenting dalam mempersiapkan kita jika nanti sudah menikah dan mempunyai anak. Jangan lupa peluk anaknya ya!
Wih.. jadi tulisan! Ntap li (y)
Edelweis menjulang tinggi bermekaran di kaki langit. Banyak orang berkata bunga ini identik dengan keabadian, tak lekang oleh waktu. Indahnya hidup bila kau tak sekedar ada tuk menghabiskan sisa usia, tapi… menikmati setiap bilangannya tuk berkarya dan meninggalkan jejak. Jejak langkah penuh karya kelak akan melegenda nan mengabadi, biarkan umurmu jauh melampaui bilangan usia. Mari bermekaran di bawah naungan 'langit' layaknya bunga keabadian, Edelweis.
Dear Teachers, thank you all!
Perahu Nelayan membelah lautan Selat Sunda. Suatu momen langka bagi warga ibu kota yang kurang piknik. Hehe Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat suasana pagi yang syahdu di Selat Sunda
Perjalanan panjang sejatinya merupakan kumpulan langkah-langkah kecil yang tersusun padu menuju sebuah titik akhir. Selesaikan jejakmu hari ini dengan baik agar semakin terkikis pautan jarak impian dan kenyataan. Koridor KMP Adinda Windu Karsa, Selat Sunda. Februari, 2016.
Fajar menyingsing di ufuk timur cakrawala Selat Sunda mengisyaratkan hari telah berganti. Telah pergi masa lalu, kelak datang cerita baru.
PENDAFTARAN FIM 18 TELAH DIBUKA! Tahap pendaftaran : 1. Tanggal 1-7 Februari 2016 : calon peserta melakukan registrasi (sign up) 2. Tanggal 8-29 Februari 2016 : calon peserta mengisi formulir & melengkapi berkas pendaftaran Klik portal.forumindonesiamuda.org untuk memulai langkahmu! Twitter : @fimnews IG : @fimnews Web : https://www.forumindonesiamuda.org Fanspage : https://www.fb.com/forumindonesiamuda Line : http://line.me/ti/p/%40cnz0088f e-book FIM : https://goo.gl/Z3gthC
Kalau kamu cari orang yang ga pernah bersalah maka kamu harus puas gak nemuin siapa-siapa
Kebijaksanaan ialah sikap luhur dengan tidak mengatakan semua yang kita tahu dan memastikan bahwa kita tahu segala yang kita katakan
Berhati-hatilah pada lidah tak bertulang
Allah Memberikan Kesempurnaan
Pati, 10 April 1992. Allah memberikanku kesempurnaan.
Memberi hikmah tak terkira bagi keluarga kami. Setelah berjuang selama hampir 12 jam, hari itu aku dilahirkan lewat Rahim seorang ibu yang tangguh. Sungguh sulit membayangkan apa yang dirasakan oleh Bapak dan Ibuku setelah mengetahui buah hatinya tidak terlahir sebagaimana anak-anak lainnya, badan mungilku dicekoki kabel dan inkubator, tanpa tangisan. Asphyxia neonatal mengalahkan syaraf-syaraf tubuhku, lengkap dengan vonis dokter bahwa fisikku takkan bertahan lama melihat indahnya dunia.
Hari itu, boleh jadi adalah awal dari segenap kisah cerita hidup yang terus mewarnai keluarga kami. Muhammad Zulfikar Rakhmat, dilahirkan dengan keterbatasan, tanpa syaraf tangan dan ujung lidah yang tidak berfungsi sempurna. Sulit membayangkan apa yang dirasakan orang tuaku saat itu. Namun, kuyakin bukanlah keterbatasan fisik yang mereka sesalkan melainkan ketakutan akan masa depan, masa depan anaknya yang harus hidup dengan perjuangan. Perjuangan yang “berbeda” untuk mendapatkan kebahagiaan.
Semarang, 1 Juli 1996. Allah memberiku kesempurnaan.
4 tahun setelah aku dilahirkan. Nyatanya Allah lah pemberi kehidupan. Meski tak mampu berbicara normal sebagaimana anak-anak lainnya, setidaknya ayah dan ibuku cukup berbangga karena anaknya mampu bertahan dan kini sudah pantas untuk bersekolah. Yang kuingat, saat itu, ayahku mencoba mendaftarkanku ke Sekolah Dasar formal.
Tapi sayang, seluruh sekolah dasar di Semarang menolakku, dengan berbagai alasan terkait dengan keterbatasan yang kumiliki. Namun, aku bersyukur didampingi ayah dan ibu yang hebat. Dengan penuh keyakinan ayah dan ibuku menemui beberapa orang dan lembaga–cara logis dan umum yang dilakukan oleh banyak orang di Indonesia. Anda punya masalah? Temui mereka yang ‘penting’, syukur-syukur berakhir dengan solusi dan “sedikit” rasa iba. Tapi, benar saja, Alhamdulillah, Allah memberikanku jalan. Tak berapa lama, ikhtiar ayahku dijawab Allah dan aku diterima di sekolah formal, SD Al Azhar di Semarang.
Berulang kali aku berucap syukur, entah apa jadinya jika saat itu tak satupun sekolah “normal” yang mau menerimaku. Barangkali Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah jalan pilihan yang harus ditempuh. Sekolah Luar Biasa yang sebetulnya tidaklah luar biasa bagi kami kaum difabel. Karena di sekolah itulah biasanya otak kaum difabel dikerangkeng, hati dan fisik mereka dipisahkan dari komunitas. Sekolah yang justru memberikan“keterbatasan” yang sesungguhnya bagi kaum difabel untuk lebih menikmati kehidupan.
Hari-hari sekolah kujalani penuh cerita. Cerita yang berbeda.
Jika boleh jujur, dari hati yang paling dalam, sungguh aku tak ingin lagi mengulang detil cerita luka yang kualami sewaktu sekolah. Awalnya kupikir, cukuplah ini menjadi hikmah dalam hidupku yang harus kutimbun dalam-dalam di hati. Tapi belakangan kusadar, ini sesunggunnya bukanlah cerita menyedihkan. Harusnya ini menjadi cerita membahagiakan tentang kekuatan dan keberhasilanku melawan keterbatasan. Harusnya ini menjadi cerita hikmah yang harus didengarkan oleh banyak kaum difabel di luar sana yang kalah melawan keterbatasan. Harusnya cerita ini juga didengarkan oleh setiap orang yang penuh kesempurnaan di dunia ini, agar kami kaum difabel bisa berjalan beriringan dalam setiap cerita-cerita hidup mereka.
Bullying, satu kata yang terus menghukum jantung hatiku semenjak belasan tahun yang lalu. Hari-hari disaat dilecehkan teman, didorong hingga membuat kepalaku penuh jahitan, dikucilkan dari pergaulan, dan pulang ke rumah dengan tangisan. Yang kuingat adalah tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kelas di saat yang lain berlarian di jam istirahat. Datang ke sekolah se-akhir mungkin dan pulang se-awal mungkin. Datang lebih awal adalah membuka kesempatan mendapatkan ciutan dan pulang lebih awal adalah satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari pergaulan.
Dari semua cerita, satu hal yang masih kuingat jelas, mereka yang selalu meragukan kemampuanku. Ada satu pertanyaan yang sering kuterima, “Apa cita-citamu?” Pertanyaan yang sebetulnya standar buat anak SD yang waktu itu belum tahu apa-apa. Dengan penuh keyakinan aku selalu jawab, “Cita-citaku menjadi seorang guru.” Tapi sayang sekali beberapa dari mereka meragukannya dan ada yang menertawakannya, bahkan ada juga yang mengatakan, “Gimana mau menjadi guru, nulis aja gak bisa?”
Entahlah, apa yang kualami saat itu boleh jadi adalah ujian dan hikmah dari Allah. Tapi Allah sangat adil terhadap hamba-hambanya. Di balik segala cerita itu, Allah menganugerahkanku ayah dan ibu yang hebat. Setiap kali pulang ke rumah, Ayah dan Ibuku selalu tersenyum “bahagia” dan menyambut dengan berkata, “Jangan biarkan keterbatasan mengalahkanmu,” serta membelaiku dan mencoba mencari alasan agar seolah-olah masuk akal bahwa cerita bullying itu adalah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan meski kutahu saat itu sebetulnya beliau menanggung beban yang jauh lebih berat dari apa yang kualami dan kupikirkan.
Semarang, 1 Juli 2004. Allah memberikanku kesempurnaan.
Kesehatan selalu menjadi anugerah terindah yang diberikan Allah. Tahun itu kutamatkan Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidian ke jenjang SMP. Meski bullying masih terkadang kualami dari hari ke hari, tapi sepertinya hati ini sudah mulai kuat, setidaknya tak ada lagi tangisan. Berulang kali kumotivasi diriku untuk melakukan apa yang siswa normal lainnya lakukan.
Ternyata benar, ikhtiar dan kerja keras adalah jalan untuk mendapatkan kesetaraan. Beberapa kali, aku terpilih sebagai juara lomba pidato dan santri terbaik serta lulus dengan nilai ujian nasional yang memuaskan.
Perlahan percaya diri itu mulai muncul. Aku bisa melihat Ayah-Ibuku mulai tersenyum bahagia bahwa perjuangan beliau menjadi kenyataan. Bahwa aku bukan lagi anak yang lemah dan “terbatas”. Melalui perjuangan tanpa lelah mendampingiku dari waktu ke waktu, Merekalah yang sebetulnya berhasil meruntuhkan segala “keterbatasanku”.
Qatar, 30 Mei 2007. Allah memberikanku kesempurnaan.
Kami sekeluarga pindah ke Qatar. Cerita baru yang menjadi awal bagi keluarga kami hidup di perantauan. Namun benar saja, momen ditolak sekolah terulang kembali. Setelah berkeliling satu negara, tak ada satu sekolahpun yang mau menerimaku. Strategi menemui ‘orang penting’ tak mungkin lagi bisa dilakukan. Waktu itu, ayahku sempat kehabisan akal hingga mulai terpikir untuk mengirimku kembali ke Indonesia.
Tetapi Allah memang Maha Besar. Beberapa hari setelah itu, akhirnya sebuah sekolah menerimaku sebagai siswa di Qatar. Benar adanya, bahwa perjuangan hanya akan berhenti setelah ajal menjemput. Sekolah di Qatar membawaku pada bentuk perjuangan lain. Bergaul dengan lingkungan yang asing lengkap dengan keasingan bahasa dan sifat-sifat mereka. Tapi setidaknya, ada satu hal yang berbeda, tak ada lagi bullying.
Hari-hari yang kulewati bukan lagi saat-saat memendam rasa benci terhadap teman yang mem-bully, perjuanganku jauh lebih “membahagiakan”–belajar bahasa Arab dan belajar bagaimana mencari teman. Kebahagiaan yang justru kudapatkan setelah pergi ribuan kilometer dari Bumi Pertiwi.
Qatar, 1 Maret 2010. Alah memberikanku kesempurnaan.
Anak yang dulu dilahirkan tanpa tangisan dan banyak keterbatasan, diterima dengan beasiswa di Qatar University. Belajar dengan ulama-ulama besar dunia. Sungguh anugerah yang luar biasa yang Allah ciptakan. Ini adalah titik balik pengharapanku untuk menjadi orang yang jauh lebih berarti buat keluargaku dan orang-orang di sekitarku.
Rasa terima kasih yang tidak pernah bisa berbalas buat teman-temanku semasa kuliah yang meluangkan waktunya menjemput dan mengantarkan untuk berangkat kuliah. Dukungan mental yang luar biasa sebagai jawaban atas kelemahanku. 18 tahun umurku, alhamdulillah, akhirnya kunikmati apa itu makna persahabatan. Persahabatan yang tulus, tanpa berharap kembali, persahabatan yang akan kuingat sampai tua nanti.
Jika boleh jujur, persahabatan itu juga yang menjadi asa dan semangatku yang sebenarnya. Efeknya, aku memahami apa itu menjadi manusia yang utuh, percaya diriku mulai tumbuh. Alhamdulillah nilaiku melonjak drastis. Tulisan-tulisanku mulai dimuat di outlet lokal dan internasional. Berbekal nilai IPK yang hampir sempurna kuselesaikan kuliah sarjana dengan predikat lulusan terbaik dan salah satu yang tercepat di Qatar University.
Aku juga diberi kesempatan menunaikan ibadah umrah. Entahlah, serasa mukjizat yang sulit digambarkan di saat melihat orang tuaku tersenyum haru melihat anaknya mendapatkan penghargaan langsung dari Raja Qatar di hari wisudaku saat itu.
Manchester, 12 September 2014. Allah memberikanku kesempurnaan.
Aku diterima di salah satu universitas yang diidamkan banyak orang, University of Manchester. Pencapaian yang mudah-mudahan menjadi awal baikku untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru di tanah kelahiranku. Dari hijaunya Bumi Pertiwi dan panasnya gurun pasir Timur Tengah, hari ini kujejaki dinginnya tanah Britania, bergaul dengan ilmuwan hebat dunia dan bertemu dengan kawan-kawan yang punya cerita perjuangan yang mengesankan.
Kurasakan tangan ini sudah jauh lebih kuat, lidah ini jauh lebih kuat. Syaraf-syaraf itu serasa berfungsi kembali, berfungsi kembali dalam arti yang sesungguhnya–menjadi manusia yang sempurna.
Aku sadar sesadar-sadarnya ternyata Allah tak pernah memberikanku keterbatasan. Semenjak aku dilahirkan, aku diaugerahkan kesempurnaan yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan yang kusadari setelah dua dasawarsa raga ini hadir di dunia. Untuk orang tuaku, sahabatku, rasa terima kasihku tak mungkin bisa terbalaskan dengan kata-kata dan harta, hanya doa yang bisa kusampaikan. Semoga Allah juga membalas segalanya dengan kesempurnaan untuk kalian.
Manchester, 11 November 2015. Allah memberikanku kesempurnaan.
Di sebuah taman kecil, di selatan kota Manchester, aku terduduk di sebuah bangku kayu. Cuaca hari ini sedang dingin-dinginnya. Langit biru kembali muncul seusai kabut pekat beranjak. Angin berembus semilir. Musim dingin sudah berada di ujung pintu. Seketika aku teringat saat aku berdiri di depan kelas dimana aku mengutarakan mimpi belajar ke Inggris di hadapan guru dan teman-temanku. Hari ini, impian tersebut terkabul.
Seorang anak yang dulu dilahirkan tanpa tangisan dan penuh keterbatasan, hari ini menamatkan strata pendidikan magister dengan predikat memuaskan dari salah satu universitas bergengsi di dunia. Sungguh, Allah menjawab mimpi-mimpiku dengan cara yang sama sekali tak terduga. Ia tak hanya mengabulkan, tapi juga menambah-nambahnya dengan luar biasa.
Mimpi besar telah mengantarkanku pada pengalaman yang tak terpikirkan sebelumnya. Mendapat pendidikan terbaik dari Timur Tengah, belajar agama dari ulama-ulama dunia, serta diberikan kesempatan untuk berhaji ke rumah-Nya. Dulu semua ini hanyalah mimpi-mimpi yang terparkir di dinding kamarku, juga mimpi-mimpi yang dulu hanya kutulis dalam hati, mimpi yang dulu rasa-rasanya tidak mungkin tercapai untuk seorang anak yang tak mampu untuk menulis dan berbicara dengan jelas, mimpi yang selalu ditertawakan dan diragukan.
Tapi, hari ini kubuktikan tidak ada yang bisa mengalahkan mimpi, semangat, perjuangan, keyakinan hati, dan izin Tuhan. Kehidupan telah mengajarkanku banyak tentang perjuangan, perjuangan yang harusnya juga dilakukan oleh kawan-kawanku di luar sana yang hari ini harus tersisihkan dengan keterbatasan.
Allah (selalu) memberikan kita kesempurnaan.
Yang masih ingin menjadi guru,
Fikar
Allah memberikan kita kesempuranaan (y)