Psychological First Aid
Code: Counselling Psychology
Lecturer: Kartika Mustafa
Psychological First Aid alias PFA.
Bahasa Indonesianya sih pertolongan pertama psikologis.
Definisi luas: pertolongan pertama psikologis pada korban bencana alam.
Memang titik beratnya pada korban bencana alam, namun kita nggak perlu menunggu terjadinya bencana alam untuk melakukan PFA.
Definisi sempit: PFA tuh semacam P3K versi mental.
Sebuah pencegahan, upaya perlindungan dari dampak negatif yang lebih lanjut. Berbentuk dukungan emosional dengan sifat praktis dan tidak mengganggu, fokus pada mendengarkan namun tidak memaksa.
Siapa aja yang bisa melakukan PFA?
Nah, its a good news. Because everyone can do it~ Kalian tidak perlu menjadi seseorang yang profesional untuk melakukan PFA.
How to do PFA?
Its simple, super easy peasy lemon squeezy.
Hanya perlu dua syarat yang harus dipenuhi:
Peka dan peduli.
Hooh, peduli-nya di bold. Sama seperti cinta dan benci, polos dan bego, aktif dan hiperaktif, peduli dan penasaran juga batasannya sangat tipis.
Nggak perlu lah dijelasin perbedaan antara peduli dan penasaran. Yah, meski aku masih sering melihat banyak orang yang bereaksi atas dasar rasa penasaran dibandingkan rasa peduli sih 8D
It doesnt matter. Setiap orang berproses.
Kepekaan dan kepedulian kalian akan membentuk sederet pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari rasa peduli dan peka tersebut bakalan membuat kalian lebih perhatian terhadap orang-orang terdekat.
Kalian bisa melakukan PFA ke temen-temen deket kalian. Coba deh sisihkan sedikit waktu untuk memperhatikan sekitar. Ketemu temen yang wajahnya kusut, tanya. Baca status temen yang penuh kegalauan, tanya. Mendengar gossip miring tentang teman, tanya (plus konfirmasi).
Kalau masih awam banget, belum tahu mau nanya apaan. Lebih baik fokus pada tiga poin.
1. Kebutuhan dasar
Ada temen wajahnya bete banget plus uring-uringan mulu, coba tanya terkait kebutuhan dasar dia, “kamu udah makan belum? Tidur kamu cukup?”
Logika tanpa logistik: anarki, logistik tanpa istirahat: cari mati😂
2. Kebutuhan
Nah, kalau kebutuhan dasar sudah terpenuhi tapi temen kamu masih uring-uringan, tanyain lebih lanjut
“Kamu sedang butuh sesuatu nggak? Atau mungkin kamu butuh seseorang?”
Tanya aja dulu, soal apakah kita bisa membantu atau enggak, itu urusan belakangan~ namanya juga usaha.
3. Apa yang dirasakan
“Aku perhatikan, dari tadi kamu uring-uringan terus, kamu lagi kenapa?”
“Ada masalah? Mau cerita? Aku dengerin.”
Nggak harus kesedihan kok, menceritakan perasaan bahagia juga perlu. Rasa senang yang tidak dapat diceritakan tuh bisa berujung hampa. Ketika kamu senang, namun tidak ada orang yang peduli😓
“Luka yang tidak terlihat, bukan berarti tidak ada.”
Kita kan tidak tahu, sebagian dari waktu yang kita miliki mungkin memang diperuntukkan untuk orang-orang di sekitar kita.
Kita juga tidak tahu, mungkin teman-teman terdekat kita sedang butuh kita, tapi kita kurang peka untuk membaca gerak geriknya.
Manusia tuh jago banget kalau udah menyangkut urusan persona, di luar terlihat baik-baik saja tapi di dalamnya terkoyak. Alhamdulillah kalau individunya sadar akan kondisi mentalnya yang sedang ndak baik, lah kalau nggak sadar gimana?
Padahal mental health termasuk unsur yang vital~
X: “Mbak, tapi kalau kita nanya ke temen nih ya, biasanya malah dikatain kepo.”
mbak Tika: “Iya. Benar! Nggak papa. Kepo lah, dan peduli lah, karena memang itu yang diperlukan dalam melakukan PFA...."
mbak Tika: ".....asal kepo-nya juga dikontrol.”
Melakukan PFA bukan berarti masalah yang ada harus kalian tuntaskan dan atasi. No, tidak begitu. Namanya juga pertolongan pertama, jadi peran kita ya sebatas menolong di saat itu juga (dengan kemampuan yang dimiliki). Jika diperlukan penanganan lebih lanjut, dapat diserahkan kepada ahlinya.
Last but not least, remember this:
Sebelum membantu orang lain, pastikan kita lebih baik (kondisinya). Sebelum men-konseling orang lain, konseling lah diri sendiri.
-mbak Tika.
















