Maruki is such a fascinating character with so much nuance and I find it a bit of a shame that so much talk about him is very black and white
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Brazil
seen from China

seen from United Kingdom

seen from Portugal
seen from United States
seen from Yemen
seen from China
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Germany

seen from Maldives
Maruki is such a fascinating character with so much nuance and I find it a bit of a shame that so much talk about him is very black and white
First Sunday being back at college. Had my last day at work yesterday (I quit cause I needed more time for myself and university (and cheerleading 🤩) this semester) and set an example for all future Sundays to come, by sleeping in, cleaning my room, doing laundry and revising a lecture from the first week of 3rd Semester. I plan to keep all future Sundays rather empty to relax, study and do all the things I didn't get to do over the week. So this are just some notes from one of my new classes this semester and some notes I took today. I actually think I'll like cost accounting.😇📝📚📊
Thursday mood! Masters Degree, Major in Management, National Security & Administration. 📚 📏 📐 #3rdsemester #MastersDegree #graduateschool #MNSA #PCU #PhilippineChristianUniversity “Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” (at Philippine Christian University) https://www.instagram.com/p/CY7wQFhhXvT/?utm_medium=tumblr
I've been thinking a lot about a maruki palace deadline au centered around the unconventional group of akechi, yu, aigis, and elizabeth teaming up to try and wake akira and fix reality
Progress, and there’s only about 5 weeks of school left 😱😬 . . . . . . . . . . . #elcaminocollege #oilpainting #paintingfundamentals #3rdsemester #artmajor #collegelife #laartist #contemporaryart #contemporaryartists #guy with #cat #saturdaynight #inspiration #dream #magicalrealism #poppyfields #desertscape #brokenglass #painting #artchallenge #largecanvas #springsemester2019 #artstudent #learning #techniques #progress #paletteknifepainting https://www.instagram.com/p/BxEiJi1JXhd/?igshid=15mz40dbq84lp
First day of class. #3rdsemester #sae #saeatlanta #MusicSchool #farruko #AndyM https://www.instagram.com/p/Bni7xaRH5MM/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1nz88lg765pzq
Mental Disorder
Code: Patologi Sosial
Lecturer: Fitra Hasri R
Presentator: Risdawati dan Sri Wulandari
Mental disorder? Gangguan mental dong?
Kok bisa masuk ke dalam kategori Patologi Sosial?
~~~~~
"Yak, untuk Shofwa, Ahyad, dan Shintya. Silahkan memberi pertanyaan." Kata bapak Dosen.
Eladalah😂😂
I'm not kinda person that love to ask question in the class. Fyi aja nih, aku lebih sering diam di kelas. Tidak mengajukan pertanyaan, ataupun pernyataan.
Kemudian hari ini malah diminta ngasih pertanyaan, wohoo, okelah pak.
This is ma question👇
"Aku masih nggak paham aja sih, di bagian bentuk-bentuk mental disorder (psikopat, psikoneurosis, histeria, skizofrenia, hipokondria, dan neurasthenia) yang kalian sebut. Hubungannya sama patologi sosial itu apa?"
"Pertanyaan kedua. Menurut kalian, LGBT termasuk mental disorder atau tidak?"
🎈🎈🎈🎉🎈🎈🎈
R: "Shof, bisa diulang pertanyaan pertama?"
S: "Aku nggak paham kenapa beberapa bentuk mental disorder masuk ke patsos. Kalau psikopat.. okelah, udah pasti mengganggu masyarakat. Nah, kalau Hipokondria? Itu kan kecemasan berlebih. Kenapa bisa menganggu sosial? Hipokondria kan kecemasan berlebih dari diri sendiri. Kayak kamu (cuma) demam terus kamu berpendapat kalau kamu sakit kanker. Merugikan dari segi sosialnya di sebelah mana?"
A: "Kamu ngerasa nyeri di dada terus berpikir kalau sakit jantung (padahal sakjane cuma nyeri biasa). Terus kamu ga percaya diagnosa medis kalau kamu baik-baik saja, akhirnya kamu pergi ke berbagai dokter. Bolak-balik ke dokter yang berbeda."
S: "Dampak sosialnya di bagian mana?"
A: "Ya kamu bolak-balik ke dokter."
S: "Lha gabisa lah. Dia kan bolak balik karena emang keputusannya sendiri. Bayar dokter juga pake uang dia sendiri. Merugikan dari mananya?"
Bapak dosen pun angkat bicara:
"Gini shofwa. Jadi hipokondria ada stadiumnya sendiri. Di stadium satu dan dua, penderita (hanya) bersikap berlebihan terhadap gejala yang dimiliki. Sedikit-sedikit ke dokter, sedikit-sedikit khawatir, sedikit-sedikit cemas. Saya pernah naik pesawat, ada satu penumpang yang teriak setiap pesawatnya bergoncang, padahal hanya goncangan biasa. Sampe pramugari bolak-balik nyamperin penumpang tersebut. Usut punya usut, ternyata dia pengidap hipokondria stadium 3. Dia teriak kencang banget, padahal nggak ada apa-apa. Individu yang udah di stadium 3, misalnya dia melihat kecelakaan, dia bakalan panik tapi panik yang untuk dirinya sendiri. Padahal yang kecelakaan bukan dia."
S: "Jadi kalau udah di atas stadium 2, individu bisa ketakutan hanya dengan melihat gejala dari orang lain ataupun merasakan dari stimulus eksternal? Nggak harus dirasain dulu?"
"Iya. Masuk ke patologi sosial karena perilaku yang bersangkutan sudah mengganggu masyarakat."
Serem juga yak😞
"Untuk LGBT. Gini wa, aku pernah baca kasus. Ada pasangan suami istri, istrinya baru tau kalau suaminya Homoseksual setelah 17 tahun nikah. Nah, suaminya nge- (maaf) sodomi keponakannya. Eh terus keponakannya nge-sodomi orang lain, gituuu terus menjalar. Jadi menurut aku LGBT bisa 'ditularkan.'
"Harus jadi korban dulu supaya terjerumus ke LGBT?"
"Hmm... nggak juga, karena penderita LGBT pasti sebelumnya sudah merasakan pergolakan batin."
"Intinya deh. LGBT itu mental disorder atau bukan?"
"Iya. Mental disorder."
Buuuuuuut, menurut DSM V (the newest DSM) (DSM itu semacam panduan bagi para psikolog untuk menentukan apakah individu menderita gangguan tertentu/tidak), LGBT sudah tidak termasuk dalam kategori disorder~~
Jadi, (menurut DSM V) LGBT bukanlah penyakit.
-KONKLUSI-
Kata bapak Dosen, ada tiga sisi yang perlu dilihat: Sebab, Akibat, Penanggulangan.
Sebab
Mental disorder itu disebabkan oleh dua faktor, situasional dan personal. Personal ketika emang gangguan berasal dari individunya sendiri (umumnya bawaan lahir), sedangkan situasional adalah yha berdasarkan situasi lah bossque.
Mengapa situasional? Mengapa tidak lingkungan? Well, faktor lingkungan itu ada, tapi tidak se-ekstrem situasional.
Ketika lingkungannya baik, tapi situasinya tidak, individu bisa mengalami gangguan.
Kayak orang yang tibatiba bangkrut~ atau orang yang tibatiba kehilangan seseorang yang dicintai~
Ada juga kasus mahasiswa menderita hipokondria karena ngerjain skripsi. Itu situasional.
Bikin skripsi 👉 situasi membuatnya harus melihat dan menelaah berbagai macam hal yang abnormal 👉 ketakutan 👉 hipokondria.
Akibat
Secara umum: keresahan. Resah. Orang pada resah.
Orang lain merasa dirugikan dengan perilaku individu penderita gangguan.
Penanggulangan
Biasa aja.
(i was lyke, pak? Seriously?)
Biasa aja dalam artian,
Hadapilah mereka, sebagaimana manusia menghadapi manusia.
Sebagaimana manusia menghadapi manusia yang sedang sakit.
Kalau kamu punya kemampuan, punya wawasan, punya ide ide yang bagus tentang bagaimana menyembuhkan dia. Lakukan.
Jangan pernah jauhi, ataupun melakukan hal yang aneh-aneh. Jangan mengolok-olok, jangan ngejudge.
Kita sebagai yang normal, bagaimanapun caranya, berusaha meluruskan yang bengkok.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Perjudian
Code: Patologi Sosial
Lecturer: Fitra H. R
Presentator: Asma Wafia dan Pipih Fizri
Ini tema pertama di antara lima tema yang akan dibahas sepanjang sisa-sisa waktu semester tiga.
Kenapa perjudian masuk dalam kelompok patologis?
~sekilas info~
Patologi itu sakit.
Kurang lebih, patologi sosial = penyakit sosial = semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan.
Kenapa perjudian masuk patologi sosial, ya karena itu udah masuk ke dalam kategori penyakit sosial.
Tiga pertanyaan yang muncul pada hari ini👇
aku nggak terlalu denger tapi intinya gini: ada satu daerah di mana emang masyarakatnya suka berjudi (plus tempat judinya tetanggaan dengan tempat prostitusi). Bagaimana cara ngubah pola pikir masyarakatnya, bahwa yang mereka lakukan itu tidak benar?
aku juga tidak terlalu mendengar pertanyaannya huhu, sepertinya begini: permainan kartu itu, apakah termasuk berjudi?
Ada seorang Bapak. Dia punya hobi berjudi, sepekan bisa habis 1~5 juta untuk berjudi. Bapak ini nggak punya pekerjaan, sumber penghasilan dari minimarket yang dikelola oleh istrinya. Ketika dibawa ke konselor:
Konselor: mending uangnya ditabung pak, untuk jalan-jalan sekeluarga, biar have fun bareng.
Bapake: Jangan. Jangan ngabisin duit.
Konselor: kalau anak bapak berjudi, boleh?
Bapake: jangan. Biar aku aja yang berjudi. Nanti dia ngabis-ngabisin duit.
Apa tanggapan kalian terhadap perilaku Bapake?
Aku paling kesel sama pertanyaan ketiga wkw. Aih, sikapnya Bapake bikin gemez.
- KONKLUSI-
Untuk memberantas perilaku yang menyimpang, bisa dilakukan dari dua aspek: Manusianya, dan Tempatnya.
Aspek manusianya: diberikan penyuluhan, pengertian, pelatihan, dari -misalnya- orang-orang berlatbeng psikologi, bahwa yang mereka lakukan itu tidak benar. Syukur-syukur kalau mereka bisa sadar dan keluar dari dunia bernama 'perjudian.'
Well, tapi menurutku sih, hal tersebut harus dilakukan secara kontinyu. Bukan sekali-dua kali penyuluhan lalu lepas tangan. Yang paling penting, melakukan usaha pencegahan agar generasi muda tidak tercebur dan terseret ke dalam arus perjudian.
Karena kalau fokus ke orang-orang yang sudah berpatologis, itu cuma kayak motong benalu. Memberantas perilaku yang sudah menjadi hobi tidak semudah membalikkan telapak tangan~
Aspek Tempat: kalau emang pembenahan dari manusia-nya tidak menghasilkan hal positif. Upaya yang bisa dilakukan ya digusur. Menggusur daerah perjudian lalu diubah menjadi daerah yang lebih baik. Meski hal tersebut malah bisa menciptakan daerah perjudian di tempat lain. Tapi siapa tau dengan begitu, masyarakatnya ada yang tersadar dan tidak berjudi lagi.
"Apa bedanya berjudi dengan bermain? Judi itu termasuk permainan kan?"
"Apapun yang mempertaruhkan barang, uang, tenaga. Itu masuk ke dalam perjudian."
Nah, hati-hati loh:) judi bukan hanya tentang uang.
"Setelah kehilangan, akan muncul kerugian, dan persepsi 'saya harus coba lagi.'"
Karena penjudi tidak mengenal kata 'kalah.' Mereka mengenal kata: belum berhasil, belum beruntung, coba lagi, atau hampir menang.
Ternyata ada juga pikiran positif yang merugikan😅
Dan kelas hari ini ditutup dengan pertanyaan yang tidak diajukan ke dosen:
"Wa, lomba itu masuk judi nggak sih? Kan mereka membayar sekian ribu, terus kalau menang dapat hadiah uang."
"Hmm... tapi kalau lomba kan ada usahanya, dan ada standarisasi tertentu."
"Perlombaan sepak bola? Main bola kan pake usaha juga?"
*nanya ke temen kelas*
"Nah, aku juga penasaran soal itu. Makanya aku menghindari ikut lomba yang biaya pendaftaran tidak dijelaskan untuk apa aja."
"Well, coba aku googling dulu."
*after a while*
Menurut Muktamar NU tahun 1999 sih, lomba bisa dikategorikan sebagai judi kalau biaya registrasi dialokasiin sebagai hadiah untuk pemenang.
See you on the next presentation: mental disorder.