Seorang perempuan muda yang memiliki semangat tinggi untuk mengejar mimpi-mimpinya. Pada usia 24, perempuan ini didiagnosis kanker tiroid papiler dengan varian tall cell. Blog ini adalah salah satu media untuk berbagi seputar pengalamannya menjalani hidup senormal mungkin. Tanpa tiroid.
[Undangan] Seminar Awam Penanganan Holistik pada Keganasan Tiroid
Dalam rangka memperingati World Cancer Day 2016, komunitas peduli kesehatan tiroid Pita Tosca bekerjasama dengan Departemen Radioterapi RSCM menyelenggarakan Seminar Awam Penanganan Holistik pada Keganasan Tiroid yang akan berlangsung pada Kamis, 11 Februari 2016 jam 09.00 pagi, bertempat di Auditorium Departemen Radioterapi RSCM Jakarta Pusat.
Acara ini GRATIS. Konfirmasi kehadiran ke Aisyah…
Fakta-Fakta Penyakit Tiroid (berdasarkan laporan konferensi pers Merck Serono pada Pekan Peduli Tiroid Internasional 25 Mei 2015)
Dari hasil survey yang dilakukan oleh IMS Health pada Januari-Maret 2015, terhadap 1222 responden di 6 kota besar di Indonesia, ditemukan fakta bahwa :
– Lebih dari 50% perempuan Indonesia, tidak pernah mendengar tentang gangguan tiroid
– 9 dari 10 orang, tidak…
Apakah berjuang dengan kanker adalah sesuatu yang menakutkan ? Aku rasa itu sebuah keberuntungan. Karena pada akhirnya kita tidak menerima sehat sebagai sesuatu yang datang secara cuma-cuma. Karena pada akhirnya kita paham tentang pengorbanan yang harus ditebus untuk bisa melakukan hal-hal sederhana yang dulu kita anggap biasa saja.
Karena pada akhirnya aku tahu, siapa yang kemudian memutuskan pergi, dan siapa yang terus berjuang menemani.
Jika ini adalah sebuah perjalanan, maka saat ini aku sedang singgah di sebuah petirahan yang teduh di tepi hutan. Petirahan itu tidak luas, kecil saja. Memang tidak perlu tempat yang luas untuk hanya sejenak beristirahat, dan merenungkan apa yang telah dilalui. Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang anak, seorang sahabat, kekasih, atau seorang biasa yang ada di tengah kerumunan orang biasa yang lain.
Aku ingat dahulu kala, jalanku pernah bersimpang dua. Dan aku, mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Dan keputusan itu, telah membawa sebuah perbedaan yang besar. Termasuk hingga akhirnya aku sampai di petirahan ini, yang ketika di malam hari, aku bisa melihat bulan bersinar begitu terang. Bahkan, tidak jarang dari langitnya turun gerimis sajak-sajak untuk ibu bumi. Sebagian besar sajak itu, aku simpan dalam satu loyang yang terbuat dari cangkang penyu yang begitu keras.
Penyu, aku lebih suka menyebutnya teteruga, adalah salah satu makhluk paling kuat yang aku pernah tahu. Dia bisa kehilangan seluruh badannya, namun masih begitu semangat menangkap udara bebas. Aku tidak mengetahui ini dari tayangan National Geographic. Seorang paman yang tinggal di depan persinggahanku di pesisir kala itu, mampu menyuguhkan yang lebih baik dari sekedar plot-plot dokumentasi di televisi.
Oia, di petirahan ini sesekali aku mendapat kunjungan. Kadang dari teman lama yang tumbuh bersama sejak kecil. Kadang dari seorang asing yang tak lama kemudian menjadi saudara. Kadang dari kekasih, yang bersamanya skype dan semua teknologi-penunjang-hubungan, tidak kunjung menyala.
Kami bercerita banyak hal. Mulai dari anak-anak yang bersekolah di rimba, pasangan muda yang berkomitmen untuk berbulan madu bertahun-tahun lamanya (hingga istilah bulan madu itu sendiri menjadi tidak lagi relevan), hingga cerita politik tentang sekumpulan orang yang hidup hanya untuk meraup kuasa. Beberapa menjadi gila, dan tidak segera beranjak dari kondisi itu.
Kami juga menyadari beberapa hal. Bahwa di usia kami ini, ternyata beberapa teman akan lebih dulu menanggalkan status lajangnya. Beberapa akan menyusul di tahun – tahun sesudahnya. Dan beberapa memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.
Kami juga mengamati dunia berubah dengan cepat. Kami pun berubah dengan cepat. Tapi, yang tidak pernah berubah adalah rumah sederhana di satu lereng bukit, di mana pepohonan berbuah dengan sesuka hatinya sepanjang tahun (pernahkah kamu berpikir, pohon-pohon itu pun memiliki hati ?). Rumah yang di salah satu dindingnya berlukiskan pelangi empat warna, di mana aku tumbuh besar di antara curamnya bebatuan dan jalan setapaknya yang tidak pernah rata. Di sanalah aku selalu menyebutnya sebagai pulang. Bapak dan Ibu, mereka tidak pernah berubah.
Biasanya, seseorang akan tumbuh dewasa dengan memiliki satu makhluk kesukaan. Kesukaanku adalah kupu-kupu. Di petirahan ini, kupu-kupu sepertinya memiliki kerajaannya sendiri. Hingga pada akhirnya, aku selalu memiliki berbagai macam julukan untuk kupu-kupu yang hinggap di muka petirahanku. Mulai dari kupu-kupu antusias, kupu-kupu pemaaf, bahkan kupu-kupu kertas. Mirip, tak ubahnya seperti judul lagu dari seorang musisi kegemaran Bapak.
Tidak masalah jika kemudian ia berwarna ungu, hijau bercampur biru, atau bahkan kelabu. Kupu-kupu akan selalu menjadi kesukaanku. Kabarnya, kupu-kupu hidup dalam tubuh manusia. Kadang ia menggelitiki perutmu ketika kamu merasa jatuh cinta. Kadang ia hinggap di jantungmu dan membuatnya, well, berdetak lebih lambat. Namun, pada dasarnya, ia selalu dan pasti, ada di pangkal lehermu, tepat di atas trakea. Kupu-kupu selalu baik. Ia memudahkanmu untuk bernafas, membantumu mendapatkan lebih banyak energi di siang hari, bahkan ia begitu baik hati menjagamu dari serangan-serangan psikis yang tidak wajar dan sangat mudah terjadi di waktu-waktu ini.
Tapi, kupu-kupu di dalam tubuhku memiliki cerita lain. Ada satu mitologi yang hidup di dalam sel darah kita. Tentang bagaimana sel darah putih, dengan tongkat perang dan detektor patologi di ujungnya, akan mampu mengenali sel-sel jahat di tubuh kita, lalu membunuhnya dalam serangkaian pertarungan sengit, yang kadang membuat kita tidak bisa terpejam di malam hari. Pertarungan ini menjadi wajar. Dan menjadi tidak demikian, ketika kemudian yang ia perangi adalah kupu-kupu si baik hati. Dan itu sungguh terjadi.
Kupu-kupu baik hati milikku tergeletak bersisian dengan kotak suaraku. Aku terbangun di suatu pagi dan menyadari tidak bisa berbicara. Tidak bisa berbicara adalah hal yang tidak menyenangkan. Lain halnya dengan tidak mau berbicara. Sepertinya, kupu-kupu baik hati sudah berjuang terlalu lama. Kupu-kupu baik hati tidak lagi bisa membantuku seperti sebelumnya. Seorang ahli kupu-kupu, menidurkanku dengan cairan berwarna serupa nektar, lalu mengeluarkan kupu-kupu baik hati dari tubuhku.
Si ahli kupu-kupu hanya menyisakan sedikit sayap kiri. Berharap sayap kiri itu akan menumbuhkan sayapnya yang lain. Tapi tentu saja cerita seperti ini tidak benar-benar terjadi. Sayap kiri itu pun pada akhirnya harus dilumpuhkan. Kabarnya sel-sel tinggi sudah melapisinya. Sel tinggi adalah hal yang tidak baik, itu penjelasan terakhir dari si ahli kupu-kupu.
Aku berharap, aku bisa melanjutkan hidup bersama kupu-kupu yang lain. Kupu-kupu yang baru. Hidup tanpa kupu-kupu baik hati, membuatku seperti manusia yang tidak bisa mengenali berbagai bentuk emosi. Itulah mengapa aku lebih senang tinggal di petirahan ini dan berinteraksi dengan alam. Bahkan sepertinya, ibu bumi ini sebenarnya dirancang hanya untuk hewan dan tumbuhan, bukan manusia.
Hari ini, laki-laki itu mengunjungi petirahanku. Ia melukis kupu-kupu merah jambu di leherku. Tepat di mana kupu-kupu itu seharusnya berada. Seperti yang sudah-sudah, ia segera beranjak pergi. Aku tidak pernah menahannya. Untuk satu alasan bahwa, petirahan ini memang dibuat sebagai tempat bercengkerama perempuan bersama kupu-kupu. Bukan lelaki bersama perempuan tanpa kupu-kupu.
Tantangan Akhir Masa Tugas (2) : Pulang bersama Struma
Pagi itu aku terbangun dengan satu buah janji untuk melakukan USG Tiroid di RSUD Magretti Saumlaki. Aku tidak menyukai segala hal berbau pemeriksaan kesehatan. USG terakhir yang aku lakukan adalah di umur 12, ketika appendix-ku mengalami infeksi, iritasi, inflamasi, atau istilah apapun yang menyertai rasa meradang di bagian kanan bawah perut. Hasil USG appendix mengantarkanku pada sebuah ruang operasi, di hari Senin tanggal 16 September 2002. Aku selalu mengingat anniversary operasiku. Aku berharap itu adalah untuk yang pertama dan terakhir kalinya tubuhku menyerap obat anestesi. Operasi itu menjadi satu hal yang banyak mengawali gejolak masa remajaku. Blog ini dibuat tidak ditujukan untuk membahas appendixitis, jadi lebih baik lanjut ke cerita USG Tiroid di hari itu.
Jujur aku ingin berpura-pura lupa mengenai janji USG Tiroid. Tapi ternyata jam 9 pagi, dr.Lela sudah menelponku dan menungguku di bagian radiologi. Aku berangkat ke RSUD dengan sesantai mungkin. Melakukan registrasi dan pembayaran, lalu menuju bagian radiologi. Jangan dibayangkan bagian radiologi di sini adalah ruangan ekstra steril yang penuh dengan peralatan canggih. Tidak ada yang seperti itu. Yang ada hanyalah satu ruangan kecil tanpa alat pendingin, yang dibagi menjadi 2 bilik sangat kecil. Ada beberapa antrian ibu hamil yang ingin menengok bayi di dalam kandungannya. Aku dipersilakan menunggu kurang lebih 15-20 menit.
Orang-orang di sekitar selalu menatapku dengan nada ingin tahu, “Wuih, ini ibu guru Indonesia Mengajar sakit apa kah ?”. Aku hanya bisa tersenyum saja. Nafasku sudah tidak selancar biasanya. Hal ini memang tidak pernah aku keluhkan pada siapapun. I keep it for my self.
Akhirnya namaku dipanggil juga. Dokter di bagian radiologi memintaku untuk membuka baju. Mungkin aku dikira dalam antrian ibu-ibu muda yang ingin memeriksakan kandungan. Tapi dr.Lela (oh, well, dr.Lela ternyata memang benar menungguku di sana) mengatakan aku hanya memerlukan USG Tiroid. Jadi, si dokter radiologi pun mulai menempelkan alat USG pada leherku, dan melakukan scanning.
“Wah iya, ini yang sebelah kanan ada semacam kista. Ini gapapa kok. Cuma harus diangkat. Coba sebentar, mungkin yang kiri ada juga nih. Oh enggak, yang kiri normal”, dokter radiologi menyampaikan hasil scanningnya.
Tidak ada yang terlintas di pikiranku saat itu selain operasi. Tapi sejujurnya, aku tidak seyakin itu dengan hasil USG di RSUD ini. Dengan peralatan yang terlihat seadanya, aku tidak bisa mengharapkan hasil yang presisi. Lagipula, bagaimana mungkin operasi dilakukan di Saumlaki ? Di sini hanya ada dokter umum. Operasi tiroid paling tidak membutuhkan dokter spesialis bedah.
Dr.Lela mengatakan, lebih baik aku melakukan pengobatan di Jakarta. Karena di Ambon pun tentu peralatan dan obat-obatan tidak selengkap di ibukota. Aku pulang dari RSUD tanpa membawa obat, karena memang tidak tersedia obat-obatan untuk penyakit tiroid. Hanya satu lembar amplop berisi hasil USG yang aku kantongi siang itu. Bergegas menemui teman-teman timku, berita yang kurang baik ini sontak membuat mereka cukup terkejut. Ada rasa trauma dalam diri kami semua. Kepergian Bang Dit, rekan seperjuangan kami, dengan tiba-tiba di bulan November lalu, menyisakan trauma yang cukup berat dalam diri kami masing-masing. Goncangan psikologis itu begitu terasa. Seorang teman yang selalu terlihat sehat sepanjang waktu, pergi begitu saja.
Kami berkonsultasi dengan kantor di Jakarta. Setelah melalui pembicaraan dengan trustee, akhirnya diputuskan bahwa saya harus ditarik ke Jakarta dulu untuk pengobatan. Satu pilihan terbaik yang bisa diambil saat itu. Bertahan terlalu lama di Saumlaki tidak menghasilkan satu solusi.
Aku pun menulis surat ke beberapa stakeholder di desaku untuk berpamitan. Suratnya aku titipkan ke seorang anak SMA, Kifli namanya, yang akan pulang ke Adaut dengan motor laut keesokan harinya.
Tiket pesawat Saumlaki-Ambon dan Ambon-Jakarta sudah di tangan. Pagi itu, aku kembali ke ibukota. Ada satu hal baru yang aku bawa pulang. Namanya struma. Baru saja aku mengenalnya.
Riuh sukacita perayaan Paskah masih membekas begitu dalam di pikiran saya. Mengikuti prosesi jalan salib bersama anak-anak dan seluruh masyarakat desa Adaut, membuat saya merasa semakin jatuh cinta dengan desa ini. Suasana kekeluargaan itu terus mengendap begitu lama, membuat saya enggan beranjak untuk merapat ke kota. Namun, peringatan hari pendidikan telah menanti di depan mata.
Pagi itu Adaut dihantam badai besar. Sisa hujan tadi malam sepertinya berakumulasi dengan awan-awan hitam dan berkonspirasi untuk mengguyur Bumi Tutuk Ratu, sebutan untuk desa ini. Bu Teko, kakak laki-laki saya, mengantar ke dermaga. Tidak ada kepastian apakah pagi itu ada motor laut ataupun speed yang berangkat ke kota. Lagipula, siapa yang berani menantang gelombang di Selat Egron ? Os bicara mati sa ! Mungkin itulah respon paling sederhana yang muncul.
Tentang bagaimana cerita saya bisa sampai ke kota di hari itu, bisa dibaca di blog Pengajar Muda milik saya, dalam satu tulisan berjudul “Memenangkan Berani”. (http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/bunga-ramadani-3/memenangkan-berani)
Singkat cerita, hari-hari itu saya berkonsentrasi untuk membantu Pak Bebena, Camat Tanimbar Selatan, mempersiapkan peringatan hardiknas. Pak Bebena adalah seorang local champion yang sangat potensial. Atas berbagai inisiatifnya, saya sih nggak masalah dibuat repot, karena selelah-lelahnya saya, sekurang-kurangnya jam istirahat saya, jujur saya terharu sekali melihat semua pihak ikut bekerja. Ya, ada banyak pengorbanan yang dilakukan. Dan manja ataupun mengeluhkan tentang kondisi diri sendiri, jelas tidak pernah menjadi pilihan. Atau bahkan tidak pernah terpikir untuk demikian.
Hari-hari berikutnya, hantaman padatnya agenda di kabupaten ternyata begitu terasa. Beberapa kali saya ‘collaps’. Tubuh saya protes. Entah agendanya yang memang terlalu padat, atau terjadi perubahan stamina dalam tubuh saya. Oia, di waktu yang sama, saya dan teman-teman tengah mempersiapkan transisi Pengajar Muda. Saat itu, saya dipercaya menjadi koordinator transisi untuk kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).
Selesai hardiknas, saya tidak bisa berpura-pura untuk tidak terjadi apa-apa. Karena selain gangguan tidur yang sudah saya alami hampir 5 bulan terakhir, ternyata sistem pernafasan saya pun ikutan memboikot agenda harian saya. Okay. Dokter Lela, saya datang !
Dokter Lela adalah salah satu dokter yang paling saya percaya selama bertugas di kabupaten MTB. Saat ini, dokter Lela bertugas di RSUD dr.Magretti Saumlaki. Satu hal yang membuat saya cukup klik dengan bu dokter ini karena dia pernah bertugas selama 3 tahun di Adaut. Jadi dokter Lela sangat paham kondisi kesehatan masyarakat Adaut secara umum, penyakit yang endemik di sana, ataupun tantangan pemenuhan gizi selama bertugas di sana. Seru ! itulah satu kata yang bisa menggambarkan betapa excited-nya saya ketika harus cek kesehatan bersama dr. Lela.
Siang itu, sepulang dari dinas pendidikan, saya menghubungi dr.Lela. Di sini, jam praktek poli rumah sakit hanya sampai jam 12 siang. Selebihnya, bisa dipastikan dokter akan cukup sulit ditemui. Tapi tidak demikian dengan dr.Lela. Karena saya menghubunginya secara khusus, meskipun saat itu hampir mendekati jam makan siang, tetap saja dr.Lela sangat welcome.
Siang itu, dr.Lela ada di RS Bergerak. RS ini milik TNI-AD dan terletak di jalan poros. Satu jalur dengan kediaman bupati MTB, tempat saya dan teman-teman tinggal selama di Saumlaki.
Ketika berjumpa dr.Lela, saya lebih mengeluhkan gangguan pernafasan yang saya alami selama beberapa hari terakhir, yang saya kira merupakan efek lanjutan dari pengobatan bronkitis saya yang mungkin tidak tuntas di bulan Januari. Oia, saya sempat terserang bronkitis selama 2 minggu di awal 2014 ini. Saya ditangani oleh dr.Lela, dr.Vano (dokter PTT di Puskesmas Adaut), Mantri Ongen (seorang tenaga medis juga di Puskesmas Adaut), dan juga dr. Sus Pattiasina, kepala Puskesmas Adaut. Lucu juga sih. Seorang Pengajar Muda terkena bronkitis tapi semua-semua ikutan peduli. Bahkan, pernah dalam satu siang, seorang keponakan pendeta yang juga bekerja di bagian farmasi puskesmas, datang ke rumah saya hanya untuk menyampaikan kalau saya harus segera melakukan rontgen thorax di kota. Duh, jadi terharu liat kepedulian masyarakat di sini yang masih sangat tinggi.
Anyway, kembali ke dr.Lela. Saat itu, saya sudah diberikan resep, beserta wejangan-wejangan yang lain. Saya sebenernya sudah berniat untuk pamit, karena waktu sudah menunjukkan jam istirahat siang . Tapi tiba-tiba dr.Lela menatap leher saya dan spontan bilang, “Tunggu, itu udah lama lehernya kayak gitu ?”. Saya tidak terlalu ngeh dengan maksud dan arah pembicaraan ini. Setahu saya leher saya baik-baik saja. “Iya Dok, emang kenapa ya ?”. “Emmm, saya bukannya mau nakut-nakutin. Tapi itu kayak struma”.
Okay. Saya tidak paham apa itu struma. Jadi sampai detik itu saya masih santai-santai saja, dan menganggap pembicaraan ini meskipun tidak mengandung unsur fun, tapi so far tidak ada yang perlu dicemaskan. Dr.Lela membekali saya dengan surat rujukan untuk melakukan USG Tiroid keesokan harinya di RSUD. Saya manut saja tanpa berprasangka macam-macam.
Detik berikutnya saya pulang ke kediaman bupati, meluruskan kaki, dan sejenak memandang penampakan saya di cermin. Saya mengamati leher saya. Benar. Ada benjolan yang sudah cukup besar.
Tapi, sejak kapan dan sudah berapa lama ? Yang pasti dan yang saya pahami ketika itu, sesuatu itu tidak seharusnya ada di sana.
*Picture : RS Bergerak Saumlaki (dokumentasi pribadi)
Tantangan Akhir Masa Tugas (1) : yang Seharusnya Tidak Di Sana
Riuh sukacita perayaan Paskah masih membekas begitu dalam di pikiran saya. Mengikuti prosesi jalan salib bersama anak-anak dan seluruh masyarakat desa Adaut, membuat saya merasa semakin jatuh cinta dengan desa ini. Suasana kekeluargaan itu terus mengendap begitu lama, membuat saya enggan beranjak untuk merapat ke kota. Namun, peringatan hari pendidikan telah menanti di depan mata.
Pagi itu Adaut dihantam badai besar. Sisa hujan tadi malam sepertinya berakumulasi dengan awan-awan hitam dan berkonspirasi untuk mengguyur Bumi Tutuk Ratu, sebutan untuk desa ini. Bu Teko, kakak laki-laki saya, mengantar ke dermaga. Tidak ada kepastian apakah pagi itu ada motor laut ataupun speed yang berangkat ke kota. Lagipula, siapa yang berani menantang gelombang di Selat Egron ? Os bicara mati sa ! Mungkin itulah respon paling sederhana yang muncul.
Tentang bagaimana cerita saya bisa sampai ke kota di hari itu, bisa dibaca di blog Pengajar Muda milik saya, dalam satu tulisan berjudul “Memenangkan Berani”. (http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/bunga-ramadani-3/memenangkan-berani)
Singkat cerita, hari-hari itu saya berkonsentrasi untuk membantu Pak Bebena, Camat Tanimbar Selatan, mempersiapkan peringatan hardiknas. Pak Bebena adalah seorang local champion yang sangat potensial. Atas berbagai inisiatifnya, saya sih nggak masalah dibuat repot, karena selelah-lelahnya saya, sekurang-kurangnya jam istirahat saya, jujur saya terharu sekali melihat semua pihak ikut bekerja. Ya, ada banyak pengorbanan yang dilakukan. Dan manja ataupun mengeluhkan tentang kondisi diri sendiri, jelas tidak pernah menjadi pilihan. Atau bahkan tidak pernah terpikir untuk demikian.
Hari-hari berikutnya, hantaman padatnya agenda di kabupaten ternyata begitu terasa. Beberapa kali saya ‘collaps’. Tubuh saya protes. Entah agendanya yang memang terlalu padat, atau terjadi perubahan stamina dalam tubuh saya. Oia, di waktu yang sama, saya dan teman-teman tengah mempersiapkan transisi Pengajar Muda. Saat itu, saya dipercaya menjadi koordinator transisi untuk kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).
Selesai hardiknas, saya tidak bisa berpura-pura untuk tidak terjadi apa-apa. Karena selain gangguan tidur yang sudah saya alami hampir 5 bulan terakhir, ternyata sistem pernafasan saya pun ikutan memboikot agenda harian saya. Okay. Dokter Lela, saya datang !
Dokter Lela adalah salah satu dokter yang paling saya percaya selama bertugas di kabupaten MTB. Saat ini, dokter Lela bertugas di RSUD dr.Magretti Saumlaki. Satu hal yang membuat saya cukup klik dengan bu dokter ini karena dia pernah bertugas selama 3 tahun di Adaut. Jadi dokter Lela sangat paham kondisi kesehatan masyarakat Adaut secara umum, penyakit yang endemik di sana, ataupun tantangan pemenuhan gizi selama bertugas di sana. Seru ! itulah satu kata yang bisa menggambarkan betapa excited-nya saya ketika harus cek kesehatan bersama dr. Lela.
Siang itu, sepulang dari dinas pendidikan, saya menghubungi dr.Lela. Di sini, jam praktek poli rumah sakit hanya sampai jam 12 siang. Selebihnya, bisa dipastikan dokter akan cukup sulit ditemui. Tapi tidak demikian dengan dr.Lela. Karena saya menghubunginya secara khusus, meskipun saat itu hampir mendekati jam makan siang, tetap saja dr.Lela sangat welcome.
Siang itu, dr.Lela ada di RS Bergerak. RS ini milik TNI-AD dan terletak di jalan poros. Satu jalur dengan kediaman bupati MTB, tempat saya dan teman-teman tinggal selama di Saumlaki.
Ketika berjumpa dr.Lela, saya lebih mengeluhkan gangguan pernafasan yang saya alami selama beberapa hari terakhir, yang saya kira merupakan efek lanjutan dari pengobatan bronkitis saya yang mungkin tidak tuntas di bulan Januari. Oia, saya sempat terserang bronkitis selama 2 minggu di awal 2014 ini. Saya ditangani oleh dr.Lela, dr.Vano (dokter PTT di Puskesmas Adaut), Mantri Ongen (seorang tenaga medis juga di Puskesmas Adaut), dan juga dr. Sus Pattiasina, kepala Puskesmas Adaut. Lucu juga sih. Seorang Pengajar Muda terkena bronkitis tapi semua-semua ikutan peduli. Bahkan, pernah dalam satu siang, seorang keponakan pendeta yang juga bekerja di bagian farmasi puskesmas, datang ke rumah saya hanya untuk menyampaikan kalau saya harus segera melakukan rontgen thorax di kota. Duh, jadi terharu liat kepedulian masyarakat di sini yang masih sangat tinggi.
Anyway, kembali ke dr.Lela. Saat itu, saya sudah diberikan resep, beserta wejangan-wejangan yang lain. Saya sebenernya sudah berniat untuk pamit, karena waktu sudah menunjukkan jam istirahat siang . Tapi tiba-tiba dr.Lela menatap leher saya dan spontan bilang, “Tunggu, itu udah lama lehernya kayak gitu ?”. Saya tidak terlalu ngeh dengan maksud dan arah pembicaraan ini. Setahu saya leher saya baik-baik saja. “Iya Dok, emang kenapa ya ?”. “Emmm, saya bukannya mau nakut-nakutin. Tapi itu kayak struma”.
Okay. Saya tidak paham apa itu struma. Jadi sampai detik itu saya masih santai-santai saja, dan menganggap pembicaraan ini meskipun tidak mengandung unsur fun, tapi so far tidak ada yang perlu dicemaskan. Dr.Lela membekali saya dengan surat rujukan untuk melakukan USG Tiroid keesokan harinya di RSUD. Saya manut saja tanpa berprasangka macam-macam.
Detik berikutnya saya pulang ke kediaman bupati, meluruskan kaki, dan sejenak memandang penampakan saya di cermin. Saya mengamati leher saya. Benar. Ada benjolan yang sudah cukup besar.
Tapi, sejak kapan dan sudah berapa lama ? Yang pasti dan yang saya pahami ketika itu, sesuatu itu tidak seharusnya ada di sana.
*Picture : RS Bergerak Saumlaki (dokumentasi pribadi)