Teru, sebuah toko kopi di kawasan Kebayoran baru, Jakarta selatan. Ini adalah tulisan pertama yang ditulis setelah bertahun-tahun vakum dari dunia menulis. Hari ini aku terkurung hujan di kawasan ganjil genap karna mobilku berplat ganjil. Hujan cukup deras. Beberapa jam yang lalu aku datang jauh dari Harapan indah menuju ke Kebayoran baru untuk blind date. Iya, blind date. Seumur hidup, ini kali pertama saya bertemu dengan lelaki yang dijodoh-jodohkan oleh orangtua. Sekedar untuk berteman dan berkenalan.
Lelaki ini datang terlambat. Saya sudah hampir menghabiskan semangkuk ramen disini, ia baru berangkat dengan grab sedang ia tahu aku harus pergi sebelum jam 4. Terlihat tidak menghargai orang lain.
Jangan tanya perkara fisik. Beliau berada di bawah rata-rata.
Lelaki itu datang dengan kondisi sedikit lusuh. Jauh sekali dari kata tampan, tapi tak terlalu lusuh hingga dapat membuat malu. Egoku cukup tinggi disini. Sejak awal, saya tak begitu suka terhadap kepecundangannya yang takut menghubungi duluan karna takut kecewa ditolak. Kau lelaki, daya juangmu sedikit sekali. Dunia banyak kecewa, hatimu kurang lapang.
Lelaki itu tampaknya terlalu berharap bercampur insecure. Mempertanyakan kriteriaku, membuka rasa insekyurnya terhadap posisi dan gelar akademiku, tapi tetap terus bertanya seolah "apakah kamu ingin menikah tahun ini?" "apakah kamu berencana ingin menikah dalam waktu dekat?". Ditanyakan berulang kali. Pertanyaan paling "tone deaf" adalah tentang gaji. "Gajimu berapa?" Sebuah pertanyaan yang terlalu sensitif dan tak perlu ditanyakan pada pertemuan pertama. Lelaki aneh.
Saat bertemu, lelaki itu juga tanpa babibu langsung to the point mempertanyakan masa laluku; tentang lelaki yang dulu pernah bersamaku, tentang lamaran yang pernah ku tolak, tentang lamaran yang gagal karna lelakiku selingkuh. Tentang apakah aku suka berpacaran; apakah aku ingin berpacaran. Aneh, aku tak suka. Lelaki itu juga tidak punya basa basi terhadap perempuan. Manner berkencan nol besar; tak ada keinginan basa basi menawarkan untuk ditraktir. Ya meskipun saya juga tidak ingin ditraktir; saya hanya butuh basa basinya. Tidak menarik.
Aku melemparkan sepatah dua patah pertanyaan yang berkaitan dengan visi misinya di masa depan. Jawabnya menggantung, dia tak punya visi jelas di masa depan. Iya menggantungkan masa depannya pada orang lain; terlalu pasrah dan nyaman dengan kehidupannya saat ini. Hidupku tidak terlihat terjamin bersamanya.
Baginya, perempuan cukup selesai S1 dan menikah. Hal tersebut yang dia didik pada adiknya yang paling kecil. Hidup di kota besar tidak membuat point of view seseorang juga melebar. Lelaki patriarki yang memandang perempuan tak perlu sekolah tinggi. Lelaki ini tambah tidak menarik.
Sehari-hari aku lebih suka mengabaikannya. Membalas seperlunya karna ya sudah, namanya juga mencoba. Tak enak orangtuaku sudah berusaha. Jujur, tak ada nilai jual di mataku. Topik obrolan hanya berputar di hal-hal basi. Sulit untuk menyatukan obrolan. Saat bertemu, obrolan juga tak jauh beda.
Dari 1-10, pengalaman blind date pertamaku ku rate 4,5 - 5/10.
Terima kasih untuk waktu dan usahanya. Sepertinya kita hanya cocok untuk berteman. Semoga masing-masing diantara kita segera menemukan jodoh terbaik.