Pagi datang menembus melalui celah-celah ventilasi ruang pikiranku; menerangi ruangan itu yang kosong setelah kamu taklagi ada di dalamnya.
Secangkir kopi taklagi menghangat setelah pergimu, pagiku menghambar tatkala dirimu membisu pada tiang keraguan.
Aku tidak pernah menyangka bahwa Waktu begitu membenciku; mencuri langkahku menujumu, hanya untuk membuatku menyaksikanmu menjahit bahagia bersama seseorang lainnya. Seakan semua penantianku menguap menjadi kepulan penyesalan.
Telah banyak kesempatan yang ada, peluang yang kamu lewati, sebab terlalu banyak bimbang kaukurung di dalam hati. Biarlah sesal yang akan mendewasakan kini. Perihal kita, barangkali jalan takdir lebih baik dari apa yang diingini.
Entahlah, aku kehilangan kata-kata. Detik kian lalu, namamu selalu tersebut di sepertiga malamku. Tidak pernah semudah ini, tidak. Aku yakin betul pertemuan kita akan datang suatu hari nanti. Dan kamu tahu, sedalam apa aku tenggelam di diam samudra matamu.
Kamu pasti tahu sebesar apa inginku hidup bersamamu. Sekuat apa aku bertahan dalam jurang ketidakpastian; demi dirimu. Aku kalut. Takut lebih lama dalam menunggu kamu yang takkunjung memberi tahu.
Aku sadar betul untuk membersamaimu tidak cukup hanya segenggam doa dan kepantasan. Lebih dari itu, keberanian maju adalah sesuatu yang belum kucapai. Meski semua kini terbakar menjadi abu—di diam samudra matamu.
Bahagia bukanlah tujuan dari akhir hidup. Dan aku telah menemukannya meskipun bukan pada senyummu lagi. Doaku takpernah lepas merapalkan namamu di dalamnya. Bukan karena apa-apa. Hanya saja, aku ingin kau memulai langkah baru, menua bersama luka yang perlahan sembuh.
Dan aku di sini, memungut rinduku yang gugur satu-satu dan kemudian mematahkannya; lagi dan lagi. Perihal luka, kita sama. Perihal muara yang dituju, kamu memilih jalan yang lain. Mungkin aku harus mulai melepasmu, meskipun tidak mudah. Mungkin, aku tidak perlu mengatakan segala ketidakmungkinan itu.
Setelah ini. Setelah kita memilih jalan masing-masing. Kuharap taklagi ada duka yang menyergap di relung kalbu kita. Sungguh, ini takpernah mudah. Sebab, separuh dari hati yang kumiliki, kaulah yang mengisi setengahnya.
Semoga, suatu hari nanti tetiap semoga ini tidak lagi menjadi sekadar kata di bibir. Perihal diamdiam menyelusupkan rindu. Terima kasih, Puan.
24 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 13
Kolaborasi antara @ariqyraihan dan @gadisturatea