"Tuhan, jika cintaku kepada Sinta memang terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam dadaku?"
Siapa pun yang membacanya tentu sudah tidak asing lagi dengan kalimat di atas. Kata hati Rahwana paling pilu, apalagi tanpa sengaja terbaca pukul dua dini hari sambil mendengarkan Sadrah-nya For Revenge.
Diawali dengan kalimat itu kita akan tahu, kalau memang Rama benar-benar mencintai Sinta, Rama tidak akan membiarkan Sinta menjalani sumpah Pati Obong; membakar diri untuk membuktikan tubuhnya masih suci setelah belasan tahun diculik oleh Rahwana. Keraguan Rama membuat Sinta harus menjalani sumpah itu dengan risiko besar; Sinta akan kehilangan nyawa. Dan anehnya, Rama seperti tidak takut kehilangan Sinta atas sumpah tersebut.
Sinta merelakan tubuhnya dijadikan medan pembuktian, jiwanya ditelanjangi oleh kecurigaan, marwahnya dilucuti oleh harga diri seorang laki-laki. Dalam kobaran api yang sakral dan mematikan itu, Rama tampak tidak gentar sedikit pun akan kemungkinan kehilangan Sinta. Seolah kematian Sinta adalah risiko yang bisa diterima demi menjaga citra kesempurnaannya.
Sementara Rahwana, ia tetap melanjutkan hidup bersama cintanya yang tak bisa dijabarkan dengan logika. Ia rela melebur, membiarkan dirinya terbakar hingga menjadi abu untuk menjaga tungku cintanya kepada Sinta tetap membara. Menjalani hari-harinya yang hening dan hampa, menikmati setiap sayatan-sayatan pilu dan menahan perihnya rindu. Bagi Rahwana, Sinta adalah bintang di langitnya sendiri. Yang ia pandangi ketika sunyi, atau di saat nyeri mulai menjalar ke ulu hati, menyebar sampai ke nadi.
Cinta Rahwana bukan sesuatu yang patuh pada logika. Lebih besar dari itu, cintanya tidak memohon restu, tidak pula mengemis pengakuan. Cintanya senyap dan tenang, aman dan tidak mengancam. Tidak butuh sorot cahaya, pengeras suara, atau tepuk tangan yang membahana. Meskipun pembuktiannya harus ia lakukan dengan cara menculik; sebuah tindakan berdosa yang tak bisa disucikan oleh pembenaran mana pun.
Tapi yang mungkin luput kita pahami, Rahwana tidak pernah memaksa Sinta untuk mencintainya kembali. Ia hanya menunggu dalam kesepian dan doa-doa panjang, membiarkan rindunya menjadi luka terbuka yang sengaja tidak ia sembuhkan. Setiap hari ia hidup dengan kesadaran bahwa cintanya dibangun di atas kesalahan, dan justru karena itulah ia bersedia menanggung hukumannya sendirian.
Di titik inilah cinta Rahwana menjadi megah dan tragis sekaligus. Ia paham benar akan kesalahannya, namun tetap bersedia menanggung hukumannya. Rahwana tidak menjadikan tubuh Sinta sebagai alat bukti kesucian yang sah, melainkan sebagai agungnya ciptaan semesta yang akan terus ia jaga dan tak pernah menyentuhnya secara paksa.
Pada akhirnya kita akan mengerti, ada cinta yang memang diciptakan hanya untuk menjadi doa-doa panjang yang tak pernah terkabul. Rahwana tidak akan pernah selesai dengan kehilangannya. Bahkan sampai kisah itu berakhir pun, yang tersisa hanyalah satu nama raksasa yang dibenci dan megahnya cinta yang belum sempat dipahami siapa pun.