Dari daftar putar lagu yang saya beri nama My Nineties, lagu Sembilu milik Ella terdengar tanpa sengaja. Entah kenapa, dunia seperti berhenti sejenak. Beberapa detik setelahnya, rantai ingatan saya seperti ditarik paksa jauh ke belakang, mundur kembali ke rumah kecil yang dulu begitu saya kenal dengan hangat.
Saya kembali melihat beliau sedang memasak di dapur, menyapu lantai rumah, mencuci piring, melipat pakaian, atau mengerjakan hal-hal sederhana yang hampir tidak pernah dianggap istimewa. Padahal justru dari rutinitas-rutinitas itulah sebuah rumah terasa hidup. Saya masih ingat benar bagaimana suara tenang beliau ketika bersenandung mengikuti lagu-lagu Ella, Inka Christie, atau Poppy Mercury. Lagu-lagu itu yang selalu menjadi latar untuk hari-hari kami di akhir 90-an.
Sejak dulu saya percaya, satu lagu bisa memiliki kekuatan untuk membuka pintu yang sekian lama tertutup rapat, begitu juga dengan Sembilu-nya Ella. Saya seperti kembali menjadi anak SD yang duduk diam memperhatikan beliau beraktivitas. Bahkan saat itu saya memiliki keinginan kuat, suatu hari saya harus bisa bermain gitar. Bukan karena ingin menjadi musisi, saya hanya ingin bisa mengiringi beliau bernyanyi di lengang hari setelah beliau rehat dari rutinitasnya.
Pagi ini, sekali lagi saya benar-benar menyadari, dalam hidup saya pernah ada perempuan paling cantik di dunia, pemilik suara lembut yang senandung-senandungnya mampu membuat rumah terasa teduh dan tenang. Perempuan paling green flag yang pernah saya kenal sepanjang hidup. Yang manjanya, lemah lembutnya, kesabarannya, kecerdasannya mampu membuat Bapak jatuh cinta berkali-kali, setiap hari, kepada perempuan yang sama. Saya seperti diajak turut merasakan bagaimana bangganya Bapak bisa memiliki perempuan itu dalam hidupnya.
Saya membayangkan, mungkin saat ini mereka berdua sedang berpelukan di sana. Atau mungkin sedang bernyanyi berdua, menyanyikan lagu-lagu Ella, Inka Christie, dan Poppy Mercury seperti yang dulu memenuhi rumah kami. Atau mungkin mereka sedang duduk di beranda menjelang senja, menikmati secangkir teh hangat sambil saling memuji kelebihan satu sama lain, sebagaimana pasangan yang tidak lagi dikejar waktu.
Untuk memastikan beliau berdua sedang apa, hari ini saya harus ke makamnya.














