Aku tahu kamu sengaja tidak menguncinya dari dalam. Agar aku bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu dan mengganggu istirahatmu.

pixel skylines

Andulka

JVL
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kiana Khansmith
Three Goblin Art

Kaledo Art
styofa doing anything
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Mike Driver
Lint Roller? I Barely Know Her

@theartofmadeline
I'd rather be in outer space 🛸

Product Placement
Cosimo Galluzzi
taylor price

oozey mess
TVSTRANGERTHINGS
DEAR READER
cherry valley forever
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Taiwan
seen from Lithuania

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Japan

seen from Türkiye

seen from United States
@penagenic
Aku tahu kamu sengaja tidak menguncinya dari dalam. Agar aku bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu dan mengganggu istirahatmu.
Siang tadi, sepasang mata itu pulang membawa kalimat permohonan sederhana Terbaca seperti kidung jelang tidur yang menyelamatkanku dari mimpi buruk Sepasang mata itu seolah berkata, aku kesepian tanpa tatapanmu
Aku tetaplah titik pada tanda seru di akhir kalimatmu Gerimis yang menyinggung rinduku pada basah ikal rambutmu Atau juga, sekumpulan kata cinta yang pernah kubaca di ratusan buku
Derit roda Sri Tanjung membawamu menjauh namun rasa kehilangan semakin mendekat Yang tertinggal hanya karcis parkir juga rasa hangat pipi kirimu yang sempat kuusap dengan punggung jari telunjukku
060426
Aprilku tersusun dari beberapa jenis rindu yang bentuknya lucu-lucu.
Sebenarnya April itu kamu; yang memakai baju monyet bertali satu, asyik menikmati ayam krispi, sambil menjelaskan beberapa tujuan ketika sedang berkunjung ke kotaku.
Atau bisa jadi, April itu kita? Yang berusaha sebaik mungkin menjaga, sesabar mungkin menerima. Sekuat tenaga bertahan untuk menghadapi kemustahilan.
Kalau mencoba memahami lirik yang ditulis oleh Thom Yorke, ternyata aku beruntung pernah dikecewakan.
Setidaknya, aku tidak akan merasakan hal itu lagi. Apalagi dari orang yang sama. Memilih untuk sayang secukupnya demi menghindari kecewa sepenuhnya.
Satu hal paling berharga yang bisa aku pelajari dari pertemuanku denganmu, ternyata masalah itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk kita bisa belajar melewatinya hingga kita sampai di titik sekarang.
Dan aku begitu mengagumi versi terbaikmu hari ini setelah mampu melewati bermacam masalah dalam hidupmu.
Yang kita tahu, permasalahan hidup selalu dinamis dengan berbagai bentuknya. Tentu bukan hal yang mudah untuk bisa melewatinya begitu saja.
Yang aku pahami, petarung andal yang berhasil memenangkan medan perangnya selalu pulang dengan pakaian yang sudah lusuh, penuh robekan dan darah.
Satu lagi, justru aku mencintaimu karena itu.
Beberapa orang, termasuk saya, adalah tipe manusia yang lebih suka merawat satu tanaman tomat yang sedang tumbuh subur dan berbuah, dibanding mencoba mengganti tanah, menambahkan pupuk, atau menghabiskan waktu menyirami tanaman-tanaman lain yang sudah lebih dulu kering dan membusuk.
Anggapan saya sederhana; merawat satu tanaman yang tumbuh subur dan membuahkan hasil adalah salah satu perihal yang sangat membahagiakan.
Ketika di halaman yang sama saya memiliki beberapa tanaman—yang satu tumbuh sehat sementara yang lain sudah kering dan membusuk, saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk fokus pada tanaman yang sudah tumbuh sehat dan berbuah.
"Karena merawat sesuatu yang kita sadari sudah mati, sering kali hanya akan menguras energi, emosi, dan e-money".
Bukan karena saya tidak mampu merawat lebih dari satu. Tapi karena saya memahami satu hal sederhana: Yang sudah tumbuh dengan baik sebenarnya tidak membutuhkan banyak hal. Ia hanya butuh tanah dan pupuk yang tidak terus dikoyak, air rutin secukupnya, dan matahari yang tidak bosan menyinari setiap hari.
Jika sebuah tanaman sudah tumbuh dengan segar dan berbuah di halaman kita, mungkin yang perlu dijaga bukan tanaman lain— tapi rasa penasaran kita sendiri yang terlalu mudah menoleh atau mencoba menanam tanaman berbeda.
Satu lagi, jangan pernah menyesali atau bahkan menyalahkan tomat yang tadinya tumbuh subur dan berbuah itu jika suatu hari ia perlahan mengering dan mati karena kita terlalu sibuk merawat tanaman-tanaman lain.
Dan lucunya, kita terlalu serius membaca sehingga menyadari bahwa tulisan ini bukan lagi tentang tanaman.
Semalam di Rajajowas, 160326
Ternyata benar apa kata Alm Ibu, "Memaafkan itu membebaskan hidupmu dari kendali sakit hati dan emosi ingin membalas".
Salah satu adegan paling menyedihkan adalah ketika dia menjelaskan karena merasa terdesak sudah ketahuan, bukan karena merasa bersalah atau menyesal. Kalau tidak ketahuan, bisa jadi akan tetap dilanjutkan. Entah karena kebiasaan lama atau dia suka menikmati sensasinya yang tak seberapa.
Judul filmnya kalau tidak salah ingat "Jejak Bohong di Bibirnya".
Surabaya Menjelang Pagi dan Perkara Lain
Entah kenapa aku suka sekali dengan Surabaya saat tengah malam, katamu sore itu, disusul senyum yang memamerkan gigi gingsul dan lesung pipit yang pernah kujadikan alasan sederhana kenapa aku bisa jatuh cinta. Lalu kau bilang, Surabaya tengah malam selalu terlihat seperti perempuan yang belum pernah berbohong, atau seperti pebalet yang sedang menari merayakan patah hatinya sendiri kesekian kali.
Dan kau boleh belajar dari panjangnya jalan Pahlawan hingga Tunjungan, suaramu menyambung cerita. Dengan kecepatan rendah, jangan pernah melintasinya tanpa memutar I Can’t Make You Love Me-nya Dave Thomas Junior. Atau paling tidak, putarlah Melepasmu-nya Drive, atau All I Want-nya Kodaline yang dicover Alexandra Porat, atau pemutar lagumu yang acak itu tiba-tiba berhenti di lagu Benci Untuk Mencintai-nya Naif. Perpaduannya akan membuatmu mengerti, selalu ada yang berharga dari masalalu. Hotel Majapahit yang hampir tak pernah berubah, gedung Grahadi yang berdiri gagah, atau kantor pos di jantung kota yang terus berdegup penuh cerita.
Surabaya tengah malam seperti kita, katamu sekali lagi. Sepasang cemburu yang penuh selidik, rasa sayang yang dibalut maksud, gigil dingin yang kehilangan selimut, rentang lengan yang dihindari peluk, atau mungkin dua wujud rindu yang tak lagi berbentuk. Sama-sama kalah namun tak ada yang mau menyerah. Surabaya tengah malam ialah oksimoron yang membingungkan, persis seperti kita, katamu menutup perbincangan dengan kecupan mengejutkan.
“Pulanglah, perempuanmu sudah menunggu!” Sergapmu singkat menyelesaikan semuanya.
Kali pertama aku memboncengnya lagi setelah hampir empat tahun tanpa berkabar, dia tiba-tiba bertanya,
"Parfummu ganti?"
Di detik itu juga aku menyadari satu hal; ternyata kemarin itu aku hanya menghindar, tidak benar-benar pergi.
Dia? Masih di tempat yang sama. Tekun menulis dan mengumpulkan kalimat-kalmat tunggu yang selalu dilapisi aku.
Tatapan matanya jauh lebih teduh dan tenang, mengingatkan aku pada wajah Alm Ibu setiap kali beliau selesai mengaji.
Kepada: [email protected] Subjek: Mencintaimu itu Menyenangkan
Hei, Manusia Favorit!
Jadi bagaimana rasanya dicintai? Maaf jika terlalu lama menunggu.
Seharusnya, kau bisa merasakannya sejak delapan tahun lalu.
Surabaya, 150226
Merekahlah Sedikit Lebih Lama
Aku menerimanya dengan tangan yang tenang bukan dengan gemetar..
Mawar merah muda juga daisy-daisy kecil,
lembut, tulus, penuh harapan.
Terlihat sederhana, namun terasa megah.
Tidak ada tuntutan, pun tak ada keinginan untuk menggenggam terlalu erat.
Hanya hangat..
Aku tak punya jawaban pasti ketika kau bertanya tentang sedalam apa rasaku padamu.
Aku hanya sedang merasakan, bahwa di duniaku yang penuh badai, ada seseorang yang memegang hatiku dengan lembut.
Sebab hal-hal yang bagimu sudah semestinya, adalah daisy-daisy kecil yang merekah di sela reruntuhanku.
Denganmu, segala yang ada dalam diriku selalu diterima.
Kaudukung semua yang kuusahakan.
Hal-hal kecil yang kulakukan selalu kau apresiasi dan hargai.
Serta do’a-do’a untuk keberkahan dan keselamatanku di setiap pagi.
Kuharap, aku selalu dapat melakukan hal sama untukmu.
Sebab akhirnya, hatiku seakan telah menemukan, seseorang yang memantulkan caraku mencintai.
Kini setiap pagi, harapanku;
Semoga kau dapat tinggal sedikit lebih lama.
Esoknya, semoga sedikit lebih lama.
Esoknya lagi, semoga sedikit lebih lama lagi..
Kiranya hingga waktu dan semesta masih sanggup untuk berpihak padaku.
Sekali lagi, terima kasih untuk letupan-letupan rekah bahagia yang kamu beri dan kirimkan padaku kemarin, hari ini, esok dan semoga seterusnya.
Mendua untuk Bertahan
Pesan pendek Nadya masuk ke gawai Ferdy tepat pukul 16:48. Satu bar chat yang cukup jelas, membagikan lokasi sebuah hotel di pinggiran kota, tempat mereka pernah bertemu di beberapa kali kesempatan. Disusul chat lanjutan berisi kalimat, "Sepulang kerja usahakan ke sini, ya. Aku lagi butuh kamu banget", diakhiri emotikon sedih. Ferdy yang sedang berkemas untuk pulang kantor sore itu, sejenak menghentikan aktivitasnya. Membaca dan mengamati pesan itu dengan saksama, sebelum tiga menit setelahnya Ferdy membalas, "Ada masalah sama Ronald?". Selang beberapa detik Nadia membalas, "Biasalah, tantrum sejak kemarin. Nanti aja aku ceritain pas kamu udah di sini".
Memasuki 7 tahun pernikahannya dengan Ronald, 2 tahun belakangan Nadya merasa pernikahannya selalu berjalan di atas kewaspadaan. Banyak sekali perubahan Ronald yang sangat terasa. Mulai mudah marah, kasar dalam pemilihan kata, sering mengumpat dengan bahasa dan kalimat yang tidak seharusnya, tidak pernah lepas dari gawai, bahkan merekayasa jam pulang kerja. Lebih parahnya, beberapa percakapan sering berakhir dengan gebrakan meja atau pintu yang ditutup dengan kerasnya. Nadya tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya mulai retak. Kenyataan yang ia tahu, Ronald tidak pernah bisa diajak diskusi agar retakan itu bisa diperbaiki.
Sejak menjadi tim kerja di kantor lama 9 tahun lalu, Ferdy adalah satu-satunya orang yang bisa dijadikan tempat sampah dan sandaran ketika Nadya merasakan berbagai bentuk kekacauan dalam hidup. Ia menjadi tempat Nadya menyimpan cerita-cerita yang tak bisa dibawa pulang. Kegagalan, ambisi, luka lama, hingga privasi yang tak mungkin bisa dibagi. Kisah cinta, bisnis, patah hati, kecewa, bahkan untuk sekadar memilih jenis mobil atau motor apa yang akan dibeli oleh Nadya. Terlalu kotor untuk disebut hubungan yang sah, terlalu intim untuk disebut sebuah persahabatan.
Pada dasarnya, mereka berdua saling mencintai, namun pada akhirnya harus bersedia saling meletakkan perasaan masing-masing karena satu hal besar yang tidak mungkin bisa mereka terjang jika hanya mengandalkan akal sehat dan perasaan. Ferdy dengan besar hati merelakan Nadya menikah dengan Ronald, sedangkan Nadya selalu saja memberi sinyal melalui perlakuannya bahwa hatinya sampai saat ini masih tetap milik Ferdy. Keberadaan Ferdy bukan sebagai kekasih, tapi sebagai satu-satunya orang yang setiap saat bisa dipeluk agar Nadya bisa kembali merasa utuh.
Nadya dan Ferdy tahu semua ini salah. Nadya dan Ferdy tidak pernah berusaha membela diri.
Namun jauh di dasar hati Nadya, ia merasa keberadaan Ferdy merupakan salah satu alasan terbesar kenapa ia bisa mempertahankan pernikahannya bersama Ronald.
Setiap kali ada pertengkaran dengan Ronald, Nadya cukup menyelesaikannya dengan bertemu Ferdy. Menceritakan banyak hal tentang permasalahannya, dan entah kenapa, di mata Nadya, Ferdy selalu mampu menjadi penasihat ulung yang paham betul harus ambil jalan keluar seperti apa, sehingga Nadya bisa pulang dengan kepala lebih dingin dan hati yang sudah jauh lebih tenang. Setiap pertengkaran dengan Ronald selalu ada jalan pulang yang ditemukan Nadya dari suara, nada bicara, dan tatapan mata Ferdy.
Ferdy paham betul posisinya, dirinya hanyalah pelampiasan.Ia bukan bukan obat yang menyembuhkan, hanya pereda ketika sakitnya tidak bisa lagi ditahan. Bukan tujuan, hanya tempat peristirahatan. Namun di sisi lain, karena didukung cintanya kepada Nadya yang sangat dalam, Ferdy tidak pernah rela melihat pernikahan Nadya hancur. Ferdy akan tetap berdiri di luar, menjaga agar bangunan itu tetap terlihat elok dan tidak roboh. Meskipun artinya ia sendiri tidak akan pernah diizinkan masuk ke dalam bangunan tersebut.
Cinta Nadya ke Ferdy senyap dan membatu, kuat dan menetap. Pernikahan Nadya dan Ronald sakral namun pilu; diakui, tapi sering dijalani dengan perasaan kosong dan hati yang hampa. Keduanya adalah perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat dan logika mana pun. Dua situasi itu hidup berdampingan namun tidak pernah sejalan. Di situlah Nadya akhirnya memahami satu hal, dengan pahit yang tak bisa ia jelaskan pada siapa pun, mencintai dan menikah tetaplah dua hal yang sangat jelas berbeda dan sering kali tidak berjalan beriringan.
Menyimpan Semestamu
Awalnya aku ingin bertemu musuh besarku dari pantulan matamu yang menangis, hidungmu yang mimisan, juga dadamu yang sesak ketika menyembunyikan isak di balik pintu.
Tapi semua mendadak sirna! Di tempatku duduk dan menulis ini, berjatuhan ingatan tentang rona bunga kasturi yang menjuntai di sepasang alismu, bentuk kacamatamu, warna kuku yang kaujelaskan kepadaku, juga harum leher dan wangi rambut yang dianggap penciumanku sebagai aroma ketenangan hutan hujan.
Jalanan Surabaya telah berubah menjadi tumpukan bunga selama aku tetap menjaga wangi gerimis yang pernah jatuh membasahi ikal rambutmu. Ada juga dadamu tempat persembunyian paling aman yang berani menjamin keselamatanku.
Sugeng Rahayu yang membawamu pergi, meninggalkan lusinan peristiwa dan setumpuk kejaiban yang disembunyikan ingatanku dari intaian semesta. Tanpa seizinnya, aku merekam sepasang mata hangat yang mewakili keteduhan langit menjelang maghrib. Debar doa yang bertukar amin lewat pelukan demi pelukan, telah kaubawa menempuh 116 kilometer menuju barat daya kotaku.
Jadi tak perlu lagi menangis! Senja yang kaukagumi itu menjadi rusak dan terlihat cembung di matamu.
Sesekali aku sengaja menoleh ke belakang untuk memastikan, setidaknya kalau kamu terpantau aman, aku tenang. Kalau kamu jatuh, aku yang lumpuh.
Dini hari dihibur Skinny Love-nya Birdy. Semoga kau dan aku masih bisa mengingat apa yang sama-sama kita rasakan ketika roda keberangkatan membawamu pergi.
Seisi kota, waktu, dan isi hati, terasa kosong dan sepi.
Tapi tidak dengan malam ini. Akan selalu ada alasan yang kau temukan sehingga kau tidak perlu mengingatnya lagi.
Sedang berada di fase hidup yang tenang dan nyaman; tidak kurang, tidak lebih, tapi cukup. Apa pun kebutuhan keluarga, anak dan istri, semua terpenuhi.
Jika waktu bisa ditarik mundur ke sepuluh tahun belakang, inilah hidup yang pernah aku ingin dan mimpikan. Kerja online, autopilot dari rumah, tidak terikat waktu dan jam kerja kantor, bisa membantu pasangan mengerjakaan tugas domestik, memiliki kesempatan yang cukup untuk antar jemput anak istri, sekaligus memberi ruang lega bagi pasangan untuk mengejar karier dan mimpinya tanpa tekanan dan batasan apa pun.
Dua paragraf di atas sebenarnya bukan monolog batin atau podcast dengan diri sendiri, tapi obrolan penuh makna bersama sahabat saya yang sudah berteman sejak kami SMA, ketika kami sedang ngopi siang di sebuah kedai yang tak seberapa ramai. Saudara tak sedarah yang selalu membantu ketika saya jatuh, begitu pun sebaliknya; saya selalu siap sedia ulurkan tangan ketika dia butuh bantuan. Teman bisnis yang selalu berusaha saling dongkrak finansial masing-masing, berbagi perihal apa saja; sudut pandang, gaya hidup, keuangan, rumah tangga, parenting, otomotif, dan banyak lagi hal lainnya.
Namun di akhir obrolan, dia menyampaikan satu kalimat yang membuat saya terdiam cukup lama. Bukan karena tidak setuju, tapi karena kalimat itu seperti mencabut fondasi berpikir saya yang selama ini mungkin terlalu soliter. Entah kenapa tiba-tiba saya merasa beku dan berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya menyadari, lalu kemudian sepakat dengan kalimat itu.
"Tapi jangan sesekali berpikir semua ini semata-mata karena kerja keras kita. Bisa jadi, pencapaian terbaik hari ini berkat doa istri-istri kita di setiap Dhuha dan Qobliyah Subuhnya".
Terima kasih atas "kerja dalam sunyi" untuk para istri di seluruh muka bumi ini. Terima kasih untuk cinta yang jarang muncul di permukaan, tapi mampu menopang seluruh bangunannya hingga menjadi tenang dan tahan guncangan.