FOLK, MALANG, DAN PETUALANGAN #2
Mungkin, waktu ini sangat baik untuk saya memulai. Setelah hampir empat bulan dari suatu perjalanan berharga saya dan tidak ada testimoni apapun yang bisa saya ungkapkan. Efek terlarut begitu dalam pada hingar bingar ini sepertinya. Dan akhirnya saya mau menulis ini. Saya pikir karena saya harus dapat menemukan kebebasan.
Begitu pula, tuntutan untuk melawan ego pada diri saya.
Jumat, pagi indah itu membawa saya untuk pergi ke kota dimana kesejukan itu bisa dirasakan. Walaupun di tengah kota. Malang. Perjalanan jauh hanya sekedar untuk menonton pertunjukan musik yang menurut sekitar saya itu adalah “keasingan”. Dibawalah saya dengan kereta kesana, yang sampai saat ini tiketnya masih saya simpan baik. Ada beberapa alasan memang tentang mengapa kereta itu mau membawa saya kesana atau tentang mengapa saya mau merelakan banyak hal, yang hanya sekedar melihat suatu pertunjukkan musik yang banyak orang tidak tahu itu apa. Oke, saya rasa ini dua pertanyaan yang memiliki jawaban yang sama.
“Kamu bakalan nemu sesuatu hal yang baru kalau kamu berangkat ke malang” rayuan teman saya, dua minggu sebelum keberangkatan.
Dan pertanyaannya mengapa, rumusnya dari mengapa adalah jawabannya karena. (Itu kata-kata guru Bahasa Indonesia saya saat SMA). Lalu, karena saya perlu melakukan perjalanan ini dan saya harus lakukan ini. Yang sebenarnya juga, saya menyukai dari Line-up acara ini sendiri. Kebutuhan khusus hingga gejolak dalam hati ini memanggil untuk segerakan saya pergi.
Pergi dengan ala kadarnya, berharap pada teman lama dan menunggu adanya teman baru. Tapi memang benar apa yang diucapkan oleh teman saya. Itu terjadi. Saya menemukan jika perjalanan saya ke malang adalah keindahan. Seperti cahaya yang tiba-tiba datang pada saat mata sayup, walaupun selanjutnya hilang lagi. Siklus realitas hidup.
Ada saat dimana hidup itu membosankan. Berjalan sendiri, tidak tahu kemana arah yang harus dituju. Ungkapkan ini pada sang waktu. Namun, saya sendiri tak bisa menyalahkan waktu juga. Seperti yang sudah dilantunkan oleh Tigapagi, konsernya yang dipeluk oleh gerimis.
“Seakan semua masa lalu yang tak pernah punya arti, lalu kita lupakan semua kenangan. Biarkan ditelan waktu”.
Pastinya saya akan datang ke pertunjukan musik seperti itu lagi. Bertemu dengan sekitar yang punya tujuan sama.