Seperti pantai yang damainya pasti. Seperti itulah seharusnya peluk kekasih. #haivanpass #danang #vietnam #beach #🇻🇳 (at Hải Vân Pass)

No title available

@theartofmadeline
Acquired Stardust

oozey mess
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Not today Justin

blake kathryn

JVL

titsay
taylor price
Claire Keane

★

izzy's playlists!
sheepfilms

⁂

祝日 / Permanent Vacation

roma★
Show & Tell
AnasAbdin
seen from United States
seen from Russia

seen from Indonesia

seen from Taiwan
seen from United States
seen from United States
seen from Georgia
seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from India
seen from United States

seen from Germany

seen from Colombia

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@perempuanthicka
Seperti pantai yang damainya pasti. Seperti itulah seharusnya peluk kekasih. #haivanpass #danang #vietnam #beach #🇻🇳 (at Hải Vân Pass)
Aku menyukai memandangimu dari kejauhan. Menatap dari jarak yang tak mungkin kelihatan. Sepasang matamu menyusuri barisan kata-kata yang dipermainkan diksi, makna dan tanda baca. Aku mengagumi bibirmu yang penuh. Membayangkan apa rasanya jika aku lebur di situ. Kamu begitu menarik meski hanya tertunduk pada rengkuhan buku. Kamu begitu indah meski hanya bertumpu pada satu titik: semesta kata-kata. #ketikata #fiksi #iphonesia #blur #vsco
Kekasihku itu sederhana. Seperti secangkir kopi hitam yang pahitnya jujur tanpa khianat. Menyesap pada indera. Nikmat tak terlupa. Captured by @inezjapardi for @ottencoffee 👄 | #womenandcoffee #ketikata #coffee (at Otten Coffee)
Sebuah kota tanpa kedai kopi adalah keriuhan yang hampa. Sedang kedai kopi tanpa senyum yang ranum adalah cangkir-cangkir kopi yang sia-sia. Selamat atas dibukanya @sensuricoffee Medan. Semoga kehadiranmu memberi kebahagiaan sederhana bagi kami pecandu nikmat kopi. 💓 Captured by @sarahmuksin | #sensuricoffee #womenandcoffee (at Medan, Indonesia)
Pertemuan adalah takdir yang hidup dalam nadi. Kau adalah semesta yang kukagumi. Senja tumpah di senyummu. Cepat-cepat kucuri dalam kecup yang begitu singkat. Kekasih, tak ada puisi paling mabuk selain debur yang berujung debar. Tiada rima dan bait yang lagi kita perlukan karena dalam ciuman panjang hanya tersisa semesta yang diam. Bumi hilang kendali. Hanya ada kita yang sibuk berbagi kenakalan. Berbagi senja di dalam peluk dan pikiran. . Selamat merayakan Hari Puisi Sedunia. Selamat hidup dalam belukar imaji yang tak habis-habis gairahnya. 🔥
Sisa hujan di jendela mengingatkan kita bahwa rindu juga bisa reda.. ☔️ (at Alam Semesta)
Barista adalah jantung dari sebuah kedai kopi. Biji kopi, air, susu dan komplotan mesin tunduk patuh pada kuasanya. Di @narrowmarrow, Jamie Oon adalah paduka. Mencipta nikmat pada cangkir dan sedap pada percakapan bagi siapa saja yang singgah. Ah, ngopi di sini seperti lebur ke satu semesta yang begitu lain. Membuatmu tercengang sekaligus enggan pulang. 👄 #baristadarlings #coffeeshop #iphonesia #womenandcoffee #penang (at Narrow Marrow)
Dulu saya mengkhawatirkan tubuh yang kecil ini. Mampukah dia bertahan di semesta maha luas? Atau sanggupkah dia melawan arus dunia yang derasnya menyakiti? Kini saya mulai mengkhawatirkan hati yang luas yang terperangkap pada tubuh yang begitu kecil. Adakah hati yang tahu diri ini rela menyimpan begitu banyak resah yang tak sudah-sudah? Hidup sepertinya memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan rasa khawatir. Tapi dari segala khawatir yang kerap singgah, mengkhawatirkanmu adalah yang paling membuat gila. Hanya aku dan semesta yang tahu riaknya. Captured by @sarahmuksin | #latepost #myanmar #oldbagan #fujifilm #vscofilter (at Ananda Phaya)
Tak ada cahaya yang tak indah. Semua mewujud genit dalam kerlip penuh pesona. Namun di antara seribu terang, kutemukan kau yang paling benderang. Menyinari secukupnya, melatari remang malam dalam kasih cinta. Kau kekasihku adalah pelita maha abadi. Memberi hangat yang pasti. Menyalurkan energi paling sahih di dalam hati. Kini, esok, nanti aku takluk berpasrah diri. #iphone #citylights #bokeh #iphonesia (at Medan, Indonesia)
Hidup adalah laut lepas yang kau arungi dengan perahu harapan. Sapa mesra saja ombak-ombak yang sombong. Kelak mereka lebur di kaki karang. Hidup adalah tentang berlayar jauh menemukan kebaikan. Jika di perjalanan bertemu gelombang titip salam karena dia tahu kau sudah lama merindu bibir pantai yang menawarkan kedamaian. #latepost #penang #candid #streetart #📷 (at George Town, Penang Island)
Mereka pikir aku butuh secangkir kopi untuk menulis puisi. Tidak, kawan. Yang kubutuhkan justru sebait puisi agar bisa kuselami makna nikmat kopi dalam rima teguk pengusir kantuk. #sekepingvictoria #coffee #humanofny (at Sekeping Victoria)
Luka di Januari
Kematian terasa begitu akrab akhir-akhir ini. Mengendap-endap membawa pisau lara yang tak tahu kemana arahnya. Januari selalu mengingatkanku kepada kepergianmu. Yang belum sempat kubahagiakan.
Tadi malam kucingku mati. Aku sebenarnya sudah melatih hati untuk tidak menangisi kematian kucing-kucing. Mereka hanya titipan. Seperti rasa yang kuperjuangkan tetap ada tapi kadang kabur bersama waktu.
Januari selalu mengingatkanku padamu. Pada hela napas terakhirmu sepekan setelah tahun baru. Sudah lima tahun tapi duka ini tak pernah benar-benar sirna. Selalu mampu memberikan murung yang cuma-cuma. Ajari aku untuk berdamai. Perang luka ini terlampau parah. Tak ada yang mau mengalah. Hati tetap memilih melukai ingatan dengan pedang masa lalu. Sedang ingatan melawan dengan tombak-tombak penyesalan. Kemana kuharus berpulang? Kemana kulangkahkan kaki ini selain pada pusara kering tanpa kelopak bunga?
Tadi pagi aku bangun dengan sedih sekali. Kupikir tadi malam kau datang berkunjung. Entah menyapa dalam bayang-bayang seperti biasa. Menjenguk dalam senyum dan kerudung lila warna kesukaanmu. Tapi kau tak ada. Kau tak mampir padahal rindu ini tak tertampung lagi banyaknya.
Seharusnya aku tak menulis luka di awal tahun. Tapi bagaimana mungkin tak kurayakan dukaku yang ke 1825 hari ini? Jika ada waktu, jenguk aku setelah lelap. Bisikkan apa saja semaumu. Aku merindu bahkan sekedar senyum beku atau kerling jenaka itu.
Untuk Martini,
Nenekku yang disayang Tuhan
Kita pernah membisu selama berjam-jam disaksikan secangkir kopi yang mati bosan. Kita membisu karena terlalu sakit. Tak ada percakapan yang mampu menghangatkan sepasang hati yang dingin. Kamu bukan lagi pulangku. Aku bukan lagi semestamu. Berdua kita berjalan menjauh dan hanya sepasang punggung kita yang saling menatap berucap salam perpisahan. . Kini aku masih membisu di hadapan secangkir kopi yang kehilangan nikmatnya. Tak ada kisah tentangmu lagi karena setelah hari itu kukemasi segala luka. Kususun satu-satu menjadi potongan cerita yang utuh. Lalu kukremasi dalam doa di bawah bantal setiap hari. #fiksimini #semacamfiksi #coffee #☕️ (at Luka Café Bangkok)
Cabrita Patisserie & Bakery Medan: Sebuah ‘Pelarian’ Manis
Tak mudah menemukan sebuah tempat yang mampu memberi atmosfer menyenangkan sekaligus menyajikan makanan dan minuman lezat. Di Cabrita Pattiserie dan Terrace keduanya menyatu dengan sempurna.
INI adalah kunjungan kedua saya ke Cabrita Patisserie & Bakery yang berlokasi di Jalan A.H. Nasution No. 102 Medan Johor ini. Pertama kali ke sini saya sedikit surprise juga bahwa di daerah Medan Johor ada sebuah tempat nongkrong yang asik dengan tema European Style yang begitu kentara. Awalnya saya pikir Cabrita Patisserie adalah sebuah bakery yang mengedepankan konsep take away, ternyata oh ternyata di sini juga disediakan kursi-kursi nyaman tempat pengunjung bisa menikmati aneka pilihan cake dan pastry penggugah selera.
Kali kedua mampir ke sini Cabrita Patiserrie tampaknya berbenah menjadi jauh lebih baik. Kejutan menyenangkan muncul ketika mereka menambah aneka menu main course yang tak sabar ingin saya cicipi. Cabrita Patisserie merabah menjadi kafe dengan mengusung Cabrita Terrace dan siap mengukuhkan dirinya sebagai tempat nongkrong asik dengan keragaman menu yang bisa memuaskan para pengunjungnya.
Tanpa banyak bicara saya dan beberapa teman pun memelajari menu yang ada. Maklum sudah memasuki waktu wilayah makan siang. Perut pun sudah dilanda keroncongan. Dari banyaknya pilihan main course, pilihan kamu pun jatuh pada Cabrita Combo Grill (IDR. 88.000) yaitu kombinasi antara grilled chicken, beef sausage and sirloin with brown sauce. Sungguh menu makan siang yang sangat besar. Brown sauce-nya gurih dan lezat dimakan bersama sirloin-nya. Untuk harga segitu, menu yang satu ini sangat well recommended.
Selain itu kami juga memesan Cabrita Beef Burger (IDR. 24.000). Burger dengan patty homemade yang tidak keras dan sedikit juicy. Lelehan mayonnaise menambah sensasi si burger yang satu ini. Menu lain yang tak kalah asik adalah Pasta Angelhair Chicken Sambal Matah ((IDR. 36.000). Makanan khas Italia yang dilebur bersama sambal matah khas negeri sendiri. Keunikan yang bermain asik dalam satu suapan. Suka sekali! Dan menu yang terakhir adalah Belacan Fried Rice ala Cabrita (IDR 28.000). Nasi goreng belacan yang disajikan bersama ayam goreng dan telur ini adalah menu sederhana dengan kenikmatan yang tak sederhana. Belacannya dimasak bersama nasi goreng dengan porsi yang pas. Memberi rasa yang sungguh menagih.
Memesan makanan tentu takkan lengkap tanpa ditemani minuman. Setelah bertanya langsung kepada waitress-nya, akhirnya kami memilih minuman-minuman yang well-recommended di sini yaitu Lady Pink (IDR. 16.000), Three Color Tea (IDR. 20.000) dan Ice Coffee Float (IDR. 20.000). Ketiga minuman ini benar-benar tak salah pilih. Ketiganya sukses melebur gerah dan dahaga kami yang siang itu memang sedang panas-panasnya. Tak cukup dengan itu saja, sebagai pecinta kopi saya juga memesan Iced Americano. Kopi dingin yang satu ini nikmat khususnya untuk kamu yang suka dengan minuman yang tak terlalu manis. Pas dinikmati bersama éclair dan macaroons.
Senang sekali rasanya di Medan telah muncul bakery sekaligus kafe seperti Cabrita Patisserie & Terrace ini. Untuk kalian yang suka foto-foto, di sini adalah pilihan yang tak salah. Cabrita didesain dengan interior dan eksterior yang begitu cantik. Sekilas seperti berada di sebuah kafe cantik di Eropa. Outdoor-nya yang dilengkapi air pancur menjadi pilihan buat nongkrong saat cuaca tidak terlalu panas. Di segala sudut tempat ini begitu fotogenik dan membuat saya betah berlama-lama di sini.
Tapi yang lebih penting dari segala dekorasi dan interior cantik yang ditampilkan Cabrita adalah mereka menggunakan bahan-bahan berkualitas dalam menciptakan menu makanannya. Mulai dari pastry dan roti, hingga main course dan aneka minuman. Jadi kamu tidak usah ragu lagi menikmati segala makanan dan minuman yang mereka sajikan. Cabrita yang berarti ‘anak kambing’ ini juga menggunakan susu kambing hampir di semua menu pastry dan minumannya. Karena ternyata pemiliknya juga memiliki peternakan kambing sendiri. Nah, sudah tahu ‘kan kenapa cita rasa roti, pastry dan cake-nya begitu istimewa.
Intinya Cabrita Patisserie & Cabrita Terrace adalah sebuah tempat nongkrong pilihan yang kini cukup melekat di hati saya. Semacam sebuah pelarian manis dari hiruk-pikuk kesibukan yang akhir-akhir ini menerpa dengan ganasnya. Jadi, untuk kalian yang merindu sebuah tempat nongkrong baru yang berbeda dari biasa, tempat yang satu ini layak dicoba.
Cabrita Patisserie & Bakery Jalan A.H. Nasution No. 102, Medan 061-88802342 IG/FB: CabritaHouse
Open Hours: 10.00 - 21.30
TEGUK KOPI PERTAMA: AWAL MULA
Tak ada yang istimewa. Pun tak ada cangkir dan tempat mewah. Saya menggali ingatan bertahun lalu. Mencoba menyusun keeping-keping ingat yang mengabur. Kapan saya bertemu kopi sebenarnya?
Satu ingatan terlempar sekitar tahun 1997, di ruang tamu kami yang hangat. Seseorang yang kupanggil papa (adik ipar mamaku) mengaduk kopi hitamnya perlahan. Melahirkan bunyi ding-ding-ding setiap setengah detik sekali. Kopi itu dipeluk gelas belimbing transparan beralaskan piring plastik oranye yang entah kenapa sore itu terlihat menarik untuk sepasang mata anak perempuan kecil yang lugu. Tak sekalipun perempuan kecil itu tahu bahwa bertahun-tahun kemudian dia akan mencintai kopi sedemikian dalamnya.
Kopi tubruk berwarna hitam pekat. Seperti mimpi buruk mengerikan yang tak pernah kauingat saat bangun tidur. Aromanya kuat. Tak pernah perempuan kecil itu mencium aroma itu sebelumnya. Tak tahu pun dia apakah dia suka akan bebauan baru itu atau tidak. Tapi matanya melekat erat pada gelas belimbing tak bertangkai itu. Diperhatikannya pamannya meneguk kopi hingga setengah. “Tika, mau coba kopi?” Perempuan kecil itu berdebar. Dia tidak siap dengan rasa baru yang akan dia cecap. Tapi penasaran mendorong rasa ragu jauh-jauh. Kali pertama dia tahu bahwa kopi adalah cairan hitam pekat mengerikan yang rasanya tak mirip susu atau pun teh, tak mirip sirup atau pun es lilin, tak mirip apa-apa yang dia pernah coba sebelumnya. Tapi dia tahu dia jatuh cinta pada zat yang tak bisa dia deskripsikan rasanya.
Bertahun kemudian setelah 1997. Kini perempuan kecil tumbuh menjadi perempuan keras kepala yang hanya tunduk pada tiga hal: Tuhan, buku, dan cangkir kopi. Kopi pertamanya adalah robusta dicampur jagung yang warnanya sehitam mimpi buruk. Kini kopinya beraneka jenis. Tak bisa dihapal karena terlalu banyak dan terdengar ajaib untuk telinga orang awam. Pamannya masih meneguk kopi yang sama. Dia, masih mencicipi kopi seperti 1997 meski kini tak lagi dari gelas belimbing beralas piring plastik oranye.
Untuk Papa Erman, yang memberiku kopi pertama kali.
Foto dari authoremilyannputzke.com
Maaf
Maaf tak bisa kutuliskan banyak kata hari ini. Dada terasa sesak dan kepala kehilangan kendali akan segala logika. Aku tak bisa memastikan bahwa besok rindu ini akan menjadikan aku baik-baik saja. Maaf bukan tak mau menunggu sehari lagi tapi jatuh cinta memang begitu laknat. Aku ingin melepas hati yang kini berdebar melawan tuannya.
Maaf..
Untuk Alejandra
Dear Alejandra,
Lama tak kudengar kabarmu. Tak juga keluh kesah tentang laki-laki yang gemar tidur dengan peri-peri dari Barat. Ah, Medan hujan terus. Seperti air matamu yang tempo hari mebanjiri bantal kesayanganku.
Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Apakah masih betah menjadi kekasih tembok-tembok merah muda di Jaipur sana. Aku tahu India memang telah menikahimu dengan mas kawin seperangkat kedamaian. Sehingga kau melupa pulang, melupa aku yang tak pernah kau surati lagi.
Tadi malam aku memimpikanmu. Itu kenapa kusurati kau hari ini. Dalam mimpiku kau termenung di pinggir sungai Gangga. Mengenakan sari berwarna kuning emas dengan gelang warna-warni yang berbunyi nyaring dalam sepi. Di mimpiku kau begitu murung. Entah karena apa.
Banyak malam yang kulewati dengan hanya memikirkanmu. Mungkin kau baik-baik saja, tapi hatiku berkata lain. Aku mengkhawatirkan sepasang kaki kecilmu yang tersandung kerikil-kerikil bodohnya cinta. Aku khawatir dengan plihanmu yang tetap hidup bersama laki-laki yang seumur hidupnya tak tahu arti setia. Aku khawatir akan hatimu yang tergerus luka. Aku khawatir akan apa-apa yang belum tentu terjadi. Demi semesta, aku mau kau bahagia.
Alejandra, jika surat ini sampai padamu, tak perlu kau membalasnya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Meski jarak menghabisi kebersamaan. Meski mereka bilang doa-doa kadang tak secepat kilat dikabulkan.
Jaga dirimu, karena hanya itu satu-satunya yang bisa membuatmu bahagia.
Foto diambil dari atlanticinfocus.tumblr.com