Lari
Terus terang saya sedang tidak akrab dengn sebuah kata yang bernama saran. Tahu apa mereka dengan sebuah saran.
Begini saja kita bermain logika. Saran itu adalah semacam pelengkap kehidupan agar jalan hidup lebih baik. Silakan saja, tapi dengan catatan saran yang kau lemparkan pernah, paling tidak sekali kau tempelkan di hidupmu, dan berhasil.
Kalau sekedar kalimat kosong semacam puisi atau lagu yang cuma terdengar indah. Lupakan saja.
Terlalu banyak hal yang bersinggungan. Yang harus dihindari jika harus dengan cara itu. Tapi bukankah masalah itu pada akhirnya harus dihadapi, dan dikalahkan, bukan sebagai objek kucing-kucingan, hide and seek, atau apalah.
Sejauh mana sih kaki dan pikiran bisa berlari menjauh. Atau sedalam apa semua bisa dikubur sambil berharap membusuk pelan-pelan menjadi humus.
toh saya juga tak bisa lama-lama berlari. Semua akan lelah pada waktunya. Tapi saya juga tak bisa lama-lama menarik napas dan berhenti.
Saya harus tetap berlari, biar darah saya terus mengalir dan jantung saya terus berdetak, biar tak ada lagi mimpi-mimpi, biar sadar bahwa saya masih bisa bernapas dan berpikir..untuk kembali lari.
Saya mungkin sedikit heran, bagaimana seseorang bisa melupakan bahwa dirinya pernah berada di detak yang sama, menarik napas yang sama di bawah matahari yang sama. Kemudian menganggapnya memuai hanya karena kesalahan adalah mutlak terjadi di satu sisi. Satu sisinya adalah pembenar.
Mungkin sudah saatnya saya sadar. Bahwa saya telah berusaha lari, namun cuma berputar-putar, dan tak berusaha juga mencari jalan keluar yang liar.











