
Jar Jar Binks Fan Club

titsay
No title available
RMH
Today's Document
untitled
Not today Justin
🩵 avery cochrane 🩵
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
🪼

ellievsbear

Kiana Khansmith

No title available
h
The Bowery Presents
Noah Kahan
NASA
art blog(derogatory)
tumblr dot com

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United Arab Emirates
seen from Poland
seen from New Zealand

seen from Iraq
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Philippines
seen from Nicaragua

seen from France
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France

seen from Poland

seen from Pakistan
seen from United States
@pesantanpapenerima
Kulayangkan do'a padamu sekalipun menjadi debu. Sekalipun rindu tak kunjung temu, namun aku yakin do'aku selalu tertuju padamu, Kamu.
Ini aku bukan dia yang mengistimewakanmu dengan segala kemampuannya, namun membahagiakanmu dengan kemampuanku seadanya.
Terlanjur menggebu agar tak terlalu rindu, bahwa dimana ada kamu aku tahu pikiranku selalu terbawa akankeberadaanmu.
Mereka tak akan pernah tahu seberapa hebat dirimu, seberapa tangguh dirimu tak perlu kau hiraukan itu. Cukup aku dan kedua orang tuamu yang mengetahui seberapa hebatnya kamu.
Mungkin aku terlalu enggan tuk bercerita semua tentang kelucuanmu, Tetapi aku tak pernah ragu untuk menunjukkan seberapa anggun kamu dimataku.
Tak apa aku tak kau hirau kan asal kau bahagia dengan kesibukan yang membahagiakanmu.
Mungkin aku masih terlalu perduli padamu, pada kesibukanmu tetapi mungkin aku lebih perduli tentang apa yang kau lakukan demi kebaikanmu.
Akan datang malam dimana tangan tangan ini tak lagi mampu menuliskan kata kata manis untukmu dan berganti bait bait do'a yang terucap di sepertiga malam, Mungkin memang terlalu naif tetapi tak ada yang tidak mungkin bila kau dan aku bersatu menjadi kita dan itupun atas kuasaNya
Selamat Menjelang Dini Hari 12.08 AM 6/Oct/2015
Pada akhirnya orang-orang akan menjadi tua,dan hanya potongan-potongan kenangan usia muda lah yang menemaninya.
(via langit-malam)
Menjadi si egois tak perlu alasan untuk tahu diri.
Hidup itu adil kok, adil jika kita bersyukur ;D
Kala namamu muncul dalam intuisi, hati kian digunduli oleh ekspektasi.
4:37AM 13-Jun-15 (via rockneverdiezz)
Bosan Kadang Singgah, Dijiwa Yang Lelah. Kadang Ada Jemu, Sekejap Berlalu.
Iwan Fals - Intermezo (via rockneverdiezz)
Pertanyaan Tentang Jodoh: Sebuah Konspirasi
Entah sudah lebaran ke berapa ini terjadi, entah untuk berapa lebaran lagi… “Kapan Tuhan akan mengirimkan jodoh buatku?” Itu pertanyaan pribadimu. Keluh rahasiamu. Yang kadang-kadang kamu gumamkan di saat-saat paling sunyi di kesendirian dirimu. “Kapan kamu menikah?” Itu pertanyaan mereka—entah mengapa selalu terasa seperti sebuah serangan terbuka. “Apa-apaan ini!?” Katamu, sambil mendirikan benteng pertahanan. “Aku juga ingin menikah, kok! Aku sudah berusaha sekuat tenaga! Aku sudah mengupayakan yang terbaik… Aku masih menunggu—aku hanya percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku!” Sambungmu. “Jadi, kapan kamu menikah?” Untukmu, di sini, sepandai apapun kamu menjawabnya atau tidak menjawabnya, pertanyaan itu akan selalu ada sebelum kamu menuntaskan semuanya. “Doakan saja…” Jawabmu. Diplomatis. Mereka mengangguk. Juga diplomatis. Semoga mereka benar-benar mendoakanmu… Tapi dua minggu, atau dua bulan, atau setahun berikutnya, seperti setiap lebaran tiba, mereka akan mempertanyakan lagi hal yang sama: Kapan kamu menikah? Kali ini, kamu tersenyum. Menggelengkan kepala. “Tenang saja,” katamu. Sementara rasa waswas menyerangmu dari dalam. Dan dalam kedip matamu yang ketiga, kamu menghitung jumlah usia. Tenang saja? Mereka tersenyum. Tetapi tentang semua ini, senyum mereka seringkali tak membuatmu bahagia. “Tenang, tenang, tenang… Semua masih baik-baik saja—meski tak sesuai rencana.” Kamu mencoba mengobati dirimu sendiri. … dan para penanya mungkin berlalu, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada untukmu. Lagi dan lagi. Dari siapa saja: Kapan kamu menikah, sih? “Bah, apa-apaan ini? Konspirasi macam apa ini!?” Umpatmu dalam hati. *** Sekarang, mari mengobrol santai. Mari kita bayangkan sepasang jodoh sebagai dua manusia yang berdiri di dua tepi pantai yang dipisahkan lautan—saling mengandaikan. Dengan demikian, perjodohan, atau pernikahan, barangkali semacam kehendak untuk saling mempertemukan diri satu sama lain. Keduanya boleh jadi diantarkan takdir untuk bertemu atau dipertemukan, tetapi nasib dan hidup baru bermakna setelah kita memberinya kata kerja, kan? Maka menyeberanglah! Sebagaimana nasib, juga hidup, jodoh selalu butuh kata kerja untuk membuat dirinya jadi bermakna. “Bagaimana kalau jodohku bukan dia yang sedang menunggu seberang lautan—berdiri di tepian pulau yang menghadap ke arah kita secara berlawanan?” Tanyamu. Bagaimana kamu tahu? Siapa yang tahu? Kamu menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin, sebenarnya. Selalu tidak yakin.” Jawabmu. Keyakinan adalah modal pertama agar kamu bisa menyeberangi lautan, bukan? Itu saja. “Tapi aku melihat banyak orang yang menemui seseorang yang keliru di seberang lautan!” Keluhmu. “Bagaimana kita tahu jodoh yang tepat?” Tidak ada yang tahu. Siapa yang tahu? Tapi, sudahlah. Apa yang salah tentang kegagalan? Kegagalan hanyalah sebuah alternatif. Jalan memutar menuju keberhasilan. Entoh tak tersedia pilihan lainnya setelah itu selain keberhasilan, kan? Lagipula bukankah cerita hidup manusia dimulai dengan sebuah peristiwa kegagalan? Aku mencoba meyakinkanmu—dengan apa saja. Kali ini hanya agar kamu berani menyeberang lautan. Sayangnya, kamu tetap menggelengkan kepala. “Aku tak bisa berenang dan aku tak mau berlayar!” Katamu. Bagaimanapun aku tak bisa memaksamu. Tetapi apapun pilihanmu, jodoh tetaplah sepasang manusia di dua tepian pulau yang terpisahkan lutan. Tinggal kamu yang memutuskan… Sementara kita bisa melihat lautan dengan dua cara pandang yang berbeda: Bentangan kekejaman yang memisahkan dirimu dari jodoh yang tengah kau andaikan, atau instrumen yang membuatmu selalu punya kemungkinan untuk bisa mencapai pulau lainnya dari pulau tempatmu kini berdiri. “Seberapa dalamkah sebenarnya lautan?” Itu pertanyaanmu berikutnya. Terdengar ragu-ragu. Kali ini aku yang menggelengkan kepala. Tak ada satupun manusia yang benar-benar tahu, tak ada yang pernah benar-benar bisa mengukurnya. Tuhanlah yang Maha Tahu Segalanya, sementara manusia hanya bisa menduga-duga, kan? Kamu menghela napas panjang. Lantas menganggukkan kepala pelan-pelan. *** Selamat menyambut lebaran. Selamat menyambut serangkaian pertanyaan tentang jodoh dan masa depan. Semoga Tuhan segera mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya. “Jadi, kapan kamu menyeberang? Kapan kamu menikah?” “Bah, konspirasi macam apa ini!” FAHD PAHDEPIE Penulis buku ‘Rumah Tangga’ (PandaMedia, 2015). Coming soon: ‘Jodoh – sebuah novel’ (Bentang Pustaka, 2015) #30HariMencariCintaNya #SahurKeduapuluhDelapan#Jodoh #Lebaran
Bosan Kadang Singgah, Dijiwa Yang Lelah. Kadang Ada Jemu, Sekejap Berlalu.
Iwan Fals - Intermezo
Kala namamu muncul dalam intuisi, hati kian digunduli oleh ekspektasi.
4:37AM 13-Jun-15