Cox
almost home
I'd rather be in outer space šø

ā
noise dept.
𩵠avery cochrane š©µ
šŖ¼
tumblr dot com
hello vonnie

ā
No title available
EXPECTATIONS

Discoholic šŖ©
Three Goblin Art
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Show & Tell
taylor price
untitled
Keni

ellievsbear
wallacepolsom

seen from Poland

seen from Denmark

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Poland

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Philippines

seen from Spain
seen from Australia

seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@pradestra
Cox
Pada akhirnya hanya kita yang mengerti tentang apa, siapa, bagaimana, dan mengapa yang kita miliki.
Sometimes we feel empty; we feel a vacuum, a great lack of something. We donāt know the cause; itās very vague, but that feeling of being empty inside is very strong. We expect and hope for something much better so weāll feel less alone, less empty. The desire to understand ourselves and to understand life is a deep thirst. Thereās also the deep thirst to be loved and to love. We are ready to love and be loved. Itās very natural. But because we feel empty, we try to find an object of our love. Sometimes we havenāt had the time to understand ourselves, yet weāve already found the object of our love. When we realize that all our hopes and expectations of course canāt be fulfilled by that person, we continue to feel empty. You want to find something, but you donāt know what to search for. In everyone thereās a continuous desire and expectation; deep inside, you still expect something better to happen.Ā How To Love, Thich Nhat Hanh
Tadi pagi aku diajari Bu Guru melipat koran jadi topi. Siangnya kubawa pulang, kasih unjuk Ibu sambil aku disuapi. Kata ibu, itu topi pelaut. Kata lagu, nenek moyangku seorang pelaut. Mengarung bentang samudra biru, menerjang ombak ganas menggulung hanyut, mencari ikan mengisi perut. Aku sudah kenyang, aku mau lihat orang melaut, di teluk sana. Kapalnya masih ada tapi nelayannya pergi entah ke mana. Lautnya masih ada cuma abu-abu warnanya.
āDengan apa kau akan menuliskan puisi untukku? Dengan kata yang yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu? Seperti Sapardi?ā
āDengan kata yang selalu ku ucap, dan sering kau dengar, hingga hujan itu jadi tampak tak deras dan matari tak sabar keluar menggeser mendungnya.ā
Rindu tertancap seperti batu-batu nisan di tanah pekuburan tua yang pahatannya sudah mulai mengabur dimakan cuaca. Terbengkalai di sela-sela ilalang yang tumbuh meninggi. Terdiam dalam kemuraman abadi. Terbungkus ironi karena muram akhirnya terasa begitu mendamaikan. Ironis karena terbengkalai akhirnya terlihat seperti sebuah jalan keluar yang menjauhkan dari kegaduhan. Muram akhirnya menjadi indah. Sepi jadi terasa menyenangkan. Kesendirian akhirnya terasa menentramkan. Hampa terasa hangat mengisi jiwa. Terbengkalai akhirnya justru terasa mendamaikan.
Suksma Ratri
Kadang kita tak dapat mengerti kata, sama seperti kata yang tak dapat menyerap seluruh pikir kita. Kata-kata yang lalu kau ubah jadi doa, diperdengarkan, dan dipersembahkan untuk Dia. Dia yang tak sudi dianggap dua dan janjinya akan kota agar leluhurmu dapat selalu menghafal doa-doa, mengingat kata-kata. Dia yang lewat doa-doa dijadikan tumpuan pun alasan sebagian kegemilangan dan seluruh kehancuran yang bergelung pada kita. Kadang kita tak dapat mengerti kata, kadang kita hanya dapat merangkai kata. Susunan serupa alunan yang lalu disebut doa. Kadang kita tak dapat mengerti Dia, kadang kita hanya dapat menerima. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.
Kita adalah kumpulan kata yang lalu lalang mengisi kota. Tertulis di mana-mana, masing-masing membawa makna.
Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.
Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah, sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.
Kurcaci, Joko Pinurbo
Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan. Ia mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu bahwa sumber segala kisah adalah kasih; bahwa ingin berawal dari angan; bahwa ibu tidak pernah kehilangan iba; bahwa segala yang baik akan berbiak; bahwa orang ramah tidak mudah marah; bahwa seorang bintang harus tahan banting; bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa; bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan; bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila; bahwa manusia belajar cinta dari monyet; bahwa orang putus asa suka memanggil asu. Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang tersusun di atas tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang panjang di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung, segala kenang tertidur di dalam kening. Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal. Kamus Kecil, Joko Pinurbo
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki. Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang. Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung. Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu. Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa. Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri. Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan kita?
Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta, M. Aan Mansyur
Pertama kali mataku menemukanmu, aku menyadari bahwa akan ada yang tak mudah, untuk dilupakan. Kharisma P. Lanang
Kita adalah dua orang yang sama-sama berulang kali terjatuh ke dalam kegelapan jiwa masing-masing. Kadang bergantian. Namun ada kalanya juga bersamaan. Kita tak punya pilihan selain dua hal: saling dukung atau saling meninggalkan.
Suksma Ratri
Bahwa Tuhan tak main-main ketika menciptamu itu benar. Butuh lebih dari debu. Bahkan mungkin rindu ketika membentuk sosokmu. Dari pijar matahari Ia bentuk bola matamu. Agar orang tahu dari sana kehangatan berasal. Dari sayap kupu-kupu Ia bentuk senyummu. Agar orang paham dari sana indah yang sederhana bermula. Di meja kerja Tuhan terhampar buku takdir kehidupan. Di sana masing-masing dicatatkan: setiap manusia dicipta tuk memberi arti juga kemampuan menggunakan hati. Aku pikir Tuhan kesepian juga. Maka Ia jadikanku kertas, dan menjadikan engkau pena. Jangan sekali-kali kau sangsi, kitalah ciptaan paling puisi. Penyair di Atas Segala Penyair, Adimas Immanuel
Jika punya keinginan yang sama kita akan kembali ke taman itu. Duduk tenang saling berhadapan pada ujung papan panjang kayu. Rindu yang amat boros jadi poros. Tabah masing-masing kita timbang. Agar cinta kita nantinya seimbang. Pagi hari aku lebih berat dari kamu. Pada petangnya berlaku sebaliknya. Sunyi berpindah tempat seperlunya. Agar cinta kita nantinya seimbang. Konon hidup juga seperti itu. Kita perlu berkorban lebih lama tinggal di bawah, untuk melihat orang terkasih tersenyum lebih lama di atas. Jungkat-Jungkit, Adimas Immanuel
Selagi hujan, semasih pagi, di bawah rintik yang makin menjadi, ada yang berjalan dalam diam, mulutnya mengulum sunyi, hatinya menanggung sepi. Dia dibasahi ingatan, ditenggelamkan kenangan.