Panduan Beribadah di Masjid Selama Pandemi
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always
tumblr dot com
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
NASA
hello vonnie

if i look back, i am lost

Love Begins
EXPECTATIONS

shark vs the universe

Andulka
The Bowery Presents
taylor price

❣ Chile in a Photography ❣

roma★

PR's Tumblrdome
No title available
todays bird
Cookie Run:Kingdom Official!

Game Changer & Make Some Noise
seen from France
seen from Singapore

seen from France
seen from Poland

seen from Chile
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Uruguay

seen from Albania

seen from United States
seen from United States

seen from Vietnam
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Iceland
seen from United States
seen from Romania
@prajnaparamitha
Panduan Beribadah di Masjid Selama Pandemi
Makhluk di Bumi Sebelum Nabi Adam
Assalamu’alaikum. Halo, teman-teman! Kali ini mari kita berdiskusi mengenai kehidupan di bumi sebelum Nabi Adam diturunkan.
Sebelum dihuni oleh Nabi Adam, bumi sudah ditinggali oleh beberapa makhluk. Makhluk apakah itu?
Pertama, Allah SWT menciptakan seekor unggas yang bernama Tabirunnasar. Allah SWT berfirman kepada-Nya : Hai unggas tabirunnasar, makanlah olehmu biji sawi itu. Apabila habis biji sawi itu, engkau akan kumatikan. Saking takutnya terhadap kematian, sang unggas hanya memakan satu biji dalam setahun. Namun, akhirnya habislah biji-biji sawi itu. Tabirunnasar pun akhirnya mati.
Setelah kematian tersebut, Allah SWT menciptakan makhluk lain sebagai penghuni bumi, yaitu tujuh puluh orang laki-laki. Namun tidak semuanya langsung diciptakan, melainkan satu persatu Allah SWT menciptakannya. Apabila seorang yang meninggal, maka langsung diciptakan yang lain. Masing-masing dari mereka berumur 70.000 tahun. Konon, setahun pada masa itu sama dengan seribu tahun pada masa sekarang. Tatkala telah mati tujuh puluh lelaki itu, kemudian Allah ciptakan jin.
Allah berfirman :Dan Dia menciptakan jin dari nyala api. ( Q.S. 55 : 1 )
Sebagian dari jin-jin itu ada yang berkaki empat, berkaki dua, dan ada yang terbang. Kemudian Allah SWT mengutus salah satu seorang di antara mereka yang bernama Yusuf untuk memberikan pengajaran ilmu dan syariat agama.
Namun, jin-jin itu banyak yang mendustakan ajaran-ajaran tersebut dan akhirnya Allah SWT pun mematikan semuanya.
Penghuni bumi berikutnya adalah suatu makhluk yang berpasangan. Rupanya seperti binatang dan keluar dari dalam neraka.
Binatang itu pun beranak dan anaknya dinamakan dengan Azazil. Setelah cukup besar, Azazil mulai melakukan peribadatan kepada Allah SWT selama seribu tahun.
Seribu tahun lamanya pula ia beribadah. Demikianlah, pada tiap-tiap lapisan langit ia beribadah selama seribu tahun lamanya hingga ke lapisan langit ketujuh.
Sementara itu, di bumi saat itu sudah ada penghuni lainnya yang berasal dari bangsa jin bernama Janna. Hidup hingga 70.000 tahun lamanya hingga lahir anak cucunya. Kata ahli tafsir yang lain, delapan belas ribu tahun mereka mendiami bumi, kemudian mereka menjadi sombong dan kufur.
Allah SWT pun mematikan janna. Sebagai gantinya adalah Bannul Janna. Ia mendiami bumi selama delapan belas ribu tahun lamanya, Tetapi, Bannul Janna pun banyak melakukan kerusakan di bumi. Azazil atau iblis mengajukan untuk turun ke bumi dengan para malaikat untuk berbuat kebaikan.
Allah SWT pun mengabulkan permohonan Azazil itu. Diturunkanlah ia bersama tujuh ratus Malaikat yang mengiringnya untuk beribadah di muka bumi, Kemudian Bannul Janna pun dimatikan.
Setelah delapan ribu tahun lamanya beribadah, iblis mencoba mengemukakan ungkapan hatinya bahwa di muka bumi inilah ia begitu betah dan tidak ada tempat lain yang membuatnya betah seperti ini.
Akhirnya iblis memohon agar selamanya ia berada di muka bumi untuk berbakti kepada Allah SWT. Sampai pada satu waktu, Allah SWT berkehendak menurunkan suatu keterangan kepada Azazil.
Firmannya : "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi."(Q.S. 2: 30).
Mendengar firman tersebut, iblis menjadi berduka karena perasaan dengkinya. Mereka (para Malaikat ) pun bertanya kepada Allah SWT mengenai siapa yang akan menjadi khalifah itu.
"Adam namanya," jawab Allah SWT. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau."
Dosa dan Taubat
Assalamu’alaikum. Halo, teman-teman! Pada artikel sebelumnya kita membahas mengenai nilai-nilai yang dapat diambil dari kisah Nabi Adam AS. Sekarang SAIN akan membahas hal yang masih berhubungan dengan kisah sebelumnya, yaitu : dosa dan taubat.
Apa itu dosa? Dosa merupakan kesalahan yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya, manusia dengan Tuhannya dan manusia (individu) dengan dirinya sendiri. Selain itu, juga berkaitan dengan ketentraman, kesejahteraan dan kebahagiaan seeorang atau ketidaktenangan, penderitaan dan ketidakbahagiaan (kesengsaraan). Dalam Al-Qur’an dosa dan kesalahan diistilahkan dengan berbagai bentuk misalnya dengan perbuatan menyeleweng atau menyimpang dari ketentuan Allah (al khothi’at ), perbuatan dosa, noda atau maksiat (Adz dzanb), perbuatan jelek (al sayyi’at ), perbuatan fasik (al fusuq), perbuatan maksiat (al ishya), perbuatan merusak (al fasad) atau perbuatan durhaka (al ism). Perbuatan dosa sering diidentikkan dengan perbuatan melanggar larangan Allah atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum-Nya secara sengaja sedang perbuatan salah diidentikkan dengan perbuatan menyalahi aturan yang secara umum dilakukan secara tidak sengaja.
Dosa menurut sifat dasarnya dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian yaitu :
(1) Berhubungan dengan sifat manusia yang terdiri dari empat bagian yaitu :
(a) Sifat rububiyah (berhubungan dengan sifat ketuhanan), misalnya sifat sombong, bermegah-megahan, gila pujian atau berlagak seperti Tuhan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan atas segala sesuatu.,
(b) Sifat syaithaniyah (berhubungan dengan sifat-sifat syetan), misalnya dengki, dhalim, licik, tipu daya, tidak jujur, fitnah, iri hati, permusuhan, menyuruh pada perbuatan keji dan mungkar dan mengajak kepada kesesatan,
(c) Sifat bahimiyah/hayawaniyyah (berhubungan dengan sifat hewan), misalnya penyimpangan seksual, zina, mencuri dan memakan harta orang lain atau mengumpulkan harta untuk kepentingan hawa nafsunya,
(d) Sifat sabu’iyyah (berrhubungan dengan sifat binatang buas ), misalnya marah, sadis, menyerang dan melanggar hak orang lain, mencaci maki, membunuh, merampas, ingin menghancurkan orang lain dan merusak.
Sedangkan dosa berhubungan dengan obyeknya yang dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) bagian yaitu :
(a) Dosa antara manusia dengan Allah, misalnya meninggalkan sholat dan puasa,
(b) Dosa antara manusia dengan orang lain (hak-hak masyarakat dan lingkungannya), misalnya membunuh orang, tidak membayar zakat, menyelewengkan harta, mencela kehormatan dan merebut hak orang lain,
(c) Dosa dengan dirinya sendiri, misalnya mendzolimi diri, merusak diri dan kehormatannya.
Adapun dosa yang berhubungan dengan bahaya dan mudharatnya terdiri dari 2 (dua) yaitu dosa kecil dan dosa besar, dimana semua ulama sepakat bahwa dosa kecil dapat menjadi besar begitu pula sebaliknya tergantung sikap dan perilaku seseorang yang mengikuti perbuatan tersebut, misalnya meremehkan dosa kecil, melakukannya dengan senang dan sering atau segera menyesali dan bertaubat dari dosa besarnya.
Ketika Nabi Adam melanggar perintah Allah, ia sangat menyesal kemudian bertaubat. Doa apa sih yang diutarakan Nabi Adam ketika bertaubat? Ini dia bacaannya :
Nah, pada kisah Nabi Adam juga diceritakan bahwan beliau meminta ampun kepada Allah dengan menyebut nama Muhammad S.A.W. Loh kok bisa tahu? Padahal Nabi Muhammad belum lahir? Jadi, pada Al-Quran dijelaskan bahwa, ketika Allah menciptakan Nabi Adam lalu Allah ditiupkan roh kepadanya, Nabi Adam melihat ada tulisan nama Nabi Muhammad yang bersanding dengan nama Allah pada tiang arsy. Nadi Adam tidak mengetahui siapakah Nabi Muhammad itu, tetapi beliau yakin bahwa Nabi Muhammad memiliki kedudukan yang tinggi jika dapat bersanding dengan nama Allah. Itulah mengapa kita juga menyebut nama Muhammad S.A.W. dalam doa kita.
Pelajaran dari Kisah Abul Basyar
Assalamu’alaikum. Halo, teman-teman! Kalian pasti sudah pernah mendengar kisah tentang Abul Basyar atau bapak dari seluruh manusia, ialah Nabi Adam a.s. Banyak hikmah yang terselip disana. Pada kesempatan ini SAIN akan membahas mengenai pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Adam a.s.
Ketika Allah menciptakan Adam, Ia memberikan kemampuan berupa kecerdasan. Allah mengajarkan kepadanya mengenai nama benda-benda. Kemudian Allah bertanya kepada malaikat, apakah malaikat mengetahui benda benda tersebut. Kemudian malaikat menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Ini merupakan indikasi jawaban dari sifat rendah hati para malaikat. Istilah rendah hati dalam Islam dikenal degan tawadu’ antonim dari takabbur. Sebagai seorang Muslim, kita dapat mencontoh sikap dari malaikat tersebut untuk rendah hati dan tunduk terhadap perintah Allah.
Sebagai seorang Muslim yang benar-benar beriman tidak akan berlaku sombong, karena ia mengetahui bahwa Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri, berjalan dengan angkuh, dan memalingkan muka dihadapan orang lain karena sombong. Seseorang yang sombong merasa dirinya lebih tinggi, lebih mampu dan lebih sempurna dari orang lain maka akan menjadi penyakit dalam dirinya. Seperti iblis, yang tidak mau sujud kepada Adam ketika Allah memerintahkannya.
Pada saat Adam dan istrinya di keluarkan dari surga dan menyadari sepenuhnya atas kekhilafan yang telah mereka lakukan, Nabi Adam selalu berdoa dan memohon ampunan kepada Allah “Ya Allah sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, sekiranya tidak engkau ampuni kami, nisca jadilah kami orang yang merugi”. Melalui doa tersebut dan berkat Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah, Adam pun diampuni. Demikian pula lah hendaknya kita sebagai seorang muslim, harus memiliki sifat pemaaf, sanggup menahan diri, menahan marah, lapang hati, banyak sabar, dan jangan pemarah.