Intermezzo
So this platform isn't blocked again? What am I going to post here now that I have new site? @_@

#extradirty
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Love Begins
No title available
Keni
AnasAbdin
Peter Solarz

★
occasionally subtle
🪼
No title available
Today's Document
Jules of Nature

pixel skylines
Xuebing Du
noise dept.
Three Goblin Art
styofa doing anything
tumblr dot com
h

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from India

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Chile

seen from Germany
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Philippines
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@priscaprimasari
Intermezzo
So this platform isn't blocked again? What am I going to post here now that I have new site? @_@
Second Fairy Lights
Lovely Heist Side Story
by Prisca Primasari
Warning:
1. Plagiarism is very strictly prohibited.
2. For those who haven’t read Love Theft, this side story contains major spoilers.
-----
POV: Liquor Timeline 1: Liquor’s childhood Timeline 2: Lovely Heist, prior to mission
*
Dia hampir tidak pernah memakan kue yang lezat, bahkan pada hari ulang tahunnya yang sudah lalu. Karena itulah, dia sangat senang ketika teman sekelasnya merayakan ulang tahun yang ke-6 di sekolah, dan memberikan sepotong kue pada masing-masing anak, termasuk dirinya. Kue tersebut berbentuk persegi mungil, dengan taburan serut cokelat, krim berbentuk bunga, dan buah ceri.
Dia tidak langsung memakannya. Dia meminta dus kue kecil pada temannya, lalu membawa kue itu pulang untuk dia berikan pada ibunya. Ibunya sering marah kepadanya, yang membuat dirinya terus bertanya-tanya apakah dia selama ini sering berbuat salah--tetapi barangkali, kalau diberi kue, ibunya akan mau memaafkannya.
Dia membuka pintu rumah, dan lega karena siang ini tidak ada tamu. Dihampirinya ibunya yang sedang duduk di sofa sambil menonton film tua berjudul Sabrina. Dia tahu judul film itu, karena ibunya berkali-kali menontonnya.
“Ibu, Vai dapat kue. Dikasih temen,” ujarnya, membuka dus kecil itu lalu menyerahkannya pada ibunya.
Ibunya hanya menoleh sepintas, memandang dus berisi kue mungil itu sebelum kembali menonton film.
Vai kecil memandang ibunya dengan mata cokelat besar yang waktu itu masih cemerlang, polos, dan belum memiliki pemahaman yang cukup tentang apa yang terjadi pada hidupnya. Teman-temannya sering bertanya mengapa matanya berwarna cokelat terang, dan rambutnya berwarna kemerahan, tetapi dia tidak pernah tahu alasannya. Salah satu temannya pernah bertanya, “Papamu orang bule?” Dan dia lagi-lagi tidak bisa menjawab–lagi pula, bule itu apa? Dia sama sekali tidak tahu.
“Ibu nggak mau?”
“Nggak. Kamu makan aja,” jawab ibunya, matanya terus memandang televisi dengan kosong.
Vai berbalik dengan sedih, masuk ke kamar, dan duduk di dipan untuk memakan kue itu sendirian. Dia mengambil secuil dan mencicipinya. Rasanya benar-benar lezat–keik yang lembut, serut cokelat, buah ceri, krim manis, sirup ceri. Dia mengambil secuil lagi, dan lagi. Kue itu sudah hampir habis ketika ibunya sekonyong-konyong muncul di ambang pintu dan memandangnya. Vai mendongak, balas memandang ibunya.
“Boleh Ibu cicipi kuenya sedikit?” tanya ibunya, suaranya bergetar.
Vai mengangguk dan menyodorkan dus kecil tersebut. Ibunya masuk dengan langkah perlahan dan duduk di kursi dekat tempat tidur.
Diambilnya dus kecil itu, dan dibaginya kue yang tinggal sedikit itu menjadi dua.
“Buat Ibu semua aja,” ujar Vai.
Ibunya menggeleng pelan, tetap memberikan setengah kue itu padanya. Vai pun menerima dan menghabiskannya.
“Kuenya enak kan, Bu?”
Ibunya mengangguk, mengunyah kue itu. Sesekali, Vai merasa ibunya tampak ingin membelai rambutnya, tetapi urung melakukannya. Alih-alih, ibunya hanya mengembuskan napas dan memandangnya dengan kerut di kening serta mata yang berair.
Ibunya sering terlihat seperti itu. Mengembuskan napas dengan berat, matanya berkaca-kaca. Tetapi lagi-lagi Vai tidak tahu apa alasannya, dan hanya bisa memandang ibunya dengan tidak mengerti sembari termangu-mangu. Dia takut ibunya akan marah kalau dia bertanya, tapi dia juga takut ibunya akan terus-menerus merasa sedih kalau dia tidak bertanya. Sering kali, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah diam.
“Makasih, ya,” ibunya berkata. Nadanya terdengar sendu sekaligus formal, seolah-olah dia tidak sedang bicara pada putranya sendiri.
Namun, itu cukup. Si bocah kecil tetap merasa bersyukur dan lega. Setidaknya, itu adalah satu dari sedikit sekali masa di mana dia merasa disayangi.
*
Liquor menatap sepotong kue yang dipajang di etalase toko biru muda mungil berhiaskan fairy lights.
Frea sedang berada di swalayan–membeli sesuatu yang berhubungan dengan wanita–dan menyuruh Liquor untuk menyingkir dulu. Cuacanya mendung, jalanan tampak macet dan terdengar bising di tengah deretan kafe dan toko mungil di wilayah Selatan itu. Liquor menemukan toko kue tersebut ketika sedang berjalan-jalan di trotoar.
Kue-kue di etalase itu bervariasi. Tetapi sedari tadi, yang ditatap Liquor hanyalah sepotong kue bertabur serut cokelat, krim, dan ceri.
Sorot mata Liquor berangsur hampa. Hal sederhana seperti ini pun mampu membuat dirinya melayang kembali ke masa kecilnya.
Dia mengembuskan napas, hendak berbalik, ketika dilihatnya Frea berlari ringan di kejauhan dan tersenyum kepadanya, tas selempang gadis itu berayun-ayun di sisi tubuhnya. Liquor tidak bisa menahan senyum samar. Bagaimana bisa gadis itu tetap tersenyum cerah ketika sedang punya masalah besar?
“Sudah?” tanya Liquor ketika gadis itu berhenti di sampingnya.
Frea mengangguk, matanya tertuju pada etalase kue. “Kamu mau beli?” tanya gadis itu.
Liquor menggeleng sepintas. “Tidak. Ayo. Kita buru-buru.”
“Berangkatnya baru besok lusa,” kata Frea sambil tersenyum. Seperti biasa, gadis itu selalu bisa mengetahui apa yang dia rasakan.
“Saya tidak suka makanan manis,” sahut Liquor, dan itu benar. Dia menyukai kue saat masih anak-anak, tetapi seiring waktu, karena sudah terlalu terbiasa dengan rokok, dia jarang memakan makanan manis lagi.
“Tapi saya suka. Ayo masuk.” Frea menggandeng tangan Liquor dan mendorong pintu kaca. Liquor berdecak, yang hanya dibalas Frea dengan senyum geli. Mata Frea yang cemerlang dan hangat menatap kue-kue di dalam toko itu dengan antusias.
“Semuanya enak, sih. Saya sering ke sini,” ujar gadis itu, sementara Liquor kembali menatap kue yang dihiasi serut-serut cokelat dan ceri. Di sebelahnya, Frea mengikuti arah pandangannya. Entah bagaimana gadis itu bisa tahu apa yang sedang ditatapnya--padahal ada banyak sekali kue di etalase itu.
“Black forest, tolong,“ kata Frea pada pegawai toko.
"Nama kue itu black forest?” tanya Liquor setelah dia dan Frea duduk di kursi di sudut ruangan, meja mungil berdiri di tengah mereka.
“Iya. Kamu nggak tahu?“ tanya gadis itu. Ekspresinya seolah-olah Liquor baru saja membuat kesalahan besar.
Liquor menggeleng. "Laki-laki tidak pernah paham nama-nama kue.”
“Black forest di sini enak sekali,” kata Frea cerah ketika pelayan menghidangkan kue itu di meja. “Ada esens buah anggur dan cerinya.” Dia mengambil sendok kecil, menyendok kue itu, lalu memberikan sendok tersebut pada Liquor. Dengan pelan, Liquor menerima sendok itu dan memakan kuenya.
Dia masih mengingat rasa ini. Dia terkejut bahwa dia bahkan masih bisa mengingatnya, dan tidak pernah melupakannya.
Liquor sadar bahwa Frea kini sedang menatapnya, dan pasti bisa melihat kesenduan di matanya. Dia mengembuskan napas. Disendoknya kue itu, dan gilirannya memberikan sendok tersebut pada Frea.
Selama beberapa saat, mereka memakan black forest itu bersama-sama. Liquor sesekali menatap mata Frea, mengamati rambut hitam gadis itu dan jaket merah yang selalu dia kenakan. Frea beraroma cokelat, beraroma buah-buahan. Beraroma kehangatan dan segala hal yang membuatnya bahagia. Dia mengulurkan tangan dan menggenggam sebelah tangan gadis itu, mengusap telapak tangannya. “Mirip kamu,” ujar Liquor.
“Hah?”
Liquor mengedikkan dagunya pada black forest yang tinggal sedikit.
“Itu pujian?” tanya Frea, menyipitkan mata.
“Tebak.”
“Tempo hari ladybug, sekarang black forest,“ gumam gadis itu. "Nggak ingin menyamakan saya dengan penyanyi opera atau model, apa….”
"Tidak. Tidak ada yang secantik kamu.”
Pipi gadis itu memerah. Liquor tersenyum samar–dia sangat menyukai melihat Frea bersikap seperti itu.
“Liquor,” ujar Frea kemudian–kue mereka sudah habis. Suara gadis itu lembut dan pelan. “Kamu suka kue ini?”
Liquor tidak menjawab. Dia juga tidak tersenyum lagi. Dia menoleh, memandang ke luar jendela, ke tempat yang tidak bisa dijangkau Frea.
“Ayo pulang, Frea,“ ujar Liquor akhirnya, sembari berdiri dan menggandeng tangan gadis itu. Frea menurutinya, mata gadis itu memandangnya dengan sedikit sendu.
Mereka pun melangkah keluar dari toko kue, dinaungi cahaya terang fairy lights dari atap toko yang berwarna biru muda.
Suatu saat, Liquor akan menceritakan semuanya pada Frea. Untuk saat ini, ini cukup.
Kalau dia dan Frea menginginkan black forest lagi, kalau dia ingin mengenang satu masa yang membahagiakan di masa lalunya lagi… dia tahu ke mana dirinya harus pergi.
*
Diam
Suatu hari, saya melihat postingan yang menurut saya indah. Orang-orang dari negara lain pun berkomentar dengan menyenangkan, saying that it's stunning and beautiful. Tapi kemudian, ada dua komentar yang sangat tidak sopan dari orang Indonesia... yang membuat saya ingin sekali mencabik-cabik dan mengutuki mereka. Saking marahnya, saya menscreenshot komentar mereka dan melampiaskan kemarahan saya lewat IG story. Tapi lalu akal sehat saya mengambil alih, dan saya pun segera menghapus postingan IG story itu hanya sedetik setelah saya mengunggahnya. Yang saya khawatirkan bukanlah imej saya yang marah-marah--yang saya khawatirkan adalah orang-orang akan mencari tahu soal postingan mana yang saya maksud, lalu ikut-ikutan menghakiminya, dan ikut-ikutan berkata tidak sopan di kolom komen akun tersebut. Saya sudah lama miris melihat bagaimana orang-orang Indonesia berkomentar di YouTube, IG, Webtoon, dan platform-platform media sosial lain. Mau jadi apa manusia di negara ini? Kebebasan berkomentar bukan berarti kita bebas untuk ngomong seenak kita sendiri. Saya sendiri akan langsung mengeblock siapapun yang bersikap sembarangan di akun media sosial saya--saya tidak peduli akan dibilang sombong atau kejam. Ini akun milik saya, dan orang-orang yang berkunjung kemari adalah tamu di akun saya. You're rude, you're blocked. Fotografer, aktris, aktor, seniman, penulis, dan orang-orang terkenal lainnya itu semuanya MANUSIA. And every human needs to be respected. Those maggots just don't understand; jati diri kita tidak ditentukan dari pertemuan tatap muka secara langsung--karena kalau kita bertemu langsung dengan orangnya, kita jelas akan menjaga mulut dan mencegah diri kita untuk bersikap tidak sopan. Jati diri kita itu ditentukan dari SIKAP KITA KETIKA KITA TIDAK BERTATAPAN LANGSUNG DENGAN OBJEK YANG KITA SAKITI. Itulah sebenar-benarnya parameter dari tabiat dan perangai kita. Itu juga yang membuktikan sejauh apa kita dididik oleh lingkungan kita, dan bagaimana kita dibesarkan. Masalahnya, sebagian besar orang Indonesia masih belum memahami hal ini; they're worse than maggots when it comes to commenting on social media, especially on the accounts made by public figures. "Tapi itu kan konsekuensi, Kak... Risiko orang terkenal ya begitu." YA KAMU JANGAN MENANAMKAN POLA PIKIR SEPERTI ITU! POLA PIKIR ITULAH YANG NANTINYA MENJADI PEMBENARAN BAGIMU UNTUK BICARA SEENAK DENGKULMU SENDIRI! PIKIRKAN BAHWA PEMILIK MEDIA SOSIAL ITU JUGA MANUSIA, BUKAN MESIN! MESIN YANG PUNYA PERANGKAT KERAS SAJA BISA RETAK, APALAGI HATI MANUSIA YANG LEMBUT! Camkan satu hal. Kalau tidak setuju pada apa pun yang ada di media sosial, atau tidak setuju pada siapa pun yang tidak kita kenal, solusinya satu: diam. Just shut up. Shut your mouth up. Itu solusi terbaik untuk segalanya, dan yang paling penting, itulah solusi terbaik bagi dirimu sendiri.
Mango Juice
Lovely Heist Side Story
by Prisca Primasari
—-
Warning:
1. Plagiarism is very strictly prohibited.
2. For those who haven’t read Love Theft, this side story contains major spoilers.
----
Timeline: 2018, di pertengahan Lovely Heist
—
Ini semua hanya demi mangga yang sudah dilelehkan.
Night menggandengku dengan bersemangat sekali menuju lantai terbawah mal di Barat ini. Liquor di belakang kami, hanya berjalan tanpa ekspresi seperti biasa dengan tangan di dalam kedua saku jinsnya. Aku awalnya bertanya-tanya ke mana Night akan membawa kami—melihat permata model terbaru atau menunjukkan teknik pencurian termutakhir atau pameran mobil sport—tapi aku tercengang ketika melihatnya berhenti di depan konter dengan antrean yang panjangnya nyaris menyamai rel kereta api.
Oke..mungkin tidak sepanjang itu, tapi tetap saja. Menurutku antreannya terlalu berlebihan untuk konter yang menjual…
…jus mangga.
“Ayo, Frea-san.” Night ikut mengantre, sementara aku masih terlongong-longong. “Night, kamu yakin mau antre juga?” tanyaku. Kami barangkali baru akan sampai di depan kasir satu setengah jam lagi.
“Banyak yang menjual jus seperti ini di toko-toko yang lebih kecil,” ujar Liquor, yang dengan sangat terpaksa harus ikut mengantre juga.
“Saya sudah berkeliling kota ini bersama Akiko dan meminum hampir semua jus mangga yang dijual. Tapi saya belum pernah mencoba yang ini,” kata Night cerah. Dia tersenyum lebar dan manis sekali, aku yakin senyumnya bahkan lebih manis daripada jus mangga.
Kupandangi orang-orang yang sudah sukses membeli jus tersebut. Penampilan minuman itu memang menarik, dengan gelas bening besar dan tinggi, warna kuning matang, serta sapuan krim di tengah-tengahnya. Tapi aku masih tidak mengerti mengapa orang-orang mau repot-repot membuang-buang waktu hanya demi segelas jus.
“Di Jepang rasa mangganya tidak seenak di Indonesia,” Night berkata, seolah menjawab pertanyaanku. “Ini kesempatan saya sebelum kembali ke Jepang.”
Sepertinya kalau orang-orang sejenis Night saja yang mengantre, mungkin masih lumayan masuk akal.
Tatapan Liquor, sementara itu, terarah pada hal lain. Sembari kami maju sedikit demi sedikit untuk mengisi tempat yang kosong, Liquor memandang beberapa bapak pekerja berseragam perusahaan transportasi online yang juga menawarkan jasa mengantarkan makanan.
Aku entah bagaimana tahu apa yang ada di pikirannya, dan mendadak merasa muram.
“Mereka padahal nggak ikut minum,” gumamku, “tapi harus antre kayak gini.”
Night ikut melihat bapak-bapak itu sebelum kembali tersenyum penuh arti. “Ah…. Benar,” ujarnya. Aku menoleh padanya dan memandangnya curiga. Aku tahu ekspresi itu—raut wajah eloknya ketika sedang merencanakan sesuatu. Apa yang sedang dipikirkannya sekarang?
Sementara kami berdiri dan kakiku berangsur pegal, kami bicara soal cincin rubi lagi—meskipun aku benar-benar sudah muak dengan cincin rubi, tidak mau mendengar apa pun tentang cincin rubi, dan tak mau tahu apa-apa lagi tentang cincin rubi.
Terkutuklah cincin rubi itu, tangisku dalam hati.
Liquor seolah bisa membaca pikiranku dan berkata, “Saya dan Night yang mengurus. Sudahlah.”
“Sori,” kataku, entah untuk yang keberapa kalinya.
“Kamu sudah bilang 175 kali. Saya bosan,” sahut Liquor, tapi wajah dan mata cokelat wiskinya dibayangi kelembutan samar.
“Memangnya benar sampai 175 kali?” tanyaku sambil menaikkan alis.
“Tentu saja tidak, Frea-san,” Night menyahut ringan. “Dia sejak dulu memang tidak pandai berhitung.”
Liquor melihat Night dengan ekspresi tak peduli sebelum kembali memandang lurus ke depan.
Salah satu bapak jasa pengantaran tadi sudah selesai mengantre dan berlalu dengan membawa sebungkus besar jus pesanan, sambil mengikat plastiknya dengan hati-hati agar minuman itu tidak tumpah. Liquor menyingkir sejenak untuk mencegatnya.
“Maaf, bisa tunggu sebentar?” tanya Liquor.
“Maaf, dek, saya buru-buru,” sahut si bapak. “Pasti sudah ditunggu dari tadi.”
“Sebentar saja.”
Sesuatu dalam suara Liquor membuat bapak itu menurut. Dia pun menunggu—entah menunggu apa.
Aku lalu berjalan menyusul Night yang sudah berada di depan gadis pegawai kasir, yang menatap Night seolah-olah pria muda itu adalah hal terindah yang dilihatnya seharian ini.
“Saya beli sepuluh,” ujar Night, membuatku ternganga. Di apartemen kami hanya ada dia, Akiko-san, aku, dan Liquor—kenapa sepu—
Oh.
Aku mengerjap setelah memahaminya.
Liquor menghampiri Night dan memberikan sejumlah uang untuk ikut membayar jus yang luar biasa mahal itu. Begitu kami mendapatkan semua pesanan kami, Night memberikan beberapa gelas jusnya pada masing-masing bapak pengantaran online yang masih mengantre.
“Silakan,” ujarnya sembari tersenyum. Mereka semua—dan seluruh antrean—ternganga. Salah satu bapak itu bahkan sempat menolak dengan keras, tapi Night, seperti seharusnya Night, tetap menanggapinya dengan lembut.
“Ini ucapan terima kasih,” ujarnya. “Hadiah dari Kami-sama.”
“Tuhan, maksudnya,” aku menerjemahkan.
“Tolong diterima,” Night berkata sambil membungkuk tulus. Bapak itu tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya menerimanya.
“Makasih…,” dia tampak bingung harus memanggil Night apa—Mas, Dek, atau mungkin Nona.
Liquor memberikan dua gelas jus yang dibawanya pada bapak yang dicegatnya tadi.
“Beneran ini, Dek?” mata bapak itu berbinar-binar, dan Liquor mengangguk. “Wah, makasih dek, makasih banyak!” Dia menyalami Liquor berkali-kali sebelum akhirnya pergi dengan jus pesanan dan jus untuknya sendiri.
Aku melangkah ke samping Liquor, menggamit lengannya, mendongak sembari tersenyum menatapnya. Dia pun menunduk padaku, wajahnya dibayangi senyum.
“Misi kecil terlaksana,” ujar Night, di tangannya menggantung sisa jus untuk kami berempat. “Mari kembali ke misi besar,” dia melanjutkan dengan campuran rasa sedih dan miris. Dan kami pun bersama-sama pergi untuk meninggalkan mal.
Hatiku terasa hangat, ringan, dan bahagia.
Dua pria ini masihlah antihero terfavoritku di dunia.
***
It's been a long time since I updated my Tumblr. Jadi agar tidak sepenuhnya terbengkalai, I'll share a story about my six-month full time job :) Sebenarnya ketika resign dari salah satu penerbit major tahun 2013 dulu, saya sudah enggan bekerja kantoran lagi. Saya menikmati hidup bebas sebagai penulis dan penerjemah serta editor freelance. Semua orang pun tahu seperti apa saya ini--I'm a rebel and bad with commitment. Saya membenci segala bentuk ikatan dan aturan, setidaknya untuk saat ini. Karena itulah, ketika saya memutuskan untuk bekerja full time lagi akhir Desember kemarin, semua teman saya kaget dan bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba berubah pikiran. Sebenarnya alasannya sederhana: karena saya mulai jenuh saja dan ingin melakukan hal baru. Saya mulai iri lagi melihat orang-orang yang bekerja full time, dan selain itu, saya ingin mendapat penghasilan tambahan. Lebih dari segalanya, saya mulai menganggap menulis novel, pergi ke mal, liburan, dan sebagainya itu sebagai rutinitas, sehingga rasanya tidak terlalu menyenangkan lagi. Karena itulah,saya ingin mengembalikan semua perasaan itu ke hati saya, dengan cara bekerja full time. Saya melamar ke perusahaan media entertainment online sebagai copywriter yang menulis dalam bahasa Inggris. Spektrumnya adalah jurnalisme; jadi sangat amat berbeda dengan sastra populer yang saya tekuni, meskipun dua-duanya berhubungan dengan tulis-menulis. Tapi alhamdulillah, saya diterima dan ditempatkan di lini movies. Saya mulai senang membaca buku dan menonton film sejak kelas 5 SD, dan film (tepatnya Star Wars) jugalah yang mendorong saya untuk menjadi penulis. Dulu saya bahkan belum punya buku atau penulis favorit--tapi kalau aktor favorit sudah. Harrison Ford 😄. Saya juga sering mengumpulkan kliping yang berhubungan dengan film. Sulit dipercaya kalau lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya bekerja membuat artikel film. So yeah, I think that was a dream came true. Yang lebih spesial lagi, di tempat kerja saya ternyata ada teman kuliah saya. Saya sama sekali tidak tahu dia bekerja di sana, dan senang sekali ketika bertemu dia lagi. Waktu kuliah, kami tidak pernah saling kontak--hanya sesekali saling sapa saja, but she eventually became my boss 😄 She was a professional though. Meski kami seangkatan sewaktu kuliah, di tempat kerja dia memosisikan diri sebagai atasan, dan saya anak buahnya. Dia sangat sangat profesional, sampai pada titik di mana saya lupa kami pernah sekampus dan satu kelas dalam beberapa mata kuliah. Tempat kerja saya juga menanamkan disiplin yang sangat, sangat ketat. Segalanya teratur dan terstruktur. Untuk orang yang menyukai keteraturan, suasana seperti itu memang bagus--tapi saya yang sangat pemberontak dan pecinta chaos theory ini agak kesulitan beradaptasi pada awalnya 😂 Awal-awal kerja, saya banyak melakukan kesalahan dan banyak melontarkan kata maaf. But everything went well as the time being. Yang saya tulis adalah artikel-artikel tentang film yang belum tayang. Semisal ada update tentang foto set, teaser, trailer, pemeran, plot cerita dan sebagainya, saya akan menulis artikelnya. Seringnya tentang film-film keluaran Marvel, Lucasfilm, dan DC, karena pangsa pasar kami adalah netizen Amerika Serikat dan Kanada, dan film-film jenis itulah yang mereka sukai. Saya sudah menulis puluhan artikel Avengers: Infinity War, Star Wars: The Last Jedi (!!!), Justice League, dan Wonder Woman 😄 I loved working there, dan saya berencana untuk menetap di sana selama setahun. Sayangnya, baru lima bulan bekerja, saya mulai gelisah 😂 Selain itu ada urusan juga yang harus saya lakukan di Jakarta dalam waktu dekat, sehingga saya mulai tidak konsen ketika bekerja. Ketika kebutuhan finansial saya mulai terpenuhi, pikiran saya mulai melayang-layang ke Lovely Heist lagi, dan saya (mendadak) juga punya project lain. Saya tidak bisa khusyuk menulis tentang Avengers: Infinity War kalau pikiran saya terus melayang ke Liquor dan tokoh saya yang satunya lagi 😂😂😂 Pada akhirnya, saya mengajukan resign. Pada akhirnya, saya hanya mampu bertahan bekerja full time selama enam bulan pas 😅 Satu bulan terakhir terasa begitu berat--setiap hari saya menguatkan diri dengan berkata dalam hati, "Tenang... Tinggal 30 hari. Tenang...Tenang...tinggal 29 hari lagi. Tenang...tinggal 28 hari lagi." Setiap hari saya membatin seperti itu ketika harus bangun dan berangkat ke kantor. Ya... Sejauh itulah saya membenci komitmen dan keteraturan. 😢 That's why I feel so free when everything's over. Saya akhirnya berpamitan pada teman saya, and I was so happy when she finally returned to be a friend I used to know. Kami kembali menjadi teman kuliah, bukan atasan dan anak buah, dan farewell kami diiringi dengan senyum dan tawa. When it's finally over, I feel like I want to scream in triumph. Saya mendapatkan lagi perasaan bahagia ketika menulis, liburan, berjalan-jalan, dan sebagainya 😍 So yeah, I think my decision to do a short term full time job is the rightest thing to do, after all. Kalau ditanya apakah saya tetap menulis, menerjemahkan, dan mengedit freelance selama bekerja kantoran, jawabannya adalah iya 😂😂😂 Bahkan tanggungannya semakin banyak, and there were times when I felt like a nutty 😂😂😂 But thank God now I'm free. Saya punya satu project terjemahan lagi untuk diselesaikan, dan tentu saja Lovely Heist and the other project. I can finally hug Liquor and the other one agaiiiin 😍😍😍😍 Kalau ditanya apakah ini terakhir kalinya saya bekerja full time, jawaban saya adalah belum tentu. Bisa jadi nanti saya ingin kembali bekerja 8 to 4 lagi. But for now, I just want to enjoy my freedom and hug my characters as tight as I can. ❤❤❤
Fairy Lights
Lovely Heist’ Side Story
#Liquor #Frea
Timeline: 2018
Warning:
1. PLAGIARISM IS VERY STRICTLY PROHIBITED.
2. FOR THOSE WHO HAVEN’T READ LOVE THEFT, THIS SIDE STORY CONTAINS MAJOR SPOILER.
*
Fairy Lights
by Prisca Primasari
*
Masih lebih dari seratus hari lagi. Kami masih menunggu.
Saat aku datang menemui Liquor pagi ini, dia menunjukkan rangkaian pendek fairy lights padaku. Dia bilang baru mengerjakan rangkaian lampu-lampu kecil seperti itu untuk didistribusikan ke pemerintah kota. Akan ada festival fairy lights di taman pusat, yang mengambil tema dongeng dunia.
Yang kini ditunjukkan Liquor hanya untaian lima lampu yang sangat mungil, yang disatukan dengan kabel hitam-putih tipis. Liquor mengambil tanganku dengan lembut, melingkarkan fairy lights tersebut seperti gelang. Dia menekan tombol kecil di ujung kabel, dan lampu-lampu itu pun menyala serempak dengan warna keperakan, membuatku tersenyum lebar.
“Kalau kamu lebih sering datang,” ujarnya, “Saya bisa memberimu lebih banyak lagi.”
“Sori.” Aku mengusap lampu-lampu hangat tersebut. “Murid-murid yang kursus makin banyak. Dan setelah pelajaran pun minta diajari lagu di luar kurikulum.” Lagu-lagu yang mereka usulkan biasanya lagu top 40, dan setelah diajari, tak jarang mereka mengunggah versi mereka sendiri di YouTube, lalu mengirimkan tautannya padaku. Itu membuatku bahagia, sesuatu yang pasti akan dirasakan semua guru musik.
Liquor menatap mataku selagi aku bercerita. Dia masih jarang menanggapi ucapanku, tapi tatapannya, juga sikapnya yang tulus memperhatikanku ini sudah merupakan segalanya bagiku.
“Saya belajar satu musik klasik juga,” ujarku. “Cuma satu.”
“Untuk?”
“Night dulu bilang ingin main lagu Camille Saint-Saens dengan saya.”
“Kamu yakin dia sungguh-sungguh?” tanya Liquor, wajahnya berubah tanpa ekspresi.
“Yakin,” jawabku sambil mengernyit.
“Dia bilang akan langsung kembali ke Jepang setelah keluar nanti.”
Aku memandang ke bawah sambil menghela napas.
Aku memang pernah memikirkan kemungkinan itu, tapi memutuskan untuk mengabaikannya. Sungguh menyedihkan. Sebesar apa pun aku berharap Night dan Akiko-san tetap tinggal, mereka pasti sudah terlalu merindukan kampung halaman dan barangkali juga ingin melupakan semua yang telah terjadi di sini.
Namun, aku masih saja mengharapkan itu. Aku masih ingin berada di panggung kecil bersama Night, memainkan gubahan Saint-Saens, menunjukkan permainan biolaku pada Liquor meskipun dia mungkin akan tertidur di pertengahan lagu.
Entah mengapa, aku merasa itu salah satu hal yang belum tuntas di kehidupanku.
“Mau ke sana?” tanya Liquor.
“Ke mana?”
“Jepang.”
“Jep—”
Apa?
Aku menatap Liquor sambil ternganga.
“Kamu dan Night bisa memainkan lagu itu di sana, kalau bukan di sini.” Dia mengusap jari tanganku. “Saya punya tabungan. Dan sepertinya cukup untuk biaya ke sana.”
“Tapi,” kataku, benar-benar tidak paham. “Seharusnya kamu pakai ke Inggris, kan? Buat menemui ayahmu?”
“Tidak.”
Saat mengatakan itu, ekspresinya berubah, dan sesaat aku merasa melihat Liquor yang dulu. Dingin, hampa, tanpa emosi.
“Tapi—”
“Saya sedang tidak ingin membicarakannya, Frea.”
Sunyi sesaat.
“Saya mohon,” ujarnya lirih sambil mengusap rambutku. “Sekarang bukan waktunya.”
Aku kembali menghela napas, lalu mengangguk pelan. Aku tidak punya pilihan lain selain menunggu. Untuk hal ini Liquor masih sama, masih menutup diri dan keras kepala kalau menyangkut masalah tertentu.
Jam besuk berakhir. Aku berdiri dan berpamitan padanya, berkata akan kembali menemuinya minggu depan.
“Tidak bisakah lebih awal lagi?” tanyanya sambil mengernyit.
“Biasanya kan malah dua minggu sekali,” kataku sambil tersenyum. Liquor akhirnya menghela napas dan mengangguk. “Hati-hati,” ucapnya.
Aku menyentuh pipinya. Mata Liquor yang cokelat wiski perlahan terpejam, dan bibirnya akhirnya membentuk senyum samar.
Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke taman tempat festival fairy lights itu diadakan. Aku duduk di kursi taman, tersenyum menatap ribuan lampu mungil berwarna-warni yang meliliti tiruan-tiruan istana, rumah kurcaci, sepatu kaca, pohon-pohon apel. Hatiku menghangat, merasa bahagia karena tahu Liquor-lah salah satu yang merakit semua keindahan ini.
Tinggal beberapa bulan lagi lagi sampai Liquor bebas.
Dan kami selalu menunggu.
*
Hari ini Liquor ulang tahun ❤. Akan ada promo untuk Love Theft #1 dan #2.
Night’s Letter
Lovely Heist Side Story Timeline: 2018
Warning:
1. PLAGIARISM IS VERY STRICTLY PROHIBITED.
2. FOR THOSE WHO HAVEN’T READ LOVE THEFT, THIS SIDE STORY CONTAINS MAJOR SPOILER.
*
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Konichiwa, Frea-san.
Meskipun kita baru bertemu tiga hari yang lalu, saya akan tetap bertanya: apa kabar? Saya yakin kau sedang bahagia, karena bulan depan Liquor dan saya keluar. Semoga kau bersedia menunggu beberapa saat lagi.
Sewaktu Akiko membesuk saya kemarin, saya iseng membuka internet ponselnya dan tersesat di situs menarik. Ada sepuluh pertanyaan sembarang yang bisa kita tanyakan kepada siapa saja. Saya menyalin semuanya di buku partitur yang dibawakan Akiko. Kau tahu sendiri, saya selalu kurang kerjaan sejak masuk penjara.
Saya berikan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Liquor. Ini jawaban Liquor:
1. What is the thing you hate most?
Waiting.
2. What are three things in the world you find most beautiful?
Frea. Frea. And the sky.
3. Who is the one you miss most?
My mother.
4. What is the hardest thing you’ve ever done?
Forgiving myself.
5. Do you like chocolate?
Not really.
6. What would you happily do in your leisure time?
Having a lunch with Frea and Night.
7. What is your full name?
Avicenna Ananta Longfellow.
8. Tell me about the girl you love most.
Frea. She never leaves. She’s so pretty, especially when wearing a dress. A bit annoying sometimes, but it’s not a big deal.
She’s the best violinist, too bad she never realizes it.
Most of all, she’s faithful. And tough.
9. Would you marry her?
We’ll get married after I get out of this place.
-------------------
Ngomong-ngomong soal menikah itu, saya turut bahagia untukmu, Frea-san. Omedetou, penantianmu berbuah manis—kau pantas mendapatkannya. Tapi sebaiknya kau memarahi Liquor sekali-sekali. Dia membuatmu menunggu begitu lama, padahal dia sendiri sangat tidak suka menunggu. Dasar anak bodoh.
Sampai ketemu lagi. Saya titipkan surat ini kepada Akiko. Sekali lagi, omedetou.
Night
NB: Ah, maaf, Frea-san. Ada satu jawaban Liquor yang tertinggal:
10. Tell me about her profession.
Frea is a violinist.
And a thief.
She stole my heart.
Grasshopper
Seharusnya upload-nya tanggal 1 Oktober, tapi lupa @_@ Terima kasih banyak sudah diingatkan ^^
Lovely Heist’ Side Story
#Grasshopper #Liquor #Night
Timeline: 2014, sebelum Love Theft
Warning:
1. Plagiarism is very strictly prohibited.
2. For those who haven’t read Love Theft, this side story contains major spoilers.
________________________________
by Prisca Primasari
*
I hate myself and I want to die.
Dia membatin kalimat itu berulang-ulang.
Tetapi itu bukan kata-katanya. Itu kata-kata Kurt Cobain.
Dia menerawang, menengadah ke langit, lalu menatap puncak gedung-gedung tinggi. Entah sudah berapa lama dia berada di atap gedung rumah sakit itu, merokok, berkali-kali memutar nursery rhyme My Fair Lady di ponsel. Lagu itu terdengar sangat salah, lebih mengerikan alih-alih menghibur. Berpadu dengan embusan angin yang gerah.
Fase depresif tidaklah lebih baik daripada fase manik.
Dr. Lacan tadi mengatakan omong kosong tipikal. Sabarlah, Silvania. Hidup tidak akan selamanya gelap. Kamu akan menemukan pelangi suatu saat nanti. Kamu pandai. Cantik. Percayalah.
Psikiater bodoh. Silvania tidak pernah menemukan pelangi.
Pelangi-pelangi itu milik orang lain. Selalu milik mereka. Tidak pernah bersinar untuknya. Dan Dr. Lacan jelas bohong ketika berkata Silvania cantik. Silvania memang punya rambut ikal panjang dan mata besar, tapi rambut itu sekarang kusut, dan matanya kini dinaungi noda hitam serta berkantung.
Silvania melirik beberapa dompet di dekat ponsel. Konyol sekali, mengira bahwa mencopet bisa membuat dirinya lebih baik. Tidak ada lagi yang bisa menolongnya.Perbuatan buruk, perbuatan baik, kata-kata menenangkan dari Mama, rokok, cokelat, obat. Tak berguna.
London bridge is falling down, falling down, falling down.
Tak ada lagi yang tersisa baginya di dunia.
Dia mengembuskan napas. Berdiri. Menatap ke bawah. Bagaimanakah rasanya terjun dari gedung setinggi itu?
Dia akan segera tahu.
Belalang hijau yang sejak tadi mondar-mandir di tepi gedung, yang entah datang dari mana, kini menatap Silvania dengan penasaran. Beginilah cara Silvania mati sesaat lagi. Terjun dari gedung pencakar langit, ditemani My Fair Lady dan serangga.
Selamat tingg—
“Saya tidak akan terjun, kalau jadi kamu.”
Silvania terpaku, lalu mengerjap.
Ngengat?
Seekor ngengat hitam terbang mondar-mandir di depan matanya.
Perlahan, Silvania berbalik.
Seorang pemuda berdiri jauh di depannya. Di bahu pemuda itu bertengger seekor ngengat lagi.
Pemuda itu berpostur tinggi, tampan, memakai jaket dengan corak garis-garis hitam putih dan jins warna pudar. Rambutnya kemerahan. Matanya cokelat seperti wiski, tapi sorotnya tak jauh berbeda dari mata Silvania. Kosong melompong. Silvania bertanya-tanya apakah pemuda itu juga pasien Dr. Lacan.
“Menyakitkan,” ujar pemuda itu lagi.
“Kamu pernah merasakan?” gertak Silvania.
Pemuda itu menggeleng sekilas, tampak bosan. “Perlukah jatuh dari atap gedung untuk mengetahui efek jatuh dari atap gedung?”
Silvania memandang si pemuda. Di saat-saat seperti ini, muncul pengacau.
Si pemuda mengeluarkan sesuatu dari balik jaket, lalu melemparnya ke lantai. Silvania terbelalak.
Itu… dompet dan gelang emas miliknya.
“Kamu klepto yang mahir,” ujarnya, “tapi tidak sadar sudah dicopet.”
“Kamu yang copet?”
Pemuda itu mengangguk singkat. “Tadi, waktu kamu berjalan ke sini sambil melamun.”
“Siapa kamu?”
“Liquor.” Pemuda itu mengeluarkan sesuatu lagi dari saku, kali ini satu pak rokok dan lighter. Dia mengambil rokok sebatang lalu menyalakannya. “Saya punya tawaran bagus. Lupakan bunuh diri. Ikut saya ke suatu tempat.”
Silvania memalingkan wajah, tidak mau mendengarkan. Kaki Silvania sudah sedekat itu dengan kematian. Dia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Lagi pula, tempat apa yang bisa mengobatinya? Kalau ruang praktik Dr. Lacan saja tidak sanggup, tak mungkin ada yang lebih baik.
“Apa yang begitu mengesalkan?” tanya pemuda itu lama kemudian, di sela-sela alunan My Fair Lady.
“Bukan urusanmu.”
“Saya juga tidak peduli,” kata Liquor kalem. “Bos yang menyuruh saya mengejarmu. Kalau-kalau saya tidak bisa membawamu ke markas, saya harus menyampaikan alasan bagus padanya.”
“Markas macam apa?” Mau tak mau, Silvania kembali memandang Liquor. Pemuda itu mencurigakan.
“Saya tidak bisa jawab sekarang.” Liquor mengembuskan asap rokok dan memandang sekeliling. “Ayolah,” ujarnya. “Berceritalah sedikit.”
Silvania memandang lantai. Angin menampar-nampar kulit wajahnya dengan kejam.
Tadinya, dia tidak ingin berbagi cerita dengan siapa pun, khususnya orang asing. Kemudian terlintas di benaknya bahwa baru kali ini ada yang bisa dijadikan tempat bercerita selain Dr. Lacan. Dia sudah putuskan untuk tidak membuat orangtuanya khawatir lagi dengan mengeluh pada mereka. Teman-teman… tidak akan pernah. Semuanya pengkhianat.
“Alasan bodoh,” katanya getir. “Akan terdengar sepele bagi kamu dan orang lain. Tapi saya penderita manik-depresif. Bagi saya, segalanya bencana.”
Liquor tidak menanggapi, hanya diam mendengarkan.
“Saya nggak pernah melakukan segala hal dengan benar,” kata Silvania. “Karir, cinta, persahabatan. Hancur. Saya nggak pernah bisa menang dari siapa pun. Saya selalu kalah. Pecundang.” Tangannya terkepal. “Saya cuma pecundang. Apa pun yang saya lakukan, tidak pernah cukup.”
“Orang tidak akan pernah bisa menang dari siapa pun,” ujar Liquor.
Silvania memandang pemuda itu. Sorot mata Liquor masih kosong. Dia jelas-jelas pemuda bermasalah; Silvania terkejut dia bisa mengatakan hal semacam itu.
“Juga tidak pernah kalah,” Liquor mengembuskan asap rokok lagi. “Menang dan kalah cuma masalah sudut pandang.”
Liquor memandang Silvania lebih lama dari sebelumnya. “Kamu mengingatkan saya pada seseorang,” kata pemuda itu kemudian.
“Manik-depresif juga?” sahut Silvania sarkastik.
Liquor menggeleng, kini tampak melamun. “Bukan. Gadis berbakat, tapi selalu merasa kurang.”
“Apa yang dia lakukan selanjutnya?”
“Dia ingin berhenti kuliah.” Liquor mengisap rokok dan mengembuskan asapnya. “Untung saja dia tidak pernah punya pikiran untuk lompat dari atas gedung. Jadi saya bisa sedikit santai.”
Sesaat kemudian, terdengar suara derap kaki. Seorang wanita cantik—bukan. Seorang pria muda yang mirip wanita cantik, muncul di ambang pintu. Jelas orang Asia Timur.
“Wah, wah,” kata pria berpakaian serbahitam itu dengan senang. “Kau berhasil menemukannya, Liquor.”
Silvania mengernyit, bertanya-tanya mereka ini tergabung dalam perkumpulan apa. Pretty Boys Club? Kalau iya, mengapa wanita sepertinya direkrut juga?
“Pelan-pelan, Night,” kata Liquor dingin. “Dia mau lompat dari atap.”
“Benarkah?” Pria bernama—atau berjulukan—Night itu melangkah ke arah Silvania, lalu menatapnya penuh minat. Night hanya sedikit lebih tinggi dari Silvania. Mata pria muda itu hitam dalam. “Gadis secantik ini, ingin bunuh diri?” Night menelengkan kepala, lalu melirik ponsel Silvania. “Dan lagu pengiringnya My Fair Lady. Klise sekali.”
“Lagu apa yang menurutmu pas?” bentak Silvania. Satu pengacau saja sudah buruk. Sekarang dua.
“Untuk seorang gadis cantik,” Night menatap langit, tampak berpikir, “Serenade dari Dvorak,” usulnya. “Tapi itu bukan lagu kematian. Jadi sebaiknya kau tidak mati sekarang.” Night meraih tangan Silvania dengan lembut. “Siapa namamu?”
Silvania memalingkan wajah. Tatapannya terarah pada belalang sewarna rumput yang masih menonton penuh minat dari tepi atap.
“Begini,” kata Night. Mau tak mau, Silvania memandang pria muda itu lagi, yang sedang menyipitkan mata ke arah belalang tersebut. “Saya panggil kau Grasshopper. Itu akan menjadi nama aliasmu dari sekarang. Bagaimana?”
“Berhenti bertele-tele, Night,” sahut Liquor tajam. “Sudah saya bilang, dia ingin lompat. Kalau dia tidak tahan lagi dengan tingkahmu dan memutuskan bunuh diri, saya tidak mau tanggung jawab.”
“Tidak.” Night tersenyum. “Dia tidak akan lompat. Benar, kan, Grasshopper?”
Silvania benci mengakuinya, tapi sekarang dia memang merasa ragu untuk lompat. Orang-orang ini, siapa mereka sebenarnya?
Tatapan Silvania kini terarah pada tangan Night. Terasa hangat. Dan walaupun pria muda itu mencurigakan, entah mengapa Silvania merasa dia bukanlah orang jahat.
Night menarik tangannya dengan lembut. Silvania ingin berontak, tapi genggaman Night semakin mantap. Mengejutkan, untuk orang seramping dia.
“Kau akan menyesal kalau lompat, Grasshopper-san. Percayalah. Saya dan Liquor akan membawamu ke tempat yang menyenangkan.”
Silvania menoleh ke belakang, memandang tepian atap yang semakin jauh. Memandang ponsel, dompet-dompet, dan gelang emas yang tergeletak tak berguna di lantai. Liquor melangkah mengikuti mereka, wajah pemuda itu tanpa ekspresi. Dia tidak merokok lagi.
“Setidaknya beri saya petunjuk,” sentak Silvania, masih berjuang melepaskan diri dari Night. “Kalian siapa? Ke mana kita pergi? Kalau nantinya kalian juga akan membunuh saya, buat apa repot-repot? Tinggalkan saja saya di sini—”
“Kami tidak akan membunuhmu,” kata Liquor. “Menurut bos, kamu berguna.”
“Untuk apa?”
“Kamu akan tahu.”
Mereka masuk ke gedung, dan tepian atap pun tidak lagi terlihat.
Entah apakah ini bisa dibilang anugerah atau bencana.
*
Sebenarnya, tempat yang dimaksud Night dan Liquor tidak terlalu menyenangkan.
Tapi di sanalah Silvania—Grasshopper—bisa sedikit menikmati kehidupan. Dia tadinya mengira mencopet tidak bisa mengobati hatinya lagi, tetapi ternyata, bersama Arthropods aktivitas itu jadi terasa begitu menantang. Dan tidak monoton.
Grasshopper masih menderita manik-depresif. Masih berkonsultasi pada Dr. Lacan. Masih meminum Risperidone. Namun, keinginan bunuh dirinya berkurang. Dr. Lacan bilang dia banyak kemajuan, pun bertanya apakah ada hal menyenangkan yang terjadi padanya. Grasshopper hanya mengatakan bahwa dia telah bertemu beberapa teman baru.
Grasshopper tidak bilang di mana dan bagaimana.
Hari itu, usai berkonsultasi, Grasshopper naik ke atap gedung—bukan untuk memutar My Fair Lady atau mati. Dia hanya ingin menjemput Night dan Liquor. Sungguh baik hati mereka, mau mengantarnya kemari.
Grasshopper bersedekap begitu tiba di atap, melindungi diri dari angin. Sudah tiga bulan semenjak Liquor menginterupsinya di tempat tersebut. Kini pemuda itu berdiri di tepi atap. Night berdiri jauh di sebelahnya. Mereka tidak menyadari kedatangan Grasshopper.
“… penasaran, apa yang kau katakan pada Grasshopper waktu itu, sampai-sampai dia ragu untuk meneruskan niatnya?” Suara Night terbawa oleh angin.
“Dia merasa kalah,” ujar Liquor.
“Dan kau bilang apa?”
“Menang dan kalah hanya masalah sudut pandang.”
Night menoleh pada Liquor. Matanya melebar terpana. “Kau?” ujarnya dramatis. “Bocah bodoh yang selalu bergantung pada Frea-san seperti kau bisa mengatakan hal sebijak itu?”
“Pianis gagal sepertimu bisa mencegah seorang manik-depresif bunuh diri?” sahut Liquor bosan.
Night tertawa sekilas. Dia berpaling dan kembali memandang ke kejauhan.
“Kalian bicara apa?” tanya Grasshopper kesal. Night dan Liquor berbalik. “Membicarakanmu,” senyum Night. “Hal yang baik-baik.”
Grasshopper menghela napas dan berdiri di tengah-tengah mereka. Sesaat, suasana sunyi. Jutaan lampu gedung dan mobil-mobil di bawah sana menyala-nyala. Polusi di Jakarta sepekat biasanya, tapi malam terasa hangat, dengan sedikit bintang di langit.
“Sampai kapan kalian akan melakukan ini?” tanya Grasshopper. “Bekerja pada bos, maksud saya.”
Night menggeleng. “Entahlah.” Sesaat, sorot matanya tampak redup. “Tapi saya tahu. Ini bukan untuk selamanya.”
Grasshopper menoleh pada Liquor, menuntut jawaban. Namun Liquor tidak merespons. Barangkali jawabannya sama seperti Night.
“Jadi,” kata Night kemudian. Grasshopper memandangnya yang sedang menyipitkan mata. “Masih ingin lompat dari sini?”
“Kadang-kadang,” jawab Grasshopper jujur. “Tapi saya terus memutar kalimat itu dalam benak saya. ‘Menang dan kalah hanya masalah sudut pandang’.” Grasshopper tepekur sejenak. “Saya mencoba tetap merasa menang sekalipun kalah telak dari banyak orang.”
“Pemikiran bagus, Silvania-san. Berterimakasihlah pada Liquor.”
Mendadak Grasshopper ingat, dia belum pernah benar-benar berterima kasih pada pemuda itu. Saat Grasshopper menoleh dan hendak mengucapkannya, Liquor sudah berbalik dan melangkah ke arah pintu menuju gedung. “Ayo pergi,” ujar pemuda itu pendek.
“Menjaga jarak seperti biasanya,” gumam Night sambil memutar bola mata. Grasshopper mendengus kesal. Begitulah Liquor.
Mereka meninggalkan atap gedung.
Selalu ada hari baik bagi semua orang, pada akhirnya.
-Fin-
First Time
Jujur… sebenarnya saya merasa berat sekali untuk mengunggah side story yang ini. Sesudah menulisnya di buku, saya mengulur-ulur waktu dan tidak kunjung mengetiknya. Saya malah ingin cerita ini saya simpan sendiri saja.
Tapi saya sudah berjanji…. So here it is. Kalau biasanya kita melihat Night dari sudut pandang Frea atau Liquor, sekarang kita melihatnya dari sudut pandang istrinya.
Happy birthday, Night.
------------------------
Lovely Heist’ Side Story.
#Night #Akiko
Timeline: 2018
Warning:
1. Plagiarism is very strictly prohibited.
2. For those who haven’t read Love Theft, this side story contains major spoilers.
-------------------------
by Prisca Primasari
*
Dia belum juga pulang.
Akiko melihat jam dinding untuk kesekian kali. Kyandoru-san bilang dia dibebaskan pukul sembilan pagi, dan dia sudah meminta Akiko untuk menunggu saja alih-alih menjemputnya.
Tapi sekarang sudah pukul dua belas siang, dan suaminya itu belum juga pulang. Ponselnya pun tidak aktif.
Akiko meremas-remas kedua tangannya yang tertutup lengan sweter kelabu yang terlalu panjang. Dia sudah merasa cemas sejak pukul sebelas lewat satu menit. Perjalanan dari penjara ke apartemen biasanya hanya memakan waktu dua jam—sudah termasuk macet. Dia bimbang antara ingin terus menunggu atau menyusul suaminya saja, tapi dia khawatir Kyandoru-san nanti malah tiba di rumah setelah dia pergi.
Namun, bagaimana kalau suaminya tidak pulang juga….?
Pukul 14.00, Akiko akhirnya memutuskan untuk menyusul Kyandoru-san. Dia tidak bisa di sini terus, duduk diam di sofa sementara suaminya mungkin sedang kena masalah.
Usai bercermin sejenak untuk merapikan rambutnya yang sudah panjang lagi, Akiko meraih jaket denim yang terlipat di tempat tidur, mengenakannya, lalu melangkah ke luar apartemen sambil bersedekap.
*
“Kau ingin potong rambut?” tanya Kyandoru-san 270 hari yang lalu.
Akiko mengangguk beberapa kali. “Tidak terlalu pendek,” ujarnya. “Sepanjang rambut Kyandoru-san saja.”
Suaminya menaikkan kedua alis, tampak geli. “Kenapa?”
“Supaya saya selalu bisa melihat wajahmu juga ketika bercermin.”
Sorot mata Kyandoru-san, yang biasanya cemerlang, berangsur redup, dan senyumnya berubah sedih.
“Maafkan saya,” ujarnya. “Kau harus tinggal sendirian terus di apartemen itu.”
Akiko menggeleng, meletakkan telapak tangan di pipi halus suaminya. Ini sudah kelima puluh kalinya Kyandoru-san meminta maaf. “Saya tidak lelah menunggu,” ucapnya. “Tapi saya selalu merindukanmu, bahkan sekarang. Kalau saya memotong rambut, mungkin kerinduan itu bisa sedikit terobati.”
“Kau tidak puas hanya dengan memandangi foto saya setiap hari?”
Akiko menggeleng dan menunduk. Mereka sudah lebih dari enam tahun menikah, tetapi kalimat dan tatapan Kyandoru-san masih sering membuat pipi Akiko merona.
“Baiklah,” ucap pria muda itu kemudian. “Tapi saya sendiri saja yang memotongnya. Boleh?”
“Tentu saja,” kata Akiko senang. “Tapi saya tidak bawa gunting.”
Kyandoru-san berdiri dengan tenang dan pamit sebentar untuk menghampiri sipir untuk meminjam gunting. Akiko menunggu sambil menggenggam ujung rambutnya yang menyentuh lengan.
Seingat Akiko dulu, wajahnya dan Kyandoru-san tidaklah mirip. Mereka memang sama-sama berkulit pucat, bermata mungil, dan berambut halus selayak orang-orang Jepang pada umumnya, tetapi dengan kontur wajah berbeda.
Namun, entah bagaimana, semakin tahun wajah mereka menjadi semakin beririsan. Senyum Kyandoru-san menjadi senyum Akiko, sorot mata Akiko menjadi sorot mata Kyandoru-san, gerak-gerik mereka menjadi serupa.
“Akiko-san mirip sekali dengan Night,” Frea-san sering berkata. Awalnya Akiko tidak menyadarinya, sampai baru-baru ini, ketika dia mengenakan kimono tidur Kyandoru-san dan sebagian rambutnya tertutupi kimono itu. Ketika dia bercermin, dia tidak seperti melihat dirinya seorang, melainkan melihat dirinya bersama suaminya.
Mungkin itulah yang dinamakan belahan jiwa.
Kyandoru-san kembali sambil membawa gunting. Dia berdiri di belakang Akiko dan meraup rambutnya dengan lembut. Sekarang mereka bertukar tugas; biasanya Akiko-lah yang memotong rambut suaminya, kalau panjangnya sudah melewati bahu.
“Kau yakin?” tanya Kyandoru-san.
Akiko mengangguk mantap. Dia menoleh ke belakang. “Kyandoru-san bagaimana?”
Suaminya tertawa lirih. “Saya tidak masalah meskipun kau tidak mempunyai rambut, Akiko. Kau sendiri bagaimana?”
“Saya yakin. Potong saja.” Akiko menghadap ke depan lagi dan menumpukan kedua tangan di pangkuan.
“Baiklah.”
Terdengar bunyi kerisik rambut dipotong. Akiko lebih berkonsentrasi merasakan sentuhan tangan Kyandoru-san di leher dan bahunya alih-alih memikirkan rambutnya.
“Ada berita apa di NHK?” tanya Kyandoru-san sementara tangannya bekerja. Pertanyaan yang rutin diucapkannya.
“Ingat pasangan suami istri di Asahikawa yang dulu pernah memelihara penguin?” tanya Akiko dengan mata berbinar.
“Hm.”
“Sekarang mereka memelihara seekor penguin lagi.”
Akiko mendengar suaminya tertawa putus asa. “Negara-negara lain sedang membicarakan bahaya nuklir dan kita masih saja bicara soal penguin?”
“Tapi penguinnya benar-benar lucu.”
“Bagaimana dengan lanjutan drama kesukaanmu?”
“Ah!”
“Hei. Jangan bergerak.”
“Maaf.” Akiko menunduk malu sambil kembali bergeming. Saking bersemangatnya, barusan dia sampai sedikit terlonjak dari duduknya. “Kompetisi berlangsung seri.” Akiko bercerita panjang-lebar tentang drama kompetisi membuat kue baumkuchen. Kyandoru-san mendengarkan dan selalu menanggapi seperti biasa.
Tidak butuh waktu lama sampai Kyandoru-san duduk di sampingnya sambil memegang segenggam rambut. Panjang potongan itu sekitar dua puluh sentimeter. Kyandoru-san meletakkannya dengan hati-hati di meja. Akiko tersenyum lebar, hendak mengambil cermin dari tas, tapi kemudian Kyandoru-san mendekat dan menyentuh poni Akiko yang nyaris menutupi mata.
“Sebentar, ponimu harus dirapikan juga.” Kyandoru-san kembali mengambil gunting. Dia mulai memotong poni Akiko dengan sangat hati-hati. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Akiko, membuat Akiko merasa semakin aman dan hangat. Akiko tersenyum lembut, menatap setiap inci wajah suaminya. Poni suaminya pun nyaris menutupi mata, rambutnya begitu lembut ketika Akiko membelainya. Segala hal dalam diri pria muda itu sangatlah indah, semanis musim semi dan lilin-lilin yang menyala di malam hari.
“Kyandoru-san….”
“Hm?”
“Setelah keluar nanti, ingin melakukan apa dulu?”
“Apa maksudmu ingin melakukan apa dulu? Bercinta denganmu, tentu saja.”
“Tidak ingin berjalan-jalan? Atau ke suatu tempat?”
“Tidak.” Mata Kyandoru-san berkonsentrasi pada poni Akiko sementara Akiko menatapnya. Kalau saja waktu bisa berhenti… kalau saja mereka bisa terus sedekat ini. Akiko berusaha mengingatkan dirinya bahwa Kyandoru-san sudah akan bebas tahun depan. Sampai saat itu tiba, Akiko akan terus menunggu.
Kyandoru-san tersenyum setelah memotong poninya. Mereka saling tatap, ujung jari Kyandoru-san dengan sangat lembut menyentuh sudut mata Akiko yang basah.
“Tinggal 270 hari lagi,” ujarnya.
Akiko ikut tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian mengambil cermin dari tas. Ditatapnya dirinya di cermin. Rambutnya sekarang menyentuh bahu. Poninya pun lebih rapi. Dia mengulurkan cermin itu ke samping wajah Kyandoru-san, bergantian memandang Kyandoru-san dan bayangannya sendiri di cermin. Inilah yang diharapkannya. Mereka sekarang sangat mirip.
“Kau jauh lebih cantik,” Kyandoru-san menggodanya. “Tenang saja.”
Akiko tertawa sembari kembali memasukkan cermin ke tas. Dia melihat suaminya mengambil semua potongan rambut tadi, lalu memasukkannya ke saku seragam penjaranya. “Saya simpan,” ujar Kyandoru-san.
Ketika waktu berkunjung habis, Akiko berpamitan dan mencium kening suaminya.
“Makan yang banyak, Akiko,” ujar Kyandoru-san lagi. “Istirahatlah yang cukup. Kalau ada apa-apa, segera telepon Frea-san.”
Akiko mengangguk. Seperti biasa, dia meninggalkan penjara dengan hati yang lebih hangat, sekaligus dengan kerinduan yang lebih dalam lagi.
*
Hujan tiba-tiba turun deras ketika Akiko turun dari taksi untuk menuju gedung penjara. Dia merapatkan jaketnya dan berlari menembus hujan, merasakan bulir-bulir dingin itu mengguyur rambut dan tubuhnya. Akiko bahkan tidak mau repot-repot menyeka air di wajahnya begitu dia tiba di dalam. Dia segera menghampiri bagian administrasi dan bertanya—menggunakan bahasa Inggris—apakah Kyandoru-san masih di sana.
“Lho? Si Nippon itu?” ujar seorang polwan. “Sudah keluar dari jam sembilan pagi tadi.”
“Tapi dia belum juga tiba di rumah,” ujar Akiko, malah lebih panik dari sebelumnya.
“Sudah ditelepon?”
“Sudah. Ponselnya tidak aktif.”
“Tunggu ajalah. Paling lagi ada urusan mendadak atau apa.”
Akiko mengernyit cemas dan bersedekap. Kalau pun ada urusan mendadak, Kyandoru-san pasti akan memberitahunya—tapi nyatanya suaminya itu sama sekali tidak meneleponnya.
Akiko berjalan keluar dengan langkah pelan. Sebelum menembus hujan, dia menelepon Frea-san, bertanya apakah Kyandoru-san sempat menghubunginya. Tapi Frea-san pun tidak tahu-menahu.
Akiko kembali menaiki taksi, dan menuju apartemen dengan kecemasan, kepanikan, serta kepedihan yang lebih dalam lagi.
*
Ketika tiba di apartemen, Akiko tidak mengeringkan tubuhnya atau berganti pakaian. Dia memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur dan menyiapkan segalanya untuk Kyandoru-san. Kalau sewaktu-waktu Kyandoru-san pulang, Akiko ingin semuanya sempurna. Dia mengambil cangkir, poci, kemudian mulai menyeduh teh rasa chestnut. Kyandoru-san menyukai teh yang tidak terlalu manis. Ketika di Tokyo, teh itu biasa dicampur gula cair yang dikemas di wajah seperti cup jeli, tapi karena di Jakarta gula seperti itu tidak tersedia, Akiko memanaskan gula balok dulu hingga mencair.
Dia menyajikan teh itu di meja ruang tengah, lalu memanaskan yakitori, steik, ramen, dan kue kayu manis yang sudah dia siapkan sejak tadi pagi. Dia menata ulang makanan-makanan itu di meja makan.
Setelahnya, Akiko berjalan ke lemari untuk menyiapkan pakaian tidur Kyandoru-san. Kyandoru-san menyukai pakaian tidur berbahan wol halus, hitam dan polos tanpa motif. Akiko dulu membeli benangnya dan merajutnya sendiri. Diambilnya pakaian itu dari lemari dan diletakkannya di tempat tidur.
Dia kemudian mengambil pakaian lain yang dulu sering dikenakan Kyandoru-san—tunik hitam dengan rimpel di bagian dada—hanya untuk mendekap pakaian itu dan menciumnya. Baju Kyandoru-san dulu beraroma semanis lilin wangi cedar, tetapi aroma itu kini telah pudar karena kamper.
Akiko menoleh untuk melihat jam dinding.
Pukul delapan malam.
Dia kembali duduk di ruang tengah sambil terus memeluk pakaian Kyandoru-san. Menunggu dan terus menunggu, sampai tidak menyadari air matanya meleleh saking khawatirnya dia.
Terkadang, Kyandoru-san masih merasakan sakit di tempat dia tertembak dulu. Bagaimana kalau sakit itu kambuh? Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Apakah Kyandoru-san sudah sarapan dan makan siang? Bagaimana kalau….
Akiko berbaring menyamping di sofa, menghadap sandaran, baju Kyandoru-san masih menempel di pelukannya. Dia memejamkan mata.
Bagaimanakah rasanya ketika kita sadar telah menyakiti orang yang paling kita cintai...?
Seperti mati.
Dan bagaimanakah rasanya ketika orang itu akhirnya memaafkan kita…?
Seribu kali lebih menyakitkan.
Selama bertahun-tahun, Akiko hidup dengan rasa sakit itu. Dia menganggapnya balasan atas hal yang dia lakukan di masa lalu, dan dia memutuskan untuk menanggungnya seumur hidup. Baginya itu tidak masalah, asalkan dia bisa terus mengabdi dan kembali bersama Kyandoru-san lagi.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Kyandoru-san pergi sekali lagi dari hidupnya.
*
“Akiko?”
Suara lembut itu memanggilnya ketika dia sudah jauh terlelap.
Akiko merasakan ciuman di rambut dan bibirnya, lalu perlahan membuka mata. Setengah terjaga, dia berguling, dan mendapati wajah Kyandoru-san yang begitu dekat dengan wajahnya. Suaminya itu sedang berlutut di dekatnya, tampak lelah.
“Kau lupa mengunci pintu,” ujar suaminya.
“Kyandoru-san juga sering lupa mengunci pintu,” kata Akiko antara sadar dan tidak.
Ketika dia sudah sepenuhnya terjaga, barulah dia bangkit dan kembali merasakan seluruh kepanikannya tadi.
“Kenapa baru pulang?” tanya Akiko. Dilihatnya rambut hitam sebahu Kyandoru-san yang sedikit basah, disentuhnya. “Kyandoru-san kehujanan?”
“Kau juga basah kuyup.” Kyandoru-san mengernyit sambil memegang lengan jaket Akiko. “Kau tidur dalam keadaan begini?”
“Ke mana saja? Tadi saya menyusul ke penjara, tapi kata mereka, Kyandoru-san sudah keluar.”
Kyandoru-san menghela napas. Dia tampak enggan sekali untuk menjawab. Mata hitamnya yang indah tampak redup, pipinya yang halus berkilau karena air hujan.
Lalu suaminya itu tersenyum lelah. “Ini memalukan sekali,” ujarnya.
Akiko menunggu, dengan jantung berdegup kencang.
“Saya kecopetan.” Kyandoru-san akhirnya berkata pendek.
Akiko mengerjap.
“A… apa?”
Logikanya, seorang Kyandoru-san—Night—tidak mungkin kecopetan.
Tapi ternyata itu benar.
“Terjadinya waktu saya turun dari taksi di tengah jalan,” ujar Kyandoru-san sambil memandang langit-langit. “Jalanan luar biasa macet. Saya tidak sabar bertemu denganmu—makanya saya turun dan memutuskan untuk berjalan saja ke sini. Toh jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Tapi kemudian tas saya dicuri. Isinya ponsel, dompet, dokumen-dokumen dari penjara…,” Kyandoru-san menggenggam ujung rambut Akiko dengan lembut, “… dan rambutmu.
“Yang lainnya tidak apa-apa kalau hilang. Tapi tidak dengan yang ini.”
Hening sesaat.
“Selanjutnya tebak sendiri. Saya mengejar pencopet itu seharian.” Kyandoru-san mengambil sesuatu dari jinsnya dan menunjukkannya pada Akiko. Seikat rambut. “Dan dapat,” dia mengakhiri.
“Tapi… bagaimana kau melakukannya?” tanya Akiko luar biasa bingung.
“Percayalah, kau tidak ingin tahu,” Kyandoru-san tersenyum, kini tampak sedikit geli. “Melibatkan kejar-kejaran yang tidak ada habisnya. Sudahlah… yang penting saya sudah mendapatkan rambutmu lagi.”
Sunyi sementara Kyandoru-san meletakkan rambut itu dengan hati-hati di atas sofa.
“Syukurlah,” bisik Akiko. “Saya pikir saya akan kehilanganmu lagi.”
Kyandoru-san menanggapinya dengan ringan.
“Kalaupun itu terjadi, kau harus siap, Akiko.”
Akiko memandang suaminya, amat terkejut. Bagaimana mungkin Kyandoru-san mengucapkan hal semacam itu dengan begitu tenangnya…?
Kyandoru-san melihat raut wajahnya, lalu mendekat dan merangkup kedua pipinya.
“Saya dulu pencuri. Pencuri yang tergabung dalam sindikat besar,” ujarnya lirih. “Saya, Liquor, dan yang lain tidak akan bisa sepenuhnya hidup dengan aman. Bukan tidak mungkin ada saat-saat yang lebih sulit, dan kau harus siap.”
“Tapi saya tidak siap,” ujar Akiko, gagal menahan air matanya. “Saya selalu dihantui rasa bersalah… ingin terus mengabdi padamu dan tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kau pergi sekali lagi.”
“Kau bersikap seolah-olah itu beban.”
“Itu bukan beban. Saya tidak pernah menganggapnya beban,” ujar Akiko, sekarang agak marah.
“Kalau begitu bersikaplah sewajarnya saja,” Kyandoru-san berkata lembut sekaligus tegas. Akiko bisa melihat mata suaminya pun kini mulai basah. “Kau terus-menerus merasa bersalah, pergi mencari saya tanpa memperhatikan keadaanmu sendiri, pulang dan tidur dalam keadaan basah kuyup begini,” bisiknya. “Bukan begitu caranya, Akiko….”
Akiko menunduk dan memejamkan mata, membiarkan air matanya tumpah. Ketika dia menatap Kyandoru-san lagi, suaminya itu sedang mengambil selimut tipis yang tersampir di sofa, lalu menggunakannya untuk menyeka rambut Akiko yang masih basah.
“Bagaimana dengan Kyandoru-san sendiri?” bisik Akiko kemudian. “Mengejar pencuri seharian untuk mendapatkan seikat rambut… apa itu wajar?”
“Itu beda,” ujar Kyandoru-san tenang. “Saya bertanggung jawab untuk menjaga apa yang saya miliki darimu, karena itulah saya berusaha mendapatkan rambut itu lagi.”
“Saya juga—”
“Yang kau lakukan bukanlah tanggung jawab. Kau menyakiti dirimu sendiri.” Kyandoru-san kembali merangkup kedua pipinya. “Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi.”
Akiko menatap suaminya, ikut merangkup pipi Kyandoru-san.
Dia tidak pernah lelah mencintai dan menunggu Kyandoru-san, tidak lelah menanggung rasa sakit. Tetapi bahwa dia menyakiti dirinya sendiri… barangkali itu benar. Dan dia sadar bahwa bukan itu yang diinginkan suaminya. Kyandoru-san ingin mereka berdua melihat ke depan, bukan ke belakang. Bukan menanggung luka itu terus menerus dan bukan membiarkan luka itu kembali terbuka.
Setelah isakannya reda, Akiko mengangguk.
“Maafkan saya,” bisiknya.
Kyandoru-san menggeleng sepintas. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Akiko, lalu menariknya lembut dan berbaring di lantai—tubuh Akiko tengkurap di atas tubuhnya. Akiko tidak berpikir panjang untuk mencium bibir suaminya dengan dalam dan lama. Bisa seperti ini lagi setelah sekian lama… membuatnya merasa begitu hangat dan bahagia.
“Ayo,” ujar Kyandoru-san lembut. Tatapannya begitu menenangkan. “Mandi, makan, lalu tidur.”
Akiko tersenyum dan mengangguk. Ketika bangkit, Kyandoru-san mencium bibir Akiko beberapa kali sebelum melakukan semuanya bersamanya.
Itu kali pertama mereka benar-benar bersama setelah beberapa tahun terakhir.
Dan sebelum mereka menghadapi hari-hari yang, seperti kata Kyandoru-san tadi, mungkin akan lebih sulit… setidaknya mereka sudah melalui satu malam yang tenang, indah, dan hangat.
*
Tarantula
Lovely Heist’ Side Story
Prisca Primasari
*
Warning:
1. Plagiarism is very strictly prohibited.
2. For those who haven’t read Love Theft, this side story contains major spoilers.
Timeline: 2018
*
Ayahnya selalu memberinya teguran terang-terangan. Semacam:
“Kalau suka, perjuangin, dong. Pacarnya sekarang kan lagi jauh. Ini kesempatan kamu.”
Tapi dia tetap tidak mau memperjuangkan gadis itu.
Jangankan memperjuangkan—Tarantula bahkan tidak pernah mau berada di sisi Frea pada saat-saat yang seharusnya bisa menjadi peluang. Saat Frea menawarinya untuk menonton permainan biolanya di pesta kecil dulu, dia menolak dan berkata, “Gue masih banyak kerjaan, Fre.” (Padahal sedang menganggur). Saat Vito mengundangnya makan malam di hari ulang tahun Frea, dia juga menolak, berkata, “Mau pergi ke NZ.” (Padahal dia sudah bertekad untuk tidak buang-buang uang ke sana lagi). Pendeknya, dia sama sekali tidak mau berusaha.
“Pengecut,” ayahnya biasa mencela, tetapi dengan tatapan simpatik. Tarantula selalu membalasnya dengan decakan. Dia akan mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih sering mereka bicarakan, soal kode-kode rumit atau account email aktris Hollywood mana lagi yang baru mereka bobol. Dia sebisa mungkin tidak mengingat-ingat Frea, apalagi mengungkit-ungkitnya.
Untuk apa memikirkan gadis yang mencintai orang lain?
Mencintai pemuda berengsek keparat womanizer alkoholik angsty tak tahu diri itu, tepatnya. Dan Frea hanya menyebut pemuda itu dengan satu nama:
Liquor.
Tidak ada lagi alasan untuk mengharapkan Frea, apalagi setelah pemuda itu berubah menjadi orang yang jauh lebih baik. Meskipun sangat jengkel mengakuinya, Tarantula tahu bahwa Liquor pun kini begitu mencintai Frea. Jadi dia sudah benar-benar tidak punya alasan lagi untuk memperjuangkan gadis itu.
*
Intinya, dia sebisa mungkin berusaha untuk tidak bertemu Frea lagi. Namun, hari ini Vito malah memintanya untuk menjemput Frea di balairung.
“Saya lagi sibuk, Pak,” ujar Tarantula sembari terus bermain Minesweeper. Sepanjang karirnya sebagai hacker, hanya permainan konyol itulah satu-satunya yang membuatnya ingin membanting laptop saking frustrasinya.
“Tolong jemput, lah,” desak Vito. “Katanya acaranya sampai jam dua belas malam. Saya nggak bisa jemput—banyak transaksi.”
“Suruh Harker aja. Atau Sand.”
“Kamu mau bantah atau apa, sih? Mau saya pecat?”
Tarantula menyeringai. Lagi-lagi ancaman kelas kroco. “Nggak mungkin Bapak pecat saya. Belum nemu hacker yang lebih hebat dari saya, soalnya.” Sebelum Vito naik pitam, Tarantula segera berkata, “Oke, oke. Saya jemput.”
Lalu dia menutup telepon dan mengembuskan napas keras-keras.
Sialan.
Dia mengerling arloji. Pukul sepuluh malam. Gara-gara telepon Vito barusan, dia jadi ikut-ikutan kepikiran. Apakah aman membiarkan Frea pulang sendirian pada pukul dua belas malam?
Menyerah, Tarantula akhirnya berdiri, meregangkan tubuh, dan melangkah malas-malasan menuju pintu apartemen. Dia melewati ratusan kabel dan motherboard dan kertas aluminium dan entah benda-benda elektronik apa lagi. Diraihnya jaket yang tersampir di sofa, lalu diambilnya kunci mobil dari kait di tembok.
Baiklah. Sekali ini saja.
*
Dia tiba di depan balairung pukul 22.30. Dia bersandar di pintu Ferrari, menunggu, sambil sesekali menguap dan membunuh waktu dengan membuka situs-situs ‘aneh’ di ponsel, yang berhasil membuat dirinya sedikit relaks. Dasar Vito, menyuruhnya pergi untuk menjemput Frea, padahal dia bisa melakukan hal yang lebih berguna di apartemennya—meskipun ‘hal-hal berguna’ bagi Tarantula biasanya tidak terlalu berguna bagi orang lain.
Tak lama kemudian, ponselnya mendentingkan notifikasi pesan. Dari Frea.
“Kata Paman, lo jemput gue? Sori… gue barusan aja pulang. Gue baru inget harus nyiapin ujian di tempat kursus besok.”
Oh.
Baguslah.
“Oke. Gue pulang, kalau gitu,” Tarantula membalas. Hatinya langsung terasa ringan. Dia menegakkan tubuh dan bersiap untuk masuk ke mobil. Pikirannya kembali melayang pada permainan Minesweeper, akun-akun email yang iseng dibobolnya tapi belum sempat dia baca seluruhnya, dan rencana untuk tidur menjelang pagi. Dia sudah membuka pintu mobil ketika tatapannya tanpa sengaja tertuju pada seorang gadis familier yang baru saja keluar dari aula balairung.
Gadis itu, dengan gontai, menuruni tangga di teras. Wajahnya dibalut riasan lembut, rambut panjangnya diikat tinggi di belakang. Gaun hitamnya mengembang di bagian rok panjangnya. Tarantula tahu siapa dia—gadis itu biasa dipanggil Prue, teman kuliah Frea yang sampai sekarang pun masih bersahabat dengan Frea. Nama panjang gadis itu pasti Prudence—setidaknya begitu pikir Tarantula, karena baik Frea maupun Prue sendiri tidak pernah memberitahunya. Tarantula dulu bertemu Prudence ketika beberapa kali menjemput Frea di kampus.
Prudence duduk di anak tangga, tampak jengkel sekaligus sedih. Dia melepas sepatu, lalu melemparkannya begitu saja, membuat masing-masing sepatu itu berguling-guling kencang dan berhenti di anak tangga terbawah. Seolah melepas sepatu belum cukup, Prudence juga melepas kalung mutiara putih yang dia kenakan. Ditatapnya kalung itu sejenak, lalu dilemparkannya juga.
Tarantula tercengang.
Tatapannya menelusuri kalung mutiara yang meluncur mulus di anak tangga. Benda itu kemudian berhenti di dekat sebelah sepatu Prudence.
Tarantula tidak terlalu memahami jenis-jenis permata—kebalikan dari Night yang sangat memahami permata, tetapi tidak terlalu mahir membobol akun di internet. Namun, insting Tarantula yang sudah sangat terlatih tahu bahwa Prudence gadis berada dan penuh gengsi. Gadis itu pasti tidak sudi mengenakan sembarang perhiasan, dan kalung yang baru saja dibuangnya pastilah rangkaian mutiara asli.
Mata Tarantula menyipit memandang Prudence. Gadis itu kini sedang mencengkeram kepala.
Tarantula kembali mengerling kalung tersebut.
Kalau benar-benar asli… harganya pasti selangit. Dia bisa menyumbangkan sebagian hasilnya ke badan-badan amal, dan sebagian lagi untuk membeli motherboard baru.
Dia menghampiri kalung mutiara tersebut, lalu mengambil dan mengantonginya. Untuk sekali-kalinya, dia mencuri tanpa menggunakan laba-laba. Sungguh mudah.
Tarantula memandang gadis itu sebelum masuk ke mobil dan menyetir pulang.
Bukan salah gue, pikir Tarantula sambil menyetir. Salah Prudence sendiri, menelantarkan kalung mahal seenaknya.
Namun, sesering apa pun Tarantula mengulang teori itu di benaknya, dia tidak juga berhenti memikirkan wajah muram dan sikap putus asa gadis itu.
*
Dia terpaksa berkunjung ke penjara esok paginya.
Kalau ada orang yang bisa menjelaskan panjang lebar tentang permata, itu adalah Night. Tarantula tidak mau bertanya pada Vito—atasannya itu sudah terlalu sering memarahinya gara-gara dia sering mencuri tanpa disuruh, meskipun bukan mencuri untuk dirinya sendiri.
Night muncul sesaat kemudian. Rambut hitam halusnya diikat di tengkuk, poni panjangnya jatuh nyaris menutupi mata. Kulitnya cerah dan halus, tubuh rampingnya tampak pas dalam seragam penjara. Tarantula meringis miris. Terkadang dia bertanya-tanya, mengapa dunia ini begitu kejam… mengapa sih makhluk secantik itu harus berjenis kelamin laki-laki?
“Oh. Kau.” Night berkata ringan dan duduk di depan Tarantula. “Baru kali ini kau ke sini. Ada yang tewas?”
Night bicara dengan sangat tenang sampai-sampai Tarantula bertanya-tanya apakah penjara sudah melumpuhkan emosinya.
“Nggak ada,” tukas Tarantula. “Nanyanya gitu amat, sih?”
Night tertawa lirih. “Kau sama sekali tidak pernah kemari. Pasti ada yang istimewa.”
Tarantula mengambil kalung dari saku. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, berhati-hati untuk tetap menyembunyikannya dari pandangan sipir. Setelah yakin aman, Tarantula menunjukkan kalung tersebut pada Night. “Kemarin habis colong ini,” dia memulai. “Ini asli, kan?”
Night mencondongkan tubuh untuk melihat dengan lebih jelas.
“Ada huruf M,” ujar Tarantula, menunjuk liontin kecil berbentuk huruf M di ujung butir mutiara. “Tahu artinya?”
Night perlahan mengambil dan mengusap butir kalung tersebut. “Ini lambang Mikimoto,” jawabnya. “Perusahaan perhiasan mutiara asli paling terkenal di Jepang. Kau mencurinya di mana?”
Tarantula menceritakan semua tentang kejadian kemarin.
Night langsung memandangnya dengan mencela. “Mencuri dari gadis yang sedang sedih. Laki-laki macam apa kau ini?”
“Nggak usah nguliahin gue,” gerutu Tarantula, merebut kalung itu dari Night. “Lagian ini juga mau gue kembaliin, kok.”
“Tumben. Menyesal?”
“Enggak.” Tapi kemudian Tarantula ragu-ragu. Apakah yang dirasakannya ini termasuk kategori menyesal? Dia merasa sangat tidak enak setelah mencuri kalung mutiara itu—dia terus terbayang-bayang wajah putus asa dan kegamangan Prudence kemarin. Dia bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada gadis itu, meskipun sebenarnya dia tidak ingin peduli.
“Mutiara Mikimoto itu berapaan?” tanya Tarantula kemudian.
Night mengangkat sebelah bahu. Dia otomatis memegang dadanya sendiri, di bagian dia tertembak dulu. Tarantula mengernyit, memperhatikan bahwa Night sesekali melakukannya—memegang dadanya sendiri seolah masih merasakan sakit di sana. Seolah lukanya tidak pernah benar-benar sembuh.
“Saya tidak tahu pasti,” ujar Night. “Tapi kalau spesifikasinya seperti ini, barangkali sekitar lima puluh juta rupiah.”
“Kenapa dia buang-buang seenaknya, kalau mahal gitu?”
“Mungkin hadiah dari seseorang,” ujar Night setelah terdiam sejenak. “Tapi orang itu menyakitinya dan gadis itu tidak mau memakai benda pemberiannya lagi.”
Tarantula ternganga. Dia bahkan tidak berpikir sampai ke sana.
“Itu biasa dilakukan wanita.” Night menaikkan alis. “Kau harus menghargai wanita dulu, baru bisa paham.”
“Udah gue bilang, nggak usah nguliahin gue.” Tarantula berdecak dan menyipitkan mata. Night hanya memandang langit-langit dengan pasrah.
“Jadi bagaimana?” tanya pria muda itu kemudian.
“Gue kembaliin ajalah.” Tarantula memasukkan kalung Prudence ke saku jins. “Gue mungkin nggak bakal bilang udah nyuri kalungnya. Gue bilang aja nemu di teras balairung.” Dia berdiri dan berpamitan. “Duluan, Night. Thanks.”
Night ikut berdiri. “Hati-hati. Jangan sampai kalungnya hilang.”
“Iya, iya.”
Ketika Tarantula sudah berjalan beberapa langkah, Night memanggilnya. “Hei.”
Tarantula berbalik.
“Setelah mengembalikan kalung gadis itu nanti—Prudence, namanya?” ujar Night, “tetaplah saling kontak dengannya.”
“Buat?”
Night hanya menjawab santai. “Lakukan saja.”
Tarantula tidak menanggapi dengan serius. Dia hanya mengayunkan tangan ala kadarnya, lalu melangkah meninggalkan tempat itu.
*
Malam hari, Tarantula meminta nomor Prudence dari Frea lewat pesan ponsel. Gadis itu tentu saja heran mengapa Tarantula tiba-tiba ingin tahu.
“Gue baru inget lo punya temen cewek cakep. Mau gue deketin,” jawab Tarantula sekenanya. Mengingat betapa seringnya Tarantula bermain dengan gadis-gadis, dia mengira Frea akan melarangnya dekat-dekat dengan Prue. Tapi ternyata Frea malah mendukungnya.
“Mungkin kalau ada lo, patah hatinya bisa sembuh.”
“Patah hati?” tanya Tarantula.
“Lo tanya sendiri aja nanti.”
Merasa penasaran, Tarantula segera memutar nomor Prudence.
Yang menjawab Prudence sendiri, dan suaranya begitu ketus sampai-sampai Tarantula tergoda untuk langsung menutup telepon saja dan melupakan urusan ini.
Tapi kemudian, dilihatnya kalung mutiara Mikimoto yang tergeletak di meja di depannya. Berkilau oleh lampu, tampak sangat janggal di tengah benda-benda lain yang penuh kabel serta resistor.
Dia sudah susah payah mengunjungi si Nippon ayu itu hanya gara-gara demi menanyakan kalung tersebut. Di penjara, tempat yang selama ini mati-matian dia hindari. Untuk apa, Tarantula sendiri tidak tahu. Barangkali nuraninya pun mencelanya—bisa-bisanya gue nyolong kalung dari cewek yang kali aja baru kena musibah.
Tarantula mengembuskan napas.
“Gue Tarantula.” Akhirnya dia bicara. “Temen Frea. Inget, nggak?”
Gadis itu terdiam sejenak, sepertinya sedang mengingat-ingat.
“Tarantula,” gumam Prudence. Wajar kalau dia lupa. Terakhir kali Tarantula bertemu dengannya mungkin sekitar empat tahun silam. “Oh,” kata gadis itu kemudian. “Tumben. Ada apa?”
“Gue kemarin nemu kalung lo jatuh di teras balairung. Mutiara Mikimoto.”
Hening sejenak.
“Dari mana lo tahu itu kalung gue?” tanya Prudence.
Tarantula memutar otak. Sial, kenapa tadi dia tidak memikirkan bagian yang ini, sih?
Dia pun memutuskan untuk setengah jujur.
“Gue lihat sendiri lo buang kalung itu. Mau gue kembaliin ke lo, lo kelihatan jutek gitu. Akhirnya gue bawa pulang dulu. Sekarang mau gue kembaliin.”
Kalaupun Prudence menganggap cerita Tarantula janggal, dia tidak menyebutkannya. Alih-alih, dia berkata, “Bawa aja.”
“Heh?”
“Bawa, jual, terserah lo.” Suara Prudence berubah dingin.
“Mending gue kembaliin ke lo, terus lo aja yang jual sendiri,” sahut Tarantula. “Kata temen gue kalung ini harganya lima puluh jutaan, lho. Uangnya kan bisa lo buat beli biola baru atau apa, kek.”
Gadis itu terdiam lagi. Mungkin sedang menimbang-nimbang usulan tersebut.
“Gue beban kalau bawa-bawa ini terus,” ujar Tarantula, kali ini benar-benar jujur. “Kita ketemuan aja dulu.”
Butuh beberapa lama sampai Prudence menghela napas dan mengiakan.
“Oke.”
Tarantula menutup ponsel. Dia kemudian mematikan semua komputernya.
Sekarang dia benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu.
*
Dia bertemu Prudence hari itu juga di salah satu chain café. Ekspresi Prudence tampak kusut, tetapi tidak mengurangi kemanisan parasnya. Kaus H&M lengan panjang putih serta rok selututnya tampak sangat pas untuknya. Rambutnya diikat tinggi di belakang seperti biasa.
Dia duduk di depan Tarantula setelah memesan espresso dingin.
Tanpa kata, Tarantula mendorong kalung mutiara itu di meja, meluncurkannya dengan pelan ke arah Prudence. Gadis itu menatap kalungnya sendiri dengan sinis.
“Emangnya kalung itu kenapa, sih?” tanya Tarantula akhirnya.
Prudence memandang Tarantula tanpa ekspresi. “Penting, ya?” tanyanya.
“Nggak juga, benernya.” Tarantula memutar bola mata.
“Ya udah.” Prudence bersandar sambil menyedot espresso.
Tarantula menyerah.
“Oke. Penting,” dia berkata sambil menggeleng jengkel. “Lo ini. Orang-orang miskin pada susah cari makan, lo malah buang-buang kalung lima puluh juta seenaknya.”
Ekspresi Prudence perlahan berubah. Raut sinis dan kusutnya hilang, digantikan oleh rasa bersalah. Saat itulah Tarantula sadar bahwa gadis itu mungkin berhati lembut. Sosialita-tak-berperasaan biasanya tidak peduli kalau Tarantula berbicara seperti itu.
“Mantan gue yang kasih,” ujar Prudence setelah terdiam lama. “Dia dulu beliin gue kalung ini waktu lagi short course di Jepang. Waktu gue di balairung kemarin, dia tiba-tiba kirim email dan putusin gue. Dia bilang mau fokus jadi cellist di Eropa.” Prudence berdecak penuh dendam. “Gue tahu itu cuma akal-akalan aja. Pasti dia ketemu cewek lain di sana.”
“Bagus, dong,” ujar Tarantula enteng, tidak ambil pusing saat Prudence menatapnya dengan terkejut. “Ada gunanya dia putusin lo,” lanjut Tarantula. “Lo bisa jual kalungnya, dan uangnya bisa lo pakai seneng-seneng.”
Prudence kembali melirik kalungnya, kali ini dengan penuh perhitungan.
“Gitu?” dia bertanya sangsi.
“Iyalah. Gue kalau jadi lo nggak bakalan nyia-nyiain rezeki kayak gini.”
Sesaat, Tarantula melihat wajah Prudence dibayangi senyum.
“Gue ke sini cuma buat kasihin itu,” ujar Tarantula kemudian. Dia meminum kopi lalu berdiri dan bersiap untuk pergi. “Nyantai aja, Prudence. Nggak usah dibikin pusing.”
“Prudence?” sahut gadis itu, mengernyit.
“Nama lo Prue, kan?”
“Iya.”
“Kepanjangan Prudence, kan?”
Gadis itu tercengang.
Kemudian, tanpa diduga, dia tertawa. Hanya sepintas, tetapi mampu menimbulkan efek yang sangat indah di wajahnya yang biasanya ketus. Ketika tertawa, gadis itu bukan hanya terlihat manis, melainkan cantik.
“Sok tahu,” ujar Prue, masih tersenyum.
“Lah. Kalau bukan Prudence, apa?”
“Nama gue Prunelle.”
Dari semua hal yang membuat Tarantula tercengang hari ini, fakta itu adalah yang paling mengejutkannya.
Dia tidak pernah sekali pun salah menebak nama pertama gadis-gadis. Dee itu Dewi atau Dyah. Icha itu Marissa atau Anissa. Jess itu Jessica. Prue yang dia kenal selalu bentuk singkat dari Prudence, kenapa yang ini—
“Serius?” tanya Tarantula.
“Mau baca KTP gue?” sahut Prue sambil menaikkan alis.
Tarantula tidak menanggapi. Dia masih saja memandang Prue seolah gadis itu makhluk paling langka di dunia.
“Gue duluan, kalau gitu,” ujar Prue, menyedot espresso untuk terakhir kali. Dia menyelempangkan tas, memasukkan kalungnya ke tas itu, kemudian berdiri. “Thanks deh masukannya. Gue bakal lakuin saran lo.”
Prude—Prunelle menatap Tarantula.
“Nama lo siapa?” tanya gadis itu tiba-tiba.
“Heh?”
“Mana ada ortu yang tega namain anaknya Tarantula? Nama asli lo siapa?”
Tarantula otomatis memandang ke arah lain. Entah mengapa, dia mendadak merasa gelisah. Dia tidak pernah sekali pun membongkar nama aslinya pada gadis-gadis yang dia kenal. Bahkan Frea pun mengetahui nama aslinya secara tidak sengaja, ketika sedang merapikan berkas-berkas milik Vito.
Haruskah dia memberitahukan nama aslinya?
“Penting, ya?” tanyanya, mengulur waktu.
“Iyalah. Gue kan udah ngasih tahu nama gue.”
Tarantula memandang gadis itu.
“Gesang,” kata Tarantula, menuruti arahan dari hatinya. “Gesang Evanesce.”
Prue tampak terpana, kemudian tersenyum.
“Nama bagus gitu, lo ganti nama laba-laba,” katanya. “Okelah, Gesang. Sampai ketemu lagi.”
Bahkan setelah Prunelle menghilang dari pandangan, Tarantula masih saja terkesima.
*
Dia duduk di sofa apartemen sambil memandang nomor Prue di ponselnya.
Sepulang dari berkunjung ke penjara waktu itu, Tarantula sempat bertanya-tanya mengapa Night menyuruhnya untuk tetap berhubungan dengan Prue setelah urusan kalung Mikimoto itu selesai.
Sekarang, Tarantula mengerti. Night ingin dia melupakan Frea sepenuhnya, ingin dia mulai berhubungan serius dengan seorang gadis. Dan entah bagaimana, Night bisa merasakan bahwa mungkin, gadis bernama Prue—Prunelle—itulah yang akhirnya bisa mengisi hati Tarantula.
Dasar peri kupu-kupu, batin Tarantula sambil menyeringai.
Dia kemudian teringat ekspresi Prunelle ketika sedang tertawa tadi. Wajahnya yang menyesal ketika Tarantula mencelanya karena membuang-buang kalung semahal itu seenaknya. Gerak-gerik Prunelle yang santai. Jenis gadis yang suka bicara dan berlaku semaunya sendiri, tetapi berhati lembut.
Tarantula menekuk kepala ke kanan dan ke kiri, meraih sebotol air mineral dari nakas, minum, dan kembali bersandar.
Dia mulai mengirim pesan pada Prunelle. Ke depannya nanti, dia tahu dia akan terus saling berkirim pesan dan bertemu dengan gadis itu, dalam situasi yang lebih baik—yang sama sekali tidak melibatkan kalung curian.
“Hei,” ketiknya. “Lagi ngapain?”
--end--
My newborn love 😊 Ditunggu kehadirannya di alamat masing-masing 😊
For a person who is making his journey to heaven
"I love your novel "Paris: Aline"," he sincerely said. A simple sentence, but means a lot to me. Because I remember loathing the novel, for I created so many inconsistencies and absurdities in it. And I remember there were some acquaintances who made a laugh on the novel as well.
But he, alongside few of my friends, said that he loved it. He is one of those who made me looking at "Paris: Aline" from different point of view. And so I began to see it the way people who loved it do, and finally, I started to love it too.
I always thought that he had this special skill to understand people, and books. He saw the best in both, while most people (I am included) did the otherwise. The more I think about it, the more I understand why he died so young.
He is a good person. That's why.
Goodbye, Mas Em. May Allah gives you the best place to stay in. May Allah takes care of your family, and may we meet and talk about books again someday in the future.
For all the kindness you've given to us, I thank you.
Pre-order With or Without You ber-TTD sudah dibuka di toko-toko buku online. Sudah murah meriah, dapat pouch lagi 😄. Buku tersedia tanggal 12 Agustus 2016. Yang ingin memesan di saya bisa mengirim email ke [email protected], dengan format nama + alamat lengkap + no telepon. Pengiriman dari Bandung. Persediaan buku + pouch sangat terbatas, siapa cepat dia dapat :).
Repost from GagasMedia's Facebook: . . . Halo, GagasAddict! Ini cover final With or Without You. Terima kasih atas pilihan dan masukan teman-teman. Setelah melalui diskusi dan mempertimbangkan masukan dari para pembaca, komposisi inilah yang terpilih. Mengambil konsep kayu--yang hangat--dan mempertahankan warna cerah sebagai ciri novel tersebut agar tetap terlihat manis. Selain itu, tulip merah muda dan sepasang cincin di sudutnya dapat mewakili kisah dalam novel ini. Semoga kalian suka. Nantikan juga edisi terbatas buku bertanda tangan Prisca Primasari dan bonus khususnya. Pantau terus di medsos GagasMedia. :)
Novel saya yang selanjutnya akan diterbitkan oleh @gagasmedia. Judulnya With or Without You (dulu Tulip🌷). Bantu vote cover-nya ya 😊.