The Nicest People On Earth
Kami berkenalan pertama kali enam tahun yang lalu. Aku, dengan tampang kumal suntuk sehabis duduk diam menghabiskan waktu belasan jam di pesawat, dan dia yang menyambutku dengan sergapan udara dingin menusuk yang membuatku merapatkan jaket.
Tunggu, ini bulan Agustus, kan? Musim panas, kan? Kenapa dingin banget?
Tunggu, ini kan pukul setengah sembilan malam? Kenapa matahari masih anteng banget nangkring terang banget di langit?!
Aku bengong sambil mendorong troli berisi koperku yang menggembung, besar. Sambil mempercepat langkah dan merapat ke antrian teman-temanku yang satu per satu menaiki bus, kutatap baik-baik papan besar yang menampilkan huruf-huruf digital warna merah besar itu: WELCOME TO USA.
Begitulah aku mengingat Amerika pertama kali: Agustus berangin yang membuat kulit bibirku yang kering makin terasa perih dan bulatan kuning telur di langit di pukul setengah sembilan malam. Ya, akhirnya kami berkenalan: aku, dan negara asing yang kemudian kusebut rumah kedua selama sebelas bulan ke depan, tempatku dipertemukan dengan banyak orang. Beberapa di antara mereka kusebut nicest people on earth.
Reasons. Here, I tell you one of them.
Ya, dari 89 orang rombongan anak-anak Indonesia yang dikirim ke negara ini enam tahun lalu, hanya aku satu-satunya yang mendapatkan state ini sebagai tempat tinggal. Virginia, namanya. Aku baru akan menapakkan kaki di sana tiga hari lagi, setelah orientasi di ibu kota selesai dijalani. Jauh-jauh hari sebelum ini, aku sudah menerima kepastian keluarga Amerika yang akan menampungku. Dari surel terakhir yang kuterima, mereka bilang akan menjemputku di stasiun saat hari keberangkatan menuju state masing-masing tiba.
Di hari H, aku gugup luar biasa. Semalam, hidungku berdarah lagi, kulit bibirku yang kering dan pecah semakin perih. Aku menderita flu dan sedikit demam. Badanku lemas. Mungkin itu efek jetlag dan proses pembiasaan terhadap perbedaan iklim yang sangat berbeda dengan cuaca tropis Indonesia. Musim panas masih terasa sangat dingin dan pemandangan matahari di atas pukul delapan malam masih membuatku takjub. Masih sama seperti yang kurasakan beberapa hari ini, hanya bedanya, aku akan menghabiskan sore ini dengan orang-orang yang akan kupanggil dengan "Mom" dan "Dad."
Satu per satu, teman-temanku diberangkatkan ke state tujuan. Aku mulai takut. Ingin rasanya kupeluk mereka satu-satu dan kuminta tinggal untuk menemaniku pergi ke state-ku sendiri. Mentalku jatuh, berhamburan; jadi kupungut mereka satu-satu sambil berbincang dengan Suci untuk menguatkan diri. Kami satu daerah dari Indonesia. Palembang, lebih tepatnya. Dulu kami mendaftar program ini bersama-sama, lulus juga sama-sama dengan dua orang lainnya. Teman-temanku itu sudah berangkat tadi pagi, aku dan Suci dapat jatah berangkat sore.
Taksi yang akan membawaku ke stasiun sudah tiba. Dalam keadaan sakit, aku sudah harus pergi bertemu dengan keluarga angkatku. Mendadak aku tidak siap, tapi Suci menjabat tanganku sesaat sebelum aku masuk ke dalam taksi.
"Hey, remember. Have a great, wonderful year!"
Senyumku kecut, tapi anggukanku begitu mantap.
Because here, we'll meet some of the nicest people on earth.
Coba bayangkan, orang-orang ini menerima seorang asing yang berasal dari negeri asing yang lokasinya saling bertolak belakang di globe untuk jadi bagian dari keluarga mereka selama sebelas bulan ke depan. Dan orang asing itu bukan hanya dianggap menumpang; dia kemudian dianggap sebagai anak, menjalani hidup seperti mereka, belajar banyak tentang mereka selagi ia juga berbagi tentang negaranya, budayanya, dan keyakinannya.
If it's not nice, I don't know what to call them.
Dari surel yang kudapatkan, aku mengetahui keluarga angkatku di sini terdiri dari empat orang. Selain Mom dan Dad, aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Bonus: dua ekor anjing peliharaan kesayangan keluarga. Sesaat lagi, aku akan bertemu mereka. Stasiun Richmond, Virginia adalah perhentian terakhirku untuk turun, menyeret koper, menguatkan diri untuk tidak tiba-tiba pingsan karena aku sedang sakit, dan memasang senyum selebar mungkin. Mereka hanya datang bertiga (Mom, Dad, dan Maggie, my little sister), membaur dalam keramaian; tapi karton besar bertuliskan namaku yang dibawa Maggie membuatku dengan mudah menemukan mereka.
Aku melambaikan tangan untuk menyapa—lalu tiba-tiba melupakan seluruh kosakata bahasa Inggris yang kuketahui. Ah, aku gugup!
Di dalam mobil, aku dan Maggie duduk berdampingan. Dia tersenyum super canggung dan terus-menerus menatapku seolah-olah aku baru saja menumbuhkan tanduk di punggung. Mom dan Dad terus mengajakku bicara, mereka bercerita banyak hal. Mulanya tentang Virginia, lalu tentang keluarga. Semuanya kutanggapi dengan bahasa Inggris yang masih sangat seadanya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku mendadak ingin menangis. Serius. Tapi mana mungkin kan tiba-tiba aku terdiam sambil membanjiri seisi mobil dengan air mata?
Lalu hidup baruku dimulai. Awalnya sangat berat, setelah jetlag dan adaptasi cuaca, sekarang aku hanyut terbawa arus culture shock yang membuatku gelagapan sesak napas. Aku bersyukur ditempatkan di keluarga yang sangat open-minded dan punya ketertarikan besar di bidang interkultural. Mereka sudah beberapa kali menerima exchange students sebagai bagian dari keluarga mereka. Dari mereka, aku belajar banyak sekali hal, salah satunya tentang pentingnya menghargai satu sama lain, bahwa perbedaan itu ada bukan untuk dilebur atau dipaksakan, tapi dipahami dan dihargai.
Keluarga sederhana ini menganut keyakinan yang berbeda denganku, tapi ini bukan penghalang bagi kami untuk membaur dan menghargai satu sama lain. Aku menemani mereka pergi ke gereja hampir tiap minggu, duduk diam memperhatikan di sudut, sementara anggota keluarga yang lain mendengarkan khotbah pastor, menyanyikan lagu-lagu gereja, dan berlutut sambil berdoa. Sebaliknya, di bulan Ramadan mereka memundurkan waktu makan malam agar bertepatan dengan waktu maghrib supaya aku bisa ikut makan bersama. Dad juga ikut berpuasa untuk menemaniku. Beliau berhasil menurunkan berat badan dengan cukup signifikan sampai-sampai Mom menyarankan agar tahun depan beliau mencoba berpuasa lagi, bahkan saat aku sudah pulang ke Indonesia, haha!
Selebihnya, banyak hal-hal kecil yang membuatku sangat bersyukur ditempatkan di keluarga ini, seperti Mom yang menemaniku dalam 40 menit perjalanan menuju Richmond untuk sholat Idul Fitri dan menungguiku sholat sampai selesai, Maggie dengan antusias membentangkan sajadah di karpet jika melihatku bersiap-siap mengambil air wudhu di kamar mandi, bahkan Caleb (my big bro) meminta Mom dan Dad mengecilkan volume radio saat aku bilang akan sholat di dalam mobil dalam perjalanan kami ke Michigan.
Perjalanan sebelas bulan itu adalah salah satu fragmen dalam hidup yang paling berharga, sampai rasanya belum bisa digantikan oleh momen lain sejauh ini. Sayangnya, kebersamaan itu mencapai ujungnya di musim panas selanjutnya. Rasanya betul-betul mixed feelings: aku kangen keluarga dan teman-teman di Indonesia, tapi rasanya juga tak mau pulang. I was excited yet sad. Satu hal yang belum bisa kulupakan adalah saat Dad menyerahkan duplikat kunci rumah kepadaku saat aku sedang mengepak barang.
He said, "Keep it. Supaya kamu selalu tahu kalau kamu punya rumah juga di sini. Come here anytime you want."
Musim panas berikutnya, aku tak lagi membutuhkan jaket karena cuaca Amerika sudah berhasil kuakrabi. Matahari sewarna kuning telur yang masih menggantung di langit di atas pukul delapan malam juga tak membuatku kaget. Namun lagi-lagi, aku harus menahan tangis, kali ini karena aku tak tahu kapan aku akan kembali setelah meninggalkan mereka, keluarga sederhana yang telah menganggapku seperti putri mereka sendiri.
Di tanah sebesar dan seasing Amerika, kutinggalkan hatiku untuk mereka.
I had a great, wonderful year with them. I hope they feel the same :')
"Barangkali kami semua di sini untuk belajar. Menimba ilmu di sekolah kehidupan yang tak terbatas jangka waktunya. Pelajaran itu bisa dipetik dalam waktu satu-dua bulan, satu-dua tahun, dan lebih. Atau, barangkali, kami di sini untuk melepas dan merelakan, untuk kemudian mempelajari semuanya dari nol."
Membaca salah satu kutipan dari buku Eat Play Leave dari Kak Jenny Jusuf ini bikin aku manggut-manggut. Bertemu dan hidup di tempat asing dengan banyak orang-orang asing mengajariku banyak hal, hal-hal yang nggak bakal pernah diajarin di kelas-kelas dan sekolah. Proses belajar ini juga menyisakan ruang yang berisi banyak cerita dari A sampai Z, dari yang bikin bikin bahagia sampai yang bikin nepok jidat. Ada 12 kisah warna-warni di buku Eat, Play, Leave yang berhasil membuatku kesel, gemes, sampe ngakak-ngakak sendiri. Mulai dari bule ngeselin, bule bau kaki, bule ganteng, cara memandang kebahagiaan, kisah cinta yang bikin melting, kayak mentega di-microwave, sampe kisah cinta yang bikin geleng-geleng kepala saking "ajaib"-nya.
Kalo mau nyicip rasa asem-manis-pahit-kecutnya kisah Kak Jenny Jusuf selama tinggal di Ubud, monggo capcus baca bukunya :D
(to The McCauslins, I miss you all so much.)