Lihat aku.
Sebelas bulan lalu, terakhir aku kesini katanya ingin bahagia, rupanya tak banyak. Hanya entah yang ada dalam aku, perihal hidup yang sama sekali tak dapat ku pahami betul, nalaku bahagia ikut serta namun hampir tak ada. Begitu karib dengan rasa ini, serupa beberapa dan belasan tahun lalu, nampaknya mereka hinggap lagi. Senang bersamaku. Persemogaan kekal bersemayam bersamaku, pahit kah? sakit? Entah. Aku muak, benci akan rasanya. Menjijikan. Tak ingin, sekali lagi aku tak ingin mereka!
Tolong!, ah pada siapa. Pedulinya tak ada untuk ku. Untuk siapa? Entahlah. Sudahkah aku sampai tepian? Aku mencari akhir itu, tak menuntut hanya ingin, takut? Tentu. Tapi rasanya terdengar lebih menyenangkan dari pada hidupku ini. Tidak, itu terlalu Mengerikan? Tuhan, tak bisa kah aku baik seperti, mungkin dia? Ah sudahlah tak perlu beradu nasib, hidupku lebih baik. Katanya. Geram dengan rasa mencekik ini, sendiri, tak perlu payah, pun tak akan pernah mengerti bagaimana. Tidak. Kau tak paham! Rasanya mengerikan, lebih mengerikan dari mimpi buruk itu! Tidak kah ini mimpi? Aku tak tahu betul, Beritahu aku barang kau punya ramuan hebat untuk ku. Dekat dengan Tuhan tentu, aku cukup dekat. Tapi tampak ciptaannya mengerikan. Takut jika harus ku bicara.
Terimakasih sudah mendengar, selalu menyenangkan saat berbagi, ah rupanya hanya beberapa. Selalu? tak elok bicara seperti itu. Aku mengerti.
Hey. Aku baik - baik saja.












