Hari ini, hari minggu. Tepatnya di sebuah sore, di ruang depan rumah, seorang teman lama mengajak saya mengobrol. Ia teman lama, sengaja hari ini hadir, karena merasa bersalah, tidak bisa hadir di pernikahanku bulan lalu.
“Hidup kamu nikmat yah. Urusan rezeki, urusan jodoh, urusan pertemanan, semuanya begitu lancar. Apalagi liat foto-fotomu waktu menikah bulan lalu, nampaknya kamu penuh kebahagiaan. Sungguh, Allah sayang banget sama kamu.” Ucapnya
“Alhamdulillah.” Saya tersenyum
“Dengar-dengar, istri juga sudah isi yah? Wah, luar biasa, padahal baru satu bulan menikah. Luar biasa ya, hidup kamu itu emang bahagia banget. Enak yah.”
“Rumah punya, mobil ada, rezeki lancar, jarang berkonflik, istri yang cantik dan salehah, sungguh luar biasa. Aku ingin sekali hidup sepertimu” Dia menambahkan
Mendengar perkataannya, aku merenung, menundukkan kepala.
“Loh, kenapa kamu malah menjadi murung?”
“Entahlah mengapa? Bukankah seharusnya kamu bahagia dengan segala yang kau dapatkan?” ia heran
“Kau tahu? Hingga hari ini, aku selalu merasa, hidupku memang diberikan kemudahan. Ingin ini, ingin itu, nampaknya semua Allah mudahkan. Aku lahir dari keluarga berada. Sekolah, aku dapat beasiswa. Aku mendapat pekerjaan tanpa harus melamar, dengan gaji yang cukup lumayan. Bahkan, untuk urusan jodoh, ketika orang sangat galau, aku mendapatkannya dalam sekali coba. Mana cantik, salehah lagi” Aku jawab, sambil tertawa dan menepuk pundaknya. Dua badan kami, saling bertolak ke arah berlawanan.
“Apa?” Temanku memperhatikan serius, siap mendengar apapun yang akan kukatakan
“Aku sungguh takut. Selama ini, hidupku sungguh nyaman. Aku tak pernah mengalami kesulitan. Aku selalu bahagia.”
“Aku sungguh takut. Karena, yang ku tahu, bukankah setiap orang-orang yang beriman, akan mengalami ujian dalam hidupnya?”
“Bukankah Nabi Ayub, yang serba memiliki segalanya, kehilangan segalanya dalam sekejap? Bukankah Nabi Muhammad, kehilangan banyak hal dengan cepat? Padahal, selama ini, mereka hidup dalam kebahagiaan.”
“Hingga hari ini, aku merasa belum pernah mendapat ujian apapun yang begitu berat. Aku takut, Ujian ku, akan datang dalam sekali waktu, namun datang dengan bertubi-tubi. Aku takut.”
“Kau tahu, kini semua yang kumiliki, membuatku bahagia. Tapi, ketika melihat istriku yang sedang mengandung anakku, aku khawatir. Bagaimana jika Allah mengujiku melalui Anakku?”
“Bagaimana jika istriku kelelahan dan ternyata mengalami keguguran? Bagaimana jika istriku melahirkan, namun ternyata nyawa anak istriku tak terselamatkan? Bagaimana jika setelah lahir, anakku mengalami kelainan kesehatan? Bagaimana jika aku memiliki anak yang tak sesuai harapanku? Bagaimana? Sungguh, aku sangat takut. Aku takut, aku mendapatkan ujian dari sini”
“Aku tahu, sebagaimanapun, aku tak bisa menghentikan ujian dari Allah. Karena bagaimanapun, setiap manusia memang akan diuji. Dan yang kutahu, kita akan diuji, sampai titik dimana kita harus bersimpuh di hadapan Allah. Berdoa, memohon ampunan, bahkan meminta bantuan kepada-Nya. Aku takut, ujian nanti, sungguh akan menyakitkan hatiku”
“Jika kau pikir aku bahagia, tentu aku bahagia, karena itu bentukku bersyukur pada Allah. Namun, aku juga tidak akan lupa, bahwa Ujian akan selalu menimpa setiap orang. Karena itu, sejak dulu, aku selalu berdoa kepada Allah. Agar senantiasa diberikan kesabaran jika kelak aku mendapatkan ujian. Agar senantiasa, diberikan ketabahan jika kelak aku mendapatkan cobaan.”
“Itulah kenapa aku merenung. Semakin banyak kebahagiaan yang kudapatkan, maka aku pikir, akan semakin berat pula ujian yang akan kudahapi. Tapi, bismillah saja, aku percaya, bahwa setiap ujian yang Allah berikan, pasti dapat dilewati oleh Hamba-Nya”
Aku menghabiskan beberapa menit untuk berbicara hal itu.
“Aku tak pernah memikirkan hal itu. Ketika orang memikirkan kebahagiaan, kau malah memikirkan tentang ujian hidup. Sungguh luar biasa. Terima kasih, kau telah mengingatkanku”
“Yah, karena kadang orang lupa. Bahwa setiap orang, pasti akan diuji, oleh hal-hal yang akan memberatkannya. Mungkin sebagian sudah mengalaminya, sedangkan aku, aku belum. Itu kenapa, aku takut. Semoga saja, aku bisa melewatinya.
Temanku terdiam, mukanya agak sedikit murung, mungkin sebagai bentuk simpati atas apa yang aku rasakan.
“Hey, kenapa jadi murung begitu? Bukankah kamu hadir kesini dalam kondisi berbahagia?” aku tepuk pundaknya. Ia terperanjat. Aku senyum, ia pun mulai kembali senyum.
Sore itu, suasana sungguh meriah, temanku pulang, sebelum maghrib menjelang.
Dalam kebahagiaan, kami tetap tak lupa, bahwa setiap dari kita, kelak akan mendapat ujian.
TAKUT DALAM KENIKMATAN
BANDUNG, 27 DESEMBER 2017