Matahari Datang Kesiangan
Pada suatu hari, di sebuah perkampungan kejadian aneh dan ganjil terjadi. Saat itu, langit masih tampak gelap, tetapi ayam-ayam milik Pak Ajat sudah berkokok dari satu jam lalu. Suaranya tidak lagi melengking, namun hampir musnah karena terus berteriak-teriak. Pak Ajat sebagai pemilik peternakan merasa kesal, karena ayam-ayamnya berkokok terlalu pagi.
"Berisik" teriak Pak Ajat sambil melempar sendal jepit yang telah putus talinya. Si Ayam melompat kaget dan menjauh dari amukan Pak Ajat. Namun, selang waktu 5 menit ayam Pak Ajat berkokok lagi. Kali ini, tidak hanya ayam Pak Ajat namun ayam Bu Darma, Bu Kokom, Mak Iyang, dan bahkan ayam Bang Ucok yang tinggal dipinggir hutan ikut berkokok.
Tidak perlu menunggu lama, para pemilik ayam keluar dari rumahnya beramai-ramai. Mereka memaki kelakuan ayam-ayamnya yang tidak tahu diri, membangunkan tuannya di pagi buta.
"Ayam sialan, gue potong lu hari ini ya!" maki Bang Ucok sembari membetulkan sarungnya yang sudah melorot.
Bagaikan medan perang yang panas dan penuh semangat, ayam-ayam tidak lantas mundur ketika tuan-tuannya mengamuk. Mereka berkokok lebih kencang sebisa yang mereka lakukan. Tak gentar, meski tuannya mengancam mengakhiri mereka dengan sebilah pisau.
Warga kampung mulai frustrasi mendengar serangan para ayam. Spekulasi demi spekulasi bermunculan, salah satunya adanya peran serta setan.
"Kayanya ayam-ayam ini kesurupan Pak" ucap Mak Iyang kepada Pak Ajat yang juga menjabat sebagai ketua RT.
"Masa ayam bisa kesurupan Mak" tepis Bu Kokom yang keluar masih mengenakan masker wajah berwarna hijau muda.
"Lah iya, jaman saya masih kecil ada kerbau ngamuk gara-gara kesurupan genderowo, itu orang satu kampung diseruduk. Baru mulai tenang ketika dibacain surat Yasin sama Kyai," terang Mak Iyang.
"Nah, ini kelakuan ayam-ayam mirip sama kerbau waktu itu, nguamuk!" Tambah Mak Iyang.
Warga kampung mulai mengangguk-angguk, menelan bulat-bulat pendapat Mak Iyang. Beberapa dari mereka mulai membaca doa-doa (entah doa apa, mungkin doa makan, atau doa tidur). Sadar tidak bisa melantunkan doa, bang Ucok berinisiatif untuk menjemput Ustadz Sobri untuk menaklukkan setan yang merasuki ayam-ayam warga.
Suasana saat itu sangat kacau, suara ayam-ayam yang terus berkokok, suara doa-doa yang beragam bunyinya, suara warga memanggil-manggil nama Ustadz Sobri, dan ditambah suara tangisan anak-anak kecil yang tidak mengerti apa-apa namun dapat merasakan bahwa dunia akan berakhir hari itu.
"Ustadz Sobri gak ada, Pak Ustadz lagi pergi ke Jakarta, kata istrinya lagi ikut pelatihan khutbah Jumat. Gimana ini Pak Ajat?" lapor bang Ucok kepada pak Ajat.
Mendengar laporan dari Bang Ucok, warga semakin kacau, ada yang berteriak, ada yang menyebut-nyebut nama Tuhan.
Selaku Ketua RT, pak Ajat berusaha menjalankan perannya, yakni menenangkan warga seburuk apapun kondisi yang mereka hadapi saat itu. Peran itu tertulis di komitmen pengangkatan ketua RT yang ditandatangani pak Ajat dan ditimpa juga dengan materai sepuluh ribu rupiah.
"Bapak ibu, bapak ibu, tenang ya, tenang dulu. Jangan panik dulu! ini yang kita hadapi cuman ayam bukan iblis" Ucap Pak Ajat berusaha menenangkan.
"Ini ayam yang dirasuki iblis Pak RT, ini bukan ayam sembarang ayam" Tepis Mak Iyang menolak ajakan Pak Ajat untuk tenang.
"Iya Mak Iyang, tapikan belum pasti, siapa tau cuman sawan," balas Pak Ajat
"Engga mungkin Pak, orang kemarin sore si Rambo (nama ayam Bang Ucok) masih baik-baik saja! Masih mau dia makan, masih baik-baik dia," Balas Bang Ucok yang sudah tidak lagi membetulkan sarungnya, karena telah ia tinggalkan di Surau saat mencari Ustadz Sobri, kini dia hanya mengenakan kaos oblong warna putih kumal dan celana bola pendek berwarna merah dengan bolong-bolong kecil di bagian pantatnya. Kepanikan belum bisa direlai oleh Pak Ajat, ayam-ayam pun belum mau diam terus berkokok bergantian.
Pak Ajat menarik napas panjang, lalu berteriak "DIAM...... Saya ini Ketua RT, sudah dilantik sama Bupati, dengarkan saya ya!" orang-orang terdiam namun tidak dengan ayam-ayam, mereka seolah tidak peduli Pak Ajat dilantik Bupati atau Presiden.
"Begini ya, ayo kita sama-sama membaca surat Yasin untuk mengusir setan, iblis, genderuwo, kuntilanak, tuyul, dan bagong yang merasuki ayam-ayam kesayangan kita. Kita mulai dengan membaca Al-fatihah"
Serentak warga pun mengikuti arahan Pak Ajat dan mulai membaca surat Al-fatihah dan dilanjutkan dengan surat Yasin. Akan tetapi, ayam-ayam tidak peduli, mereka tetap berkokok seolah setan, iblis, genderuwo, kuntilanak, tuyul, dan bagong (?) yang merasuki mereka mengidap penyakit tuli, sehingga tidak mendengar kalimat-kalimat suci untuk mengusir mereka.
Pak Ajat semakin kesal dengan kelakuan ayam-ayam yang tidak tau diri itu. Lalu, dia beranjak dari kerumunan dan menuju ke dapur rumahnya. Dia membawa sebilah pisau yang sudah diasah istrinya kemarin sore dan membawa jam weker yang sedang terlelap nyenyak tidur di atas meja kerjanya. Dia berjalan seorang diri, seperti orang kesetanan menuju ke kerumunan ayam-ayam.
"Heh Anjing...." Teriak Pak Ajat ke kerumunan ayam.
Warga berdiri tegang menyaksikan pertarungan super antara ketua RT dengan ayam-ayam yang kesurupan setan.
"Heh, diam enggak kalian, kalo enggak diam saya potong kalian semua! Liat ini masih jam...." Suara Pak Ajat terhenti, warga masih menyaksikan dan menanti kalimat lanjutan dari Pak Ajat. Seketika, Pak Ajat membalik badannya, berjalan menuju ke arah warga kampung dengan mata yang masih membelalak.
"Nyebut Pak RT! Pak RT ikut kerasukan!" teriak Mak Iyang yang membuat semua orang berteriak ketakutan dan saling berpelukan.
Pak Ajat berjalan mendekati kerumunan warga dengan langkah kaku, sembari memegang pisau dan jam di tangannya. Pak Ajat mendekati warga bagai seorang zombi yang siap menerkam mangsa. Warga menjerit-menjerit ketakutan. Setiap Pak Ajat mendekat satu langkah, warga berjalan mundur satu langkah, setiap pak Ajat mendekat dua langkah, warga mundur dua langkah juga. Hingga langkah-langkah warga terhenti, karena mereka sudah berdiri dipinggir hutan, tidak ada yang berani masuk hutan keramat malam-malam begini.
"Kiamat... kiamat" Ucap Pak Ajat dengan suara lemas, Pak Ajat menunjuk jam weker di tangan kanannya dengan pisau yang dia pegang di tangan kiri.
Serentak warga pun memperhatikan jam yang dipegang Pak Ajat. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat jarum jam mengarah pada angka 7.
"Kiamat" Teriak Mak Iyang histeris. Bu Darma dan Bu Kokom langsung jatuh pingsan. Jeritan warga semakin menjadi-menjadi, membuat segerombolan ayam berhenti berkokok sebentar.
Anak-anak kecil yang sedari tadi diam kebingungan, ikut berteriak dan menangis saat orang tuanya menciumi mereka seolah esok di akhirat mereka tidak akan bertemu lagi. Mendengar keributan yang menjadi-jadi itu, matahari perlahan menyingsingkan selimutnya. Lalu mengintip keributan dibalik awan.
"kenapa baru bangun?" tanya ayam Pak Ajat
"Maaf, semalam saya minum kopi jadi baru bisa tidur jam 2 malam" kata Matahari sambil bergegas menjalankan perannya.