Aku pernah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Sebenernya aku gak mau melepaskannya, tapi aku menyadari kami sepertinya tidak mungkin lagi melanjutkan hubungan. Segala perasaan berkecamuk dalam hatiku. suara hatiku berkelahi. Tanda tanya besar menghantui pikiranku. Mampukah aku sendirian ? Apakah aku sanggup menjalani hari-hari selanjutnya tanpa dia ?
Semakin aku berfikir tentang keberatan-keberatan itu, semakin jelas pula langkah hidupku tertahan dititik itu. Statis, tidak lagi berjalan. Aku hanya sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan menimpaku jika aku tidak mempertahankannya, padahal aku tahu bahwa dia bertahan justru akan memperparah rasa sakit hati ini.
Lalu perlahan aku mencoba untuk belajar melepaskan. Ikhlas. memang tidak mudah. Akupun berkali-kali gagal, tetapi aku terus berupaya untuk benar-benar merelakannya pergi dari hidupku, dan begitu juga sebaliknya. Sebanyak usahaku untuk melepaskannya, sebanyak itu juga aku gagal. iItinya, sulit. Akan tetapi, tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Suatu ketika akupun benar-benar ikhlas melepaskannya. Hal itu terjadi begitu saja. Itu adalah proses dan kita butuh proses tersebut.
Melepaskan sebenarnya bukan sekedar mengakhiri sebuah hubungan. Melepaskan berarti menghilangkan ketergantungan pada seseorang dan membiarkannya melanjutkan hidup, mungkin dengan seseorang yang baru. Tentu saja, akupun harus melanjutkan hidup dan membuka diri untuk sebuah hubungan yang baru juga.
Dulu, ketika hubunganku kandas, aku pikir semua sudah selesai. Namun, nyatanya hubungan itu tidak pernah selesai selama aku belum benar-benar melepaskannya.
Saat itu aku masih mengingat-ingat semua kesalahannya. Aku masih gak nerima perlakuan-perlakuannya yang menurutku sungguh gak adil. Aku bahkan sering mengumpat, bersembunyi dan menghakiminya dengan caraku sendiri, dan mati-matian menyalahkan orang ketiga yang aku yakini telah menghancurkan hubungan kami yang sebelumnya baik-baik saja.
Kemudian aku menyadari bahwa aku tidak mendapatkan apapun dari semua itu, selain rasa sakit yang kian menjadi. Jika aku terus-menerus mengikutinya, semua perasaan tersebut akan membentuk dendam dihatiku.
Ketika akhirnya aku berhasil melepaskannya, aku seperti telah melepaskan beban berat dari punggungku dan meninggalkannya dibelakang. Nyatanya, melepaskan beban itu membuat langkahku jauh lebih ringan. Seandainya aku tahu betapa indahnya melepaskan, mungkin aku telah melakukannya sejak lama. Satu kata kunci yang utama adalah ikhlas.
Aku menyakini bahwa Tuhan memiliki rahasia mendahsyat untuk masa depanku setelah kulalui sebuah peristiwa yang saat itu terasa menyakitkan. Ingatlah, selalu ada pelangi sehabis hujan.











