Karna menikah bukan tentang kapan, tapi sudah tepatkah dia yang kita pilih untuk menetap bersama selamanya
Pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh setiap wanita dewasa, terlebih yang sedang berada dalam sebuah hubungan.
Pertanyaan seperti itu sepertinya selalu menjadi topik yang tak ada habisnya dibicarakan oleh kita yang sudah berusia 20-an.
Setiap wanita, termasuk aku pasti memiliki mimpi-mimpi dan harapan tentang sebuah pernikahan.
Banyaknya resepsi yang telah kita hadiri, seringkali membuat kita bertanya dalam hati, kapan ya aku menikah? terlebih bagi yang belum memiliki pasangan.
Kapan ya aku menikah? Dengan siapa aku akan menikah? Seperti apa pesta pernikahanku nanti?
Pertanyaan selerti itu seringkali muncul dan membuat kita memikirkannya sepanjang waktu untuk dapat menemukan jawabannya.
Satu waktu mungkin kita pernah berpikir untuk menikah cepat-cepat. Karena kita pikir dengan menikah kita akan lebih bahagia.
Padahal pernikahan bukanlah hal yang mudah, bukan hanya soal cinta. Banyak faktor di dalamnya yang akan membuat pernikahan menjadi bahagia.
Menikah bukanlah hal yang mudah. Menikah berarti memutuskan takdir yang kita pilih untuk dijalani selamanya.
Menikah bukan perihal sekarang atau nanti. Tapi menikah adalah soal menghabiskan sisa waktu bersama.
Menikah bukan soal kapan, tapi sudah tepatkah dia yang kita pilih.
Jika sampai saat ini kita masih saja sendiri. Bukan kita terlambat, tapi kita hanya membutuhkan waktu yang tepat.
Kita hanya butuh sedikit santai dan menerima.
Sebagai wanita kita memiliki harapan yang sama tentang menikah. Tak ada yang beda, hanya waktu kita saja yang berbeda.
Saat kebimbangan-kebimbangan perihal menikah menghampiri kita, positif saja.
Mungkin Allah ingin memberi kita waktu itu memperbaiki diri. Memberi kita waktu untuk memenuhi mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Allah ingin kita bersabar. Tak perlu resah. Allah selalu memberi jalan untuk mempertemukan.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Perihal menunggu atau mencari pasangan, ayat di atas selalu menjadi pengingat kita untuk selalu dan selalu memperbaiki diri dan mempersiapkan diri lebih baik.
Setiap kita menginginkan jodoh yang baik imannya dan baik perangainya. Untuk mendapatkan yang baik hati baik budi tentu kitapun perlu memiliki sifat tersebut. Karna Jodoh merupakan cerminan diri kita. Apabila kita saat ini tengah memperbaiki diri menjadi lebih baik, jodoh kita pun sama, ia tengah memperbaiki dirinya. Sehingga ketika kita bertemu kita sudah siap untuk bersama.
Terkadang kita mencintai seseorang, telah melakukan yang terbaik untuknya, namun masih saja merasakan bertepuk sebelah tangan. Seringkali kita lupa, meminta kepada yang menciptakannya, Allah. Seperti kisah Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf, “ ketika Zulaikha mengejar cinta yusuf, Allah jauhkan Yusuf darinya, namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf kepadanya”.
Terlepas dari berbagai makna pernikahan, yang seharusnya yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaiki diri. Sampai tiba waktunya, Tuhan akan mempertemukan dia yang dipilihkan untukmu menikah dengannya.