Sepotong kalimat yang berasa mengena sekali, mengingatkanku pada satu keputusan yang pernah ku ambil di masa lalu.
Sebenarnya thread ini konteksnya lagi me-review buku Broken Strings, tapi pengen aja ku simpen di sini :")
Sudah 4 tahun lalu, tapi semuanya masih lekat. Sebuah kata "Tidak" yang memantik amarah besar orang terdekatku. Dan setelahnya, ternyata dalam waktu yang lama, membuat hubungan kami begitu dingin.
Aku ingat bahwa kala itu aku tidak menjelaskan dengan argumen yang bisa diterima oleh logika, mengapa pada akhirnya aku memutuskan tidak. Sulit bagiku untuk menjelaskan sesuatu yang letaknya ada pada rasa, yang kala itu, aku pun tak bisa dengan mudah menerjemahkan dalam bahasa yang mudah mereka pahami.
Hari-hari yang kulewati pada saat itu rasanya penuh tekanan. Ada kecemasan yang kupaksa untuk kunyamankan. Ada kekhawatiran yang sebelumnya tidak pernah ada. Aku tidak bahagia. Aku merasa terjebak di satu lubang dan kesulitan keluar.
Sampai akhirnya, aku mengumpulkan kekuatan untuk keluar dari lubang itu. Karena aku tau, hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku sendiri. Tentu turbulensinya luar biasa. Tapi setelahnya, aku merasa lega. Meski dihujani dalil yang bertubi-tubi, yang membuatku merasa buruk, aku tetap kukuh pada keputusanku. Aku tidak goyah.
Aku yakin Ia akan datangkan yang menghadirkan ketenangan, yang menguatkan keimanan. Meski aku tidak tahu kapan waktunya.., aku ridla atas setiap rencanaMu untukku:")