Jakarta Tengah Malam: Pertemuan Pertama
âHalo Put, lo lebih suka cowo aroma mint atau apel?â
Di ujung telepon Putri hanya terdiam. Mungkin dia sedikit kesal dengan pertanyaan gue yang agak nyeleneh.
âKalo gue sih sukanya mint, engga tau sih kalo doiâ.
Kalimat itu makin menyakinkan gue untuk mengambil shampo beraroma mint. Selama ini, gue yakin dengan pilihan Putri, bukan cuma karena dia sahabat gue semenjak SMA, tapi juga karena gue yakin dengan selera tingginya dia.
Di keranjang belanjaan sudah ada shampo, parfum, mouthwash, dan beberapa bungkus rokok. Biasanya keluar toko ini gue hanya membawa sebungkus rokok, tapi untuk kali ini penjaga kasir cukup kaget dengan barang belanjaan yang gue bawa. Dengan tampilan yang berantakan, penjaga kasir hanya menatap seakan kurang yakin dengan barang belanjaan yang gue akan bayarkan.
âTotalnya 85 ribu masâ.
Dengan tatapan kosong, gue keluarkan selembar 100 ribu dari dompet kulit pemberian nyokap. Bersama beberapa kantong plastic isi barang belanjaan, dengan cepat gue tinggalkan took itu dan memacu Kijang Innova secepat mungkin.
âAh kan lupa kembaliannya. Lumayan 15 ribuâ.
Tatapan kosong itu membuat gue kehilangan uang kembalian. 15 ribu adalah jumlah yang cukup besar untuk seukuran anak rantau. Dengan agak kesal dan menyesal, gue parkir mobil di depan pagar dan masuk ke rumah.
âBelanja apa man? Tumben banyak, biasanya cuma beli rokok?â
Karena kasus uang kembalian yang masih membuat gue kesal, pada akhirnya pertanyaan nyokap itu hanya gue diamkan. Di kamar, beberapa baju kebanggaan beserta kemeja sudah terpajang rapih. Shampo dan mouthwash dengan segera gue bawa ke kamar mandi. Berkali â kali gue mencuci rambut dan berkumur untuk menyakinkan bahwa gue sudah siap tampil percaya diri. Â Di kamar, tidak ketinggalan parfum dengan wangi baru gue semprotkan ke seluruh tubuh. Celana jeans dan kemeja yang baru gue beli kemarin dengan menghabiskan uang tabungan makin membuat gue percaya diri.
Sebenarnya, sebelum ini belum pernah gue repot buat penampilan kayak gini. Ini semua karena keberanian gue buat mengajak Nira jalan keluar. Nira itu seorang perempuan karir, walaupun umurnya terlampau lebih tua dari gue beberapa tahun, namun dia sudah bekerja di sebuah perusahaan fashion di Jakarta. Kenapa gue bisa kenal dia? Karena dulu berkat om gue yang bisa masukin gue magang 6 bulan di perusahaan yang sama dengan Nira. Kata om gue dulu, biar gue bisa tahu gimana rasanya cari uang. Maklum, kuliah gue agak sedikit berantakan heheheâŠ
Sekarang gue tinggal menyelesaikan skripsi. Karena sekarang lagi libur semester, maka gue bisa pulang ke Jakarta dengan harapan bisa ketemu Nira. Ternyata, Tuhan itu tidak tidur. Di malam ulang tahun perusahaan, gue datang dengan label bekas anak magang dan sedikit reuni dengan teman â teman kerja. Disana, Nira juga menyapa gue dengan hangat. Seperti tidak ada apapun diantara kita, semua mengalir. Padahal, ada sesuatu di hati gue buat Nira. Di akhir acara, ketika Nira hendak menuju mobilnya, gue beranikan diri untuk menghampiri dia.
âMau jalan engga? Mumpung gue di Jakarta nihâ.
Berani kan gue? Padahal sih gugup setengah mati.
âAyo, kapan? Lo mau ajak gue kemana?â
Lampu hijau. Itu menurut gue. Dan disini lah gue. Dalam perjalanan menuju kantor Nira. Walaupun jalanan Jakarta membuat banyak orang cemberut, mungkin hanya gue yang masih bisa tersenyum. Padahal, AC Kijang Innova tahun 2005 ini tidak terlalu dingin, tapi beberapa tetes keringat dingin keluar dari telapak tangan. Gue gugup setengah mati.
Tiba di depan kantor Nira. Gue ingat, dulu waktu magang gue sering makan ketoprak di depan kantor. Kata Nira, itu ketoprak yang paling enak di daerah Jakarta Selatan. Walaupun menurut gue enak, tapi harganya mahal. Gue sengaja menunggu Nira di depan kantor. Gue tidak mau terlihat oleh teman â teman kantor kalo mau jalan sama Nira. Gue takut, nanti tersebar berita ini ke seluruh isi kantor. Maklum, orang kantor banyak yang menaruh hati sama Nira.
Jam 18.30 dan Nira masih belum terlihat. Namun, seketika dari lobby kantor ada seorang perempuan menggunakan heels dan kemeja cokelat khas karyawati. Cantiknya itu membuat tatapan ini kosong.
Namun, Nira langsung mengetuk pintu mobil gue dan masuk ke dalam.
âHey Salman, tadi gue agak lupa sama mobil lo. Mau kemana kita?â
Gue gugup. Gugup setengah mati.