Merajut Kesembuhan di 2016
Selama beberapa bulan mulai dari pertengahan hingga menjelang akhir tahun 2016 ini, saya rasa orang-orang dan teman-teman yang sedang membutuhkan bantuan saya tengah merasa gondok. Hal ini saya rasakan bukan tanpa alasan atau cuma sekedar dugaan. Meski tidak pernah ada yang mengutarakannya secara langsung, tapi dengan apa yang saya lakukan sudah cukup memberikan fakta bahwa saya mengecewakan dihampir sepanjang tahun 2016 ini.
Sejak September lalu saya sudah pindah merantau ke Ibukota, kota terpadat di Indonesia dengan dinamikanya yang sangat riuh. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kenapa saya sampai bisa meneruskan pendidikan S1-Farmasi saya di Metropolitan dengan biaya tinggi. Salah satu dan terbesarnya adalah faktor “noda” yang sebelum sampai tahap ini telah berhasil saya tuangkan pada kanvas kehidupan, atau kita semua lebih familiar dengan sebutan karma atau timbal balik semesta. Bagi saya, hidup di Jakarta bukan impian ataupun keinginan, justeru saya habis-habisan menghindarinya. Tapi ketika semua jalan sudah tertutup dan hanya di Jakarta sebuah kemungkinan terbuka, maka saya harus berani mengambil kesempatan yang sedikit tersisa.
Hidup selama tiga bulan di Jakarta, bukanlah suatu hal mudah, bukan suatu hal yang menyenangkan, tapi tidak menyedihkan. Saya rasa Tuhan mengirim saya untuk memasuki masa introspeksi dan pembenahan diri yang sebenar-benarnya. Saya menjadi seutuhnya seorang pemuda rantau di Metropolitan dengan hanya bermodalkan tekad impian dan pertemanan. Menjadi seorang anak yang lebih dekat dan memperhatikan Bapak-Ibu di rumah, karena lebih terasa susah-senangnya berjuang serta lebih sering mendengarkan diskusi mereka untuk memperjuangkan keuangan bagi kuliah saya. Jaringan pertemanan yang luas harus terus dibangun dan dibentuk untuk bertahan hidup dari arus dan kesepian, serta dapat merasakan kekeluargaan di beberapa persinggahan. Dan soal persahabatan dengan orang-orang paling dekat, yang tetap tersambung meski berjarak puluhan kilometer. Nyatanya saya masih tetap bisa menghitung sahabat-sahabat terdekat saya yang bertahan untuk menjaga keutuhan persaudaraan sampai selamanya, and i get it!
Hidup di Jakarta, adalah rasa syukur yang saya terus ucapkan setiap hari disini. Tapi tentu tak semudah itu. Jakarta adalah tempat saya tinggal dan meneruskan perjuangan hidup, untuk berpendidikan dan untuk sembuh. Hal yang akan saya paparkan ini yang menjadi penyebab saya banyak tidak menepati kesanggupan saya dalam membantu keperluan dan permintaan tenaga dari teman-teman. Selama dari bulan Juni-Desember 2016 ini saya sedang belajar untuk sembuh dari sebuah kejadian trauma. Saya beberapa kali menemui psikolog, dan saya sedang terus melakukan self healing dari saran-saran mereka. Saya tidak mau pergi ke psikiater dan berujung pada konsumsi obat-obatan. Cukuplah saya mencari perdamaian dengan diri dan masa lalu saya sendiri, meski tak jarang semalaman atau seharian harus menangis ketika akar trauma itu tersentil sedikit. Tak jarang pula dalam seharian atau dua-tiga hari saya tidak keluar kamar untuk tidak melakukan apa-apa ketika kepala saya terasa berat dan penuh kejadian-kejadian. Juga ketika beberapa malam saat kaki dan kepala saya merasa sangat sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa diatas kasur sampai jam tiga pagi.
Selama di Jakarta, awalnya saya linglung untuk kemana dan melakukan apa agar kembali produktif. Mencoba memasuki komunitas puisi yang menjadi kecintaan saya, tapi tak jarang di tengah jalan semangat saya dilumpuhkan oleh mental saya. Setiap harinya selalu mencoba merapal dan kembali mempelajari soal kepercayaan saya, mendekatkan diri. Hal ini paling ampuh katanya, tapi saya belum mampu melakukannya dengan benar dan istiqomah, mungkin disini letak ketidakmaksimalan fungsinya. Saya menjadwalkan untuk selalu “kabur” di penghujung minggu untuk menjelajahi ketenangan, tapi yang saya dapatkan tak jarang adalah kelelahan. Dalam semua yang saya lakukan selama enam bulan dan tiga bulan terakhir ini, saya sangat lelah. Maka dari itu, saya sampaikan kedalaman maaf untuk teman-teman yang meminta bantuan untuk tenaga dan pikiran saya dalam berbagai project dan keperluan kalian. Saya Cuma belum bisa. Karena untuk membantu dan menyembuhkan diri saya sendiri, saya masih terus meraba-raba dan mencoba segala hal dalam setiap kemungkinan-kemungkinannya.
Tapi, saya sebagai salah satu dari orang-orang yang menderita mental disorder atau mungkin saya baru bisa disebut dalam kategori ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan). Saya tidak memiliki pilihan lain selain terus bergerak, terus mencoba, terus memahami, dan terus berkarya. Karena karya yang akan saya ciptakan dalam keadaan saya yang seperti ini mungkin dikemudian hari akan menjadi catatan pelajaran bagi saya dan banyak orang. Meski dalam proses berkaryanya akan banyak hal yang mendukung dan menghalangi, tak terkecuali sendatan dari kesehatan mental saya sendiri. Yang saya tahu, saya cuma perlu terus berjuang menghalau setiap penghalang dari ketakutan dan kesakitan masa lalu. Dan saya sampaikan kedalaman maaf saya lagi, bahwa saya belum mampu untuk membantu kebutuhan teman-teman seperti dulu, karena saya harus membantu diri saya terlebih dulu.
Dalam sepanjang tahun 2016 ini, sungguh akan menjadi tahun yang sangat luar biasa berisi tebakan dan tantangan bagi saya. Memaafkan, perjuangan, berkarya, berdoa, mengasihi dan memahami, adalah kata kerja yang selalu saya ulang di setiap harinya. Tapi dengan segala yang telah terjadi, saya bersyukur bahwa dengan ini saya bisa belajar memperjuangkan dan menghargai diri sendiri. Dalam enam bulan ini, saya masih terus belajar mencintai dan membantu diri saya sendiri. Karena sebelum keadaan ini, saya banyak memprioritaskan cinta dan kebutuhan orang lain. Mungkin terpikir seakan-akan saya jadi egois, tapi mencintai dan memperjuangkan diri sendiri tidak melulu menutup mata soal orang lain. Saya masih harus menemukan apa yang menjadi kebutuhan saya dalam hidup sebagai Desun, sebagai hamba, sebagai anak, dan sebagai calon istri. Sebelum saya menemukan poin-poin penting saya, maka saya tidak akan bisa maksimal dan tulus dalam memberi pertolongan bagi kebutuhan banyak orang.
Terima kasih, teruntuk segala pelajarannya.