Kepalaku, baru saja terbentur harapan yang mulai kopong. Berbentuk, namun tak memiliki isi apapun. Seorang pria baru saja menceritakan hari-hari bahagianya bersama seorang perempuan yang ia sayang.
Ia bercerita dengan sumringah, raut muka bahagianya, kemeja hitam dengan sarung kesayangannya.
"Ta, lu tahu gak. Pas gua senyumin dia balik, dia balik senyum. Pas gua chat, dan ngasih dia semangat harian, dia mesti bales, terus-terus, kemaren gua kasih dia cincin, dia Terima juga. Gua bahagia banget hari ini. Gua bakal bilang ke seluruh dunia. Kalau besok bakal jadi hari terbaik, di hidup gua. " Ucap pria itu.
"Ben, gua gak nyangka. Lu bakal se-antusias ini. Sama apa yang udah lu jalanin sama nadhira. Tapi, inget ini baik-baik. Jaga dia, dan menurut gua ya. Bukannya agak terburu-buru ya. Maksudku, gini ben, dia masih muda, dia juga punya impian, Cita-cita yang mungkin aja pengen dia wujudin, dan yang gua tahu. Nadhira juga masih bimbang sama masa depannya sendiri, gua takutnya ya, orang-orang yang belum selesai sama dirinya sendiri, malah bikin lu, tambah tak lupa diri. " Kata uta.
Tiba-tiba ben mengepalkan tangannya, lalu "Bam!" Tinju mentah, menghantam pipi uta. Pria itu mengerang kesakitan, sambil memegangi pipinya.
"APA SIH, PENGECUT LU. MAJU SINI, LU, TA. " Teriak ben.
"Bilang aja, ta. Lu masih sayang kan, sama dia. Sampe-sampe lu seperduli ini sama dia. Padahal dia tuh, bukan siapa-siapa lu. Inget ini baik-baik. Lu, sama motor butut lu itu, wajah pas-pasan lu itu. Bisa apa? Lu gak sebanding sama gua. Gua lebih punya segalanya, daripada lu. " Cela ben.
"Ben, gua gak pernah sedikitpun naruh harapan ke nadhira. Lagipula, sejak awal dia cuman mandang remeh gua. Jadi, buat apa gua sayang sama orang yang bahkan ngehina segala yang gua milikin. Motor gua emang butut, tapi motor ini dari ayah. Dan ayah udah berusaha sangat keras untuk beli motor ini. Dan gua gak akan pernah Terima, seorang pun mandang rendah pemberian ayah. Ayah ngerelain banyak hal yang mungkin aja di pengenin demi gua. Dan, nadhira, nadhira natap sebelah mata nih motor. Dan, gua terluka karena itu. " Jawab uta.
"Gua, gak sayang lagi sama dia. Bukan karena diri gua. Tapi, karena dia yang gak pernah milih gua. Dan buat lu, gua cuman mikirin lu, gua takutnya, lu bakalan patah hati, setelah semua ini. Yang cuman ada di kepala lu. Gak kejadian di dunia nyata. Oh, ya. Dan nih pipi, nih pipi jadi saksi, seberapa tempramentalnya diri lu. Gua pamit. Dan semoga kalian langgeng. "
"Daaa." Sambung uta, sambil melambaikan tangan, lalu beranjak pergi.