Takut mati?
Kehamilan kedua menjadi kehamilan yang paling menakutkan bagiku. Sepanjang kehamilan hingga persalinan, aku terus dihantui ketakutkan akan kematian. Membayangkan jika ternyata melahirkan anak kedua menjadi saat terakhirku di muka bumi. Mentalku benar-benar hancur di kehamilan kedua ini. Tak hanya takut kematian tapi juga dipenuhi rasa bersalah pada anak pertama karena menjadi tidak optimal merawatnya serta pada janin karena ibunya ini memiliki kondisi psikologis yang benar-benar labil saat mengandungnya. Takut dia menjadi tak baik juga kondisinya.
Kematian seperti apa yang ku takuti? Yaah, menghadapi sakitnya proses persalinan membuatku takut. Tapi yang paling membuatku takut adalah membayangkan anak-anakku hidup tanpa ibunya 😭
Bayangan itu terus menghantuiku. Bagaimana anakku bisa melewati harinya? Mereka kehilangan tempatnya berpegang, tempat mereka bisa menumpahkan segala perasaan mereka. Aku merasa, hanya aku yang bisa benar-benar menyayangi mereka. Tidak ada yang bisa menyayangi mereka sebesar diriku. Bagaimana mereka akan melaluinya? Membayangkannya menangis semalaman mencari ibunya untuk menyusu. Membayangkan mereka menangis saat berangkat sekolah karena tidak diantar ibunya. Membayangkan mereka harus diasuh orang lain yang tidak mau mendengarkan keluh kesahnya. Menangis pada ayahnya karena tidak bisa menguncir rambutnya. Menangis pada hari ibu karena tidak punya ibu. Ya Allah, semua bayangan itu benar-benar menyesakkan.
Setiap kali aku bercerita pada si kakak tentang nanti aku akan pergi beberapa hari untuk melahirkan dan berjanji akan kembali bersama adik, langsung terlintas di benakku, bagaimana jika aku tidak kembali? Kasian si kakak pasti akan menunggu. Aku seketika menjadi ibu jahat karena tak menepati janji. Setiap saat ketakutan itu menghantui, badanku jadi gemetar, jantungku berdebar, dan aku menangis tersedu-sedu begitu lama. Susah sekali rasanya menjadi tenang. Bahkan dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk bersalin, aku menangis sepanjang jalan. Saat meng-dadah anakku, air mataku mulai menetes tak terkontrol. Bagaimana jika aku tak kembali? Akankah anakku baik-baik saja? 😭
Sepanjang proses persalinan. Saat kontraksi mulai aktif dan nyeri hebat menghampiri, sering muncul pikiran “lebih baik sekalian mati saja” tapi saat pemikiran itu muncul, aku lalu mengingat wajah anakku, si kakak dan mulai mensugesti diri “kuatlah, kuatlah, bertahanlah, kakak menunggumu pulang bersama adiknya. Mereka membutuhkanmu”. Baru disaat itulah aku bisa tenang, hanya berusaha mengatur napas dalam-dalam agar nyerinya bisa dikuasai. Hingga akhirnya si adik lahir. Dan aku sadar aku masih hidup, rasanya lega sekali. Aku masih ada, nak. Meski setelah bersalin dan saat proses dibersihkan oleh bidan, tiba-tiba seluruh tubuhku tremor hebat, aku tidak bisa mengontrolnya. Ketakutanku datang lagi, ada apa ini? Ada apa dengan tubuhku? Apakah aku baik-baik saja? Hingga sekitar setengah jam tubuhku terus bergetar. Dalam hati aku hanya berharap semoga semua baik-baik saja. Semoga ini bukan pendarahan. Hamdalah, aku baik-baik saja. Hari ini alhamdulillah anakku sudah sebulan. Alhamdulillah, i did it. Alhamdulillah
Ini bukan pertama kalinya aku takut mati. Setiap hari aku takut pada kematian. Takut sendirian di alam kubur, takut disiksa tak mampu menjawab malaikat, takut pada siksa neraka. Namun aku tak pernah setakut ini, takut mati dan meninggalkan anak-anakku tanpa ibu. Aku hanya berharap, Allah memberiku hidup setidaknya hingga anak-anakku tidak membutuhkanku lagi.
Meskipun sekarang saat lagi emosi dan kelepasan melampiaskan ke anak suka kepikiran, mungkin mereka justru akan lebih baik jika tanpa aku :”)















