Merayakan Tahun Baru Masehi atau Tahun Baru Islam?
Siapa sih yang tidak tahu kapan tahun baru masehi itu? Siapa sih yang tidak merayakan tahun baru masehi? Yah, memang sebagian besar manusia di bumi pasti tidak akan melewatkan momen yang hanya terjadi sepersekian detik dalam satu tahun. Orang-orang berbondong-bondong keluar rumah untuk mencari keramaian. Mereka menghabiskan malam yang panjang dengan suka cita. Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang agar momen yang langka itu tidak terlewatkan dengan mengenaskan. Banyak yang mengisi malam perayaan dengan berkumpul, menikmati sajian konser musik, melakukan travelling dan masih banyak yang lain.
Jika kita berpikir sejenak, berapa jumlah uang yang harus dihabiskan untuk satu malam itu? Pasti bukan dalam jumlah nominal yang kecil, mengingat di berbagai daerah dapat dipastikan akan ramai dengan nyala kembang api. Tidak tanggung-tanggung kembang api yang disiapkan untuk perayaan malam itu, di negara Australia saja menghabiskan bermilyaran hanya untuk pesta kembang api. Bayangkan saja jika uang itu dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang pasti uang tersebut tidak akan terbakar dengan sia-sia.
Orang-orang berbondong-bondong keluar rumah untuk mencari hiburan dengan dalih merayakan pergantian tahun baru ya harus dirayakan. Coba kita tengok sedikit ke jalan-jalan di mana perayaan berlangsung. Ribuan, bahkan jutaan kendaraan turun memadati jalan-jalan di perkotaan. Seperti semut yang berbaris tak teratur. Mobil, motor, angkutan dan masih banyak yang lain ikut dalam keramaian itu. Bukan sebuah hiburan yang mereka dapatkan, melainkan rasa sebal karena terjebak di tengah macet yang luar biasa. Butuh waktu berjam-jam untuk kondisi jalan normal kembali. Sekali lagi, mari kita pikir. Berapa juta liter bahan bakar yang digunakan orang-orang dalam kemacetan itu? Alangkah tidak bijaksananya ketika kita melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat kepada kita.
Sebagai seorang muslim, apakah islam mengajarkan kita untuk berhambur-hamburan merayakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bagaimanakah pendapat Rasulullah ketika melihat ummatnya melakukan sesuatu yang kurang bermanfaat seperti itu? Melihat fenomena tersebut, berikut sedikit penjelasan mengenai sejarah dan pandangan islam terhadap tahun baru masehi.
Sejarah Tahun Masehi
Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.
Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.
Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristiani. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.
Bagi orang Kristiani yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
Pandangan Islam
Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya:
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur” (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah). Menurut Ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130). Jelas dari pada ayat ini Allah melarang kaum muslimin menghadiri perayaan kaum musyrikin.
Hadis Sahih al-Bukhari dan Muslim berikut ini, sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita”.
Oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan). (Fathul Bari, 3/371).
Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “haram” untuk dilewatkan. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru”. Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
Sahabat Abdullah bin ’Amr RA memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234:
”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
Sungguh sangat berbeda antara tahun baru masehi dan tahun baru hijriah. Tahun baru masehi yang identik dengan keramaian dan penuh dengan berfoya-foya berbanding terbalik dengan peringatan tahun baru islam (hijriah). Apakah orang-orang banyak yang tahu kapan itu tanggal tahun baru islam? Apakah mereka juga merayakannya dengan gegap gempita? Yah, bisa dijawab pasti hanya sebagian kecil saja.
Kenapa dalam malam pergantian tahun baru islam itu cenderung sepi? Apa yang salah dengan malam itu? Tidak ada yang salah dengan pergantian tahun itu, hanya saja, yang berbeda adalah orang yang merayakan dan cara mereka merayakannya. Sebagai seorang muslim yang baik, sudah sepatutnya melakukan apa yang sudah diajarkan agama kepadanya. Dalam islam, seorang muslim diajarkan merayakan pergantian tahun baru dengan cara yang baik dan benar. Dalam islam disunnahkan untuk mengisi momen itu dengan banyak berdoa kepada Allah, banyak berdzikir kepada Allah. Sebuah cara yang sangat tepat dilakukan, diperlukannya sebuah muhassabah (perenungan) akan perbuatan kita yang telah kita lakukan satu tahun yang lalu. Kemana kah arah diri kita, menuju ke arah yang lebih baik ataukah malah menjauh dari hal-hal baik. Kita perlu mengetahuinya untuk kita berpijak di tahun yang baru.
Memang dalam perayaan tahun baru islam, suasananya terlihat sepi dan biasa saja. Hal ini dikarenakan orang-orang merayakannya dengan bertafakur dan beriktikaf dalam rumah-rumah Allah. Mereka lebih suka menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada mendekatkan diri mereka kepada keramaian yang akan mendatangkan kemudhorotan (bahaya). Alangkah bijaknya ketika kita sebagai agen islam, tetap memegang teguh ajaran keislaman dengan baik dan benar tanpa harus ikut-ikutan melakukan apa yang banyak orang lain lakukan.
Thinking again about what will you do!