Stories 130 : jurnal bersyukur
7 September 2025 pukul 11.39 disaat proses blood moon atau gerhana bulan merah, ada satu artikel menarik yang ku baca, bahwa kejadian langka ini bisa menjadi momen refleksi diri yaitu hal apa aja yang patut disyukuri dan hal yang harus kita relakan.
refleksi ini aku tuliskan di jurnal ini supaya kelak bisa menjadi sebuah catatan kelak untuk anakku saat mungkin aku tidak berada disampingnya.
9 bulan berjalan di tahun 2025 ini, di bulan september, bulanku lahir.. ku akui seperti bermain wahana roller coaster. Banyak rencana yang harus diubah bahkan direlakan. Selama ini hidupku terasa cukup mudah, dimana aku bisa seimbang perannya di rumah, di kantor, dan sebagai diri sendiri. Faktanya, saat ini aku harus berusaha menyeimbangkan semuanya, dan ada banget rasa lelahnya.
Well... berikut 5 hal yang patut disyukuri saat ini :
support system ku selalu yang terbaik. Aku punya papa mama yang luar biasa supportif-nya. 9 bulan terakhir ini, aku sering mellow, apalagi kondisiku sekarang jauh. aku selalu berdoa semoga Allah berikan panjang umur dan kesehatan bagi mereka berdua. rasanya kok aku seringnya ngerepotin ya, daripada kasih kebahagiaan sebagai anak yang baik? Saat ini, aku juga dibantu oleh bujingku.. aku seringkali merasa gak enak, tapi aku tahu ketulusannya sedemikian besar untuk anakku.
kesehatan yang cukup baik. pasca operasi sinus, saluran pernafasanku cukup sensitif dan alhamdulillah proses transisi hidup di medan dan dibanda aceh cukup tidak membuat sinusitisku kumat terlalu sering. belum lagi alergi... well, ada masa dimana aku berasa "sesak" setelah menyantap kuah belangong... yang selama ini aku gak apa-apa makan sayur nangka, entah apa yang salah sampe aku berasa alergi kumat setelah konsumsi beulangong. beginilah kehidupanku sebagai pejuang alergi dan sinus! tapi, udara disini kuakui lebih bersih dibandingkan Medan.
sahabatku terbaik. Aku dikelilingi sahabat yang baik, yang mau dengerin ceritaku 7/24 kapan aja, yang bisa memarahiku dengan keras ketika aku terlalu keras pada diriku sendiri, atau overthinking atas kehidupan yang kujalani. pada akhirnya, ya aku manusia biasa ya.
bergabung dengan komunitas ruang perempuan. Pertama kali dengar istilah stoikis dari Henry Manimpiring di buku Filosofi Teras, disaat aku berasa hopeless dengan perjalanan program hamilku.. dan saat ini aku bergabung dikomunitas ruang perempuan, dimana kami semua berjuang untuk membangkitkan energi feminin. Ku sadari, duniaku dikelilingi dunia maskulin. Ibuku yang lebih berperan besar atas keputusan-keputusan dalam hidupku, termasuk masalah jodoh. Sampai detik ini, aku percaya apapun keputusanku dengan mempertimbangkan pendapat orang tuaku itu adalah yang terbaik. Ridho Allah ada di Ridho Orang Tua kan? Well, tapi disini aku belajar memaafkan, karena orang tuaku juga manusia biasa, yang pasti punya kesalahan, termasuk kesalahan pendapat yang bisa aja gak cocok untuk diriku sendiri. Dalam komunitas ini, aku belajar untuk menyelami diriku sendiri untuk menjadi manusia baru yang lebih baik. Dampaknya, aku bisa lebih tenang dalam menghadapi sesuatu, walau tentu saja ada momen-momen ledakan emosi yes? namanya juga masih belajar
mulai mendekatkan diri pada Allah. Aku selalu bertanya-tanya kenapa Aceh menjadi lokasi mutasiku? Aku sadari aku termasuk manusia yang gak alim-alim banget, kadang sholat masih suka bolong, ngaji gak pernah, hapalan surat banyak lupa.. padahal dulunya aku anak TPA 6 tahun dan sempat banyak hafalan quran. Well, mungkin ini momen yang aku harus syukuri. Aku berada di bumi serambi mekkah, yang bahkan ketika magrib semua toko harus tutup! ruangan kerjaku disebelah mesjid yang berdampak aku sering sholat wajib jamaah. Nikmat mana lagi yang harus kudustakan ya kan? Allah juga berikan kemudahan keluargaku untuk ikut pindah kesini. Hanya 6 bulan kami terpisah jarak. Allah begitu sayang, kenapa aku tidak bersyukur?
Itulah lima hal yang patut aku syukuri saat ini. Hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian. Semoga Allah selalu memberikan kenikmatan tersebut untuk selalu kupeluk. Semoga Allah menjaga orang-orang yang kusayangi dan memaafkan ku yang pasti punya segudang dosa, baik yang kusadari maupun tak kusadari.
Well, sebentar lagi 36 tahun harusnya aku sudah siap dipanggil dengan sebutan "ibu" ya? hahaha














