Pernikahan masih seumur jagung, anakpun belum genap setahun, lantas apa yang bisa saya katakan tentang pernikahan?
Tapi saya selalu bersyukur telah bersuamikan dia yang selalu memilki pola pikir dan idealisme tidak seperti manusia pun lelaki kebanyakan.
Saya juga dengan senang hati mengucapkan terimakasih pada Ibunda yang telah dengan berhasil mengandung dan membesarkan anak sehebat dia.
Beberapa orang mungkin akan dengan skeptis menilai, "ah pantas saja masih memuji-muji suami, nikah juga baru kemarin". Tapi saya tidak akan berkecil hati apalagi mendengarkan omongan-omongan skeptis macam itu.
Saya tetap dengan pendirian saya (InshaAllah), bahwa saya bangga, saya bersyukur dengan perbedaan yang kami miliki. Mungkin inilah yang sering ibu saya bilang sebelum saya memutuskan untuk menikahinya, tentang bakti seorang istri terhadap suami.
"Nduk, wong lanang iku nggak ono sing gelem kalah. Dadi wong wedok iku kudu iso luwih legowo" (Anakku, lelaki itu tidak ada yang mau kalah. Jadi perempuan itu harus bisa lebih besar hati).
"Nduk, jenenge wong loro, sirah e ono loro, isine yo ono loro, ora bakal iso podo. Wong wis kawin kudu iso golek jalan tengah e, kudu iso rundingan. Lek sing siji lagi panas, sing sijine kudu adem. Ora iso loro karone panas. Buyar engkuk". (Anakku, namanya juga dua manusia, kepalanya ada dua, isinya juga ada dua, nggak bakal bisa sama. Orang sudah menikah harus bisa mencari jalan tengah, harus bisa rundingan. Kalo yang satu sedang panas, yang satunya harus dingin. Enggak bisa dua-dua nya panas. Nanti berakhir).
Dan masih banyak lagi pesan-pesan Ibu yang sering kali Ibu lontarkan tanpa sadar tapi begitu masuk dalam hati dan pikiran saya.
Jauh dalam hati saya, saya masih ingin berkembang. Saya masih ingin belajar banyak hal. Saya masih ingin menjadi hebat. Tapi di satu sisi yang lebih dominan, saya memiliki suami dan buah hati yang masih sangat membutuhkan peran saya secara utuh.
Teringat percakapan semalam dengan Ayah Dira (baca: suami):
Me: Mas, aku kuliah lagi ya? Ambil tugas belajar dua tahun, trus biayanya nyari beasiswa?
Him: Trus? Nggak kerja selama dua tahun gitu? trus digaji?
Him: Kalo kamu mau kuliah lagi, silahkan. Tapi selama kamu dapet gaji tapi kamu nggak kerja, jangan ya.
Dan perdebatan panjang setelahnya.
Mungkin tidak semua lelaki/suami memberikan alasan serupa.
Idealisme saya vs idealisme suami, selalu menjadi topik yang sangat saya favoritkan untuk didiskusikan maupun dikenang.
Dia selalu saja memberikan opini-opini yang mengejutkan.
Tapi, saya yang sekarang, entah sejak kapan, saya lebih mau mendengarkan, saya lebih mau menurut jika itu suami saya yang mengarahkan.
Padahal, saat saya masih sebagai anak, jarang saya menurut bahkan sangat sangat keras kepala pada orang tua (Duh, saya durhaka. Semoga Dira nggak seperti saya nanti, Ampun Amah Ampun Ibu).
Ya. Itulah. Salah satu usaha saya untuk menjalankan peran sebagai istri. Memendam, eh bukan memendam melainkan menomor-sekian kan apa-apa yang sangat saya inginkan jika terbentur dengan persetujuan suami. Tapi untunglah suami saya selalu memberikan alasan yang logis dibalik penolakan atau pemberian ijinnya untuk saya. Jadi, saya bisa lebih legowo menghadapinya.
Kalaupun dia tidak memberikan alasan yang logis atas penolakan/pemberian ijinnya, saya tetap melaksanakannya, walaupun dengan awal yang berat sembari pelan-pelan melupakan.
Well, itulah kurang lebih yang dirasakan pasangan muda yang pernikahannya baru seumur jagung.