kamu tak perlu jadi apa-apa, cukup jadi manusia.
seperti ketika aku menghitung bintang dan sekejap tak ingat betapa banyaknya, seperti ketika aku tersendu akan kematian diriku sendiri. dan beberapa kali aku melihat sebagian diriku yang satu persatu terjun di atas jurang—terbang menuju lubang kematian dan seakan tidak akan kembali lagi.
aku telah mati. malam ini. aku telah mati. akankah bebas? akankah abadi?
namun aku dibunuh. aku terbunuh. kepalaku terkoyak. aku hancur berkeping—tak berupa lagi. tak ada kedamaian. hanya kesakitan. akankah abadi?
dalam kafe yang hangat itu aku masih sama dengan diriku yang amat mencintaimu karena kamu begitu jauh dari segala kepingan diriku. kamu kenalkan kembali padaku sebuah negeri cantik jauh dari peradaban yang selama ini aku hirup—yang telah pula mati dibunuh berkali-kali.
aku mencintaimu, dengan oktaf gitar yang tak ku kenal namun kamu peluk erat itu, dengan caramu menemaniku dari mencekiknya sendiri, dengan hangat yang tak pernah aku pahami sebelumnya, dan ia begitu menyambutku—untuk diselamatkan, dari pembunuhan ini.
namun para mayat yang mati akan kembali menjadi bintang. karena mereka masih sama akan satu unsur, yang mampu miliki sinar, melenyapkan kelam yang abadi.
dan dalam kafe hangat itu aku masih sama mencintaimu, karena cukup dengan itu, seakan ada sebuah semesta bilang bahwa aku tak perlu jadi apa-apa, cukup jadi manusia. karena meski ia mati—ia akan kembali menjadi bintang. dan aku ingin menjadi bintang dalam hatimu kelak. dan aku pun tahu—kamu akan begitu menyambutku.
karena itu aku mencintaimu. dan negeri ini cukup menampung koyak-koyakku.





