@wild.natural.ibiza skincare products harmoniously blend hand-picked Mediterranean wild flowers and herbs. www.wild-natural-ibiza.com

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Japan

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@wild.natural.ibiza skincare products harmoniously blend hand-picked Mediterranean wild flowers and herbs. www.wild-natural-ibiza.com
aku kira, kita sama tololnya.
ada seribu retorika perkara mencintai yang barangkali tidak aku baca ketika turun ke bumi. dan hal ini semakin aku percayai ketika aku tumbuh dalam lingkungan yang tidak menghangatkan cinta, hanya meruncingkan pemikiran sendiri-sendiri, hingga aku di buat nyaman dalam dekap di kepalaku sendiri. aku bertanya kepada lampu jalan kota tua itu, seperti sebuah sosok yang memandangku lekat, juga seperti ketika memandang para lautan hidup dalam bisingnya masing-masing. namun aku percaya lampu kota itu telah mengira aku lebih daripada gila untuk percakapan dalam kepala yang mendekapku ketika aku berada di sana.
aku kira, kita sama tololnya, saat itu berbicara soal cinta.
aku tidak mengerti apakah aku mulai memaknai sebuah kawan sebagai pasangan hidup antimenikah—yang kedua di antaranya tidak dijalankan untuk saling mencintai atas nama 'hati'. saat barangkali aku memikirkan untuk mencium sahabat terbaikku sendiri, aku kira aku telah lebih dari ingin untuk muntah. namun sepertinya, aku 'tidak' pernah mengerti batasan nyaman yang mana untuk mengidentitasi dirimu untuk menjadi salah satu 'kawanku yang aku hormati' atau aku sekedar memilih untuk lepas dari semua itu dan menciummu malam itu. saat semua semesta yang kita ciptakan ketika itu penuh hangat dan suka cita yang tidak pernah aku pahami identifikasinya—aku kira aku tolol soal hal ini—dan kamu pun sama tololnya, sepertiku—namun aku kira aku lebih tolol akan hal ini.
saat aku kira kita sama tololnya akan hal ini; namun sepertinya aku lebih tolol untuk ini.
saat aku kira kita sama tololnya akan hal ini; maka aku kira aku kembali menjadi seonggok ketidaktahuan—sendirian—dan tanpa hadir siapapun.
karena saat aku memahami bahwa aku orang yang begitu tololnya untuk berbicara mengenai rasa—dan aku rasa ia pun juga sama tololnya—maka sepertinya aku sendiri yang tersesat dalam jurang pertanyaan tak berdasar ini ketika kamu memilih untuk mencium kawanmu sendiri dan lepas bersama sayap yang membawamu berkelana di sana.
karena kamu memilih meneguk terbang meski ia bercerita soal mencium kawan sendiri.
dan aku akan selamanya berada dalam jurang ketololan ini—sendiri; tanpa hadir siapapun lagi.
dan lampu jalan kota tua itu tertawa terbahak-bahak, mendengarkan perdebatan bodoh tentang sebuah rasa dan kebodohan dalam kepalaku malam itu.
tentang kuncup rasa terima kasih.
itu adalah sore dimana aku berjalan di bawah gerimis bersama temanku. di bawah dilema yang aku gantungkan di antara para lampu kota—aku berjalan dengan segala telingaku yang menyusuri untai waktu; dengan sedikit menuntut kembali hidupku yang harus bagaimana lagi.
aku bimbang; soal apa saja; seperti soal hilangnya bahagia yang tampak terlalu skeptis untuk terlahir kembali.
ada beberapa bagian dari cerita ketika itu yang mengendap di dasar kepala. aku menyadari ada berbagai detik dalam dunia yang begitu rumitnya ketika ia bekerja dalam bilik otakku dan ia selalu terasa seperti ingin menghancurkan dirinya sendiri setiap waktu.
hingga sepertinya; kami berbicara soal rasa terima kasih; yang hendaknya selalu diminta ada.
aku terpikat erat dalam tebing-tebing yang aku terjuni—hingga ketika mereka bilang soal sesuatu yang begitu kentara namun sepertinya telah aku hilangkan pula jejak presensinya—aku begitu benci untuk kembali membuka kamus-kamusku; untuk menelusuri sisa-sisa jejak soal kosakata 'rasa berterima kasih untuk bahagia' .
"kayaknya kita butuh bahagia. misalnya berterima kasih, soal apa saja, seenggaknya yang bisa buat kita senyum lagi."
aku begitu benci—soal diriku sendiri; soal segala hiruk-pikuk dunia; yang buat aku kembali lupa tentang segala hal sederhana soal menjadi bahagia. hingga kembali aku menerjuni soal bagaimana rasa-rasaku bekerja—tentang segala hal—yang setidaknya—kembali buat aku bahagia lagi.
yang sehendaknya; rasa-rasa itu lahir di antara koferensi isi pikirku soal rasa berterima kasih—tentang hal apa saja—tentang se-pragmatis apa saja.
seperti halnya soal buih-buih udara yang masih aku mampu hirup meski dengan segala demonstrasi yang minta aku untuk mati saja.
seperti halnya soal puing-puing air mata yang masih bisa diusap meski dengan beribu pedih soal bekas luka.
seperti halnya soal segala rangkak yang kembali mau aku temui meski tepinya hanya berupa jurang yang menelan.
dan aku sepertinya telah dirundung gilanya skeptika—tentang sebuah rasa dari dasar-dasar jiwa untuk sediakan kembali sebuah waras yang bersahaja—dan ia seperti telah cukup untuk hadir; yang mana lahir dari rasa 'berterima kasih'.
"sudah, berterima kasih saja,"—seperti halnya doa-doa kecil yang tetap hidup dan bercahaya di antara pelik-pelikmu yang paling nyata.
ya, benar. berterima kasih, saja. berbahagia, saja—setidaknya.
ada perkemahan yang hidup di sana
aku seperti dirundung lelap yang dingin setiap malam;
saat aku memilih untuk merayakan hari dengan satu cangkir teh panas dalam ruangan gelapku, aku teringat soal kedai yang sirkulasi cerita-nya saling bersinambung.
aku menatap lelap kedai itu setiap malam. ketika langit mulai redup dan jadi panggung para bintang dan bulan, di saat itu, ada perkemahan yang hidup di sana. mereka saling berbagi unggun yang menghangati; saling memberi tatap yang berharga; dan aku punya memori soal menjadi bebas dalam kepala.
perkemahan itu bagai punyai pentas seni untuk isi kepala para anggotanya. saat meski mereka berada pada dingin yang mengudara, mereka sungguh tidak apa karena ini kembali soal menghangatkan diri bersama unggun. dan unggun itu tampak menikmati habis dimakan waktu.
dan sepertinya; kedai itu tersenyum, saat tempatnya kembali ramai akan cerita—
karena cerita itu; melekat pada bangku-mejanya saat ia hanya tinggal satu kokoh bangunan yang didatang-pergikan. karena cerita itu; selalu dinamis untuk tumbuh dan hilang bersama waktu yang melesat melewatinya. karena cerita itu; adalah bara untuk nyala para api unggunnya. dan karena cerita-cerita itu—ialah sebab masih adanya perkemahan yang hidup di sana.
di saat aku terhempas garis waktu untuk kembali dirundung lelap yang dingin—aku hanya dapat membangun unggunku sendiri bersama satu cangkir teh panas dan satu sudut memori dalam kepala; soal menjadi bebas ketika menjadi bagian dari perkemahan yang hidup di sana.
jika ujung dari cerita ini hanya soal bersenggama
ketika aku berjalan sore itu di dalam suatu konstruksi mall dan melihat pameran aquarium di dalamnya, ada beberapa ikan yang hidup di sana. bagiku, ikan adalah makhluk terbang tanpa udara. mereka merebak sayap di air, berselancar dalam molekulnya dengan bebas, hidup dan bersenyawa di sana. dan aku ingat ikan tidak bersenggama. mereka tidak bersenggama di dalam kebebasan itu. lalu aku mengingat kapan terakhir kali aku percaya tentang konsep suami-istri.
pernah ada sore dimana temanku bilang bahwa konsep pertemanan itu selalu akan berbeda dengan percintaan. ada suatu sekat di sana yang hidup untuk kembali memilah yang mana kasih untuk teman, dan yang mana kasih untuk kekasih. dan mereka masih dipelihara dengan caranya masing-masing. namun ada suatu titik yang berbeda di sini tentang caraku berpikir. saat temanku kira kekasih bukan lagi orang sedekat sahabat yang dapat ia ajak mengitari segala hal tentang apa saja, lantas apakah maknaku beda dengannya saat aku kira mencintai adalah tentang memahami setiap inchi dari apa saja yang ada dalam anggota kisah-kisah sang pecinta—karena konsepku adalah tentang komitmen untuk bersama selamanya? namun aku teringat tentang tidak menikahi sahabat sendiri. saat aku sendiri mulai bertanya mengapa tidak pula dilakukan meskipun itu bukan hal besar yang mustahil?
aku memandang suatu kebersamaan adalah hal paling punya harga mahal di dunia ini yang tak dapat seorang pun mampu membelinya karena ia lahir dari izin dunia. mungkin begitu aku bertanyanya ketika aku melihat orang yang menukar segala kebersamaan itu dengan suatu cerita tentang bersenggama. karena aku kira tidak semua layak diharga sama saat aku sendiri merasakan betapa mahalnya ia untuk didapat dalam jalan hidup ini, betapa dapatnya aku kembali bernapas setelah sekian lama sesak dicekik kesendirian, hingga aku rajut kisah itu bagai suatu memori cantik dalam satu sudut kepala—karena tak lain, kisah soal manusia selalu menyenangkan.
dan saat ujung dari kisah bersama itu hanyalah kembali tentang bersenggama, aku kira hidupku kembali begitu berbeda dengan mereka. aku kira aku-lah objek kerusakan segala iming tentang merasa kembali hidup dan bahagia, aku kira aku-lah objek tercinta oleh rasa sepi dan tumbuh sendiri, aku kira aku-lah objek paling pantas ditinggalkan untuk kembali menatap kenyataanku sendiri. hingga aku percaya tidak ada ruang lagi untukku hadir di antara kebersamaan itu, karena cerita mereka adalah tentang bersenggama, dan itu tidak dilakukan oleh tiga orang—dan aku mulai dimakan gelap, karena eksistensiku kembali dianggap sebagai seonggok tai yang mati.
dan aku membuat konklusi, bahwa bersenggama dengan teman bukanlah suatu ide bagus, karena bagiku tak ada yang layak untuk ditukar mahalnya rasa bersama, dengan sekadar kisah tentang bersenggama. dan aku kira temanku benar—meskipun sekat tentang caraku berpikir soal cinta tak jauh berbeda ketika itu bercerita tentang seorang teman dan pasangan bersenggama.
mungkin ujung dari kisah pikirku ini adalah tentang cinta yang barangkali bekerja bagai suatu sihir misterius di antara dua insan yang saling mengorbit. terkadang berbagai sekat tak terlihat juga sama ikut mengorbitnya, yang buat aku berpikir tentang beda suatu pasangan bersenggama, dengan suatu pasangan penjalin rasa bersama atas nama pertemanan, dan mereka semua sama-sama rumitnya ketika mengorbit lini waktu manusia-manusia bernapas.
karena seperti ikan—aku tidak percaya akan konsep bersenggama. aku berselancar dalam molekul kebebasan; terbang dan menari di dalamnya, namun aku semakin tidak bisa memaknai konsep bersenggama—di saat setiap makhluk di atas bumi ini dimabuk senang akan jatuh cinta dan bersenggama.
cerita manusia tentang rasa sakit dan kedai makan
ada kala dimana aku duduk di bangku tempat makanku dibeli. lalu aku mendengar lalu lalang lalu lintas dengan sibuknya sendiri, juga kedai makan dengan sibuknya sendiri.
lalu, muara dari situasi ini, adalah tentang cerita manusia.
dalam kedai itu, ada kala dimana aku melihat seorang ayah yang mencium kening lembut anaknya yang terkulai lemas di atas meja makan, atau para penjual kedai yang ribut memasak dan bekerja. dan aku melihat temanku sepertinya punya seuntai isi masalahnya sendiri.
dan kedai makan itu kembali diisi cerita soal manusia.
saat aku duduk dan menunggu dalam kedai makan itu, bibiku bilang ada sakit yang mengganggunya di beberapa waktu terakhir, hingga ia berusaha untuk makan lebih sedikit dari apa yang ia barangkali mau. lalu ia bercerita soal obat-obat yang harus dikonsumsi. dan bercerita soal rasa sakit itu sendiri. lalu aku berdoa semoga ia segera dapat baik. dan aku bercerita juga soal ibuku—dan sakitnya. yang aku doakan juga semoga mereka segera-segera-segera dapatkan baik. dan kemudian ketika aku menunggu bersama temanku, aku melihat anak laki-laki itu. yang terkulai lemas. dan dibelai halus oleh ayahnya. dan seharusnya aku berdoa kala itu, semoga ia segera dapat baik, juga temanku, yang semoga ia tidak begitu tersiksa tentang ayahnya, atau malah sebaliknya—sepertiku yang terbiasa membelai diri sendiri, meski untuk saat ini.
aku kira, sepertinya manusia tidak dapat terlepas dari rasa sakit. cerita soal manusia adalah soal puisi yang bait-baitnya dihubungkan dengan jahitan luka, yang mana lahir bersama rasa sakitnya daging yang dirobek, tumbuh dengan sakitnya gigi yang tanggal, hingga kematian yang menuntaskan segala rasa sakit itu sendiri. hingga sepertinya; rasa sakit ialah teman setia tiap-tiap manusia; yang namun, tidak diminta ada; yang namun, ia hadir seperti pondasi.
tetapi, sepertinya setiap manusia pula minta, tentang sakit yang terbang seketika begitu ia diberi kecup, diberi belai, atau dengan ringkasnya—diberi cinta.
saat aku kira semoga anak laki-laki itu setidaknya punya sembuh setelah ayahnya memberi cinta, aku juga minta semoga sakit temanku soal rindunya segera punya sembuh setelah diberi cinta, dan aku sangat minta sekali semoga sakit ibu dan bibiku juga punya sembuh saja setelah aku berikan cinta.
tetapi sepertinya—setiap manusia lebih ingin punyai tenang, seperti cerita dalam kedai makan di balik lalu lalang lalu lintas dengan segala sibuknya, di balik hidup para pekerja dengan segala sibuknya, di balik segala alur hidup dengan segala sibuknya. karena alur hidup adalah epitome kesakitan, dan cinta; dapat berikan mereka tenang; jauh dari makna epitome itu sendiri.
di sana adalah taman dimana aku menggantungkan mimpi-mimpiku di atas awan.
waktu aku kecil, sungguh aku merasa bahagia dapat duduk di atas bangku yang rasanya buat aku jadi punya sayap. bangku itu terbang seakan punya satu sihir seperti layaknya aku melihat burung, kupu-kupu, capung, dan segala hal seperti itu. lalu kini aku melintasi waktu, tepat rasanya masih sama, aku—seperti masih sama bahagianya duduk di atas bangku terbang ini.
taman itu sunyi akan bunyi sandiwara yang muluk-muluk, taman itu surganya sungai dapat berirama bermelodi, taman itu redup dari cahaya yang silau dan menyengat, taman itu, tempat dimana aku bercerita soal kepala.
dingin taman itu masih aku ingat-ingat seperti baru saja tadi ia menempel di atas pori-pori kulitku. aku rasa sama sangat menggigilnya seperti ketika segala hal yang ada di sana hanya kembali menjadi memori belaka. meski aku minta rentetan cerita soal taman itu menjadi sebuah film yang dapat aku putar kembali, rasai kembali, cintai kembali, setiap kali aku minta.
aku, suka sekali, duduk, di atas tempat dimana kepalaku punya ruang untuk menyentuh langit, bersama udara, dan juga bulan. dan taman itu kembali tawarkan aku untuk setidaknya merasa tenang—bersama hiburan di atas bangku terbang.
hingga aku pada dasarnya menyukai taman malam itu, dengan ayunannya yang berderit pelan, juga sungainya yang mengalir tenang.
meski aku tahu alasanku berlari ke sana bukan hal yang sangat menyenangkan. tetapi aku ingat sekali, sepertinya, ada kalanya dimana waktu memberikan kejutan sejenak soal ceritaku, setelah sejenak aku duduk di atas taman itu. dan kala itu, aku, ingin merasa bahagia sekali.
karena setidaknya, cerita soal malam belum mau usai; cerita soal malam setelah aku berlari masih mau kembali; cerita soal malam setelah aku terbang di atas taman itu kembali bawa aku merasa setidaknya—berharga lagi.
satu jeda jadi beku
tepak langkah itu terdengar sedikit punya tetap karena tak lama tema akan hidupnya hanya tentang ragu. satu ribu—tidak—bahkan satu juta pun, tidak bisa jadi definisi untuk banyaknya tanda tanya di kepala.
langkahnya bertanya, nafasnya bertanya, kedip matanya bertanya. namun jawaban seakan terbang menuju dasar liang, menuju ujung ranting di terpa angin, menuju udara bersama kepul asap motor yang setia jadi primadona perjalanannya. karena dengannya ia kini tengah di sini. berhirup napas di sini. menyetel tanda pause di sini.
udara dingin memeluk tubuhnya erat sampai-sampai ia berdoa semoga ada yang lebih dari erat memeluknya saat ini lebih daripada angin. saat ia teringat bahwa ia lupa memasukkan jaket denim kuning tua di dalam jok motornya, saat itu lebih baik ia berdoa semoga ia tidak masuk angin saat menuju jalan pulang dengan hanya berbekal kemeja dan kaus dalamnya.
tanda pause itu sepertinya terbeku akan angin malam pinggir alun-alun kali itu. di bawah kedip kota yang tak lagi ramai lalu lalang, angin dingin dengan landainya menyusuri segala penjuru pernapasan insan-insan yang bersenyawa bersamanya, hingga berhasil menyusup dalam ranah kepala gadis itu. hingga berhasil jadikan beku tanda tanya bernyawa dalam kepala gadis itu.
meski beku selalu tak punya lama, maka ia hirup dalam-dalam udara dingin pinggir beringin sambil ingat-ingat segala yang ia pernah ingin—karena itu yang akhirnya kembali menjadi udara.
saat semoga dingin masih ingin untuk datang kembali menjadi angin, menjelma menjadi pembeku berkala yang setiap nol derajatnya—tawarkan waras untuk tetap berikan hangat.