Riani......
Iyaaa...
No title available
EXPECTATIONS

gracie abrams

No title available

roma★
RMH
KIROKAZE
Noah Kahan
Cookie Run:Kingdom Official!
Cosmic Funnies
🩵 avery cochrane 🩵
Monterey Bay Aquarium
No title available

Origami Around

izzy's playlists!

tannertan36
Fieri Frames

Jimmy Eat World
No title available

No title available

seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Colombia

seen from Thailand
seen from Thailand
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
@rianikasihadham
Riani......
Iyaaa...
mejikuhibi.....
Bersama Si Kembar, adek sekalian teman curhat. :)
Singgah
Namanya Singgah, kamu tidak bisa menetap. Ruangnya tak cukup untuk menampungmu lama. Pada akhirnya, yang singgah akan pergi.
Kelak
Kelak, takdir membawa mereka bertemu kembali dalam luka masing-masing. Ada hati yang patah, ada yang terabaikan, ada jiwa yang berpura-pura baik-baik saja, ada yang ingin menyembuhkan, ada hati yang takut memulai, ada pribadi yang terus berjuang menyelamatkan diri, dan ada cinta yang menyembuhkan.
[RK, ............]
Hurt
Memutuskan untuk pergi dari orang yang dicintai dan mencintainya bukanlah perkara mudah. Menjadi alasan kekecewaan hidup orang yang dicintainya bukan juga hal yang perlu dibanggakan. Hidup berjalan menjadi kian rumit ketika ia merasa ragu terhadap keputusan sendiri.
[RK, .......]
Karena...
Hanya saja, seperti halnya janji semesta, tak ada yang selamanya. Tidak juga hati yang patah, tidak pula rasa sakit yang diakibatkannya. Sisanya kita yang harus tetap baik-baik saja. Karena cinta punya takdirnya sendiri. [RK, Ada (m) ]
Kepingan Lain
Akhir-akhir ini, ada yang hilang dari diriku. Banyak. Sudah kuduga, patah hati dan ditinggal pergi orang yang dicintai dengan tiba-tiba mampu menghilangan banyak kepingan dalam diriku. Aku berantakan. Sekarat. Mencoba kuat dan sembuh.
Lalu...kutemukan kamu dalam malam-malam panjang. Berbicara banyak hal. Tahukah kamu?
Berbicara denganmu, mengisi kepingan yang hilang. Suara tawa yang sempat hilang terganti tangis, lantas kembali meledak-ledak di antara percakapan konyol denganmu.
Berbicara denganmu, seperti memandang langit biru sambil memasukkan gulali ke mulut. Bahagia.
Berbicara denganmu, seperti membuka lembaran buku.
Berbicara denganmu; ada dan dikuatkan. Kamu tidak menggurui. Kamu berbeda. Itu yang menarik. Oke.
Berbicara denganmu, apa saja. Semudah menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya. Santai. Damai. Aku tidak perlu menjadi siapapun. Cukup aku.
Kamu, kepingan yang lain. Kepingan yang menjadikan malam tak lagi panjang. Bangun tak lagi perihal mengelap air mata.
(Riani Kasih, Kepingan Lain)
IYA
Tidak mudah menyembuhkan luka yang diakibatkan cinta. Tidak mudah menganggap segala yang pernah ada menjadi tidak ada. Tidak mudah juga menemukan sementara yang ingin ditemukan telah menutup jalan kita menujunya. Tidak mudah menyembunyikan luka. Setelah terluka begitu banyak, tidak mudah untuk baik-baik saja. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Selalu ada jalan untuk melewatinya. Selalu ada tangan yang menarikmu dari persembunyian; tangan yang baik. ((:
Menunggu
Menunggu lagi.
Kali ini, kabar dari penerbit Gagas Media.
Semoga Ada(m) membawa takdir yang baik.
Tuhan bersama harapan baik. Amin.
((:
Ada
Untuk yang pernah ada di masa lalu; aku mengingatnya.
---
Terima kasih pernah ada. Terima kasih segalanya.
Ada (m) mungkin di kepalaku
Hanya ada aku dan beberapa kemungkinan di kepalaku. Seabsurd itu.
Mungkin, ketika aku tengah merasakan sedihnya sedih; maksudku sedih yang untuk menangis saja tak mampu, kalian tengah berbahagia. Tentu saja, kamu dan orang-orangmu tengah merayakan pernikahan kamu. Terpujilah kalian semua yang berbahagia, sementara aku –untuk menangis saja tidak bisa. Sesakit itu.
Mungkin, ketika aku sedang mencoba memahami perasaan ini, kamu sedang tertawa bahagia di depan dia; tentu saja pada hari pernikahanmu. Aku mencoba memahami betapa hidup itu semudah melakukan hal yang dibenci dan membenci hal yang disuka. Kenapa? Kamu pernah sangat benci dengan pengkhianatan, nyatanya kamu melakukannya. Aku pernah –tentu saja sangat mengaggumi, kamu pernah sangat aku perjuangkan dan masih baik-baik saja di kepalaku sampai aku menulis ini. Lalu benci? Aku yang dulu amat menyukai caraku mencintaimu. Berbanding terbalik dengan sekarang, aku membenci caraku mencintaimu –mengingatmu itu racun. Sesederhana itu.
Mungkin, ketika aku harus sesakit ini menyadari kamu menikah dengan dia, wangi parfumku masih ada di lemari bajumu. Mungkin, baju-bajumu yang pernah kusetrika rapi belum sempat kamu pakai. Mungkin wangi tubuhku masih menempel di seprai kasurmu. Dan kamu sudah memilih memasukan perempuan itu ke dalam kamarmu, ke dalam hatimu. Semudah itu.
Mungkin, sebelum kamu memutuskan pergi kamu sudah dulu berpikir, “Tanpa perempuan itu (aku), segalanya di hidupmu akan tetap baik-baik saja.” Tanpa pernah berpikir bagaimana aku setelah kamu pergi. Bagaimana pandangan keluargaku terhadapmu, bagaimana pikiran mereka mengenaiku (mereka mengasihani jalan hidupku) dan aku tidak suka dikasihani. Dikasihani itu menyedihkan. Mengenai apa yang teman-temanmu pikirkan mengenaiku? Apa kata teman-temanku terhadap semua ini. Kamu jelas tidak ingin tahu. Lalu ke mana perasaanmu? Seselow itu.
Mungkin ketika aku terus memikirkan mungkin, segalanya memang nyata. Kamu benar-benar menikah dengan dia. Aku benar-benar harus berhenti memikirkanmu. Aku harus menjadi diri sendiri; memikirkan diri sendiri. Memilih menjalani takdirku serupa kembang dandelion. Menyelamatkan diri dari cinta yang tidak baik. Lalu meingikhlaskan segalanya. Serumit itu.
Terlepas dari segala kemugkinan yang ada di kepalaku, bahagialah kamu dengan pilihanmu. Semoga dia selalu bersedia melengkapi kekuranganmu. Semoga suara tawanya mampu membuatmu rindu pulang ke rumah. Semoga dia mampu kamu bahagiakan. Lalu aku? Hidupku selanjutnya akan selalu ada untuk mereka yang menyayangiku dengan benar. Dan aku ingin bahagia tanpa kamu. *Tersenyum*
#
Masih Ada(m) kamu, di kepalaku
Sejak kamu pergi, ada banyak hal acak di kepalaku. Ada kamu dan aku yang pernah jadi kita. Lalu ada aku dan kamu yang tidak sama seperti dulu lagi. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana aku tidak menyadari kamu punya perempuan lain selain aku. Bagaimana bisa kamu memilih pergi dariku yang memperjuangkanmu enam tahun ini. Enam tahun itu lama, kurasa kamu tahu baik burukku. Dan kamu masih menjadikan burukku sebagai alasan kamu pergi, sementara baikku kamu abaikan. Bahkan di tengah upayaku menjadi baik dan memahami kamu dan orang-orangmu, aku tetap dianggap tak pernah berubah dan berusaha berubah. Duh kamu.
Di lain waktu aku kerap merasa bodoh dan menjumlahkan beberapa kebodohanku di masa lalu. Misalnya; aku yang percaya bahwa kamu sebuah pribadi baik sebelum kamu membuat kesalahan dan malah menjadikkan kesalahanku sebagai alasannya. Lalu pergi dan meninggalkan kekecewaan besar padaku begitu saja. Bagaimana pun akal sehatku tidak pernah bisa memahami ini. Pastinya, sekeras apapun manusia ingin tampak sempurna di satu sisi, ia tetap punya kekurangan di sisi lainnya. Itulah yang terjadi denganku; pernah salah dan meskipun benar akan selalu salah di mata kamu dan orang-orangmu.
Namun kamu tahu, aku tipikal perempuan yang tidak gampang membenci atau mendendam. Pernah aku dirutuki adikku karena terlalu lemah meskipun aku dicela buruk seburuk-buruknya–bahkan sulit di terima akal sehat–oleh keluargamu. Kamu harusnya tahu aku tidak lemah, aku kuat dan semakin kuat karena kamu masih denganku. Aku memilih cukup merasa sakit sendiri dan memaafkan meskipun mereka tidak pernah berniat minta maaf. Aku juga lebih memilih merutuki diri sendiri, mengeluh pada diri sendiri, lalu berdoa kepada Tuhan agar segalanya akan berlalu dengan baik. Buruknya adalah aku yang jarang marah ini, bisa dipandang jahat hanya dengan satu perkataan buruk. Lalu dianggap pandai berbicara hanya karena seorang penulis. Sudahlah, itu semua sudah aku simpan dengan baik di kepalaku, agar kelak aku lebih menyadari ‘siapa’ aku.
Pernah juga aku ingin melawan mereka yang menjahatiku, aku bukannya tidak berani, aku bukannya tidak punya kekuatan, hanya saja hatiku terus berkata, Tuhan itu ada, Tuhan tidak suka kalau aku marah-marah. Tuhan itu melihat. Mereka yang jahat adalah mereka yang pantas di benci Tuhan. Kelak pun di padang Mahsar, masing-masing kita harus mempertanggungkan jawabkan setiap dugaan, perkataan, dan perbuatan baik buruk kita di hadapan Tuhan kok. Hatiku tak cukup kuasanya untuk menyimpan kebencian, bahkan untuk membenci mereka yang merendahkanku pun hatiku merasa rugi.
#
and i'm feeling good :)
Jujur (lah)
“Bahwa kejujuran sepahit apapun, akan lebih membahagiakan di mataku ketimbang kebohongan yang dibuat semanis apapun.” (Riani Kasih)
Sebuah percakapan denganmu.
“Kalau kamu bisa jujur kenapa harus berbohong. O tidak, kamu harus jujur, jangan berbohong.” Kataku.
Kulihat kamu terdiam dan menarik napas pelan. Kamu menatapku lama. Aku tersenyum; mencoba membuat situasi terbaik agar kamu merasa nyaman berbicara jujur denganku.
“Kamu yakin kamu akan bertahan setelah aku jujur?”
Aku mengangguk pasti.
“Tapi dulu ada yang pernah menuntut kejujuran namun pergi setelah tahu kebenarannya.”
Aku menggeleng. “Aku bukan perempuan yang gemar mengintimidasi keburukan orang lain.”
“Oke. Aku mulai dari sisi burukku saja.” lanjutmu.
Kamu berkata tanpa ragu-ragu. Lalu, menit-menit berikutnya aku menjadi pendengar yang baik. Kurasa keningku beberapa kali berkerut. Kamu mungkin tahu aku mendengar dengan serius. Berkali berdehem dan kamu menghabiskan setangah jam menceritakan dengan jujur mengenai sisi burukmu. Ada binar bahagia terpancar dari kedua bola matamu setelah kamu menutup bicaramu dengan mengangkat cangkir dan menyeruput kopi Americano Latte perlahan.
Lalu, “Apa yang kamu pikirkan mengenaiku setelah tahu hal buruk mengenaiku?” katamu tampak ragu.
“Selanjutnya aku tidak akan pernah peduli terhadap omongan buruk orang mengenaimu, seperti halnya kamu tidak akan pernah peduli dengan masa laluku.” jawabku mantap.
Matamu menatapku seolah tak percaya pada apa saja yang baru kukatakan.
“Kamu yakin?” tanyamu.
Aku mengangguk.
#
Setelah hari itu, aku memahami banyak hal. Untuk menjadi jujur orang perlu punya sikap. Berani. Berani mengakui ada hal buruk dan harus diterima dan dirubah. Berani jujur dan berani menerima apapun resikonya. Ini berlaku pada satu subjek saja; yang harus jujur dan yang harus menerima hal buruk apapun dari sebuah kejujuran. Aku tidak akan mengecewakan siapapun yang berani jujur terhadap kelemahannya.
Aku pernah menemukan orang yang berkali-kali menuntut kejujuran namun pergi setelah tahu kebenaran. Misal, aku pernah menemukan orang yang langsung pergi begitu tahu kelemahanku. Dia memilih menggaris jarak seolah aku bakteri mematikan dan dia orang yang maha sempurna. Dia bahkan menghakimiku dan menjadikan kelemahanku sebagai bahan nyinyirannya di social media. Aku tidak menyalahkan dia. Hanya saja menyanyangkan sikap kekanak-kanakkannya saja. Bersyukur juga dia menggaris jarak, karena dengan begitu aku tak perlu menjauhinya.
Mengenai kelemahan, bukankah tiap kita selalu punya kelemahan sendiri. Lantas untuk apa dipermasalahakan. Kamu yang pergi dari dia yang kamu anggap tidak sempurna, lalu dengan percaya diri akan menemukan orang yang lebih baik dari dia yang kamu tinggalkan, semoga beruntung saja.
Selama kamu menuntut kesempurnaan dan tidak pernah merasa cukup, aku pastikan kebahagianmu tidak akan pernah bertahan. Selama yang kamu cari sesuai keinginanmu, maka yang kamu temukan adalah kembaranmu, kamu tidak mencintai dia, kamu mencintai dirimu sendiri.
Merasa cukup itu susah, kita harus terus berkaca diri. Sibuk mencari yang terbaik dengan mengabaikan yang selalu ada itu akan membuatmu menyesal. Sibuk memikirkan yang sempurna bisa membuat kita lupa menyempurnakan diri. Bersusah-susah mencari kebahagian yang wah kamu lupa bisa lupa bahwa ada kebahagian yang tercipta dari hal yang sederhana.
Yasudahlah, mari bahagia dengan sederhana dan mencintai dengan sederhana Riani.
Seorang Perempuan dan Secangkir Kopi
“Ingatan ini sederhana; hanya ada aku dan kamu yang pernah ada namun tidak untuk selamanya.” (Riani Kasih)
Pagi ini, masih sama. Secangkir kopi dan beberapa kenangan kita lebur dalam genangan pekat kopi di depanku. Aku menatap genangan pekat itu lama dan sadar begitu pandanganku mengabur karena aku hanya melihat satu titik saja. Rasanya, akan lebih lengkap bila ada kamu di sampingku. Akan lebih damai rasanya bila ada percakapan-percakapan kita mengenai masa depan. Masa depan? Yang ada adalah ingatanku mengenai foto itu. Foto yang ada di display picture BBM kamu. Seorang perempuan manis dengan kerudungnya. Aku tak ingin membandingkan, aku tak suka membandingkan sama seperti aku tak suka perkataan ‘dia mungkin lebih baik dariku.’
Aku tidak marah foto itu ada di display picture BBM kamu sama halnya dengan aku tidak marah kamu pergi, aku bahkan berpikir mungkin kamu memang harus pergi. Sebab denganku, kurasa kebahagianmu terlalu sederhana. Kurasa aku terlalu kecil untuk mimpi-mimpimu yang besar. Kurasa juga, tugasku sudah cukup, menemani perjuanganmu untuk sampai pada kesuksesanmu saat ini. Lalu aku cukup mengingatmu saja sebagai pria itu; pria yang memilih pergi karena lebih mempercayai mata orang lain ketimbang hati sendiri.
Seruput kopi dulu.
Mengenai dia yang tersenyum manis di foto itu, terpujilah. Dia bahkan tidak harus merasa sesakit ini untuk berada dekat denganmu. Dia perempuan yang patutnya bersyukur karena mendapatkan kamu dengan mudah. Dia mestinya perempuan yang kuat dan setia. Dia harusnya juga selalu ada dan mengerti kamu. Hatiku berkali-kali berkata, jika kamu telah memilih pergi dariku maka dia yang membuatmu pergi harusnya lebih baik dariku. Meskipun aku tak pernah yakin, ada orang yang benar-benar bisa menyayangi kamu sama seperti aku menyanyangi kamu. Untuk jadi itu dia harus menjadi aku, dan itu tidaklah mudah. Dia harus mampu tersenyum dan bersabar meskipun dicela buruk oleh keluargamu. Dia harus terus tabah, dan tabah itu tidak mudah. Dia harus ‘ada apa-apanya’ untuk selalu dianggap dan tidak diremehkan oleh orang-orangmu, untuk yang ini aku tidak cukup memenuhinya, sebab beginilah aku, aku tak pandai mencari muka, aku tak pandai menilai buruk orang lain, aku tidak peka ketika ada yang tidak suka denganku, aku mungkin terlalu kekanak-kanakkan, dan aku tidak ada apa-apa selain rasa sayangku dan selalu ingin membuatmu tersenyum.
Seruput kopi lagi.
Di kepalaku, aku ingin menyampaikan beberapa hal kepada perempuan yang tersenyum manis di foto itu. Beberapa hal yang terlintas begitu saja. Pertama, ketahuilah hei perempuan manis, dia menghapus kontak BBM-ku hanya untuk meletakkan foto manismu itu. Entah untuk alasan apa, mungkin takut dikira pengkhianat, mungkin juga takut aku marah, jelasnya dia pria yang telah mengingkari janjinya hanya untuk kamu yang kutebak mengenali dia ketika dia masih denganku. Kedua, kamu tahu, pria yang sedang kau cintai dan mengaku mencintaimu itu dulunya juga pernah berjanji untuk mencintaiku selamanya, dan ternyata selamanya itu lama. Ketiga, untuk berada di dekat kamu pria itu telah melukaiku begitu banyak. Tentu saja ini hal yang hanya terlintas begitu saja di kepalaku. Aku tak pernah punya cukup keberanian untuk sampai kepada perempuan yang tersenyum manis di fotomu itu hanya untuk mencecarnya dengan hal yang terlalu menyedihkan ini. Aku juga tidak sekanak-kanak itu. Sebab aku masih menghargai kamu sebagai yang pernah ada dalam ceritaku. Kamu pantas bahagia dengan caramu seperti aku yang merasa cukup hanya dengan mengingatmu di kepalaku.
Seruput kopi lagi.
Hal yang paling kuingat adalah ketika kamu memilih pergi.
Bahwa ketika kamu memilih pergi, berkali-kali hatiku menyangkalnya dengan –ini sementara. Aku rumahmu dan kamu akan pulang. Hanya saja, kamu sepertinya tak ingin pulang. Kamu telah menemukan rumah barumu. Mengenai alasan kepergianmu; semoga ibumu tenang di sana. Sebab kamu mengatasnamakan restu ibumu, untuk meninggalkanku. Meskipun aku tidak begitu yakin, sebab kamu telah dulu berkhianat dan mendua di belakangku. Semoga kamu bahagia.
Seruput kopi terakhir. Menarik napas, setelah akhirnya kopiku menyisakan ampas pekat.
Pagi ini terasa dingin. Gerimis labuh dengan ringan serupa kabut tipis. Kamu di kepalaku melebur bersama pekatnya genangan kopi di seruput terakhirku. Kuharap di kotamu hangat, agar harimu tetap berjalan baik dan kamu tak perlu mengecewakan siapapun yang menjadi alasanmu memilih untuk pergi dariku.
#