Produksi ke-7 Teater Agora: Pementasan Orkes Menuju Bulan
Bercinta di Udara Lewat Dangdut
Membayangkan bercinta di udara tentu bukan sesuatu yang sulit jika kita refleksikan kembali ke jaman sekarang, era dimana teknologi internet dan alat transportasi amat memudahkan kita untuk merealisasikan kegiatan “bercinta di udara” tersebut. Namun apa jadinya jika yang kita cintai berada dalam sebuah ruang hampa udara, di tempat tanpa gravitasi, tanpa oksigen dan hampir tanpa gelombang suara di era yang bahkan internet pun belum tersedia?
Kita tentu terbayang beragam film fiksi ilmiah yang barangkali jadi referensi kita. Sebut apa pun film yang kalian tonton yang menyajikan edisi pesawat ulangalik serba canggih yang dengan cepat melintasi jagat raya, mampir dengan super cepat dari satu planet ke planet lainnya. Lalu, tambahkan cerita romansa antara makhluk planet lain yang terjebak cinta dengan manusia bumi. Racikan a la Hollywood itu hanyalah sebagian kecil resep yang akan disajikan dalam pementasan Teater Agora kali ini.
Teater Agora, komunitas teater yang baru mementaskan tujuh pementasan selama kurun 2012-2014, akan merealisasikan sebuah cerita cinta tak biasa yang menyuguhkan keterlibatan dua planet dalam galaksi yang berbeda karena satu cinta: Dangdut.
Dangdut, musik yang barangkali dianggap remeh oleh kita, justru menjadi sebuah musik yang eksotik dan penuh cinta yang sangat diapresiasi oleh sebuah bangsa di galaksi lain. Karena keadaan bangsa tersebut sudah mulai hancur karena berbagai kepentingan, musik dangdut lalu dipercaya sebagai musik pembawa kedamaian yang akan ampuh mengatasi berbagai masalah pada bangsa itu. Lalu, datanglah delegasi bangsa tersebut untuk menculik Burhan seorang pemain gendang dangdut yang amat termahsyur di Kampung Rawa Oray, kampung para pemusik Dangdut. Misi mereka hanya menculik satu pemain gendang itu karena gendang merupakan nyawa dan jiwa Dangdut. Ketukan gendang dangdut Burhan inilah yang diyakini bisa menyembuhkan dan menenangkan kembali bangsa yang hampir hancur tersebut.
Delegasi dari galaksi lain ini lalu memberikan tanda-tanda peringatan kepada Burhan melalui benda-benda dan makhluk hidup yang bukan manusia yang berada di sekeliling Burhan. Burhan pun menjadi schizophrenic, yang dianggap sebagai masalah di Kampung Rawa Oray. Burhan memberi kabar tentang kehancuran kampung, namun kabar ini dianggap angin lalu oleh penduduk karena terlanjur menganggap Burhan sudah gila hingga akhirnya Burhan benar-benar diculik oleh bangsa dari galaksi lain ini.
Tentu saja penculikan ini menjadi kabar yang menggegerkan Kampung Rawa Oray. Kehilangan seorang pemain gendang merupakan sebuah kehilangan besar bagi penduduk Kampung Rawa Oray. Namun, kehilangan pemain gendang ini pada akhirnya tidak menimbulkan kesedihan berkelanjutan karena dengan kepergian satu orang pemain gendang ini musik kebanggaan kampung Rawa Oray justru akan terus menembus dimensi ruang dan waktu, tidak cuma mendunia tapi berdendang dan bergema mengangkasa hingga galaksi lain.
Burhan adalah gambaran keterasingan individu dari tatanan sosial yang normatif. Adanya aturan dan standar kenormalan membuat mereka yang “berbeda” akan diasingkan dalam kesendirian. Ragam karakter warga juga menunjukkan warna tersendiri bagi kisah “Orkes Menuju Bulan”.
Pementasan berdurasi sekitar 150 menit ini akan dipentaskan pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di Auditorium Gedung IX FIB UI, dengan harga tiket yang dibanderol Rp. 20.000,- sebagai rangkaian acara Philosofair 2014 acara tahunan dari jurusan Ilmu Filsafat Universitas Indonesia. Para pemain yang terlibat dalam pementasan ini tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa namun juga dari para alumni yang sebagian besar berasal dari jurusan Ilmu Filsafat Universitas Indonesia dibantu beberapa teman-teman komunitas teater dari Teater Paradoks (Fisip UI).
"Orkes Menuju Bulan" adalah kisah yang menggabungkan bentuk pertunjukkan komedi, tragedi, realis, dan surealis dengan setting yang menampilan konteks budaya Indonesia pertengahan 90an.
"Apa kata dunia jika dangdut tidak bergema di kampung kita? Tapi jangan khawatir, karena suatu saat nanti musik dangdut akan menggema ke seluruh angkasa jagat raya!!!"