Superpower
I want to have eyes that can recognize which one is a lie
And an unbreakable heart that made of steel
Or maybe the inability of feeling
But then after some thoughts,
I'd rather have the ability to erase unpleasant memories
we're not kids anymore.

titsay
No title available
occasionally subtle
KIROKAZE

pixel skylines

Andulka

❣ Chile in a Photography ❣

tannertan36

No title available
styofa doing anything
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Claire Keane
TVSTRANGERTHINGS
Xuebing Du
No title available

Kaledo Art

roma★
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

⁂
seen from Syria

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Taiwan
seen from Italy
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@rinkyusgame
Superpower
I want to have eyes that can recognize which one is a lie
And an unbreakable heart that made of steel
Or maybe the inability of feeling
But then after some thoughts,
I'd rather have the ability to erase unpleasant memories
😎 (at The beach of Virgin Sand of Pari Island)
Doodling when im alone
Roda Setan
Mata mereka menelusur empat titik disana Utara, timur , Selatan, Barat Layaknya Roda Setan Bergulir, bergulir, searah jarum jam
kaki Mereka menapak empatarah ke sana Maju, mundur, kiri, Kanan Berjalan, berjalan melawan jarum jam
Boneka Rusak pun tak begini tampaknya Layu, lemah, kisut , keriput Cermin pun sudah muak Menebar serpihan untuk cari peringis
Bikin buta manusia itu Rumit dipecahkan hidupnya Satu lepas landas ke angkasa Satu lagi jadi asapnya
Lalu setan yang disalahkan Esok yang dipuja Kemarin yang dicaci maki Menyerah saja akan keberdayaan
Laga mereka tengah bermain Siklus berupa henti tiada Layaknya Roda Setan Berputar, berputar seperti jarum jam
My Project 1
Big Instalation: Bee Hive
Datang
Lana menarik jaketnya lebih rapat sementara angin malam yang dinginnya seperti jarum-jarum yang menusuk hingga sum-sum tulang bertiup kencang. Suara riuh guntur yang mulai mengamuk membuatnya resah. Namun ia harus menahan semuanya sampai orang yang ia tunggu datang. Rindu yang Lana rasakan mengalahkan keadaan menyebalkan yang sedang ia alami saat ini. Jadi Lana tetap bergeming di tempat yang sama, meskipun ia telah duduk menunggu entah berapa jam.
Lana merengut. Kalau saja bukan karena ingin bertemu dengan Kian ia pasti akan menolak mentah-mentah berdingin-dinginan seperti ini—berdiam diri di tempat yang gelap di jam yang tidak pantas bagi seorang wanita untuk berkeliaran sendirian. Ia pasti akan memilih berbaring di kasurnya yang hangat sambil menikmati teh tarrik kesukaannya dengan cemilan sambil membaca novel yang baru-baru ini ia pinjam dari perpustakaan tempatnya bekerja sambilan.
Kian sering sekali terlambat, Lana paham betul akan tabiatnya karena hal itu terjadi hampir setiap saat mereka merencanakan pertemuan. Alasan keterlambatan yang macam-macam dan terkadang tidak logis—dari A sampai Z, Lana bahkan hapal diluar kepala: ’Habis bantuin nenek-nenek pulang ke rumahnya di Bojong Kenyot’-lah, ’Bantuin anak kucing yang hanyut disungai’-lah, atau yang paling tidak logis: ’Habis bantuin anak kecil yang nyari permen karetnya yang jatuh di WC’. Yang ada juga permen karet itu sudah keburu hanyut di septic tank. Dan setiap Lana mendengar alasan itu terucap dari bibir Kian, Lana hanya bisa mendengus. Terlalu kesal untuk mengungkitnya lebih lanjut.
Karena kebiasaan buruk Kian itu, Lana sampai pernah memutuskan Kian beberapa kali, hingga Lana bosan mengatakan kata ”Putus”. Namun entah mengapa Kian selalu saja dapat membuat Lana jatuh cinta lagi padanya. Seakan ada mantra yang membuat Lana selalu kembali kepada Kian. Lana pernah putus dengan Kian lalu menjalin hubungan dengan Rei, mahasiswa fakultas kedokteran tampan yang hartanya berlimpah. Tapi hanya bertahan sebulan, karena Kian, lagi-lagi membuat Lana mabuk cinta.
Kian tidak tampan, atau kaya, atau keren, atau berbadan atletis, atau memliki segala kualitas yang biasa digila-gilai wanita. Yang Lana tahu, Kian itu pria bertampang biasa-biasa saja tapi baik hati, dan tekun. Ya, Kian baik sekali, hormat pada orang tua, dan sangat amat perhatian hingga membuat Lana seperti dewi yang dipuja-puja hamba sahayanya. Cuma satu kekurangan Kian bagi Lana: Kebiasaannya telat. Itu saja.
Lana menengadahkan kepalanya sambil bersedekap memeluk tubuhnya yang mulai menggigil. Angin malam lagi-lagi berhembus. Kali ini diiringi titik-titik gerimis.
Lana mengerang. Ia melirik jam tangannya yang kini dihiasi bulir-bulir air. Sudah pukul 21.42. Sudah 3 jam lebih ia menunggu disini. Sekarang keadaan makin memburuk saja dengan turunnya gerimis tapi Kian belum menampakkan batang hidungnya.
Lana masih bisa bersabar diri. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggumamkan mantra andalannya, ”Bagaimanapun, dia pasti akan datang. Kian pasti bakalan datang.”
Mantra itu sebenarnya bukan jampi-jampi atau sebagainya. Tapi entah mengapa kata-kata itu membuat Lana yakin, seperti saat Kian berkata di telepon, ”Aku pasti akan datang. Bagaimanapun caranya, aku pasti bakalan datang.”
Beberapa orang berseliweran, berlari kecil melewatinya sambil menutup kepala seadanya untuk melindungi dari tetesan hujan. Tak jarang pula Lana terang-terangan dipandangi beberapa pasang mata. Seakan mengatakan, ’Cewek itu gila atau apa sih? Sudah 3 jam lebih dia duduk disitu. Sekarang biarpun germis ia tetap tidak mau beranjak dari situ. Getol sekali dia.’
Pipi Lana terasa bersemu saat seorang ibu-ibu memandanginya prihatin.
”Kamu gak neduh, mbak?” tanya ibu-ibu itu.
”Gak, bu. Pacar saya bentar lagi datang,” jawab Lana ragu-ragu. Ia tahu, Kian tidak akan datang secepat itu. Ia meringis.
Ibu-ibu itu tersenyum. ”Ya, sudah. Ini ibu pinjamkan payung,” ia menyerahkan payung yang dipegangnya kepada Lana. ”Daripada sakit.”
”Nanti ibu gimana? Kalo ibu yang sakit?” tolak Lana.
”Tenang saja, rumah ibu sudah dekat kok. Tuh di gang situ, tinggal jalan beberapa meter,” ibu-ibu itu menunjuk ke gang sempit seberang taman.
”Oh, gitu.. Ya, udah bu.. makasih banyak ya, bu. Tapi nanti saya ngembaliin payungnya gimana?”
“Gak usah kamu pikirin. Nanti saja kalau kamu kesini lagi balikin payungnya ke saya,” kata ibu-ibu itu.
Lana mengangguk-angguk. “Makasih banyak bu.. saya ketolong banget.”
Lagi-lagi ibu-ibu itu tersenyum lalu berjalan menjauh.
Kian, kamu mesti tanggung jawab sampe bikin aku dikasihanin sama ibu-ibu kayak gini, dumel Lana dalam hati.
Beberapa puluh menit kemudian Lana sudah tidak sabar lagi. Hujan semakin deras. Dan payungnya sudah tidak mampu lagi menaha dera-dera hujan beserta angin kencang. Apalagi sekarang hampir pukul sebelas. Apa yang orang-orang katakan kalau melihat wanita sendirian di taman di jam seperti ini. Pelacur?
Kemarahan Lana meluap-luap. Ia sudah bepuluh-puluh kali menelelpon, dan mengsms Kian. Tapi tidak pernah dijawab, ataupun dibalas.
Untuk terakhir kalinya Lana memencet nomor Kian. Dengan kesal ia menempelkan handphone ke telinga sambil bersungut-sungut.
Tuut... Tuuuut.... Tuut.., terdengar nada sambung beberapa kali.
”Maaf.. telepon yang anada tuju tidak dapat dihubungi...” terdengar suara operator yang menjawab telepon.
Lana memaki. Padahal yang ia ingin dengar itu suara Kean, bukan suara operator sialan itu.
”Silahkan meninggalkan pesan setelah nada berikut ini,” kata operator itu lagi. Kemudian suara Bip terdengar.
”Kian, pokoknya kita putus! Dan kali ini gak akan balikan lagi. Aku gak mau tau. Kamu udah bikin aku nunggu berjam-jam tanpa kabar. Seenggaknya sms aku atau apa. Jangan ngelantungin aku kayak gini, tau gak? Kamu denger? Ini terakhir kalinya aku telpon kamu dan ngeliat kamu lagi!” Lana memencet tombol putus dengan kencang. Kemudian Lana mematikan handphonenya dan mengeluarkan baterenya.
Lana beranjak berdiri kemudian berjalan menuju halte untuk menyetop taksi. Tidak lama kemudian sebuah taksi berhasil disetopnya.
”Malam, mbak..” sapa supir taksi itu.
”Malam,” Lana memaksakan diri untuk tersenyum bahkan walaupun hatinya sedang dongkol, kecewa, dan mendung setengah mati.
”Kemana, mbak?”
”Kemang,” jawab Lana cepat. Takut suaranya yang mulai pecah disadari oleh pak supir.
Tapi Lana sudah tidak kuat lagi. Akhirnya Lana menangis tersedu-sedu. Ia merasa dikhianati. Ia sangat marah. Kean memang selalu telat, tapi ia tidak pernah membiarkan Lana pulang sendiri seperti ini. Dan Kean juga tidak pernah membuat Lana menunggu selama ini. Setidaknya di detik-detik terakhir saat Lana ingin meninggalkan tempat pertemuan, Kian akan datang. Memohon-mohon untuk dimaafkan dengan berbagai macam alasan.
Tampaknya pak supir tahu kalau Lana sedang bersedih. Ia menyodorkan sekotak tisu kepada Lana.
”Pakai aja, mbak,” katanya.
”Makasih pak,” Lana menengadahkan kepalanya untuk tersenyum berterima kasih kepada Pak Supir melalui kaca sepion. Tanpa sengaja ia menangkap gerakan di jendelanya melalu sudut matanya.
Lana langsung menoleh ke arah jendela lalu tersentak saat mendapati Kean tengah berlari mengejar taksi yang ditumpanginya.
”Kian!” serunya.
Kean masih terus mengejarnya, tapi tidak mengucapkan apa-apa.
Melihat Kian seperti itu emosi Lana naik. Ia segera membuka jendela mobil lebar-lebar. ”Kian, kamu kemana aja? Kita putus! Dengar? Kita putus!!! Emangnya enak kamu harus ngejar aku kayak..” kata-kata Lana mulai terputus saat ia melihat muka Kian yang pias.
”Pak, bapak.. stop taksinya pak!” Lana berseru kepada pak supir.
Pak supir kebingungan. ”Ta, tapi disini dilarang stop, mbak.”
”Udah, stop aja! Pacar saya kasian tuh, dia ngejar-ngejar!” Lana menunjuk ke arah Kian yang masih terus mengejar Lana.
Pak Supir melirik ke arah kaca spion. ”Tapi gak ada siapa-siapa mbak. Disini sepi banget..” kata pak supir itu gusar.
”Bapak kira saya buta?!” Lana mulai kesal.
”Enggak, enggak mbak...”
Lana mulai putus asa. ”Seenggaknya.. seenggaknya bapak pelanin kendaraan butut ini... tolong...”, pinta Lana dengan suara bergetar.
”Jangan mbak.. disini daerah rawan..”
Lana akhirnya menyerah lalu menoleh ke arah Kian lagi yang kini semakin jauh. Lari Kian melambat. Lalu bibirnya seperti mengucapkan kata-kata tanpa suara.
”Maaf.. tapi ini terakhir kalinya aku datang”
Lana tidak mengerti apa yang Kian katakan tapi kata-kata itu terasa sangat menyakitkan. Lana ingin bertanya, tapi sosok Kian sudah menjauh hingga tidak terjangkau.
Lana mencoba untuk menelepon Kian berkali-kali namun selalu suara operator yang menjawab, akhirnya Lana pun menyerah dan berharap sesampainya ia di rumah, ia akan mendapat kabar dari Kian.
”Mbak.. sudah nyampe..” kata Pak supir membangunkan Lana dari lemunan.
”Oh,oh ya pak..” Lana merogoh tasnya untuk mengambil dompet sambil memikirkan kata-kata Kian tadi. Apa maksudnya? Lana tidak tahu mengapa, namun firasat buruk tidak bisa lepas darinya sepanjang perjalanan.
”Ini, pak,” Lana menyerahkan sejumlah uang kepada Pak Supir.
”Makasih, mbak.”
Lana membuka pintu taksi kemudian keluar.
Lana telah bersiap untuk memencet bel agar dibukakan pintu pagar, tapi ternyata pagarnya tidak dikunci.
”Lho.. aneh kok tidak dikunci. Biasanya jam segini udah di gembok,” gumam Lana heran. Tanpa banyak pikir panjang ia membuka pagar kemudian masuk. Dari luar ia mendengar suara beberapa orang sedang mengobrol dengan nada gusar.
”Tumben belum molor.”
Ia membuka pintu rumahnya yang ternyata juga tidak terkunci. ”Assalamu’alaikum..”
”Landrea..” ucap Bunda Lana.
Lana kebingungan saat melihat muka bundanya dan kakak-kakaknya yang pucat. Lalu ia melihat muka kakak Kean, Mas Guntur.
”Kenapa? Kok obrolannya berhenti? Mas Guntur kapan datang?” tanya Lana.
Guntur memandangi Lana dalam dengan pandangan sedih. ”Lan..” bisiknya.
”Ya?”
”Lan.. Ada yang mau aku kasih tahu sama kamu tapi kamu harus janji jangan histeris.”
”Apa?”
”Lana, Kian..” Guntur memulai
Lana mencoba meneliti air muka Guntur dan mendapati kalau ia tidak ingin mendengar apa yang akan Guntur katakan.
”Mas... ehm udah malam aku capek.. mungkin besok aja,” Lana memaksakan untuk tersenyum dan bersiap untuk berlalu.
”Pukul 11 tadi aku dapet kabar kalau Kian masuk rumah sakit. Dia kecelakaan..”
Langkah Lana terhenti. Ia menatap wajah Guntur tidak percaya.
”Kian sedang berusaha melindungi anak kecil jalanan yang sedang menyebrang waktu sebuah mobil van menabraknya.”
”Mas Guntur pasti lagi bercanda..” ucap Lana tertawa gugup.
”Aku berusaha nelpon kamu tapi handphone kamu gak aktif. Terus aku langsung kesini, tapi kamu gak ada.”
”Gak.. Mas Guntur boong..” Lana menggelengkan kepalanya kuat-kuat. ”Tadi aku ketemu Kian di jalan. Dia ngejar taksi aku.. dia bahkan sempet ngomong sesuatu ke aku..” ujar Lana dengan suara bergetar.
”Lana, dengar dulu sayang,” sela Bunda Lana, menatapnya khawatir.
”Aku gak mau denger!! Aku gak mau denger satu kata pun!!!” Lana berteriak histeris sambil menutup rapat kedua telinganya.
”Landrea!” Bundanya berseru menegur dengan suara pecah. Air mata berlinang di wajahnya.
”Barusan.. aku baru dapat kabar,” mata Guntur mulai berkaca-kaca kemudian sebutir air mata meleleh dari pelupuk matanya.
Lana mendongak memandang wajah Guntur.
”Lana..adikku sudah gak ada.”
Lana tersentak. Hatinya hancur berkeping-keping.
”Kian sudah meninggal.”
Another doodle~
Doodling✏
just another doodle with a pen
In a relationship, married or not... You should read this.
Marriage. “When I got home that night as my wife served dinner, I held her hand and said, I’ve got something to tell you. She sat down and ate quietly. Again I observed the hurt in her eyes. Suddenly I didn’t know how to open my mouth. But I had to let her know what I was thinking. I want a divorce. I raised the topic calmly. She didn’t seem to be annoyed by my words, instead she asked me softly, why?
Read More
In a relationship, married or not... You should read this.
Marriage. “When I got home that night as my wife served dinner, I held her hand and said, I’ve got something to tell you. She sat down and ate quietly. Again I observed the hurt in her eyes. Suddenly I didn’t know how to open my mouth. But I had to let her know what I was thinking. I want a divorce. I raised the topic calmly. She didn’t seem to be annoyed by my words, instead she asked me softly, why?
Read More
Sampisssshhh :))))
unintentionally serious
Ultimately disturbing....
Long Legs
All are dead and gone
So one day she realized The world have left her behind Stupidity can't even describe Just let her mind goes around Every penny is taken from her Afraid none will left anymore And everything that she gave Nothing but pain she received So so long she said Maybe it's better to let go And every thoughts that were come As those promises was sung And butterflies that were flapping All are dead and gone
Kyuhyun indirectly admit that he had a double eyelid surgery. But the way he confess is so... XD It was start as a guest of MBC Radio Star was questioned if he ever had a eyelid job. The guest said that he had never done it and show the MCs that he'll look weird with double eye-lid. Then, the MCs turned their interrogation onto Kyuhyun, who started stammering. The MCs then asked, surprised, “You had double-eyelid surgery?” In a slightly frantic voice, Kyuhyun said, “My father has double eyelids, as does my mother.” After a beat he added in an indirect confession, “I was the only one without them.” XD Kyu-ah, you already look adorable even without eyelid. You know we love you for whatever you are ;~;