Flashback sedikit ke belakang, Vroh!
Dulu...masa-masa tumbuh kembang kami tidak banyak yang bisa mengkontaminasi masa keemasan kami. Tanpa gadget, tanpa charger, tanpa PLN atau juga tanpa colour TV. Tak ada aksi sampai jutaan manusia. Tanpa lapor sana-sini. Yang kami tahu adalah tiap pemilu, Golkar pasti menang. Presidennya ya pasti Pak Harto lagi. Tiap menjelang tanggal 30 September accu (aki) wajib dalam keadaan penuh. Tak ada sensor layar jadi ngeblur/buram saat adegan anak D.I. Panjaitan mengusap darah ayahnya ke muka. Karena yang kami lihat dilayar semuanya sama, hitam dan putih. Tak ada siaran langsung persidangan. Yang ada hanya siaran langsung sepakbola piala dunia. TV-nyapun cuma itu-itu saja. Tak ada foto meme manusia berwajah binatang yang disertai tulisan tidak pantas atau lawakan tak lucu (garing). Bahkan anak SD saja sampai hafal siapa saja menteri-menteri yang duduk di dalam kabinet pemerintahan. Foto presiden jarang kami ganti, terkecuali hanya foto wakilnya saja. Senyum orang nomor satu di Indonesia saat itu selalu khas dan ngademin. Negara kami tak pernah terdengar ada yang merendahkan. Radio SW/MW masih bisa kami nikmati. Radio harus kami matikan kalau ada geledek pelan sekalipun. Bahkan saat itu kami gak tahu bahwa radio FM ternyata suaranya lebih bening. Ah...perjalanan cinta Raden Bentar dan Lasmini sekalipun masih bisa kami nikmati. Padahal katanya ada adegan mesumnya. Tapi sungguh saat itu kami belum faham apa arti sebuah kata mesum/porno dan lainnya. Kami belum tahu pacaran itu seperti apa? Untuk sekedar bisa berjalan berdampingan dengan teman perempuan yang kami sukai saja sudah merupakan sebuah hal yang teramat sulit dan langka. Jangan tanya masalah perasaan, jantung ini serasa mau copot kalau bisa meraih tangannya dan bergandengan. Persis pengantin baru yang belum faham betul apa itu syurga dunia. Sekedar say hello saja harus titip salam. Gak bisa melalui serangkaian kata melalui layar menyala. Paling tidak jika ingin sowan, maka kami harus bertemu langsung dengan yang bersangkutan. Tidak bisa diwakilkan sama sekali. Bercanda, tertawa, berbicara adalah sesuatu hal yang nyata. Bukan melalui berbagai emoticon yang banyak ragamnya. Kita dulu cuma tahu, beli emas ya sama warga etnis tionghoa. Tak ada rasa benci maupun segan hanya karena beda kelopak mata. Semua berjalan normal dan harmonis. Warna politik cuma ada tiga : kuning, hijau dan merah. Tak ada baju kotak-kotak. Tak ada barongsai hilir mudik di depan rumah tiap tanggal dan bulan tertentu. Bukannya kami anti, tapi kami kami tidak pernah mempertanyakan mengapa tidak ada? Tak terdengar ada yang menuntut berisik melalui sompok kecil bergelayut dipinggang. Tak ada selfie calon tertentu. Tak ada penggandaan KTP. Palu arit mutlak haram ditemukan. Tak ada yang berani. Semua aman. Damai. Anak-anak riang belajar mengaji di rumah ataupun disurau kecil. Itupun harus berpacu waktu dengan persediaan minyak tanah di dalam lampu petromak. Malu rasanya tak mengaji satu hari sekalipun, karena itu berarti kami akan tertinggal selangkah dengan kawan-kawan lainnya. Selesai sholat Isya ya sudah! Aktifitas hidup usai. Tidur. Kecuali malam Minggu, kami bisa sedikit bergadang sambil menunggu Rano Karno hadir dalam layar Cerita Akhir Pekan. Itupun bukan dirumah sendiri. Tapi nebeng sama kawan yang bapaknya mampu beli TV hitam putih ukuran 12 inchi. Dengan sedikit sogokan permen beberapa butir, kami bisa bebas ikut numpang tidur dikamarnya sekalian. Besoknya kan bisa numpang nonton si Unyil yang selalu cs'an sama si Usro dan si Ucrit. Siangan dikit lihat Laura yang punya bapak Mr. Charles. Aaaahhh.... Benar-benar negara yang aman dan makmur. Gak punya duit gak apalah. Toh masih bisa jajan gorengan dibayar pake beras kok! Dilumbung pocongan padi masih numpuk. Bumbu dapur tahunya cuma mecin sama garam. Penyedap rasa ayam atau sapi? Belum ada, Vroh! Kami gak kenal itu. Kalo terasi colek baru kami hafal. Hhhmmm...sayang diusia menjelang udzur, Pak Harto didemo. Padahal selama kami lahir sampai masa reformasi itu, hidup kami adem ayem saja tuh. Emang sih...ada beberapa orang yang ramai diberitakan korupsi. Tapi kami masih tetap bisa makan mewah menurut standar proporsional kami. Kami gak benci Pak Harto. Tapi ada yang tidak kami suka pada beliau, itu kalau sudah nongol dilayar kaca dalam acara LAPORAN KHUSUS setelah Dunia Dalam Berita. Alamat lama dah lihat Rano Karno dan Yessi Gusman. Aaahh...sekarang sudah berubah. Orang-orang tidak seramah dulu. Kerjanya cuma caci maki lewat layar kaca. Mendadak ngartis bikin skenario pembibitan opini publik. Merubah foto orang bisa sendiri. Modal ceban saja sudah bisa buka internet. Aaahhh....kangen masa-masa damai dulu. Pulang malam gak takut maling. Kalau hantu iya. Sekarang kaum hantu justru diburu buat dapetin rupiah dan sponsor. Makanya mereka enggan nongkrong sembarangan. Takut korbannya bawa HP berkamera, rugilah dia. Jadi bahan narsis dan update status alayer. 80's dan 90's the golden moments. Setuju? Sulaiman Daud














