Oleh Ustadz Oemar Mitta
Kaidah ke 3 & ke 4
Orang yang berkualitas ialah mereka yang pola pikir dan pola tindakannya sesuai kalam Allah di dalam Al Qur’an.
Karena sejatinya Al Qur’an ialah jawaban tuntas dari seluruh pertanyaan manusia.
Terkadang dalam kehidupan kita menemui karang dan gelombang ujian yang tak terduga.
Sehingga harus menelan pahitnya perpisahan setelah kebersamaan, yaitu perceraian.
Thalaq atau cerai terkadang menjadi jalan atau solusi dari getirnya kebersamaan.
“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan”.
(Q.S Al Baqarah: 237)
Ayat ini berbicara bahwa hati mereka yang beriman ialah yang mampu menggores ingatan kebaikan selayak diatas batu, sedangkan menggores ingatan kesalahan selayak di atas air.
Kita kadang paling cepat lupa kebaikan yang telah dilakukan pasangan hidup kita, baik suami atau istri.
Syaithan selalu menjadikan seorang suami amnesia terhadap kebaikan pasangannya.
Padahal, orang yang paling setia mendoakan kita setelah kita meninggal dunia ialah:
1. Orang tua
2. Suami-istri
3. Anak-anak
Jangan mengharapkan suamimu selayak Rasul, kalaulah kita belum selayak Siti Khadijah.
Apapun kondisi pasangan kita setidaknya mereka pernah membawa bunga yang membuat kita tersenyum.
Sekecewa-kecewanya kita terhadap istri, merekalah yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak kita.
Sekecewa-kecewanya kita terhadap suami, merekalah yang telah mencukupkan kita dan bertanggung jawab atas istri di pengadilan Allah.
Kualitas hidup itu berbanding lurus dengan mengingat kebaikan orang yang menitipkan investasi kebaikan untuk kita.
Karena syukurnya kita kepada Allah tidak akan diterima oleh Allah sampai kita bersyukur kepada mereka yang telah memberi kebaikan kepada kita.
Kata Imam Nawawi, “Kalaulah engkau tak mampu bersyukur kepada mereka yang menitipkan kebaikan padahal mereka nyata ada didepanmu terlebih kepada Dzat yang tak terlihat yaitu Allah”.
Mengingat kebaikan itu energi kebaikan dalam kehidupan.
Kalaulah kita melupakan kedzaliman orang maka mungkin Allah akan mengirimkan orang yang akan melupakan kedzaliman kita, yang memberi udzur kepada kita.
“Manusia adalah hujjah yang terang atas dirinya sendiri yang mengikatnya dengan apa yang dia lakukan dan apa yang dia tinggalkan, sekalipun dia menghadirkan segala alasan atas kejahatanNya, ia tidak bermanfaat baginya”.
(Q.S Al Qiyamah: 14-15)
Apa yang sulit dalam diri kita?
Yang sulit ialah bagaimana kita harus senantiasa jujur kepada diri sendiri.
Kebaikan hati dimulai dengan kejujuran dirinya, sehingga dia akan memahami kekurangan dirinya dihadapan Allah.
Jujurlah dengan diri sendiri yang terdalam. Karena bisa jadi kita akan sibuk membela kesalahan kita dihadapan orang, tapi hati kita akan menelanjangi diri kita dan menjabarkan siapa kita sejatinya.
Syaithan selalu menjadikan manusia lupa kepada dirinya sendiri, tapi dia tak lupa kepada kesalahan orang lain.
Imam Qotadah berkata, “Ada orang yang sibuk melihat cela dan kekurangan orang lain tapi ia lalai menghitung dirinya sendiri”.
Para Salaf berkata, “Jujur yang paling indah ialah jujur mengakui dosa kita”
Kenapa Allah membimbing Nabi Adam bertaubat dan tidak membimbing Iblis, padahal sama-sama melakukan satu kesalahan?
Karena sesungguhnya Allah menjumpai Nabi Adam menyadari kehinaan dirinya dihadapanNya dan itulah yang tidak dilakukan oleh Iblis, itulah yang menjadikan Allah membimbing Nabi Adam.
Contoh pengakuan diri di dalam Al Qur’an:
-Nabi Adam Alaihissalam
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
(Q.S Al-Araf: 23)
-Nabi Nuh Alaihissalam
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya, Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”.
(Q.S Hud: 47)
-Nabi Musa Alaihissalam
Musa berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”.
Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Orang yang merasa kurang takaran iman lebih Allah cintai daripada mereka yang merasa surplus dalam takaran iman.
Orang yang baik ialah mereka yang sibuk melihat cela dirinya.
Mereka yang tak disibukkan dengan kebaikan akan disibukkan dengan kemaksiatan.
Termasuk kemaksiatan ialah sibuk menghitung dosa orang lain, tapi lalai terhadap dirinya sendiri.
Jujur yang paling indah ialah jujur kepada dirinya sendiri.
Apa yang akan kita dapat ketika kita jujur pada diri sendiri, kita akan merasa hina dihadapan Allah.
Sombong itu terbagi menjadi 3, antara lain:
1. Sombong pada hartanya
2. Sombong pada jabatannya
3. Sombong pada amalnya.
Dan yang paling buruk ialah yang ketiga,
Hasan Al Bashri mengatakan, “Tawadhu itu tidaklah kamu keluar dari rumahmu kecuali engkau melihat siapapun itu lebih baik dari dirimu”.
Kalau ada orang yang lebih tua, katakanlah “Dia telah mendahuluiku dalam kebaikan”.
Kalau ada yang lebih muda, “Aku telah mendahului dia dalam kemaksiatan”. Tawadhu hati lebih utama daripada tawadhu dalam masalah harta.
Dusta yang buruk setelah kepada Allah ialah dusta manusia kepada dirinya sendiri padahal ia tahu kehinaan dirinya.
Hikmah mengapa kita harus menghinakan diri dihadapanNya ialah:
1. Jujur dengan dirinya sendiri
2. Selalu memperbanyak istighfar
Tasbih layaknya pengharum dan istighfar selayak detergen yang membersihkan noda.
3. Kamu akan berprasangka yang baik kepada setiap orang
Imam Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa yang ingin diwafatkan dengan husnul khatimah, maka hendaklah dia berprasangka baik kepada orang lain”.
Dan berprasangka yang baik tak akan didapat hingga jujur dengan dirinya sendiri.
Kenalilah semua kekurangan diri kita dalam perkara apapun.
“Ya Allah berikan jiwaku ini ketakwaan, sucikan ia, Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau penolongnya dan pemiliknya”.
(H. R Muslim)
Orang yang beruntung ialah mereka yang menyesal dengan dosanya sebelum ajal itu datang.
Masing-masing dari kita menjadi saksi atas kemaksiatan diri kita sendiri.
Sebelum melihat orang lain buruk, jujurlah bahwa kitapun tak lebih baik dari mereka.
Sadarkah kita orang yang hadir dalam mungil kehidupan keluarga kita, dari pasangan hidup kita, mereka pasti memiliki kekurangan dan kesalahan, sebagaimana kita memiliki kekurangan dan kesalahan.
Tapi sejatinya, walaupun ada kesalahan dan kekurangan, mereka adalah orang-orang yang sejatinya pernah menggoreskan kebaikan dalam kehidupan kita. Mungkin kita pernah merasakan gelombang-gelombang kekecewaan.
Tapi, bukankah pasangan hidup kita, pernah membawa bunga yang membuat kita tersenyum.
Perhatikanlah, orang yang telah berusaha untuk mencarikan rezeki untuk kita, walaupun mereka pernah salah.
Tapi bukankah dia telah memberikan rezeki yang terbaik untuk keluarganya. Perhatikanlah istri kita, walaupun mungkin mereka melakukan kesalahan, bukankah mereka yang telah melahirkan anak-anak kita dan bertaruh dengan nyawanya.
Orang yang terbaik adalah mereka yang senantiasa menggores kebaikan selayak memahat gambar di atas batu.
Siapapun yang baik adalah mereka yang senantiasa mengingat kesalahan, sebagaimana dia menulis di atas air yang cepat akan sirna, itulah sejatinya orang yang senantiasa berada dalam pusaran kebaikan, adalah mereka yang mengingat kebaikan dari orang yang di sekitarnya.
Tahukah kita pula bahwasanya kehidupan kita akan berbanding lurus dengan kemuliaan ketika kita jujur kepada diri kita sendiri.
Mungkin CCTV luput untuk merekam kita, mungkin orang lain tidak tahu bagaimana hinanya dan tercelanya diri kita.
Tapi jujur setiap orang adalah mengerti tentang kekurangan dan kesalahan yang dia lakukan.
Orang yang senantiasa memperhatikan dirinya maka dia akan merasa hina dengan amal yang telah dia perbuat.
Siapapun yang jujur dengan dirinya, akan menjadikan dia gampang untuk istighfar dan bertaubat kepada Allah.
Dan siapapun yang jujur kepada dirinya, akan meraih tawadhu dan terhindar dari sifat ujub pada ibadah dan amal yang dia kerjakan.
Inilah yang menjadikan kita memahami kaidah ketiga dan keempat.
Janganlah engkau lupa kebaikan disekitarmu dari pasangan hidupmu dan yang lainnya, Dan janganlah engkau lupa untuk mengawasi dirimu sendiri bahwasanya engkaulah saksi atas seluruh kesalahan yang kamu lakukan, ketika manusia luput untuk melihat kesalahanmu.
(Ditulis: Jakarta, 02 September 2020)