Journey with Qur’an #1
Oleh Ust. Oemar Mitta Dari Buku “50 Kaidah Al-Qur’an Untuk Jiwa dan Kehidupan”
Al Qur’an itu tak hanya diibadahi ketika dibaca, tapi ia sejatinya kekuatan tanpa perisai yang merubah apapun.
Dari Umar R.A berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah mengangkat derajat beberapa kaum melalui kitab ini (Al Qur’an) dan Dia merendahkan beberapa kaum lainnya melalui kitab ini pula.” (H.R Muslim)
Siapapun yang bersama Al Qur’an, maka dia akan terdepan dalam peradaban dan pemikiran. Ketika bangsa pengembara kambing tersentuh dengan Al Qur’an, maka Allah jadikan mereka memimpin peradaban menggantikan Romawi dan Persia.
Interaksi dengan Al Qur’an 1. Membacanya 2. Memahami artinya 3. Memahami tafsir, ta’wil dan interpretasinya 4. Tata perilaku dan sikap Siapapun yang bersama Al Qur’an, maka akan mulia.
Kaidah pertama dari “50 Kaidah Al-Qur’an Untuk Jiwa dan Kehidupan” ialah,
Berkata Yang Baik
“Berkatalah yang baik kepada sesama manusia” (Al-Baqarah: 83)
Al-Qur’an sangat mengetahui bahwa pilar kebaikan manusia tergantung salah satunya dalam pilar komunikasi, tak mengherankan bagaimana detilnya Al-Qur’an untuk selalu mengarahkan manusia untuk memperhatikan setiap ucapannya. Ucapan yang lurus membuat kualitas hidup bertambah dan membaik. Kita faham bahwa berkomunikasi sangat berbeda dengan berbicara, karena bicara belum tentu berkomunikasi. Sedangkan berkomunikasi sangat membutuhkan seni dan pola yang indah untuk menghasilnya selaksa indah kehidupan Ucapan yang baik mencerminkan hatinya dan sebaliknya.
Pertanyaannya, Mengapa kita harus berbicara yang baik? 1. Karena kualitas hidup akan kita raih dimulai dari ucapan kita, bukankah setiap ucapan manusia memiliki reaksi pada sesuatu di sekitarnya? Dan salah satu sebab masuk islamnya kaum Anshar adalah kelembutan kata-kata dari sahabat Mushab bin Umair R.A 2. Karena omongan yang baik itu investasi Surga, karena salah satu identitas penduduk surga ialah Layyin yang maknanya ialah lembut perkataannya “Imam Nawawi bertutur, dijadikan telinga dua dan mulut itu hanyalah satu, supaya kita banyak mendengar daripada berbicara” 3. Karena Syaithan memproduksi kerusakan dimulai dari kata-kata yang buruk, lalu ia menjadi penumpang gelap untuk mempermusuhkan setiap manusia
Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (Q.S Al-Isra: 53)
4. Karena setiap ucapan adalah doa, yang sejatinya penduduk langit akan bekerja untuk mengaamiinkan setiap ucapan manusia 5. Karena salah satu hisab yang berat dan investasi neraka adalah karena urusan lisan.
Lalu, Kepada siapa kita berkata yang baik? 1. Kepada Allah Sang Pemilik Segala Kesempurnaan, karena tak ada yang lebih berhak mendapatkan perkataan yang baik kecuali Allah.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (Al-Isra: 36)
2. Kepada Ibu dan Bapakmu. Karena air susunya terlalu mahal dan karena keringatnya terlalu berharga. Termasuk keburukan ialah ketika kita mampu berbicara panjang lebar dengan orang lain tapi tak mampu berbicara yang nyaman dengan ibu bapakmu. Mata uang yang paling laku bagi orang tua ialah membersamai obrolan mereka.
“...maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al-Isra: 23)
3. Kepada pasangan hidupmu Tak akan disebut baik hingga orang terdekatnya mengatakan ia baik. 4. Kepada anak-anakmu 5. Kepada hamba beriman engkau harus mengucapkan kalimat-kalimat terbaikmu. 6. Kepada teman-teman maksiatmu. Kepada para pendosa pun tak selayaknya engkau berkata buruk 7. Kepada Faqir Miskin 8. Kepada mereka yang belum beriman
Sudahkah kita mulai hari ini dengan perkataan yang baik?
Selanjutnya, Kaidah kedua ialah,
Pola Pikir
“....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah: 216)
Memahami bahwa segala sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi banyak kebaikan di ujung akhir nanti. Manusia akan tersenyum dan lapang hatinya serta mengajarkan optimisme hidup Optimisme hidup itu energi besar yang tidak semua manusia bisa mendapatkannya. Karena semua hal dari remeh temeh pun bisa meluruhkan optimisme hidup manusia. Tak ada yang salah dalam takdir, yang salah ialah ketika hati kita keruh membaca takdir.
Optimisme berbanding lurus dengan memahami takdir dengan benar, dan takdir Allah itu: 1. Tidak ada yang bersifat mendzhalimi manusia itu sendiri 2. Sebanding dengan ilmu Allah yang tak bertepi, Hikmah-Nya yang tiada berujung dan rahmat-Nya yang yang tak berfinish
Cintanya Allah kepada makluk lebih besar dari kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.
Banyak kisah-kisah yang dapat diambil dari takdir-takdir yang Allah berikan. Kisah tersebut ialah, 1. Bukankah terusirnya Rasulullah berujung manis dengan kemenangan beliau? Terisolir Rasulullah dari Mekkah, terlihat kalah dan hina. Tapi, justru di Madinah, agama Allah dimenangkan, 2. Bukankan pahitnya menghanyutkan Musa di atas Sungai Nil, sangat berat bagi Ibunda Musa? Tapi perhatikan ujungnya, bukankah Musa kembali ke pangkuan Ibunya dengan kondisi yang jauh lebih baik? 3. Kisah Nabi Yusuf yang berfinish manis dan mulia 4. Kisah nyata Ummu Salamah 5. Kisah nyata Suami Istri
Kenapa Allah membebani kita dengan takdir ujian yang berat? Karena Allah ingin dengar rintihanmu, Allah ingin mendengar doa, Allah ingin supaya engkau mendapat pahala kesabaran
Apapun yang kita temui hari ini, pastikan selalu ada kebaikannya. Kalaulah tidak hari ini, besok atau lusa, yang pasti akan hadir dalam teras kehidupan kita
(Ditulis: Jakarta, 22 Agustus 2020)





