hai. aku rindu
boleh? boleh kukatakan?
𓃗
🩵 avery cochrane 🩵
ojovivo

shark vs the universe
untitled
Cosimo Galluzzi
RMH
Cosmic Funnies

★

Kaledo Art
official daine visual archive
wallacepolsom
Sade Olutola
EXPECTATIONS
Misplaced Lens Cap
Mike Driver
Today's Document
tumblr dot com
hello vonnie
Monterey Bay Aquarium

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Latvia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Poland
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
@riskasania
hai. aku rindu
boleh? boleh kukatakan?
don't judge a book by its cover. rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. urip iku mung sawang-sinawang.
bukankah yang terlihat hanya permukaannya saja? kita sering kali merasa iri atau ingin menjadi seperti orang lain. padahal kita tidak tahu bagaimana jungkir-balik yang dilakukannya. dan belum tentu kita sanggup mengalaminya.
Hanya Passion?
“Ada yang lebih penting daripada sekedar mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat.” - Mutia Prawitasari
Itulah sebaris kalimat yang ditulis oleh Teh Mutia yang saya baca di linimasa Tumblr beberapa waktu yang lalu. Sekali lirik, saya tak butuh banyak waktu untuk sepakat. Ya, saya sepakat, sebab memang benar bahwa menjadi bermanfaat dengan segala yang ada dan belum ada dalam diri, yang diketahui dan belum diketahui, tentu lebih penting daripada sekedar mengejar satu bagian hidup bernama passion.
Passion, betapa kata itu menjadi sangat ramai dibicarakan di kalangan anak muda saat sekarang. Pasalnya, saya tidak hanya mendapatinya di obrolan-obrolan bersama teman satu lingkaran, di kantor, atau di cuap-cuap media sosial, tapi juga ternyata banyak dibicarakan di seminar, workshop, atau bahkan diskusi online. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan passionmu? Apakah kegiatan yang sangat kamu suka dan kamu tidak pernah bosan dalam melakukannya? Apakah yang membuatmu ingin selalu bergerak?
Disadari atau tidak, mengejar passion seringkali bersisian dengan keberadaan ego pribadi. Entah itu ego untuk menunjukkan diri, mengaktualisasikan diri, atau bahkan untuk mengabarkan pada dunia tentang kemampuan-kemampuan diri. Padahal, terlepas dari berbagai ego pribadi tersebut, anak-anak muda dianugerahi energi yang jauh lebih besar untuk menggerakkan passionnya pada tujuan yang lain daripada hanya sekedar bertujuan untuk mewujudkan ego pribadi, bukan? Tentu! Sebab, secara umum kita semua dianugerahi kesempatan, peluang, dan energi yang sama besar untuk bisa menjadi bermanfaat dengan passion yang kita punya.
Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan dengan passion kita sebagai generasi muda?
Kita perlu melunakkan ego agar bisa memperjalankan passion yang kita miliki di jalur yang selaras dengan kebermanfaatan. Mengapa perlu demikian? Sebab, passion memiliki keistimewaan dan kekuatan yang besar untuk menggerakkan seorang individu dalam melakukan sesuatu. Pernah melakukan sesuatu sampai lupa waktu dan lupa lelah tapi sangat bahagia menyelesaikannya? Ya, seperti itulah hebatnya bergerak dengan passion. Dampaknya tentu akan sangat luar biasa jika kita menggunakan passion yang dimiliki sebagai kendaraan agar bisa bermanfaat untuk sekitar dan sesama manusia.
Lalu, bagaimana caranya agar passion yang dimiliki bisa menjadi bermanfaat?
Pertama, berkenalanlah lebih dalam dengan diri sendiri dan temukanlah kekuatan apa yang melekat pada diri. Dengan mengetahui hal ini, kita akan lebih mudah memetakan amunisi-amunisi apa sajakah yang bisa digunakan untuk menguatkan passion yang dimiliki. Banyak cara untuk dapat melakukannya: bisa dengan membuat list kelebihan dan kekurangan, bertanya pada orang-orang yang dipercaya, mengikuti serangkaian tes psikologi, atau dengan mengikuti training pengembangan diri. Tentunya, jangan lupa juga untuk mencari tahu lebih lanjut tentang seluk beluk manusia dan tujuan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an, ya!
Kedua, pekalah terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar. Lihat, dengar, rasakan, dan berempatilah! Dunia ini tidak sedang baik-baik saja, kita sedang dihadapkan pada banyak masalah di berbagai sektor. Ada pendidikan yang kualitasnya tidak merata, ada kasus kelaparan, ada kemiskinan kaum marginal, ada masalah-masalah kesehatan yang masih jauh dari MDGs (Millenium Development Goals), ada anak-anak muda yang galau menentukan tujuan hidup, perang-perang pemikiran, anak dengan kasus kecanduan games dan pornografi, dan masih banyak lagi.
Ketiga, pikirkanlah, “Dengan passion dan kekuatan diri yang ada, di ranah manakah saya bisa berkontribusi?” Ini penting untuk dicari jawabannya, sebab dengan begitu kita akan mengetahui apa yang bisa dilakukan, bagaimana melakukannya, dan sejauh mana bisa berkontribusi. Mengenai hal ini, saya jadi ingat pesan seorang pembicara seminar pernah berkata, “Hidup adalah tentang memilih ranah permasalahan untuk kemudian memilih untuk berkontribusi pada perbaikannya.”
Keempat, carilah lingkaran-lingkaran pertemanan yang mendukung, yang juga memiliki visi dan misi yang sama dalam memandang suatu permasalahan yang sedang kita soroti. Ini menyenangkan! Sebab, biasanya di lingkaran-lingkaran pertemanan seperti inilah kita bisa lebih mudah mendapat akses terhadap fakta yang terjadi, informasi terbaru, serta mudah juga dalam bahu membahu mewujudkan kebermanfaatan dalam frekuensi yang sama dan atmosfer yang membangun.
Kelima, bergerak dan lakukanlah semuanya dalam rangka bersyukur kepada Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya atas passion yang melekat dalam diri, yang meski hanya dititipi, bukan dimiliki. Jangan biarkan poin satu sampai dengan empat berhenti di angan-angan.
Kembali lagi pada kalimat Teh Mutia di atas: menjadi bermanfaat itu lebih penting dari pada sekedar mengikuti passion. Semangat ya semuaaa! Semoga Allah mempertemukan kita pada pintu-pintu kebaikan yang akan dengan senang hati kita masuki, dan akan dengan bahagia kita hidupkan untuk kebermanfaatan ;)
Benarkah kamu menyukai hujan?
Kamu bilang kamu menyukai hujan. Namun bila ditanya mengapa, kamu tidak tahu jawabannya. Hanya tahu bahwa kamu menyukainya.
Kamu pun bertanya, benarkah kamu menyukai hujan? Bukankah kamu tidak menyukainya? Benarkah kamu menyukai hujan? Bukankah kamu memiliki kenangan buruk tentangnya? Lalu kamu diam.
Maka renungkanlah kembali. Benarkah kamu menyukai hujan? Bila menerjang rintikannya pun kamu enggan.
yang saat ini kubicarakan bukanlah hujan dalam arti yang sebenarnya. hanya saja, barangkali memang butuh waktu yang cukup untuk berpikir kembali tentang apapun. tentang pilihan-pilihan, tentang (barangkali yang menyangkut) masa depan. barangkali perlu memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan.
- Eko Triono
rencanamu ke depan apa ris?
- tiba-tiba ditanya. entahlah. aku bahkan tidak tahu apa rencanaku.
aku tak pernah sampai hati menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, terlebih mengenai perasaan, kepadamu. biar saja itu jadi milikmu, kecuali bila kau ceritakan sendiri padaku. semalam, tanpa sadar air mataku mengalir ketika terbersit beberapa memori percakapan, cerita, dan kejadian lalu tentangmu.
Dynamic Garden House that Transforms
From the architect Caspar Schols:
This is a dynamic garden house which I built at my parental house. The idea is that the house can be easily adjusted to any weather type, mood or occasion. Mainly built in Douglas wood, it contains an inner shell of double glass and an overarching roof of steel. The space is heated by a small but efficient Norwegian wood stove. The whole project gets its stability from a traditional timber truss structure and is built on 18 pillars of reinforced concrete (150*20*50cm). Excluding terraces, it measures 6 m long and 4 m wide when at its smallest. The length can be increased to nearly 12 m when desired. The majority of the house I prepared as a ‘kit’ in my mother’s garage in about four months. After finishing the kit, friends and family helped putting it together on site in two weeks. Afterwards I worked two more months to finish the project.
Via
See more ARCHy here.
Satu hal yang aku takutkan, bila mungkin suatu saat nanti sudut pandangku tak akan lagi sama.
- lalu aku berharap sudut pandangku tak akan berbalik seratus delapan puluh derajat.
akhir-akhir ini sering tiba-tiba merasa rapuh
....suatu saat
Suatu saat ‘perjalananmu’ akan sampai di tujuan. Saat kamu akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan, kekhawatiran, keresahan, dan ketidakmengertianmu hari ini. Saat itu, kamu akan bersyukur atas semua ujian yang menimpa hari ini. Sebab ujian itulah yang menjadikanmu orang yang lebih baik.
Kurniawan Gunadi
seolah ada keyakinan dalam sepenuh keraguan
aku, yang bahkan tak tahu-menau