Talk: Selektif
Her: Emang salah ya, kalau seseorang itu sangat selektif dalam menentukan calon pasangannya?
Me: No, it’s not. I’m the selective one. Tapi kita harus membedakan antara selektif dengan banyak maunya.
Her: Hah? Maksudnya gimana tuh?
Me: Kalau selektif itu, tahu tujuan dan prioritas. Sedangkan banyak maunya, kamu hanya fokus pada kriteria. Ibaratnya taqlid buta sama kriteria.
Her: Masih ngga paham deh.
Me: Contoh, kamu butuh membeli baju. Kamu paham tipe, warna dan kualitas baju yang seperti apa yang kamu butuhkan. Saat menemukan itu di toko baju, ngga peduli brand nya apa (selama ia sesuai dengan budget yang kamu miliki), meski itu baju pasar sekalipun. Asal tipe, warna dan kualitas oke, kamu akan membelinya. That’s called selective. Tahu tujuannya. Menentukan dulu hal yang ditujunya seperti apa dan bagaimana.
Berbeda dengan orang yang terlalu banyak maunya. Padahal apa yang dia butuhkan sudah dapat, tapi dia ngga mau karena bukan dari toko atau brand tertentu. Sehingga meski sebenarnya dia bisa saja mendapatkan baju itu, jadinya ngga dapat karena terlalu taqlid buta pada brand tersebut. Sampai sini paham?
Her: Sedikit. Tapi korelasinya sama jodoh, apa?
Me: Kalau kita tahu tujuan kita menikah, visi-misi sudah ditentukan, maka harusnya fokus utama kita pada dua hal itu dulu paling utama. Semisal aku, saat ada CV yang masuk, yang aku lihat pertama kali bukan fotonya. Bukan data dirinya. Tapi pertama kali yang aku lihat adalah: visi-misi dan aqidahnya. Harga mati dua hal itu.
Setelah aku baca dengan baik, jika dua hal itu minimal 80-90%, baru lanjut baca data diri dan lihat fotonya. Kalau dua hal itu udah ngga mencapai batas minimal, sorry to say yaa dadah good bye hehehe. Karena tujuan aku jelas. Dan ngga main-main dengan tujuan itu.
Namun, kalau sudah sampai di angka 80-90%, barulah aku lihat data dirinya, pekerjaannya, nasabnya, kekurangannya, fisiknya. Kemudian aku list. Dari semua hal yang ada dalam dirinya—yang tertulis di sana, ada berapa banyak yang aku terima atau ridha terhadapnya, dan mana yang ngga aku ridha.
Karena gimanapun juga, kita akan bertemu setiap hari, interaksi setiap hari, menjalankan visi-misi. Kalau dari kekurangan dan fisik dia ada yang ngga aku ridha, yaa ga bisa maksa juga. Sekalipun tadi visi-misi udah oke.
Setelah aku list, aku analisa. Hal-hal yang engga aku ridhai itu, bisa aku tolerir ga ya ke depannya. Entah mengenai kekurangan, finansial, fisik, suku, dsb. Kalau menurutku sepertinya aku bisa tolerir dan akan baik-baik saja, yaudah. Aku tinggal istikharah.
Remember: istikharah dilakukan jika sudah ada kecenderungan. Bukan masih abu-abu ya. Karena dalam istikharah kita meminta apakah yang kita yakini ini yang terbaik atau bukan. Kalau masih abu-abu yaa self-analysis dulu selesaikan.
Oh iya, self-analysis ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Secara mental sudah siap, sehingga dia tahu apakah dirinya bisa menerima orang tersebut atau ngga. Semua ini berawal dari PENERIMAAN DIRI SENDIRI.
Orang yang masih bingung dengan pilihannya, masih banyak maunya, tandanya cuma dua:
1. Dia belum siap menikah,
2. Masih ada trauma masa lalu yang belum selesai.
That’s it. Dan yang aku lihat kayanya dirimu ada di poin nomor dua. Kenapa? Karena kamu kelihatan udah siap menikah, tapi kamu selalu bingung menentukan pilihan. Dan selalu stuck di kriteria. Harus sempurna sesuai yang kamu inginkan. Analisaku, ada masalah dengan sosok laki-laki dalam kehidupanmu. Entah itu ayah, kakak laki-laki atau pernah disakiti laki-laki. Jadi, kamu terlalu kekeuh dengan kriteria kamu. Harus begitu. Kalau ada yang kurang dikit, ngga mau. Padahal kekurangannya masih bisa ditolerir. Benar gitu ngga?
Her: …….
Me: Selesaikan dulu yang ada dalam diri kamu. Kamu ngga akan bisa menemukan sosok yang kamu butuhkan, kalau hal itu belum selesai. Terima masa lalu dan diri kamu sendiri ya? Kasihan lho itu diri kamu. Sudah siap menikah, butuh pendamping, tapi masih harus terkukung dengan trauma masa lalu. Sekalipun ada laki-laki yang nanti sesuai kriteria kamu, namun ketika dalam rumahtangga ada trigger tentang trauma kamu, pasti hal itu akan muncul lagi. Litaskunu ilaiha dalam rumahtangga ngga akan kamu dapatkan jika dalam diri kamu belum selesai.
Paham sampai sini? Semangat, ya. Allah akan datangkan seseorang yang tepat di waktu yang tepat dengan cara yang tepat. Insya Allah.
Her: *crying*











