Dulu sering banget nulis "dear my future husband" sekarang mau coba tulis dear my husband karena alhamdulilah wujudnya sudah ada dan nyata. Bisa dilihat setiap hari, dipeluk setiap saat dan didoakan setiap detik.
Sewaktu single, aku berpikir mungkin ngga ada lelaki yg mau sama aku. Dengan segala keterbatasan yg aku punya, masa lalu keluarga yang kurang baik, sampai keadaan keluarga kecilku yang penuh drama. Tapi atas izin Allah, segala hal yang ga mungkin menjadi mungkin. Semua yang dulu rasanya berat dilalui, ternyata Allah permudah.
Siapa sangka, dari beberapa lelaki yang memilih mundur karena keadaan keluargaku, justru kamu tanpa berpikir panjang, saat itu langsung mengiyakan dan bersedia menjadi imamku; penyempurna agamaku. Kamu mungkin adalah lelaki 'gila' yang bersedia mengambil jalan ini di saat orang lain takut. Kamu adalah sosok yang aku ga pernah sangka kehadirannya nyata.
Sayang, kamu memang bukan lelaki sempurna, begitupun aku sebagai istrimu. Tapi, I very grateful to have you in my life.
Aku pikir, lelaki yang bisa menerima segala keadaan kita, baik dan buruk. Cuma ada di drama TV, cerita novel atau film layar lebar. Tapi, nggak. Justru aku merasakan nyata dengan adanya kamu.
Kamu nggak memilih meninggalkan aku, saat aku harus menjalani pengobatan selama satu tahun lamanya (and I'm so happy because we did it,biiznillah). Kamu juga nggak memilih meninggalkan ataupun menyalahkan aku sebagai istri,saat di tahun kedua pernikahan kita, rahimku belum terisi nyawa sesosok bayi yang kita harapkan.
Kamu begitu sabar mendampingi segala proses pengobatanku, meski itu nggak mudah dan terasa berat buat kita. Iya, aku tahu bahwa yang merasa berat menjalani ini nggak cuma aku, tapi juga kamu.
Bahkan sampai hari ini, aku masih nggak nyangka, kenapa kamu bisa menerima keadaan keluargaku yang bahkan sampai detik ini drama nya nggak kunjung selesai. Bahkan kamu anggap semua episode kehidupanku itu sangat menarik, sampai kamu pikir aku adalah wanita kuat yang Allah izinkan mampu melewati itu semua.
Kamu tahu nggak sih, di saat kamu pernah bilang bahwa kamu merasa nggak pantas dampingi aku, justru beberapa waktu aku merasa insecure menjadi pendamping kamu. Beberapa kali aku berpikir, mungkin harusnya bukan aku yang menjadi istri kamu. Harusnya perempuan lain yg jauh lebih baik dari aku. Tapi, astaghfirullah. Aku segera memohon ampun pada Allah atas pemikiran ku.
Sekarang, membayangkan kamu ninggalin aku aja, rasanya nyawaku nggak berada di tempat nya. Hilang. Sayang, aku nggak tahu gimana jadinya hidup aku kalau Allah nggak mendatangkan kamu di saat krusial dalam kehidupan aku kemarin.
I love you because of Allah. Dan aku selalu berdoa, semoga Allah izinkan kita terus bersama hingga surga-Nya. Aamiin.
Terima kasih ya, sudah mau menjadi pendamping hidupku. ❤️