Cookie Run:Kingdom Official!

titsay
sheepfilms

blake kathryn
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available

tannertan36
No title available
occasionally subtle

❣ Chile in a Photography ❣

@theartofmadeline
No title available
I'd rather be in outer space 🛸
Fai_Ryy

EXPECTATIONS
No title available

gracie abrams
Cosimo Galluzzi
Sweet Seals For You, Always

ellievsbear

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Germany
seen from Ecuador

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Venezuela
seen from Russia

seen from Singapore

seen from Germany
@abnaaqsanqar
-Mencintai yang tidak sederhana, ketika kita menjaga orang yang kita cintai dari kedurhakaan pada Allah. Seseorang mungkin bisa menulis buku hanya dalam waktu 16 hari, tapi belum tentu karyanya abadi. Imam Bukhori menulis kitabnya selama 16 tahun (penantian yang sangat pnjang) dan karyanya abadi di hati ummat. Waktu memang menyimpan cobaan yg berat, tapi dengannya Allah ingin menempa kita menjadi hambanya yang shaleh, ingin mengganti waktu waktu terberat kita dengan pahala dn ganjaran yang agung.
لولا محن الدنيا ومصائبها لأصاب العبد من أدواء الكبر والعجب والفرعنة وقسوة القلب ما هو سبب هلاكه عاجلا وآجلا.If it wasn't for the hardships of life the servant would have been afflicted by arrogance, self-worship, Pharoanic self-aggrandizement, and the hardness of the heart, which would have caused him to perish sooner or later.
Ketika seorang hamba meninggalkan sesuatu karena tidak ingin bermaksiat pada Allah. Maka Allah akan mendatangkan sesuatu yang suci lagi berkah yang lebih besar baginya.
PERUMUSAN DASAR NEGARA, DI GEDUNG JAWA HOKOKAI, 9 ORANG (FOUNDING FATHERS: SOEKARNO, HATTA, MARAMIS, YAMIN, SUBARJO. WAHID HASYIM, AGUS SALIM, ABDUL KAHAR MUZAKIR, ABIKUSNO)
Yang mau pdf kumpulan rangkuman seluruh buku-buku karya Buya Hamka. Bisa follow akun IG @muslimmudamembaca yah..
Aku ini Sarjana Apa?
Tak ada yang berbeda dengan hari ini kecuali dengan amal yang tak bertambah dan umur yang semakin berkurang; ada juga yang bagi sebahagian kawan-kawan menjadi hal special, yaitu didapatnya sebuah penghargaan tanda menyelesaikan pembelajaran selama empat tahun bernama kuliah. Ditempuh waktu yang cukup lama itu untuk mentasbihkan diri menjadi seseorang bergelar sarjana.
Diantara kebahagian yang ramai itu, seorang dari mereka bertanya pada dirinya, ‘jika kelak murid atau anakku bertanya, bapak ini sarjana apa?’ apa pula kelak yang akan aku jawab untuk mereka itu. Akankah kujawab terlebih dahulu bahwa aku ini alumnus sebuah universitas ternama di sebuah kota suci yang selalu didamba semua anak-anak negeri untuk sampai disana dan belajar dengan para guru-guru hebatnya. Atau kujawab saja bahwa aku ini seorang sarjana dari sebuah program beasiswa yang sangat sulit seleksinya? Atau dengan gelar kebanggan mereka yang lulus dari Timur Tengah itu?
Pikiran-pikiran dan pertanyaan itu terus ada di pikirannya hingga sulit betul ia memejamkan matanya. Pikirannya kembali saat-saat dia masih duduk di bangku pendidikan pesantren dan memimpikan duduk di kursi para mahasiswa, mendengarkan dosen menjelaskan mata kuliah dengan tenang dan khusyuk. Tapi apa yang dibayangkannya sejak dulu itu hampir tak juga ia rasakan dan dapatkan. Sejak dulu yang jadi pikirannya bahwa di kampus itu ia akan mendapatkan suasana kelas yang hidup, mahasiswa yang sibuk mencatat dan mendengarkan dengan baik; lingkungan yang bersih, diskusi-diskusi yang aktif dan perpustakaan yang ramai dipenuhi mahasiswa yang rajin dan semangat membaca disana.
Pernah juga terlintas olehnya bahwa setelah jauh berjalan dari tanah air, mereka yang menjadi mahasiswa pilihan itu akan membawa segudang pikiran untuk kemajuan bangsa dan ummatnya disana, mereka yang pikiran-pikirannya terus mengolah masalah dan solusi untuk dituangkan dalam amal perbuatan kelak jika kembali ke tanah air. Mereka yang hidup dengan menghirup udara tanah kenabian dan bumi hijrah, hidup pula semangat mengabdi dan tinggi rasa pedulinya. Mereka yang tidak hanya kaya ibadah individualnya, tapi juga hebat menginspirasi; karena disana jasad nabi qudwah disemayamkan dan mereka berkali-kali sudah menziarahinya.
Hingga tanda selesai belajar itu ia terima, pikirannya tidak juga tertarik dengan semua itu. Pertanyaan yang kelak ia jawab itulah yang terus menghantui waktu demi waktunya. Setelah dari kesemua yang ia bayangkan dahulu tak lagi ia dapat, jawaban seperti apa yang kelak ia jawab. Ia adalah produk dari lingkungan yang tadi ia mimpikan dan dapatkan sebaliknya. Ia adalah bagian dari mereka yang berputar bersama waktu dan mencicip semua detik peristiwa tadi dengan sangat detail dan terperinci.
Kembali lagi dia bertanya, bahwa apa sebenarnya hakikat belajar dan menimba ilmu itu? Apakah ilmu itu adalah nilai yang berbaris di lembar kertas bernama ijazah itu? Jika itulah ilmu, maka jika ditanya sarjana apakah aku, maka kujawab saja ‘aku sarjana nilai yang berbaris’. Sebabnya tidak tertulis di kertas itu aku ini sarjana apa, tidak juga tertulis apa yang telah kukantongi selama empat tahun kuliah di tempat ini. Apakah aku sarjana itu, pribadi yang acuh tak acuh dan sibuk sendiri. Apakah aku sarjana itu, yang lebih banyak tidurnya daripada mengolah pikir dengan renungan-renungan panjangnya? Apakah aku sarjana itu, yang lebih banyak bergelut dengan media sosial daripada merunduk bersama bacaan-bacaan yang sulit dan memberi pandangan? Apakah sama saja nilai ibadahku dengan empat tahun lalu sebelum memegang ijazah ini atau malah lebih buruk?
Pertanyaan itu terus bertambah dan membuatnya semakin diam, entah diam malu atau tidak tahu diri.
‘’Begitulah maksud yang dikehendak dari kita belajar dan menuntut ilmu’’ ujar seseorang. ‘’Belajar itu lah cara manusia paham betul bahwa ia masih bodoh. Jika belajar membuatnya angkuh berilmu, itulah tanda dia belum mulai belajar”
Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
Menyelesaikan pendidikan di sebuah universitas agama masyhur ntahlah itu sebuah kebanggaan atau malah sebuah musibah. Sebab disana sudah menanti segudang permasalahan yang kebanyakan tak tertulis di atas lembar buku-buku yang kami pelajari. Masalah itu harus diselesaikan dengan fikir dan zikir. Solusinya adalah hasil dari pikiran-pikiran yang terus hidup dan memberi hidup; dengan dua hal tadi, ilmu tepat ada dalam sanubarinya dan juga pikirannya. Pikiran-pikiran bahwa gelar sarjana adalah untuk menikmati sanjungan atau panggilan-panggilan mulia adalah satu cacat produk pendidikan Islam hari ini. Tak ada pikiran-pikiran itu membesarkan para ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam di masa kejayaan. Mereka yang hidup bersama ilmu di masa itu, mereka yang paham bahwa hidup adalah perjalanan membekali diri dengan ilmu yang luas tak berbatas.
Sarjana-sarjana Muslim adalah mereka yang paham betul bahwa gelar hanya buatan dan rasa peduli itu dilahirkan dan ditumbuhsuburkan. Mereka yang membersamai ilmu sepanjang hayat dan memberi pesan kepada generasi Islam tentang peran universitas Islam, mahasiswa dan cendekiawannya sebuah risalah bahwa mereka ada untuk ilmu dan ummat. Jika itu sudah tersampaikan, aku pun tak lagi harus bingung menjawab aku ini sarjana apa, kujawab saja bahwa aku ini sarjana yang akan terus belajar seumur hidup dan mengabdi sepanjang hayat. Wallahu’alam
Talk: Selektif
Her: Emang salah ya, kalau seseorang itu sangat selektif dalam menentukan calon pasangannya?
Me: No, it’s not. I’m the selective one. Tapi kita harus membedakan antara selektif dengan banyak maunya.
Her: Hah? Maksudnya gimana tuh?
Me: Kalau selektif itu, tahu tujuan dan prioritas. Sedangkan banyak maunya, kamu hanya fokus pada kriteria. Ibaratnya taqlid buta sama kriteria.
Her: Masih ngga paham deh.
Me: Contoh, kamu butuh membeli baju. Kamu paham tipe, warna dan kualitas baju yang seperti apa yang kamu butuhkan. Saat menemukan itu di toko baju, ngga peduli brand nya apa (selama ia sesuai dengan budget yang kamu miliki), meski itu baju pasar sekalipun. Asal tipe, warna dan kualitas oke, kamu akan membelinya. That’s called selective. Tahu tujuannya. Menentukan dulu hal yang ditujunya seperti apa dan bagaimana.
Berbeda dengan orang yang terlalu banyak maunya. Padahal apa yang dia butuhkan sudah dapat, tapi dia ngga mau karena bukan dari toko atau brand tertentu. Sehingga meski sebenarnya dia bisa saja mendapatkan baju itu, jadinya ngga dapat karena terlalu taqlid buta pada brand tersebut. Sampai sini paham?
Her: Sedikit. Tapi korelasinya sama jodoh, apa?
Me: Kalau kita tahu tujuan kita menikah, visi-misi sudah ditentukan, maka harusnya fokus utama kita pada dua hal itu dulu paling utama. Semisal aku, saat ada CV yang masuk, yang aku lihat pertama kali bukan fotonya. Bukan data dirinya. Tapi pertama kali yang aku lihat adalah: visi-misi dan aqidahnya. Harga mati dua hal itu.
Setelah aku baca dengan baik, jika dua hal itu minimal 80-90%, baru lanjut baca data diri dan lihat fotonya. Kalau dua hal itu udah ngga mencapai batas minimal, sorry to say yaa dadah good bye hehehe. Karena tujuan aku jelas. Dan ngga main-main dengan tujuan itu.
Namun, kalau sudah sampai di angka 80-90%, barulah aku lihat data dirinya, pekerjaannya, nasabnya, kekurangannya, fisiknya. Kemudian aku list. Dari semua hal yang ada dalam dirinya—yang tertulis di sana, ada berapa banyak yang aku terima atau ridha terhadapnya, dan mana yang ngga aku ridha.
Karena gimanapun juga, kita akan bertemu setiap hari, interaksi setiap hari, menjalankan visi-misi. Kalau dari kekurangan dan fisik dia ada yang ngga aku ridha, yaa ga bisa maksa juga. Sekalipun tadi visi-misi udah oke.
Setelah aku list, aku analisa. Hal-hal yang engga aku ridhai itu, bisa aku tolerir ga ya ke depannya. Entah mengenai kekurangan, finansial, fisik, suku, dsb. Kalau menurutku sepertinya aku bisa tolerir dan akan baik-baik saja, yaudah. Aku tinggal istikharah.
Remember: istikharah dilakukan jika sudah ada kecenderungan. Bukan masih abu-abu ya. Karena dalam istikharah kita meminta apakah yang kita yakini ini yang terbaik atau bukan. Kalau masih abu-abu yaa self-analysis dulu selesaikan.
Oh iya, self-analysis ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Secara mental sudah siap, sehingga dia tahu apakah dirinya bisa menerima orang tersebut atau ngga. Semua ini berawal dari PENERIMAAN DIRI SENDIRI.
Orang yang masih bingung dengan pilihannya, masih banyak maunya, tandanya cuma dua:
1. Dia belum siap menikah,
2. Masih ada trauma masa lalu yang belum selesai.
That’s it. Dan yang aku lihat kayanya dirimu ada di poin nomor dua. Kenapa? Karena kamu kelihatan udah siap menikah, tapi kamu selalu bingung menentukan pilihan. Dan selalu stuck di kriteria. Harus sempurna sesuai yang kamu inginkan. Analisaku, ada masalah dengan sosok laki-laki dalam kehidupanmu. Entah itu ayah, kakak laki-laki atau pernah disakiti laki-laki. Jadi, kamu terlalu kekeuh dengan kriteria kamu. Harus begitu. Kalau ada yang kurang dikit, ngga mau. Padahal kekurangannya masih bisa ditolerir. Benar gitu ngga?
Her: …….
Me: Selesaikan dulu yang ada dalam diri kamu. Kamu ngga akan bisa menemukan sosok yang kamu butuhkan, kalau hal itu belum selesai. Terima masa lalu dan diri kamu sendiri ya? Kasihan lho itu diri kamu. Sudah siap menikah, butuh pendamping, tapi masih harus terkukung dengan trauma masa lalu. Sekalipun ada laki-laki yang nanti sesuai kriteria kamu, namun ketika dalam rumahtangga ada trigger tentang trauma kamu, pasti hal itu akan muncul lagi. Litaskunu ilaiha dalam rumahtangga ngga akan kamu dapatkan jika dalam diri kamu belum selesai.
Paham sampai sini? Semangat, ya. Allah akan datangkan seseorang yang tepat di waktu yang tepat dengan cara yang tepat. Insya Allah.
Her: *crying*
Tepat sekali, seharusnya seperti ini kita bersikap.
Tertipu pada Ilmu
Aku telah tertipu pada 'ilmu'. Aku kira budi baik seseorang lahir dari banyaknya akal menelan pengetahuan. Aku kira tingginya akhlak timbul dari banyaknya membaca buku, mengasah diri. Aku salah, telah menilai benar orang yang telah salah menilaiku.
Aku kira baiknya tutur seseorang lahir dari pendidikan agamanya. Namun baru aku mengerti, bahwa budi baik baru akan terlihat, saat bagaimana seseorang memperlakukan sesuatu yang dibencinya. Saat seseorang memilih pengorbanan sebagai jalan tulusnya. Saat seseorang mengikhlaskan orang yang ragu terhadap kesetiaannya.
" Dari pondok yang buruk, dari anak angkat yang tidak tentu asal usulnya, kerap juga memancar cahaya budi yang tinggi. Yang tidak disangka-sangka oleh manusia yang bergelut dengan ombak modernisasi "
Jangan menunjukkan apa arti hina didepan orang miskin, ia telah lebih dulu merasakan sakitnya dihina. Jangan menunjukkan apa arti pengorbanan kepada orang yang tak pernah mengharap jasa, karena itu telah tertanam dalam sanubarinya. Jangan menunjukkan apa arti perjuangan keras pada orang yang tidak pernah menyerah, sebab jika menunjukkannya, sama saja menunjukkan keraguanmu padanya.
Begitulah Manusia, ia tidak akan dapat melihat cahaya yang begitu besar, terang dan jelas jika terlalu dekat dengan Matanya.
Perempuan dalam Selokan
Begitulah kehidupan manusia yang tak dihirau pucat wajahnya. Sungguh ia bukan peminta-peminta, hanya dunia terlalu jahat dan membodohi sikapnya yang polos dan jujur. Tenaganya dikuras habis, dibohongi tanpa upah yang adil. Kesuciannya dirampas dengan janji-janji manis.
Ia mengira bahwa setiap manusia baik adanya, setiap orang dapat dipercaya. Hingga ia ditikam oleh kepercayaan itu sendiri.
Banyak manusia yang mati kekenyangan di hotel-hotel besar, namun disudut toko ia dan ibunya masih berjuang menahan dingin disertai lapar yang bersangatan. Sambil esok pagi menjadi kuli.
Dikiranya bahwa mobil-mobil mewah, dapat memberinya selembar rupiah. Atau disangkanya orang-orang bersepatu, berpena dan berdasi lebih dapat memahami arti kemanusiaan. Ternyata Tidak sama sekali.
Andai memar di hatinya dapat kita lihat, sungguh telah banyak pergulatan akal budi yang ia lewati. Ia tidak pernah ingin menjadi pengemis, tapi air mata anaknya, perut lapar, kekejaman tukang jagal selalu menghantuinya.
Ia membutuhkan perlindungan, tapi sanak saudara hanya memanfaatkan dan menjerumuskannya. Hari-hari dimana manusia menggenggam Budi dan Agama bagai menggenggam bara api.
Hari-hari ini, ia berharap orang-orang terdidik, tokoh masyarakat tidak hanya menjalani kehidupan sebatas aktifitas kerja demi tercapainya urusan perut.
Hanya Orang yang Kecewa, Yang Memiliki Harapan.
Ketika kecewa, sebenarnya kita tidak kecewa pada seseorang, melainkan kita kecewa pada gambaran, harapan masa depan yang telah kita buat sendiri. Yang mana dalam gambaran masa depan tersebut, seseorang itu kita letakkan di dalamnya.
Kekecewaan bukanlah hal yang memalukan. Orang yang tidak kecewa ketika gambaran masa depannya harapannya hancur, rusak, itu berarti ia tidak benar-benar cinta, harapannya tidak benar-benar dalam. Ia tidak benar-benar menginginkan gambaran masa depannya itu menjadi kenyataan.
Ada pula yang menganggap perginya seseorang itu adalah hal yang mudah. Itu karena ia tidak melihat gambaran masa depan orang itu. Atau dia mengerti bahwa ia dicintai, maka dengan mudah menjeda untuk melanjutkan kembali kapanpun ia mau.
Ada Orang-orang yang sulit untuk dicintai, meskipun orang lain telah benar-benar mencintai. Kekecewaan itu sebenarnya lahir dari hal-hal kecil yang diabaikan. Ketika kita tetap bertahan, berprasangka baik, bertenggang rasa, berkompromi, namun kebaikan kita tidak ditanggapi dengan benar, bahkan meskipun hanya dengan kejujuran hatinya.
Kita menyapa, dijawab seadanya. Seakan kita pasti selalu ada untuknya selamanya. Kita berbicara tentang gambaran masa depan, dan segala rintangan yang akan dihadapi, bukannya saling menguatkan, menata langkah bersama kembali, ia malah lebih memilih mundur dan menyarankan untuk menyerah.
Yang perlu kita pahami saat ini adalah, kita bukanlah anak kecil, yang berlari agar dikejar agar diperhatikan. Berikanlah perhatian itu, dengan kesadaran bahwa jalan yang akan dilalui bersama begitu panjang dan terjal, saling menguatkan dan menata langkah walaupun tak kita ketahui berapa lama. Itulah tanda bahwa kita benar-benar jujur ingin bersama.
Buruh Tani dan Telunjukmu
Kami tau engkau lebih hebat dari kami, melafazkan hadis, ayat Al-Qur'an, Fiqih, mengerti tanda-tanda akhir zaman dan diskusinya yang panjang.
Kami tau bahwa mengulurkan tangan, memperlihatkan wajah tidak engkau sukai, karena engkau meyakini itulah perintah tuhan.
Kami tau, bijak benar cita-citamu untuk membangun negeri, mendengarkan segala informasi tentang perkembangan Islam, memperjuangkan Islam, Umbar kata sana sini, membangkitkan gelora, namun cepat redup bagai bara tersiram hujan.
Engkau begitu bangga menunjukkan pemimpinmu yang hanya terlihat di spanduk jalan jika tiba masa undian pemilu.
Kemenangan siapapun dari pemimpin-pemimpinmu tidak akan pernah mengubah kehidupan orang-orang di sekitarmu.
Buruh akan tetap jadi buruh, meski lidahmu keluh bersorak sorai pemilu. Buta huruf akan tetap buta huruf. Anak-anak Desa hanya akan duduk di depan TV, dikepalanya hanya satu, lulus, kerja, kaya.
Jika aku berkata begitu, engkau pun berkelit, "jika buruh tani jadi insinyur, maka siapa yang akan menanam padi?
Sungguh itu jawaban yang memalukan. Yang kau pandang hanya pergeseran jabatan. Apa salahnya buruh memiliki kemampuan insinyur? Yang tidak berbudi itu insinyur yang tidak pernah ingin jadi buruh.
Banyak yang berkata, kita harus membaca peristiwa-peristiwa sebagai tanda, sebagai ilmu terluas. Kau salah!! Kau terus mencari tanda-tanda (informasi) dari segala arah, Padahal Tanda-tanda yang begitu jelas tak kau hirau, masyarakatmu seakan terpisah dengan pondok sucimu.
Kau makan dari padinya, dengan uang orang tuamu. Begitu kau kembali, mereka masih harus kau tuntut membayar harga dirimu yang mahal, untuk mengajar anak-anak mereka yang lugu, mengajak mereka shalat.
Belum lagi mereka harus bayar pajak, setiap kali kau naik mimbar. Atau kau akan membuat mereka berapi-api menjalankan syariat, tapi api itu membuat lidah mereka panas dan menyambar orang-orang yang belum belajar.
Apakah itu kegunaan ilmumu?
Hiduplah bersama mereka. Rasakan bagaimana padi mereka gagal panen, jagung mereka dibawa kabur tanpa bayaran, anak-anak mereka sakit parah, sementara tagihan pajak, listrik, biaya sekolah kian besarnya.
Tak perlu susah berkata, pemimpin ini lebih baik dari itu. Toh, disaat buruh kesulitan, mereka dihibur uang oleh oknum dan mereka tak pernah mengerti siapa yg harus mereka pilih.
Jangan salahkan mereka, karena selama ini, orang-orang yang baik itu hanya diam.
Tak bisakah kau senangkan hatinya? barang meluaskan ilmu yg kau punya? Bisakah engkau membuat mereka berdaya, membentuk jalan keluar diantara segudang masalahnya?
Pahamilah, agar kau tak hanya melihat dan mencerca Islam dirobohkan semata-mata oleh orang kafir, engkau juga harus melihat bahwa Islam dirobohkan oleh sesama muslim, yang enggan menjadi baik dan memperbaiki keadaan saudaranya
Kepribadian Yang Hilang dari Seorang Ibu
Pagi hari bagi keluarga muslim, mengawalinya dengan shalat subuh berjamaah. Sang Ayah pergi ke masjid dengan anak lelakinya, jika jarak mungkin bisa ditempuh, anak perempuan dan ibunya ikut sekali.
Namun jika kita ingin jujur, ada berapa banyak yang konsisten melakukannya setiap hari. Yang sering kita temukan, sang anak masih terlelap tidur setelah semalaman mengerjakan tugas sekolahnya, atau hanya bermain dengan gadgetnya.
Waktu subuh, sang ibu pun sibuk membangunkan anak-anaknya, belum lagi menyiapkan sarapan dan kebutuhan sekolah anak-anak. Jika suaminya seorang yang mengerti, ia lah yang bangun lebih awal daripada istri, mengingatkannya untuk shalat, namun jika tidak? Bisa kita lihat betapa pentingnya peran istri, bahkan dari awal pagi.
Sang anak perempuan pun, dengan leha-leha mengambil wudhu, shalat di kamar dengan tubuh setengah gontai, akibat kantuk dia. Sang ibu, tak lagi memperhatikan, sudah sangat sibuk dengan dapurnya, perintah shalat kepada anak-anaknya hanya sekedar perintah, ia pun shalat sendiri di kamar pribadi.
Amat cepat gerakannya, mungkin selagi shalat telah terfikir nasi dan lauk pauk yang belum jadi, sementara ia pun harus pergi mengajar seperti suaminya. Sarapan selesai, mereka pergi dengan kesibukannya masing-masing, anak-anak bersekolah, ayah mengajar, ibu ikut pula mengajar.
Di jam istirahat, sang ibu pulang untuk mempersiapkan rumah dan makan siang. Lalu kembali mengajar. Dzuhur datang, sang suami shalat di masjid, anak laki-laki ikut pula. Lagi-lagi sang anak perempuan menjalani shalat-shalatnya sendirian. Begitu pula dengan shalat-shalat mereka selanjutnya.
Alangkah indah, jika perempuan-perempuan yang ada dalam rumah pun, menjalankan pendidikan yang diajarkan Rasulullah. Selagi suami dan anak laki-laki pergi ke masjid, para ibu dan anak perempuannya juga melaksanakan shalat berjamaah di rumah, ibunya yang memimpin shalat, mengajarkan dzikir, belajar Al-qur'an serta ilmu agama untuk putri mereka.
Betapa indahnya, dimana perintah seorang ibu, bukan hanya perintah, namun kebiasaan yang ia contohkan pada anak-anaknya. Jika kebiasaan itu telah mengakar di hati sang anak, ibu takkan kesulitan mengontrol ibadah putra putrinya jika mereka jauh.
Demikian pula, pada shalat-shalat lainnya, anak perempuan diikutsertakan jamaah dalam rumah. Selepas Maghrib, memungkinkan bagi seorang untuk memperbincangkan masalah fiqih dan kewanitaan bersama putrinya. Atau menambahkannya dengan sirah sahabiyah. Membiasakannya untuk membaca kitab.
Jika ada yang berkata, itu adalah pekerjaan sulit, apalagi kemampuan ibunya dalam ilmu agama sangat terbatas. Tidak ada hal yang sulit, selama kita mau mencoba. Maka kita tegaskan dari saat ini, orang-orang yang menginginkan pernikahan, namun ia belum mempersiapkan ilmu agamanya sama saja seperti orang yang menenggelamkan rumah tangganya.
Waktu, usaha kita begitu sempit, padahal jika kita sadar, waktu para ibu banyak dihabiskan dengan serah terima informasi (gosip) dari para tetangga daripada memperhatikan pengajaran keluarganya. Kami tak mengurangi rasa hormat para ibu, tapi itulah yang banyak terjadi. Semoga kita diberikan kekuatan untuk istiqomah dalam kebaikan.
Apa tujuan Ilmu?
Ilmu itu ada yang merupakan tujuan, ada yang hanya sebagai alat. Ilmu tujuan (Al-Maqashid) ialah ilmu syariat yg meliputi tafsir, hadits, Fiqih dan yang berkaitan dengan tujuan diciptakannya manusia (yaitu Ibadah, menyembah Allah, menjadi khalifah Allah di bumi). Adapun ilmu alat (washilah) adalah ilmu bahasa,matematika,Fisika,Kimia dan sejenisnya. Menyibukkan diri dalam ilmu alat dan mengabaikan ilmu tujuan adalah satu bencana. (Muqaddimah, Ibn Khaldun)
Dapatlah dilihat hasilnya, bagaimana tekhnologi ilmu pengetahuan saat ini berkembang pesat, berubah menjadi pembunuh umat manusia, bersifat merusak jati diri manusia. Jika kita lihat ilmuan muslim terdahulu, mereka tidak hanya menguasai ilmu alat, akan tetapi sangat cinta terhadap ilmu-ilmu syariat.
Ada orang-orang yang jaraknya berjauhan, tapi kata-kata mereka selalu dekat dan terasa lekat, meskipun hanya dengan bantuan medsos sederhana, dengan mudah saling menjalankan nasihat. Tetapi ada juga yang hidup dalam satu atap, namun kata-kata mereka tak sampai dikerja. Ada pula yang sudahlah saling berjauhan, kata-kata mereka pun tak saling menginsyafkan. Telah kutemui ketiganya,
sungguh aneh Komunikasi manusia di zaman ini
Aku seratus kali lebih menyukai berteman di dunia nyata, daripada berteman di dunia maya, meskipun teman dunia maya itu adalah orang-orang yang aku kenal.
Karena aku tidak bisa mengenal ketulusan hanya lewat ketikan chat yang sangat singkat, tanpa makna.
Aku senang bertemu dan menyapa, apalagi setiap pertemuan selalu dalam rangka bertukar ide dan ilmu. Kapan aku bertemu kembali dengan teman-teman ku yg seperti itu?