Setiap orang pastinya memilki cita-cita atau impian. Dari sejak kecil kita sudah diberi pertanyaan mengenai cita-cita kelak. “Kalau sudah besar mau jadi apa?”, Begitulah pertanyaan yang lurah ditanyakan orang dewasa kepada anaknya. Waktu masih kecil saya seperti kebanyakan anak lainnya dengan lantang dan penuh percaya diri menjawab ingin jadi Dokter, Guru, Pilot, dan lain-lain.
Saya masih ingat betul ketika kecil ketika dintanya mau jadi apa selalu saya menjawab bercita-cita menjadi guru. Mungkin saat itu saya berpikir kalau menjadi guru menyenangkan bisa mencoret-coret buku siswa dan selalu dihormati. Sedari duduk di Sekolah Dasar kira-kira kelas tiga saya dan tetangga saya yang rata-rata seumuran dan satu sekolah sering bermain roleplay. Saya sering berperan jadi guru dan teman-teman saya jadi anak-anak murid. Kami menyebutnya bermain “guru-guruan”. Setiap hari harus bergantian siapa yang berperan jadi guru dan murid. Tapi entah kenapa kalau tukar posisi tidak ada yang mau gantian jadi guru hahah jadilah saya yang dominan menjadi Guru ala-ala bocah SD. Saya mengumpulkan buku-buku pelajaran dan majalah edukasi yang saya punya, spidol, kapur dan kebetulan saya memilki papan tulis kecil di rumah. Saat itu rumah saya sering dijadikan basecamp untuk bermain guru-guruan.
Saya merasa bangga dan ada rasa kesenangan tersendiri ketika roleplay jadi guru, coret-coret buku memberi nilai dan paraf. Padahal seingat saya, saya hanya memberi soal tebak-tebakan ke mereka tentang pengetahuan umum dan beberapa kosakata buah-buahan dalam bahasa inggris.__. Oh ya, pelajaran menggambar juga ada. kami membeli kopian gambar-gambar animasi princess, Disney atau gambar-gambar lucu di abang-abang depan sekolah. Saya memberi nilai sekenanya mengikuti gaya guru di kelas waktu memberi nilai. Terimakasih juga sekaligus maaf untuk tetangga-tetangga saya Ima, Indah, Nabilah, dan Upah yang buku tulisnya saya sering coret-coret pake spidol hijau. Sungguh, tulisan saya besar-besar dan jelek waktu masih SD.
Disana kami ga sekedar hanya main roleplay antara guru dan murid. Tanpa sadar kami saling belajar dan berujung mengerjakan PR masing-masing. karena kita beda kelas dan tingkatan. Dan peran jadi guru pun tidak bisa ngasal. Teman-teman saya akan konfirmasi lagi ke orangtua mereka tentang pelajaran yang saya berikan. Masih SD pada sok kritis juga ya, eh tapi bagus deh saya ga bisa bohong kalau saya tidak tahu. Ahaha.
Waktu SD saya termasuk anak rajin yang ngisi soal-soal padahal belum disuruh guru. Sok pencitraan. Kebalikan dengan kondisi sekarang. Beli buku latihan CPNS disentuh pun engga dan saya diamkan hanya tergeletak begitu saja berbulan-bulan. Well, saya sangat passionate jadi Guru waktu SD. Suka banget baca RPUL dan RPAL. Anak-anak zaman 90’s pasti suka belinya di bazaar buku sekolah. Anak-anak zaman sekarang kalau saya Tanya buku edukatif macem RPUL ga ada yang tahu. Bahkan majalah Bobo pun mereka ga kenal, so sad.
Naik lagi ke bangku SMP saya berubah pikiran bercita-cita nikah sama orang bule. Engga deh, saya pingin banget jadi ilmuan dan pemain bulutangkis. Agak kontras sih sama cita-cita zaman SD. Sewaktu SMP saya terinspirasi dari bacaan dan kegiatan olahraga favorit. Seneng banget main dan lihat pertandingan bulutangkis. Terus kalau ke perpustakaan suka baca buku tentang penemu-penemu hebat dari seluruh dunia. Ga gaul banget deh kayak anak zaman now. Well, saya memang agak nerd watu SMP disaat temen-temen lainnya bahagia dengan gejolak masa puber, punya pacar dan gebetan. Saya Cuma bisa bermain dengan sesama jomblo lainnya, I was too afraid to opened up myself for a guy. Ga sedih-sedih banget sih selama masih ada teman senasib, Justin Bieber, dan MAJALAH!! Ahahah Fyi, saya masih setia langganan majalah Bobo sampai kelas 8. Lalu beralih ke majalah yang lebih remaja seperti Gadis, Teens, Kawanku, dan Girls. Majalah adalah hal favorit saya saat itu. setiap hari tak lupa membawanya ke sekolah. Padahal sih yang dilihat dari majalah itu hanya pojok zodiac, idols/movies, dan self-help doang. Saya ga suka buku pelajaran. Dan kalau belajar kalau ada ujian saja.
Back then, masa SMA cita-cita saya makin tidak terarah. Saya memilki banyak keinginan ini dan itu. cita-cita saya jadi peneliti yang kerjanya di hutan(pokoknya berkaitan sama alam), jadi ahli gizi, ingin jadi english translator, jadi pengusaha, dan terakhir ingin cepat lulus ga mau ketemu sama pelajaran fisika lagi. Semua karena faktor jurusan dan pola pikir saya saat itu. Guru BK di SMA tidak terlalu membantu untuk mengarahkan tujuan yang sebenarnya saya inginkan. Saya stress dengan banyaknya kegiatan les dan tekanan belajar di jurusan IPA yang cukup ketat. Anti remedial dan mendapat nilai jelek. Alhasil, saya sudah merasa gagal duluan dan membenci IPA. Meskipun saya dapat mengikuti pelajaran dan bertahan di ranking yang baik. Saya tidak tahu mau jadi apa di masa depan. Ambisi tidak semenggebu dahulu. Yang terpenting bagi saya saat itu saya terbebas dari mata pelajaran IPA. khususnya fisika :’).
Dan akhirnya saya kuliah jurusan Manajemen Pendidikan. Berharap di jurusan ini saya dapat berkarir di pemerintahan dan membanahi sistem pendidikan yang menurut saya mebuat stress para peserta didik dan tidak menikmati apa arti belajar sesungguhnya.
Kembali lagi pada pertanyaan cita-cita, di bangku kuliah tidak serta merta membuat jelas apa impian saya. semua berubah berdasarkan proses dan pengalaman yang saya terima. Bahkan saya sempat kehilangan passion di jurusan ini. merasa salah jurusan. Melihat jurusan lain terlihat lebih baik prospek masa depannya. Saya berkeinginan memilki sekolah sendiri, Itu yang saya dapat di jurusan ini. deep down, dengan segala pengalaman yang telah saya dapat selama di bangku kuliah saya hanya ingin menjadi guru atau bekerja di bidang sosial kemasyarakatan. Saya ingin menjadi pekerja sosial di daerah yang kurang terjangkau. Tapi nasib berkata lain, jurusan saya tidak diperuntukkan untuk mengajar. Sulit sekali sekolah yang menerima ijazah saya dikarenakan tidak ada dalam mata pelajaran. Pengalaman mengajar dan skill tidak menjadi tolak ukur. Orang-orang disekitar saya menyarankan untuk terima saja kenyataan. That is mean I can’t be a teacher.
Kenapa guru? Padahal saya sudah mencoba menerima kalau tidak apa-apa tidak menjadi guru. Dan saya sudah mencoba pekerjaan lain seperti di bidang retail, surveyor, administrator, manajemen. Semuanya terasa biasa saja. tidak ada kepuasan batin dan lelah nya pun beneran lelah. Berbeda saat saya mengajar les dan di kelas. Walaupun seharian mengajar lelah saya terasa puas dan senang. Mungkin di tulisan saya selanjutnya saya akan menuliskan kenapa menjadi guru adalah cita-cita paling tinggi dan terhormat bagi saya.
Pada akhirnya memilki cita-cita dan impian membuat saya terus bergerak dan hidup. Meskipun seringkali terlihat tidak mungkin, diserang keraguan dan rasa takut. ingin menyerah dan bahkan kehilangan arah like wanna let go of those dreams. Tapi dengan banyak rintangan ini saya jadi tahu dan belajar bahwa hidup memang harsus diperjuangkan. Memang tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana. Yang terpenting bagi saya adalah keyakinan bahwa saya bisa dan terus belajar. Dan tidak lupa niat karena lillahita’alla ingin bermanfaat bagi sesama.
Karena takut kepanjangan dan berujung tidak nyambung sama judul (memang ga nyambung~__~) saya akhiri tulisan abstrak ini. see you in the next posting!:)