Telah sampai aku di penghujung Rindu. Genap sudah aku membersamai rombongan jamaah haji yang menumpang Kapal Blitar Holland pada tahun 1938.
Deretan nama-nama yang hadir dalam jalinan Rindu masih segar dalam ingatanku. Gurutta Ahmad Karaeng, Daeng Andipati, Ambo Uleng, Bonda Upe & Bapak Enlai, Mbah Kung & Mbah Putri, Kapten Phillips, Sergeant Lucas, Chef Lars, Ruben si Boatswain, Bapak Soerjaningrat, Bapak Mangoenkoesoemo, dan tentu Anna & Elsa, dua kakak beradik putri Daeng Andipati.
Awalnya aku bingung siapa gerangan tokoh utama Rindu. Apakah Anna, Ambo Uleng, Daeng Andipati, atau Gurutta? Tapi rupanya semuanya tokoh utama. Buktinya mereka semua mendapat porsi yang hampir sama dalam mendominasi alur cerita.
Ada lima tokoh (yang bukan termasuk Anna, karena dia masih anak-anak) yang membawa pertanyaan besar dalam hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terjawab satu-persatu di atas Kapal Blitar Holland yang terus berlayar membelah Samudra Hindia.
Sebuah novel yang seru dan juga sarat pemahaman hidup. Nasihat demi nasihat dibungkus apik menjadi jawaban yang tepat di waktu yang tepat pula. Aku suka. Apalagi Rindu amat kental menyuguhkan nuansa Islam. Beda dari karya Tere Liye yang pernah aku baca sebelumnya.
Aku menjadikan Rindu sebagai salah satu novel Tere Liye yang aku rekomendasikan untuk dibaca jika ada yang bertanya, selain Serial Anak Nusantara. Sungguh layak sebagai kawan duduk di waktu senggang.
Oya, ada banyak nasihat bijak bertaburan di lembar demi lembar kisah Rindu. Untaian kalimat yang paling aku suka sbb.
Hidup ini kadang berjalan misterius sekali, dia tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa dalam hidupnya. Orang-orang datang silih berganti, ada yang menjadi bagian penting, ada yang segera terlupakan. (Hlm. 138)
Jika ingin menulis satu paragraf yang baik, kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca. (Hlm. 189)
Kesalahan itu ibarat halaman kosong, tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apa pun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. (Hlm. 360)