trying on a metaphor

❣ Chile in a Photography ❣
noise dept.
Cosmic Funnies
Mike Driver
untitled
$LAYYYTER
No title available

Andulka

tannertan36

blake kathryn
TVSTRANGERTHINGS
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

★

Kiana Khansmith

No title available
cherry valley forever
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
Fai_Ryy
seen from Iraq

seen from United Kingdom

seen from Switzerland
seen from Philippines
seen from Indonesia
seen from Kenya

seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh
seen from Russia
seen from France
seen from Germany
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
@rumahrimba
Deluded at Hatred Club
Hadd at Hatred Club
Distruge at Hatred Club
Crucial Response at Hatred Club
Hatred Club
Rumah Rimba | Free | August, 6th 2016 - Hadd (Chainflower Tour) - Deluded (Come back from grave) - Distruge (Road to release EP) - Crucial Response (First Show)
SOUNDS LIKE TEEN SPIRIT
"Kecelakaan paling mengerikan bukanlah kecelakaan materi yang menyebabkan lahirnya semesta, namun kecelakaan beberapa insan manusia yang melahirkan kreasinya."
Adalah dunia dan waktunya yang menyediakan segala bagi kelahiran yang baru. Empat Puluh Sembilan Tahun yang lalu seorang insan lahir dan mulai menghirup segala yang diinginkan dan tak diinginkan. Ialah Kurt Cobain yang mati bersama dunia yang ingin dibunuhnya. Hari ini kita merayakan seorang ikonik muda itu sekaligus akan menyaksikan sebuah kelahiran baru beberapa pemuda yang beraliansi untuk memberontak segala yang tak diinginkan –mengubahnya untuk diri sendiri, dan entah apakah kelak akan berhasil mengubah dunia seperti yang dilakukan seorang bocah yang lahir lima decade lalu.
“Teenage angst has paid off well. Now I’m bored and old. Self-appointed judges and judge more than they have sold.” Nirvana – Serve The Servants
Seolah senada namun tak sama dengan si bocah, mereka menjelma dengan sebuah bentuk kreasi mantap, dengan lirik yang cukup merepresentasikan apa yang telah mereka alami, bukan sebuah hal yang menyajikan bentuk imaji tak berujung. Mereka masih bocah jika diukur dari umur sejak lahirnya pewarna dunia baru bernama "Hadd". Entah apa makna di balik nama empat huruf itu. Mungkin adalah penggambaran dari masing-masing personil atau malah pandangan mereka tentang identitas band, entahlah. Saya nampaknya gagal mencari etimologi di balik nama tersebut, nevermind. Ketidak-tahuan itu akan menjadi indah jika memang sengaja diciptakan.
Kuartet Hardcore asal Blitar: Hadd kali ini merilis sebuah video bertajuk Irrational Phase. Dari sekian banyak polusi distorsi mereka mencoba hadir di tengah-tengah, membantu kita menyikapi kejengahan dengan sebuah alunan distorsi yang terarah. Ketika mendengar apa yang ada di sekitar rasanya ingin sekali John Cage hadir dengan komposisi kontroversialnya 4’33”. Namun Tuhan tidak mengirimkan ia ataupun Cobain kembali ke dunia melainkan empat pemuda: Yossy, Delpi, Angga, dan Benny. Nama-nama tersebut memang tidak terdengar asing bagi penggiat skena lokal: Blitar dan sekitarnya. Mereka dulunya adalah pentolan dari kedua band yang cukup diperhitungkan di kandangnya: A.J.T.H.C dan Vicious Divine.
Hadd adalah sebuah bentuk jawaban menghilangnya kabar dari kedua band tersebut. Entah apa yang terjadi dengan mereka, namun agaknya kita berhasil memahami apa yang dimaksud “Sekali berarti, sudah itu mati” dalam puisi Chairil Anwar. Mati atau tidaknya kedua band tersebut tidak terlalu penting –yang lebih penting adalah apakah mereka cukup berarti karena mereka hanya hidup sekali. Tapi jawaban yang akan kita lihat nanti akan membuktikan bahwa kematian kedua band itu benar-benar melahirkan perpaduan mengerikan antara dua alam yang bersinggungan, para penggiatnya tidak mati namun berinkarnasi. Kita tidak akan menemukan nafas Vicious Divine maupun A.J.T.H.C dalam Hadd, dan inilah yang disebut dengan kelahiran baru!
“We’ve made a pact to learn from who. Ever we want without new rules. We’ll share what’s lost and what we grew. They’ll go out of their way to prove they still.” Nirvana – Lounge Act
Video yang memiliki durasi cukup pendek ini berhasil mengemas pesan yang ingin mereka sampaikan melalui pelbagai tanda. Berlari-lari melewati tangga di sebuah gedung tua layaknya seorang balita yang masih gamang terhadap hidup, suka berlari, bermain, di dunia yang pada setiap waktunya semakin menua. Jika kita melihat dari isi lirik lagu Irrational Phase mungkin kita akan dapat memahami tanda yang sengaja di selipkan di dalam video ini. Mengisahkan tentang sebuah perjalanan yang melalui fase tak logis untuk satu tujuan yang pada akhirnya harus mengorbankan sesuatu.
Tidak ada jalan yang tidak berlubang, berkerikil, dan bergelombang begitu juga dengan sebuah perjalanan. Hadd mencoba menceritakan kepada kita bahwa seperti itulah sebuah perjalanan, ada yang dikorbankan meskipun tak menyenangkan, meskipun itu membunuh diri mereka sendiri. Jika kita mengamati lirik dan pencitraannya ke dalam dunia visual, Irrational Phase akan nampak seperti sebuah pengalaman nyata yang memang mereka alami.
“With the lights out, it’s less dangerous here we are now, entertain us I feel stupid and countagious. Here we are now.” Nirvana – Smells Like Teen Spirit
Tanda yang mungkin terlihat jelas dalam video ini adalah munculnya sebuah obor yang memiliki nyala kecil di akhir yang entah untuk menerangi apa. Memang nampaknya kita telah buta terhadap dunia yang semakin terang, dan semoga nyala kecil obor di siang bolong itu mempunyai makna yang sama seperti dulu, ketika digunakan oleh orang-orang kampung untuk penerang jalan atau ronda untuk mencari anak hilang. Dan pulanglah mereka: Hadd si anak hilang.
Video ini dipersembahkan untuk mendiang Kurt Donald Cobain. Selamat ulang tahun Kurt dan selamat lahir ke dunia wahai Sounds Like Teen Spirit: Hadd.
“Pada akhirnya sebuah kecelakaan akan menimbulkan luka. Mereka yang bertabrakan akan mengerti bahwa hidup masih menyisakan kesempatannya untuk suatu harapan.”
- Kelana Wisnu
Rimba Yang Tersisa Di Tengah Kota
Sore ini hujan turun tanpa salam dan mungkin nanti ia menghilang tanpa kesan. Aku menerjang barisan titik cair yang diturunkan Tuhan untuk satu tujuan. Rumah. Bukan rumah dimana aku lahir bersama orang tua, namun rumah yang memberikan puting susunya untuk membesarkan jiwa. Rumah Rimba.
Aku kuyup oleh hujan namun langsung kumasuki saja rumah itu, layaknya seorang bocah yang pulang ke rumah setelah bermain dan bersenang-senang bersama hujan. Pintu alumunium berkaca kubuka dan ternyata tak banyak yang berubah. Hanya beberapa coretan, tempelan stiker dan poster yang bertambah. Kupandangi lantai tegel yang telah mencoklat karena keringat berampur debu yang telah kering dan melekat. Keringat itu adalah hasil dari jibaku manusia yang pernah menyesaki ruang ini. Mataku tiba-tiba dihantarkan pada sebuah coretan yang tak asing, coretan buah tanganku yang dulu masih suka membuat sesuatu yang baru dan penuh amarah pem-berontakkan. Coretan itu pun segera mengantarkanku pada kontemplasi penuh tentang tempat ini.
Bagaimana tidak? Matanya seolah langsung berbicara padaku, ia mengatakan sekaligus menanyakan beribu persoalan. “Lama tak berjumpa? Kau kemana saja? Telah banyak yang kulihat dari mata ini sejak kau melahirkanku. Apakah kau sudah lupa bahwa aku anak rohanimu? Aku ingin menumpahkan segala yang kulihat padamu, walaupun percuma karena kau sudah nampak tak peduli dengan semua!” Sial! Aku tak menyangka bahwa coretan yang aku goreskan pada tembok itu memburuku. Walaupun coretan itu adalah buah dari keisengan, namun ia tetap melewati kontemplasi yang berujung, dan Kun Fayakun! Ternyata aku lambat menyadari bahwa secara tidak langsung aku meniupkan harapan pada coretan iseng ini. Jelas bahwa aku menulis kata ‘imagine’ di bawah mata seorang tokoh yang mungkin tak asing bagi semua. Namun harapan yang kutanam untuk memanggil orang-orang itu malah memburu diriku sendiri. Kini diriku dipaksa untuk membayangkan, dan mata itu tak lepas mengawasi diriku yang gamang. Akhirnya aku semakin larut dalam kontemplasi tak berujung. Anganku dibawa ke masa lahirnya sebuah rimba. Rimba yang tersisa di tengah kota.
Tempat ini dilahirkan oleh beberapa inisiatif kepala muda yang penuh kemarahan, penuh keinginan memberontakkan terhadap segala. Aku adalah salah satu dari mereka. Karena merasa tidak mendapatkan tempat untuk berkreasi di sebuah kota yang penuh binatang. Lalu binatang yang merasa terancam menemui kepunahan memutuskan untuk melestarikan populasinya, akhirnya mereka membuat rimbanya sendiri, rumahnya sendiri. Binatang-binatang putus asa itu beranak-pinak sehinga dapat mempertahankan eksistensinya di muka bumi. Kemarahan akan segala yang tak sesuai pikiran ditumpahkan di rimbanya. Bahkan masih tersisa tumpahan amarahku terhadap perang dan agama di tembok yang dipandang mata yang membawaku pada kontemplasi ini. Benar, aku dulu adalah binantang yang hanya memiliki insting untuk bertahan pada segala ancaman. Bukan seorang insan yang memiliki rasa terhadap segala yang ditangkap oleh indra. Kami adalah binatang rimba!
Namun sekuat apapun Singa ia tetap tak akan sanggup menentang hukum alam. Lambat laun satu persatu binatang yang dulunya nyaman dalam satu atap pergi untuk mengejar eksistensi sebagai makhluk rimba. Setelah dirasa tempat lama mereka sudah tidak bisa memberikan putingnya untuk disusui. Maka binatang itu mencari puting-puting yang baru agar dapat tumbuh dan bertahan hidup. Setelah benar-benar ditinggalkan, rimba itu diisi dengan para binatang yang baru dengan tujuan yang sama: mempertahankan populasinya dari ancaman kepunahan. Dan rumah rimba para binatang itu akan selalu seperti itu. Mati satu, tumbuh seribu. Karena ini adalah satu-satunya “Rimba Yang Tersisa Di Tengah Kota!”
Mata yang tadi menuntunku itu tiba-tiba terdiam, menyisakan sebuah bisikan, dan mengantarkan sadarku. “You may say I’m a dreamer but I’m not the only one. I hope someday you’ll join us and the world will be as one”–John Lennon, Imagine
Tunas Bangsa at Exhausted 2
Phill at Exhausted 2
Total Jerk at Exhausted 2
Crossed at Exhausted 2
Ketch Is The Reason at Exhausted 2
Think Twice at Exhausted 2
Hadd at Exhausted 2
Greedy Suck at Rumah Rimba