Written by : Moh. Ferandy :: Catatan Dreamdelion #3: Sepetak Ruang :: āKau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apa pun Kau bisa runtuhkan jalanku, kan kutemukan jalan yang lain Manusia-manusia kuat, itu kita. Jiwa-jiwa yang kuat, itu kitaā Tulus 2013. 2014. Dua tahun dengan akhir pekan yang dihabiskan di sepetak ruang bernama sanggar Dreamdelion Cerdas. Dua tahun terakhir, sesekali saja saya datang, melepas kangen dengan anak-anak, yang kami sebut ākrucil-krucil Manggarai.ā Sabtu lalu, para krucil Dreamdelion diajak jalan-jalan seru oleh Grant Thornton Indonesia ke Sekolah Alam Cikeas. Karena kekurangan āpawang krucil,ā saya pun ikut meramaikan. Seperti biasa, jalan-jalan ini diserukan juga dengan ngobrol-ngobrol cantik, update gosip-gosip selama 2 tahun terakhir. Dari pagi, sampai malam! Mulai dari perkembangan para krucil. āSekarang Yana udah kelas 1 SMA loh Kak.ā āAura sekarang jadi ceriwis loh kak.ā "Uma sekarang gak pernah ngeluh lagi loh kak." Sampai gosip-gosip di para kakak, kamu tahu sendiri bagaimana asmara bisa bersemi di tempat ngasuh anak bareng-bareng. Namun satu obrolan yang paling menarik, adalah bagaimana perjuangan para kakak Dreamdelion Jakarta ini untuk mempertahankan sepetak ruang di Manggarai ini. Menjalankan komunitas tidak selalu berjalan mulus, ada naik turunnya. Satu ketetapan yang sudah ada sejak dunia diciptakan. Di tengah cobaan itu, para kakak ini tetap memperjuangkan sepetak ruang ini. Namun bukan sepetak ruang yang membuat mereka diliput berbagai media nasional. Bukan sepetak ruang yang membuat mereka dapat dana CSR dan grant dari sana-sini. Bukan pula sepetak ruang yang membuat mereka diundang jadi pembicara dan peserta konferensi nasional dan internasional. Tapi, yang para kakak perjuangkan adalah sepetak ruang yang menghangatkan hati-hati di dalamnya. Yang para kakak ini perjuangkan adalah sepetak ruang yang membuat semuanya saling belajar, saling mengajari, saling diajari. Yang para kakak ini perjuangkan adalah sepetak ruang yang membuat semuanya bisa menikmati hidup pada saat ini, bukan menyesali yang telah lalu, bukan cemas akan yang tak pasti datang. Ya, sepetak ruang yang membuat Kak Marissa Ika Puspitasari diundang makan nasi ulam di rumah Yana. Sepetak ruang yang membuat Kak Marwah Azizah Kariem, yang mulutnya senang mengeluarkan kata-kata pedas, bisa bahagia melihat para krucil bahagia. Sepetak ruang yang membuat Kamelia Putri Utami datang saat dia masih SMA, dan kembali lagi saat dia sudah kuliah. Sepetak ruang yang membuat Kak Fitriah Ilmi repot-repot pergi antarkota antarprovinsi (yaaaa, Bogor-Manggarai sudah terhitung AKAP kan ya). Sepetak ruang ini, yang mungkin tampak kecil, namun sangat layak untuk diperjuangkan bersama. Sepetak ruang, yang membuat semuanya menjadi manusia-manusia kuat. Manusia-manusia yang punya, setidaknya satu alasan tambahan untuk berjuang, yakni sepetak ruang di Manggarai tiap Minggu pagi. Sepetak ruang yang membuat para kakak dan krucil jadi manusia kuat. āBanyak yang bilang kalau kami datang untuk mengajari anak-anak. Padahal, sebenarnya justru kamilah yang belajar dari mereka. Anak-anak ini mengajari kami untuk menyambut tiap orang yang datang ke dalam hidup mereka, tanpa prasangka,ā kata Kak Marissa di pidato penutupan acara bermain bersama Grant Thornton di Sekolah Alam Cikeas ini. Ya, anak-anak mengajari kita untuk menerima hidup seutuhnya, untuk menerima siapa pun yang datang dalam ke dalam hidup kita. Bukan, bukan karena anak-anak ini naif. Tapi karena anak-anak ini punya sepetak ruang tak kasat mata yang membuat mereka bisa menerima kesederhanaan hidup seutuhnya. Kesederhanaan ini membuat mereka bahagia seutuhnya. Itulah yang membuat mereka jadi kuat, yang terus berjuang walau berkali-kali gagal. Terima kasih Grant Thornton sudah mendampingi para krucil bermain seru. Mungkin ini pertama kalinya tiap krucil didampingi oleh satu kakak, yang membuat mereka mendapat sepetak ruang perhatian penuh dari orang dewasa. āKau bisa patahkan kakiku Patah tanganku rebut senyumku Hitamkan putihnya hatiku Tapi tidak mimpi-mimpikuā Tulus