Blue Ocean
“Iya, Miss. Kalo Bunga (bukan nama sebenarnya, red) ayahnya meninggal tahun lalu terus ibunya kena stroke jadi dia harus ngurus adik-adiknya. Masih kecil dan banyak.”
“Oooh….”
“Dia sih, Miss, yang paling memprihatinkan sekarang kondisinya. Kemarin sempet kita khawatir sama Putro (bukan nama sebenarnya, red). Rumahnya cuma sepetak aja hampir digusur itu, tapi alhamdulillah kampungnya dijadiin kampung pelangi akhirnya. Dapat bantuan dari pemerintah.”
“Oooh, alhamdulillah. Hebat ya, Putro itu salah satu anak paling aktif dan pintar lho di kelas. Udah gitu, pelajaran favoritnya di sekolah Bahasa Inggris lagi.”
“Iya, Miss. Tu anak emang paling semangat,” jawab Mba Nila dengan logat kental Betawi.
“Kalo Fakhri (bukan nama sebenarnya, red), apa ceritanya Mba? Dia yang paling ngga memperhatikan di kelas,” tanyaku penasaran.
“Oooh itu mah dia-nye aja, Miss. Ibu Bapaknya tu mendukung sebenernya, tapi bebas gitu lingkungannya. Kan tinggalnya di kampung padat penduduk gitu. Dia sebelum les pasti ngamen dulu di perempatan sono no. Makanya kalo les selalu bawa gitar kan.”
“Oooh.”
Aku melanjutkan satu jam ke depan dengan ber “oooh” ria sambil mendengarkan cerita anak-anak yang ikut di kelasku dari Mba Nila. Sambil menyelesaikan penulisan rapor dan mengoreksi hasil ujian tertulis, aku minta diceritakan satu per satu tentang setiap anak berdasarkan urutan koreksi writing test hari itu.
Aku baru mengajar sekitar 2,5 bulan di Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Cukup beruntung, Mba Nila akhirnya membalas pesan WhatsApp ku setelah hampir enam bulan tidak dibalas. Alasannya mudah, pengajar yang lama pindah dari Jakarta sehingga dibutuhkan pengajar baru untuk mengisi kelas yang kosong. Siswaku jumlahnya lima belas orang. Beragam kelasnya, dari kelas 5 SD hingga kelas 2 SMA. Meski rentang usianya cukup besar, level kemampuan Bahasa inggris mereka hampir sama, makanya mereka dikelompokkan dalam satu kelas. Mau tau nama kelasnya apa? Namanya: Blue Ocean!
Mba Nila sendiri adalah founder dari program belajar “Fun with English”. Mba Nila dulu cukup beruntung dapat sekolah Bahasa inggris. Sejak kecil, ia memohon pada ayahnya untuk ikut les Bahasa inggris. Setelah pinjam uang sana-sini dan mencari tempat les paling murah, berangakatlah Mba Nila kecil untuk les Bahasa inggris. Setelah mahir dan cukup lama, Mba Nila memutuskan membuka rumahnya untuk kelas Bahasa inggris untuk anak-anak di sekitar Bendungan Hilir, Tanah Abang. Kau tau apa yang paling special? Kelas ini GRATIS! Aku sampai terharu mendegar ceritanya, dan merasa beruntung disambungkan oleh Kak Jenny dengan dengan Mba Nila yang inspiratif.
Aku sendiri selalu suka mengajar. Kata orang tuaku di Jawa, aku punya darah guru karena kakek dan nenekku dulu adalah guru dan dosen. Beberapa teman yang cukup lama mengenalku selalu tahu, mengajar memberikan rasa puas tersendiri bagiku. Dari mulai menempuh perjalanan melewati sawah-sawah demi mengajar di panti asuhan putri di bagian utara Yogyakarta, hingga mengetuk setiap pintu rumah di Desa Kolorai, Pulau Morotai untuk mengajak anak-anak berangkat sekolah.
Bagiku mengajar adalah distraksi yang sempurna. Ia membuat kita self-less. Tidak melulu memikirkan masalah ini dan itu. Karena setiap siswa yang datang akan menjabat tangan kita, mencium punggung tangan kita, sambil berkata “Miss, thank you for today” sambil tersenyum. Dan boom! Setidaknya kita telah melakukan suatu hal kecil yang berarti untuk orang lain. Mengajar adalah topeng yang memberi kesempatan untuk selalu tersenyum, menjaga wibawa, dan belajar dari orang lain. Tak peduli apakah pekerjaan di kantor sedang banyak masalah, cuaca Jakarta terkadang membuat mood hancur, bahkan negara sedang morat-marit dengan jumlah koruptor yang telalu banyak, ketika mengajar kita harus tersenyum. Kita harus merasa utuh dan konsentrasi. Bukan karena kita tak peduli akan hal lain, namun karena lima belas pasang mata sedang menatap kita dengan penuh makna.
Mengajar membuatku belajar mengenai kehidupan orang lain. Bahwa selain kehidupanku yang sekolah hingga lulus-bekerja saat weekday-istirahat saat weekend ini, ada banyak jenis kehidupan lainnya. Ada gadis kecil seumur Embun yang sudah menjadi tulang punggung keluarga, ada laki-laki yang terkesan badung namun paling jago disuruh bercerita pakai Bahasa inggris, dan ada pula anak laki-laki tak pernah memperhatikan di kelas yang ternyata mengamen sepanjang hari. Mengajar membuatku terkoneksi dengan hal lain di luar batas imajiner sebagai diriku. Ia membuatku “merasa”sesuatu ketika “merasa” adalah hal yang kini jarang kualami. Ia mencegahku menjadi robot, membangun empati, dan memiliki nilai. Mungkin bukan nilai yang besar bagi negara ini, bukan nilai yang besar bagi perusahaan multinasional raksasa, bukan nilai yang besar untuk ibukota Jakarta, namun nilai yang besar untuk 15 anak yang setiap minggu berjalan kaki dan mengayuh sepeda ke rumah belajar.
Blue ocean. Sebuah kelas yang dalam dua setengah bulan ini telah memberikan dorongan lebih untuk mengayunkan kakiku menuju lantai 14 di gedung kantorku setiap hari. Sekelompok anak yang membuatku selalu menunggu hari Minggu yang datangnya terasa lama sekali. Ia adalah kelas yang membuatku tersadar, tak peduli mereka anak seorang hansip, ojek online, satpam, atau pedagang keliling, mereka tak berbeda dengan anak seorang artis, jutawan, atau pengusaha di negeri ini. Mereka tertawa, mereka malu jika menjawab salah, mereka menepuk dada dengan bangga jika dapat nilai 100, dan mereka berjalan menuju kelas dengan penuh harap. Semua anak bangsa sama. Mereka memiliki kesempatan yang sama, meski cerita di baliknya berbeda. Ketika menuntut ilmu mereka sama. Meski jubah kehidupan tak datang secara adil bagi tiap-tiap dari mereka, mereka berhak membuka pintu kesempatan yang sama lebarnya.
Begitulah berartinya bagiku. Mungkin memang aku yang menuliskan angka di rapor mereka hari ini, akulah yang memberi tahu mereka kapan menggunakan “do” dan “does”, akulah yang menuliskan deretan vocabulary di papan tulis yang wajib mereka hapalkan. Namun mereka. Mereka yang membuatku pulang merasa belajar begitu banyak. Mereka yang membuat kakiku berjingkat-jingkat menuju jemputan ojek online dari rumah belajar. Mereka yang membuatku senyum-senyum sendiri setiap melihat video belajar hari itu. Mereka yang mebuatku merasa lengkap. Merasa erat.
Santika Wibowo












